Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search
Journal : AGRIEKSTENSIA

Pemanfaatan Limbah Kulit SIngkong Menjadi Dendeng Kulit Singkong dengan Penambahan Berbagai Sumber Protein Yerri Hendri Resimanuk; Achmad Nizar; Rika Despita
AGRIEKSTENSIA Vol 17 No 1 (2018): AGRIEKSTENSIA: Jurnal Penelitian Terapan Bidang Pertanian
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.692 KB) | DOI: 10.34145/agriekstensia.v17i1.67

Abstract

Singkong merupakan sumber karbohidrat ke tiga di Indonesia. Luas tanam singkong di Jawa Timur adalah120.208 ha dengan produksi 2.924.933 ton dan limbah kulit singkong 438.740 ton – 584.987 ton. Tujuan penelitian ini adalah memanfaatkan limbah kulit singkong menjadi dendeng kulit singkong. Penelitian dilakukan di Laboratorium Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian pada bulan Maret 2017. Penelitian menggunakan metode rancangan acak kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan yaitu: 1) Kulit singkong ; 2) Kulit singkong + ikan teri; 3) Kulit singkong + udang ebi; 4) Kulit singkong + ikan tongkol. Masing-masing perlakuan diulang 6 kali sehingga diperoleh 24 satuan percobaan. Pengamatan dilakukan dengan uji organoleptik 60 panelis terdiri dari 20 siswa SLTP; 20 siswa SMA; 20 mahasiswa dan 20 anggota kelompok wanita tani. Pengamatan dilakukan terhadap warna, aroma dan tekstur dendeng kulit singkong mentah dan warna, aroma, tekstur dan rasa dendeng kulit singkong yang telah digoreng. Hasil uji Duncan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan terhadap warna, aroma dan tekstur dendeng kulit singkong mentah dan yang telah digoreng. Perlakuan yang paling disukai panelis adalah kulit singkong + udang ebi.
Peningkatan Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Wortel (Daucus Carota L) Dengan Penggunaan Pupuk Organik Cair Yustinus Nahak; Tatang Suryadi; Rika Despita
AGRIEKSTENSIA Vol 17 No 2 (2018): AGRIEKSTENSIA: Jurnal Penelitian Terapan Bidang Pertanian
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (427.965 KB) | DOI: 10.34145/agriekstensia.v17i2.92

Abstract

Wortel merupakan sayuran umbi yang bernilai ekonomi tinggi di Indonesia. Upaya peningkatan kuantitas umbi dilakukan agar dapat memenuhi permintaan pasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi penggunaan pupuk organik cair yang mampu menghasilkan pertumbuhan dan umbi wortel terbaik. Penelitian dilakukan di Lahan STPP Malang mulai Januari sampai Mei 2017. Metode Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan konsentrasi yaitu: P0 (0 ml/liter/tanaman); P1 (45 ml/liter/tanaman); P2 (90 ml/liter/tanaman); P3(135 ml/liter/tanaman; P4 (180 ml/liter/tanaman); P5 (225 ml/liter/tanaman); P6 (270 ml/liter/tanaman). Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali sehingga diperoleh 28 satuan percobaan. Penanaman dilakukan di polibag. Analisis data menggunakan uji anova 5% dan uji Duncan. Hasil menunjukkan bahwa tinggi tanaman terbaik akibat perlakuan 270 ml/liter/tanaman pupuk organik cair. Diameter umbi, panjang umbi dan berat segar umbi terbaik pada perlakuan 180 ml/liter/tanaman pupuk organik cair.
Pengaruh Berbagai Jenis POC Terhadap Pertumbuhan, Produksi Tanaman Selada Sistem Irigasi Tetes Kebang, Christian; Muditha, IGN; Despita, Rika
AGRIEKSTENSIA Vol 18 No 2 (2019): AGRIEKSTENSIA: Jurnal Penelitian Terapan Bidang Pertanian
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.908 KB) | DOI: 10.34145/agriekstensia.v18i2.424

