Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

INDUKSI KERAGAMAN SOMAKLONAL TANAMAN KANTONG SEMAR (Nepenthes mirabilis) DENGAN MUTAGEN KIMIA KOLKISIN SECARA IN VITRO Damayanti, Fitri; Roostika, Ika; Samsurianto, Samsurianto
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 9, No 1 (2012): Prosiding Seminar Nasional IX Biologi
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK   Nepenthes merupakan salah satu tanaman yang berada pada tingkat erosi genetik yang tinggi akibat dari penjarahan hutan dan eksploitasi yang berlebihan tanpa diikuti upaya peremajaan. Konsekuensinya, keragaman tanaman ini menjadi sempit seiring dengan punahnya spesies tertentu dari waktu ke waktu. Perbaikan tanaman secara in vitro dapat dilakukan antara lain melalui keragaman somaklonal yang dapat memberikan peluang baru untuk pengembangan bibit yang berguna dalam menunjang program pemuliaan tanaman. Keragaman somaklonal dapat ditingkatkan dengan pemberian mutagen kimia (kolkisin) atau mutagen fisika (radiasi sinar gamma). Eksplan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tunas in vitro dari N. mirabilis. Mutagen yang digunakan adalah mutagen kimia kolkisin (0, 0.05, 0.075, dan 0.1%) dengan lama perendaman tiga hari. Induksi keragaman somaklonal dengan menggunakan kolkisin terbukti dapat meningkatkan keragaman genetik pada tanaman Nepenthes dan kultur lebih mudah beregenerasi. Keragaman somaklonal yang dihasilkan terlihat dari penampilan morfologi dan karakter sitologi. Pada beberapa perlakuan mutasi dihasilkan tanaman varigata/khimera, seperti: daun belang (setrip putih dan hijau), daun dengan ukurannya yang sempit, daun dengan bentuk memanjang, daun dengan ukuran kecil, warna daun lebih gelap, ukuran kantong yang lebih besar diikuti dengan peningkatan ukuran stomata dan jumlah kloroplas. Perlakuan kolkisin 0.05% dapat menginduksi embriogenesis somatik yang sangat potensial dalam perbaikan sifat tanaman.   Kata Kunci: Nepenthes mirabilis, keragaman somaklonal, kolkisin.
Callus induction and proliferation of Centella asiatica L. generated from leaves and petioles in the presence of Dicamba and BAP Rahayu, Suci; Saptadi, Darmawan; Azmi, Chotimatul; Kusumanegara, Kusumawaty; Handayani, Tri; Roostika, Ika; Bermawie, Nurliani; Maulana, Haris
Kultivasi Vol 22, No 3 (2023): Jurnal Kultivasi
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kultivasi.v22i3.50581

Abstract

Centella's need for industrial raw materials is high as a medicinal plant. These needs can be met through rapid multiplication using tissue culture techniques. In this study, induction and proliferation for a callus of centella cv. Castina 3 was conducted in the MS basal medium plus 4 mgL-1 Dicamba withand enriched with 7 concentrations of BAP (0, 0.1, 0.3, 0.5, 0.7, 0.9, and 1.1 mgL-1). Two kinds of explant were used, i.e., leaf and petiole. The results revealed that the addition of BAP in MS plus Dicamba medim stimulated better and produced a higher callus growth rate, both from leaf and petiole explants, than that media with Dicamba alone. Furthermore, 4 mgL-1 Dicamba + 1.1 mgL-1 BAP had a friable callus in the induction phase and a friable-compact callus in the proliferation phase. From this finding, it can be considered to use a combination of 4 mgL-1 Dicamba with 1.1 mgL-1 BAP in callus induction and proliferation for Centella rapid multiplication. 
Respon empat varietas bawang putih (Allium sativum L.) lokal Indonesia terhadap media induksi dan proliferasi kalus embriogenik Hafizah, Rumaisha Afifatul; Sobir, Sobir; Aisyah, Syarifah Iis; Tamami, Djoko; Roostika, Ika
Jurnal AGRO Vol 11, No 2 (2024)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/37229

