Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Respon empat varietas bawang putih (Allium sativum L.) lokal Indonesia terhadap media induksi dan proliferasi kalus embriogenik Hafizah, Rumaisha Afifatul; Sobir, Sobir; Aisyah, Syarifah Iis; Tamami, Djoko; Roostika, Ika
Jurnal AGRO Vol 11, No 2 (2024)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/37229

Abstract

Establishing a regeneration media of Indonesian local garlic is necessary for several purposes, including plant breeding and large-scale propagation. This study was aimed to evaluate media formulation on callus induction and proliferation of four local garlic varieties (Geol, Lumbu Hijau, Lumbu Kuning, and Lumbu Putih) using root cuttings as the explants. MS media supplemented with different concentration of picloram (4 and 6 mg L-1) without and in combination with glutamine (100 mg L-1) alone and casein hydrolysate (3 g L-1) were evaluated. The results showed that the responses of induction and proliferation of embryogenic callus were genotype-dependent because there was no significant interaction between varieties and media formulations. Still, the varieties had a significant interaction with the observed variables. The fastest initiation time of callus induction was obtained from Lumbu Putih, less than 2 weeks after culture. Geol showed the highest percentage of callus formation and fresh weight of callus, 59% and 0,92 g respectively. There were three different types of the callus: (1) friable, glossy, clear white, (2) friable, glossy, transparent yellow, and (3) semi compact, glossy, yellowish to milky white. ABSTRAK Pemantapan media regenerasi bawang putih lokal Indonesia penting dilakukan untuk berbagai tujuan, termasuk pemuliaan tanaman dan perbanyakan skala besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon in vitro empat varietas bawang putih lokal (Geol, Lumbu Hijau, Lumbu Kuning, dan Lumbu Putih) terhadap komposisi media induksi dan proliferasi kalus dengan menggunakan akar sebagai eksplan. Komposisi media yang diujikan meliputi media dasar MS yang mengandung pikloram (4 dan 6 mg L-1), baik tanpa atau dengan penambahan glutamin (100 mg L-1) dan kasein hidrolisat (3 g L-1). Hasil penelitian menunjukkan respon induksi dan proliferasi kalus embriogenik bersifat genotype dependent, sebab tidak terdapat interaksi yang nyata antara faktor varietas dan formulasi media, namun faktor varietas berpengaruh nyata terhadap variabel amatan. Waktu inisiasi kalus tercepat diperoleh dari Lumbu Putih, yaitu kurang dari 2 minggu setelah kultur. Varietas Geol memiliki persentase pembentukan kalus dan bobot segar kalus tertinggi, berturut-turut sebesar 59% dan 0,92 g. Terdapat tiga tipe kalus yang terbentuk, yaitu (1) remah, mengkilap, putih bening, (2) remah, mengkilap, bening kekuningan, dan (3) kompak, mengkilap, kekuningan-putih susu.
Respon empat varietas bawang putih (Allium sativum L.) lokal Indonesia terhadap media induksi dan proliferasi kalus embriogenik Hafizah, Rumaisha Afifatul; Sobir, Sobir; Aisyah, Syarifah Iis; Tamami, Djoko; Roostika, Ika
Jurnal AGRO Vol. 11 No. 2 (2024)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/37229