Abstract

Selada merupakan salah satu jenis sayuran yang digemari masyarakat pada umumnya. Selada dapat tumbuh baik pada tanah yang bertekstur gembur dan subur dengan pH tanah ideal yaitu antara 6,5-7, dan juga memiliki kandungan senyawa organik yang tinggi. Tujuan kajian ini yaitu untuk mengetahui jenis pupuk organik cair yang terbaik untuk pertumbuhan tanaman selada dengan memanfaatkan sumberdaya alam yang tersedia. kajian dilaksanakan di POLBANGTAN Malang pada April – Juni 2019. Rancangan kajian yang dilakukan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK). Perlakuan yang digunakan yaitu P1 (limbah sayur), P2 (urin sapi), P3 (Paitan), P4 (Gamal) dengan 6 kali ulangan pada setiap perlakuan, dan juga untuk setiap perlakuan terdiri dari 1 tanaman sehingga diperoleh jumlah keseluruhan yaitu terdapat 24 tanaman selada. Konsentrasi yang digunakan yaitu sebanyak 20 ml/L pada setiap ulangan. Parameter yang diamati yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, bobot segar tanaman, dan bobot segar akar. Penelitian ini diuji menggunakan uji Anova taraf 5%, dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil kajian membuktikan bahwa pemberian pupuk organik cair dari berbagai macam perlakuan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan tanaman selada. Pemberian pupuk organik cair yang paling berpengaruh pada pertumbuhan tanaman selada adalah pupuk organik cair yang terbuat dari bahan baku daun gamal. Kata kunci— Budidaya tanaman selada, pupuk organik cair
Pengendalian Akar Gada Pada Sawi Pakcoy dengan Trichoderma, Garam dan Bawang Putih Pratiwi, Harsita H.; Sudjianto, A.; Despita, Rika
AGRIEKSTENSIA Vol 18 No 2 (2019): AGRIEKSTENSIA: Jurnal Penelitian Terapan Bidang Pertanian
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.331 KB) | DOI: 10.34145/agriekstensia.v18i2.427

Abstract

Sebagai sentra wisata petik sayur di kota Batu, masyarakat desa Sumberejo adalah petani sayur dimana sebagian besar petani menanam tanaman sawi, kubis-kubisan dan tanaman sayur lainnya. Permasalah yang sering terjadi pada petani sayur di musim penghujan ialah penyakit akar gada yang membuat hasil produksi menurun. Oleh karena itu dilakukan kajian cara pengendalian penyakit akar gada dengan menggunakan Trichoderma, Larutan Garam dan Bawang Putih. Metode kajian adalah rancangan percobaan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan empat perlakuan. Perlakuan 1 (P1) = Tanpa perlakuan; Perlakuan 2 (P2) = Pemberian Trichoderma sp 100 mL; Perlakuan 3 (P3) = Pemberian larutan garam 100 mL; Perlakuan 4 (P4) = Perendaman benih 100 mL larutan bawang putih. Setiap perlakuan diulang sebanyak 6 kali sehingga terdapat 24 satuan perlakuan. Analisis yang dugunakan adalah Uji F pada taraf kesalahan 5% dan dilakukan uji lanjut menggunakan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) taraf 5%. Hasil kajian menunjukkan bahwa pengendalian penyakit Akar Gada Pada Tanaman Sawi Pakcoy dengan perlakuan terbaik adalah pemberian Trichoderma (P2) dan bawang putih (P4) terbukti dapat meningkatkan pertumbuhan (tinggi dan jumlah daun) dan produksi (bobot segar tanaman) Sawi Pakcoy (Brassica Rapa L). Sedangkan pada perlakuan pemberian larutan garam (P3) menunjukkan pertumbuhan pernyakit akar gada dan menghambat pertumbuhan tanaman. Kata kunci— Akar Gada, Pakcoy, Bawang Putih, Garam
Uji Kemampuan Asap Cair secara in Vitro dan in Vivo Untuk Penyakit Antraknosa (Colletotrichum capsici) Pada Tanaman Cabai (Capsicum annum L) Zuanif, Vaya; Despita, Rika
AGRIEKSTENSIA Vol 18 No 2 (2019): AGRIEKSTENSIA: Jurnal Penelitian Terapan Bidang Pertanian
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (621.287 KB) | DOI: 10.34145/agriekstensia.v18i2.434