Abstract

Establishing a regeneration media of Indonesian local garlic is necessary for several purposes, including plant breeding and large-scale propagation. This study was aimed to evaluate media formulation on callus induction and proliferation of four local garlic varieties (Geol, Lumbu Hijau, Lumbu Kuning, and Lumbu Putih) using root cuttings as the explants. MS media supplemented with different concentration of picloram (4 and 6 mg L-1) without and in combination with glutamine (100 mg L-1) alone and casein hydrolysate (3 g L-1) were evaluated. The results showed that the responses of induction and proliferation of embryogenic callus were genotype-dependent because there was no significant interaction between varieties and media formulations. Still, the varieties had a significant interaction with the observed variables. The fastest initiation time of callus induction was obtained from Lumbu Putih, less than 2 weeks after culture. Geol showed the highest percentage of callus formation and fresh weight of callus, 59% and 0,92 g respectively. There were three different types of the callus: (1) friable, glossy, clear white, (2) friable, glossy, transparent yellow, and (3) semi compact, glossy, yellowish to milky white. ABSTRAK Pemantapan media regenerasi bawang putih lokal Indonesia penting dilakukan untuk berbagai tujuan, termasuk pemuliaan tanaman dan perbanyakan skala besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon in vitro empat varietas bawang putih lokal (Geol, Lumbu Hijau, Lumbu Kuning, dan Lumbu Putih) terhadap komposisi media induksi dan proliferasi kalus dengan menggunakan akar sebagai eksplan. Komposisi media yang diujikan meliputi media dasar MS yang mengandung pikloram (4 dan 6 mg L-1), baik tanpa atau dengan penambahan glutamin (100 mg L-1) dan kasein hidrolisat (3 g L-1). Hasil penelitian menunjukkan respon induksi dan proliferasi kalus embriogenik bersifat genotype dependent, sebab tidak terdapat interaksi yang nyata antara faktor varietas dan formulasi media, namun faktor varietas berpengaruh nyata terhadap variabel amatan. Waktu inisiasi kalus tercepat diperoleh dari Lumbu Putih, yaitu kurang dari 2 minggu setelah kultur. Varietas Geol memiliki persentase pembentukan kalus dan bobot segar kalus tertinggi, berturut-turut sebesar 59% dan 0,92 g. Terdapat tiga tipe kalus yang terbentuk, yaitu (1) remah, mengkilap, putih bening, (2) remah, mengkilap, bening kekuningan, dan (3) kompak, mengkilap, kekuningan-putih susu.
Respon empat varietas bawang putih (Allium sativum L.) lokal Indonesia terhadap media induksi dan proliferasi kalus embriogenik Hafizah, Rumaisha Afifatul; Sobir, Sobir; Aisyah, Syarifah Iis; Tamami, Djoko; Roostika, Ika
Jurnal AGRO Vol. 11 No. 2 (2024)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/37229