Abstract

Cabai mempunyai nilai ekonomis tinggi di Indonesia dan termasuk komoditas startegis. Penyakit antraknosa adalah salah satu penyakit penting pada tanaman cabai. Pengendalian penyakit antraknosa pada tanaman cabai menggunakan asap cair belum pernah dilakukan sehingga penelitian ini perlu untuk dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan asap cair dalam mengendalikan penyakit antraknosa pada tanaman cabai yang disebabkan oleh cendawan Colletotrichum capsici. Kajian dilakukan secara in vitro dan perlakuan yang sama dilakukan juga secara in vivo. Kajian in vitro dilakukan di Laboratorium Proteksi Tanaman dan kajian in vivo dilakukan di lahan BBPP Ketindan dimulai bulan Maret sampai Juni 2018. Metode kajian untuk in vitro yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan metode kajian untuk in vivo yaitu Rancangan Acak Kelompok (RAK). Perlakuan terdiri dari B0K0:tanpa asap cair, B1K1:asap cair tempurung kelapa konsentrasi 1%, B1K3: asap cair tempurung kelapa konsentrasi 3%, B1K5: asap cair tempurung kelapa konsentrasi 5%, B1K7: asap cair tempurung kelapa konsentrasi 7%, B2K1: asap cair sekam konsentrasi 1%, B2K3: asap cair sekam konsentrasi 3%, B2K5: asap cair sekam konsentrasi 5%, B2K7: asap cair sekam konsentrasi 7%. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali sehingga diperoleh 36 satuan percobaan. Parameter yang diamati adalah diameter koloni cendawan dan persentase penghambatan asap cair. Hasil pengamatan in vitro menunjukkan bahwa aplikasi asap cair 3%, 5% dan 7% mampu menghambat pertumbuhan cendawan Colletotrichum capsici sebanyak 100%. Aplikasi asap cair dari tempurung kelapa secara in vivo (lapangan) dengan konsentrasi 7% mampu menghambat pertumbuhan cendawan Colletotrichum capsici dan aplikasi asap cair konsentrasi 1% mampu menghambat pertumbuhan cendawan Colletotrichum capsici sampai hari ke 4 setelah penyemprotan dengan arti lain penyemprotan perlu dilakukan setiap 4 hari sekali. Kata kunci—asap cair tempurung kelapa, asap cair sekam, antraknosa, cabai
Produksi Bawang Merah Tumpangsari Dengan Cabai Pada Beberapa Jarak Tanam Despita, rika; Nizar, Achmad; Purnomo, Dwi; Fernanda, Yan
AGRIEKSTENSIA Vol 19 No 2 (2020): AGRIEKSTENSIA: Jurnal Penelitian Terapan Bidang Pertanian
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.542 KB) | DOI: 10.34145/agriekstensia.v19i2.1453

Abstract

ABSTRAK Bawang merah adalah komoditas yang dibutuhkan masyarakat Indonesia setiap hari sebagai bumbu masak. Produksi bawang merah perlu ditingkatkan seiiring dengan meningkatnya kebutuhan bawang merah. Salah satu upaya perluasan penanaman bawang merah adalah intensifikasi seperti tumpangsari. Tanaman bawang merah dapat ditumpangsarikan dengan tanaman cabai. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari produksi bawang merah dengan pola tanam tumpangsari pada beberapa jarak tanam. Metode penelitian adalah rancangan acak kelompok dengan 6 perlakuan yaitu: tumpangsari, jarak tanam 15 x 15 cm; tumpangsari, jarak tanam 20 x 20 cm; tumpangsari jarak tanam 25 x 25 cm; monokultur, jarak tanam 15 x 15 cm; monokultur 20 x 20 cm; monokultur 25 x 25 cm. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali sehingga diperoleh 24 satuan percobaan. Pengamatan dilakukan terhadap berat segar umbi, berat umbi kering konsumsi, produksi per ha, jumlah umbi, diameter umbi. Data hasil pengamatan dianalisis dengan uji F taraf 5% dan DMRT taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi bawang merah dalam satuan ha dengan pola tanam monokultur dan tumpangsari jarak tanam 15 x 15 cm memberikan hasil yang sama. oleh karena itu tumpangsari tanaman bawang merah dengan cabai jarak tanam 15 x 15 cm dapat diterapkan di tingkat petani. Kata kunci: Produksi, Bawang merah, cabai, tumpangsari ABSTRACT Shallots are a commodity that Indonesians need every day as a cooking spice. Production needs to be increased in line with the need for shallots. The increase in the planting area of ​​shallots is intensification such as intercropping. Onion plants can be intercropped with chilli plants. This study aims to study the production of shallots with an intercropping cropping pattern at planting distance. The research method was a randomized group with 6 treatments, namely: intercropping, spacing 15 x 15 cm; intercropping, spacing 20 x 20 cm; intercropping with 25 x 25 cm spacing; monoculture, spacing 15 x 15 cm; monoculture 20 x 20 cm; monoculture 25 x 25 cm. Each treatment was repeated 4 times in order to obtain 24 experimental units. Observations were made on tuber fresh weight, dry tuber weight consumption, production per ha, tuber number, tuber diameter. Observation data were analyzed by means of the F test at 5% level and DMRT level 5%. The results showed that the production of ha-1 with a cropping pattern of monoculture and intercropping with a spacing of 15 x 15 cm gave the same results. Therefore, intercropping of shallots with chillies at a spacing of 15 x 15 cm can be applied to farmers. Keywords: Production, shallots, chillies, intercropping
Produksi Bawang Merah pada Musim Hujan dengan Aplikasi Rhizobakteria Pemacu Tumbuh Tanaman Despita, Rika; Rachmadiyanto, Arief Noor
AGRIEKSTENSIA Vol 20 No 2 (2021): AGRIEKSTENSIA: Jurnal Penelitian Terapan Bidang Pertanian
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.819 KB) | DOI: 10.34145/agriekstensia.v20i2.1747