Abstract

Establishing a regeneration media of Indonesian local garlic is necessary for several purposes, including plant breeding and large-scale propagation. This study was aimed to evaluate media formulation on callus induction and proliferation of four local garlic varieties (Geol, Lumbu Hijau, Lumbu Kuning, and Lumbu Putih) using root cuttings as the explants. MS media supplemented with different concentration of picloram (4 and 6 mg L-1) without and in combination with glutamine (100 mg L-1) alone and casein hydrolysate (3 g L-1) were evaluated. The results showed that the responses of induction and proliferation of embryogenic callus were genotype-dependent because there was no significant interaction between varieties and media formulations. Still, the varieties had a significant interaction with the observed variables. The fastest initiation time of callus induction was obtained from Lumbu Putih, less than 2 weeks after culture. Geol showed the highest percentage of callus formation and fresh weight of callus, 59% and 0,92 g respectively. There were three different types of the callus: (1) friable, glossy, clear white, (2) friable, glossy, transparent yellow, and (3) semi compact, glossy, yellowish to milky white. ABSTRAK Pemantapan media regenerasi bawang putih lokal Indonesia penting dilakukan untuk berbagai tujuan, termasuk pemuliaan tanaman dan perbanyakan skala besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon in vitro empat varietas bawang putih lokal (Geol, Lumbu Hijau, Lumbu Kuning, dan Lumbu Putih) terhadap komposisi media induksi dan proliferasi kalus dengan menggunakan akar sebagai eksplan. Komposisi media yang diujikan meliputi media dasar MS yang mengandung pikloram (4 dan 6 mg L-1), baik tanpa atau dengan penambahan glutamin (100 mg L-1) dan kasein hidrolisat (3 g L-1). Hasil penelitian menunjukkan respon induksi dan proliferasi kalus embriogenik bersifat genotype dependent, sebab tidak terdapat interaksi yang nyata antara faktor varietas dan formulasi media, namun faktor varietas berpengaruh nyata terhadap variabel amatan. Waktu inisiasi kalus tercepat diperoleh dari Lumbu Putih, yaitu kurang dari 2 minggu setelah kultur. Varietas Geol memiliki persentase pembentukan kalus dan bobot segar kalus tertinggi, berturut-turut sebesar 59% dan 0,92 g. Terdapat tiga tipe kalus yang terbentuk, yaitu (1) remah, mengkilap, putih bening, (2) remah, mengkilap, bening kekuningan, dan (3) kompak, mengkilap, kekuningan-putih susu.
REGENERASI EMBRIO PISANG LIAR MELALUI KULTUR IN VITRO DENGAN APLIKASI SUKROSA, BENZYL ADENINE DAN POLYVINYLPIRROLIDONE Putri, Syafrilia Rahma; Roostika, Ika; Adiredjo, Afifuddin Latif; Saptadi, Darmawan
Produksi Tanaman Vol. 6 No. 6 (2018)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan penelitian mengenai formulasi media yang optimal melalui penggunaan Benzyl adenine (BA), polyvinylpirrolidone (PVP), dan sukrosa untuk pertumbuhan eksplan embrio pisang liar SPN21, serta mengetahui pengaruh BA, PVP, dan sukrosa dal iam media in vitro terhadap perkecambahan dan pertumbuhan embrio pisang liar SPN-21. Dengan menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap pada 360 biji embrio (setiap perlakuan diulang 5 kali dan satu  ulangan  terdiri dari  6 embrio), hasil  pengamatan dalam bentuk data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan analisis ragam  dengan taraf 5%. Formulasi media dengan penambahan sukrosa, BA dan PVP  memberikan  pengaruh yang nyata terhadap persentase daya tumbuh, rata-rata jumlah tunas dan rata-rata jumlah daun. persentase daya hidup, persentase daya tumbuh dan jumlah tunas, jumlah akar dan jumlah daunyang tertinggidiperoleh dari  media MS yang ditambah dengan sukrosa 4% danBA 0.5 mg/l (M7). Untuk variabel yang sama dan tinggi tunas perlakuan yang tertinggi diperoleh dari media MS yang ditambah  sukrosa 4% (M8). Embrio pisang SPN21 tidak menghendaki formulasi media yang kompleks untuk meregenerasikannya. Media MS yang mengandung sukrosa 4% merupakan formulasi yang tepat untuk kultur regenerasi embrio pisang liar SPN21.
Keragaan Mutan Putatif Purwoceng (Pimpinella pruatjan Molk.) dari Benih Diiradiasi Sinar Gamma pada Tiga Ketinggian Tempat Wahyu, Yudiwanti; Darwati, Ireng; Rosita, ,; Pulungan, Muhammad Yusuf; Roostika, Ika
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 41 No. 1 (2013): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.307 KB) | DOI: 10.24831/jai.v41i1.7081

Abstract

Pruatjan (Pimpinella pruatjan Molk.) is Indonesian endangered medicinal plant which grows endemically at mountainousarea. To broaden its planting area, an effort to develop low-altitude tolerant genotype of pruatjan had been conductedsince May 2007. Pruatjan seeds harvested from Gunung Putri experimental station (1,545 m asl) were treated with gammairradiation (0-5 krad) and germinated at Gunung Putri. Young seedlings were transplanted into small polybag (Ø 10 cm), anda month later they were moved into 10-kg medium of pot or polybag. Two months later, some of the young plants were moved to Cibadak experimental station (950 m asl) and Cicurug experimental station (550 m asl). All plants were maintained until flowered and produce seeds. The result shows that seeds from all of irradiation level treatments germinated and grew wellalthough the amount of seedlings decreased by the higher level of irradiation treatment. No phenotypic difference of plantsfrom irradiated seed compared with those from non irradiated ones (0 krad). Plants at Cibadak and Cicurug grew faster thanthose at Gunung Putri, and also flowered faster. On April 2008, seeds from 0, 1, 3 and 5 krad treated plant had germinatedat Cicurug, and those seedlings were the candidate genotypes for low-altitude tolerant of pruatjan.Keywords: induced mutation, low altitude tolerant, pruatjan, variability
Radiosensitivitas dan Pertumbuhan In Vitro Protocorm Anggrek ‘Tien Soeharto’ (Cymbidium hartinahianum J.B. Comber & R.E. Nasution) Sudarsono; Handini, Elizabeth; Sukma, Dewi; Roostika, Ika
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 48 No. 3 (2020): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (563.81 KB) | DOI: 10.24831/jai.v48i3.29170