Abstract

ABSTRAK Bawang merah (Allium ascalonicum L.) termasuk tanaman hortikultura yang bernilai ekonomis tinggi di Indonesia. Kebutuhan bawang merah terus meningkat, namun hasil produksi dari petani menurun pada musim penghujan (off-season) yang disebabkan fotosintesis tanaman kurang optimal dan serangan hama dan penyakit. Rhizobakteria Pemacu Tumbuh Tanaman (RPTT) yang menghasilkan zat pengatur tumbuh mampu meningkatkan ketahanan tanaman, pertumbuhan dan produksi bawang merah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produksi bawang merah pada musim hujan dengan aplikasi RPTT. Penelitian dilakukan di lahan pertanian di Desa Randuagung, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang pada Desember 2017 sampai dengan Februari 2018. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan 2 Faktor. Faktor pertama berupa penambahan Bacillus subtilis (0, 5, 10 ml/l) dan faktor kedua penambahan Pseudomonas fluorescens (0, 5, 10 ml/l) sehingga diperoleh 9 kombinasi perlakuan dengan 3 kali ulangan. Aplikasi dilakukan setiap 7 hari sekali dengan larutan (sesuai perlakuan) 200 ml per tanaman. Parameter pengamatan meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah umbi per tanaman, diameter umbi, berat umbi per tanaman, berat umbi per petak dan produktivitasnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi perlakuan B. subtillis dan P. fluorescens dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi bawang merah. Hasil produksi bawang merah terbaik berupa berat umbi per petak 3,12 kg diperoleh dari hasil perlakuan B. subtillis 5 ml/l dan P. fluorescens 0 ml/l. Pemberian RPTT dapat menghasilkan bawang merah sesuai dengan potensi varietasnya yaitu 14,16 to ha-1. Peningkatan produksi bawang merah pada musim hujan dapat dilakukan melalui aplikasi RPTT). Kata kunci— bacillus subtillis; bawang merah; produktivitas; pseudomonas fluorescens ABSTRACT Shallots (Allium ascalonicum L.) are horticultural commodities with high economic value in Indonesia. The need for shallots continues to increase, but production yields from farmers decrease in the rainy season (off-season) due to less than optimal plant photosynthesis and pests and diseases. Plant growth-promoting rhizobacteria (PGPR), which produce growth regulators, can increase plant resistance, growth, and yield of shallots. This study aims to determine the production of shallots in the rainy season with the PGPR application. The research was conducted on agricultural land in Randuagung Village, Singosari District, Malang Regency, from December 2017 to February 2018. The research method used was a factorial randomized block design, with the first factor being the addition of Bacillus subtilis (0, 5, 10 ml / l) and factors. The second edition of Pseudomonas fluorescens (0, 5, 10 ml / l) obtained nine treatment combinations with three replications. Applications were carried out every seven days with a solution (according to treatment) of 200 ml per plant. Observation parameters include plant height, number of leaves, tubers per plant, tuber diameter, tuber weight per plant, tuber weight per plot, and productivity. The results showed that the interaction between the treatment of B. subtillis and P. fluorescens could increase the growth and production of shallots. The best yield of shallot in the form of tuber weight of 3.12 kg per plot was obtained from the treatment of B. subtillis 5 ml / l and P. fluorescens 0 ml / l. PGPR can produce shallots according to the potential varieties, namely 14.16 to ha-1. Increasing shallot production during the rainy season can be done through the PGPR application). Keywords— bacillus subtillis; off-season; productivity; pseudomonas fluorescent; shallot
Penyuluhan Manfaat Penggunaan Benih Jagung Bersertifikat Asrifin, Asrifin; Despita, Rika; Nisa, Uswatun
AGRIEKSTENSIA Vol 22 No 2 (2023): AGRIEKSTENSIA: Jurnal Penelitian Terapan Bidang Pertanian
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34145/agriekstensia.v22i2.2974

Abstract

Petani menggunakan benih non-sertifikat/hasil panen sendiri merupakan sebuah fenomena yang sering ditemukan di lapangan. Petani cenderung memilih menggunakan benih non-sertifikat karena harganya dirasa lebih murah daripada harus membeli di kios pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun perancangan penyuluhan peningkatan pengetahuan petani tentang manfaat menggunakan benih jagung bersertifikat serta mengukur peningkatan pengetahuan petani tersebut. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Kepel, Kab. Nganjuk dengna pertimbangan petani setempat masih menggunakan benih jagung non-sertifikat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan sampel sebanyak 25 orang yang didapatkan dari rumus proportional random sampling pada masing-masing kelompok yang ada di Desa Kepel. Melalui analisa deskriptif, penelitian ini menghasilkan rancangan penyuluhan yang efektif meningkatkan pengetahuan petani sebesar 21,6%.