Abstract

C. hartinahianum J.B. Comber & R.E. Nasution merupakan salah satu jenis anggrek endemik di Sumatera Utara. Habitatnya terbatas di dataran tinggi dengan suhu rendah. Habitat alami tersebut sudah banyak dikonversi untuk penggunaan lainnya. Induksi radiasi sinar gamma merupakan metode alternatif untuk mendapatkan tanaman mutan toleransi terhadap kondisi suhu yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui radiosensitivitas protocorm C. hartinahianum J.B. Comber & R.E. Nasution terhadap iradiasi sinar gamma dan pertumbuhan PLBs di suhu ruang kultur yang berbeda. Protocorm diiradiasi dalam kisaran dosis iradiasi 0, 5, 10, 15, dan 20 Gy, kemudian separoh populasi protocorm pasca iradiasi diinkubasi dalam ruang kultur dengan suhu 16-18 oC dan separoh yang lain di suhu 22-27 oC, untuk mengevaluasi radiosentitivitas dan pertumbuhannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LD20 dan LD50 protocorm di ruang kultur bersuhu 16-18 oC adalah 26.98 Gy dan 38.24, sementara LD20 dan LD50 protocorm pada ruang kultur bersuhu 22-27 oC adalah 17.08 Gy dan 27.29 Gy. Proliferasi PLBs dan morfogenesis tunas C. hartinahianum lebih baik pada ruang kultur dengan suhu 22-27 oC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa re-iradiasi sinar gamma sebaiknya dilakukan pada LD20 atau LD50 dari ruang kultur dengan suhu 22-27 oC yaitu sebesar 17.08 Gy dan 27.29 Gy, untuk mendapatkan mutan putatif C. hartinahianum. Kata kunci: dosis letal, induksi mutasi in vitro, iradiasi sinar gamma, multiplikasi, protocorm like bodies (PLBs)
RAPD ANALYSIS TO DETECT SOMACLONAL VARIATION OF PINEAPPLE IN VITRO CULTURES DURING MICROPROPAGATION Roostika, Ika; Khumaida, Nurul; Ardie, Sintho Wahyuning
BIOTROPIA Vol. 22 No. 2 (2015): BIOTROPIA Vol. 22 No. 2 December 2015
Publisher : SEAMEO BIOTROP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (21.504 KB) | DOI: 10.11598/btb.2015.22.2.422

Abstract

Plant off-type formation has become a concern in pineapple micropropagation, and reliable methods are required to detect and minimize this problem. This study was conducted to confirm the occurrence of somaclonal variation during the micropropagation of pineapple clone Simadu. The effects of culture period (long vs. short duration) and regeneration methods (direct organogenesis, indirect organogenesis, and somatic embryogenesis) were evaluated to determine their contribution to somaclonal variation. RAPD analysis using ten primers was performed to confirm genetic variation. The results showed that RAPD assays could be applied for early detection of somaclonal variation in pineapple, with OPA primers performing better than OPJ primers. Phenotypic variation observed in four-year-old field-grown pineapple plants and plantlets was associated with genetic variation. The findings demonstrated that the long culture period was the main factor contributing to somaclonal variation, while regeneration method and plant growth regulators also played a role in inducing genetic changes. Newly initiated cultures showed a higher level of genetic similarity. Therefore, applying an appropriate micropropagation strategy is necessary to minimize plant off-types. It is recommended to avoid using long-term cultures as mother stock and to apply direct organogenesis rather than indirect organogenesis or somatic embryogenesis for pineapple micropropagation.