Abstract

Establishing a regeneration media of Indonesian local garlic is necessary for several purposes, including plant breeding and large-scale propagation. This study was aimed to evaluate media formulation on callus induction and proliferation of four local garlic varieties (Geol, Lumbu Hijau, Lumbu Kuning, and Lumbu Putih) using root cuttings as the explants. MS media supplemented with different concentration of picloram (4 and 6 mg L-1) without and in combination with glutamine (100 mg L-1) alone and casein hydrolysate (3 g L-1) were evaluated. The results showed that the responses of induction and proliferation of embryogenic callus were genotype-dependent because there was no significant interaction between varieties and media formulations. Still, the varieties had a significant interaction with the observed variables. The fastest initiation time of callus induction was obtained from Lumbu Putih, less than 2 weeks after culture. Geol showed the highest percentage of callus formation and fresh weight of callus, 59% and 0,92 g respectively. There were three different types of the callus: (1) friable, glossy, clear white, (2) friable, glossy, transparent yellow, and (3) semi compact, glossy, yellowish to milky white. ABSTRAK Pemantapan media regenerasi bawang putih lokal Indonesia penting dilakukan untuk berbagai tujuan, termasuk pemuliaan tanaman dan perbanyakan skala besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon in vitro empat varietas bawang putih lokal (Geol, Lumbu Hijau, Lumbu Kuning, dan Lumbu Putih) terhadap komposisi media induksi dan proliferasi kalus dengan menggunakan akar sebagai eksplan. Komposisi media yang diujikan meliputi media dasar MS yang mengandung pikloram (4 dan 6 mg L-1), baik tanpa atau dengan penambahan glutamin (100 mg L-1) dan kasein hidrolisat (3 g L-1). Hasil penelitian menunjukkan respon induksi dan proliferasi kalus embriogenik bersifat genotype dependent, sebab tidak terdapat interaksi yang nyata antara faktor varietas dan formulasi media, namun faktor varietas berpengaruh nyata terhadap variabel amatan. Waktu inisiasi kalus tercepat diperoleh dari Lumbu Putih, yaitu kurang dari 2 minggu setelah kultur. Varietas Geol memiliki persentase pembentukan kalus dan bobot segar kalus tertinggi, berturut-turut sebesar 59% dan 0,92 g. Terdapat tiga tipe kalus yang terbentuk, yaitu (1) remah, mengkilap, putih bening, (2) remah, mengkilap, bening kekuningan, dan (3) kompak, mengkilap, kekuningan-putih susu.
REGENERASI EMBRIO PISANG LIAR MELALUI KULTUR IN VITRO DENGAN APLIKASI SUKROSA, BENZYL ADENINE DAN POLYVINYLPIRROLIDONE Putri, Syafrilia Rahma; Roostika, Ika; Adiredjo, Afifuddin Latif; Saptadi, Darmawan
Produksi Tanaman Vol. 6 No. 6 (2018)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan penelitian mengenai formulasi media yang optimal melalui penggunaan Benzyl adenine (BA), polyvinylpirrolidone (PVP), dan sukrosa untuk pertumbuhan eksplan embrio pisang liar SPN21, serta mengetahui pengaruh BA, PVP, dan sukrosa dal iam media in vitro terhadap perkecambahan dan pertumbuhan embrio pisang liar SPN-21. Dengan menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap pada 360 biji embrio (setiap perlakuan diulang 5 kali dan satu  ulangan  terdiri dari  6 embrio), hasil  pengamatan dalam bentuk data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan analisis ragam  dengan taraf 5%. Formulasi media dengan penambahan sukrosa, BA dan PVP  memberikan  pengaruh yang nyata terhadap persentase daya tumbuh, rata-rata jumlah tunas dan rata-rata jumlah daun. persentase daya hidup, persentase daya tumbuh dan jumlah tunas, jumlah akar dan jumlah daunyang tertinggidiperoleh dari  media MS yang ditambah dengan sukrosa 4% danBA 0.5 mg/l (M7). Untuk variabel yang sama dan tinggi tunas perlakuan yang tertinggi diperoleh dari media MS yang ditambah  sukrosa 4% (M8). Embrio pisang SPN21 tidak menghendaki formulasi media yang kompleks untuk meregenerasikannya. Media MS yang mengandung sukrosa 4% merupakan formulasi yang tepat untuk kultur regenerasi embrio pisang liar SPN21.
Keragaan Mutan Putatif Purwoceng (Pimpinella pruatjan Molk.) dari Benih Diiradiasi Sinar Gamma pada Tiga Ketinggian Tempat Wahyu, Yudiwanti; Darwati, Ireng; Rosita, ,; Pulungan, Muhammad Yusuf; Roostika, Ika
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 41 No. 1 (2013): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.307 KB) | DOI: 10.24831/jai.v41i1.7081

Abstract

Pruatjan (Pimpinella pruatjan Molk.) is Indonesian endangered medicinal plant which grows endemically at mountainousarea. To broaden its planting area, an effort to develop low-altitude tolerant genotype of pruatjan had been conductedsince May 2007. Pruatjan seeds harvested from Gunung Putri experimental station (1,545 m asl) were treated with gammairradiation (0-5 krad) and germinated at Gunung Putri. Young seedlings were transplanted into small polybag (Ø 10 cm), anda month later they were moved into 10-kg medium of pot or polybag. Two months later, some of the young plants were moved to Cibadak experimental station (950 m asl) and Cicurug experimental station (550 m asl). All plants were maintained until flowered and produce seeds. The result shows that seeds from all of irradiation level treatments germinated and grew wellalthough the amount of seedlings decreased by the higher level of irradiation treatment. No phenotypic difference of plantsfrom irradiated seed compared with those from non irradiated ones (0 krad). Plants at Cibadak and Cicurug grew faster thanthose at Gunung Putri, and also flowered faster. On April 2008, seeds from 0, 1, 3 and 5 krad treated plant had germinatedat Cicurug, and those seedlings were the candidate genotypes for low-altitude tolerant of pruatjan.Keywords: induced mutation, low altitude tolerant, pruatjan, variability
Radiosensitivitas dan Pertumbuhan In Vitro Protocorm Anggrek ‘Tien Soeharto’ (Cymbidium hartinahianum J.B. Comber & R.E. Nasution) Sudarsono; Handini, Elizabeth; Sukma, Dewi; Roostika, Ika
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 48 No. 3 (2020): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (563.81 KB) | DOI: 10.24831/jai.v48i3.29170

Abstract

C. hartinahianum J.B. Comber & R.E. Nasution merupakan salah satu jenis anggrek endemik di Sumatera Utara. Habitatnya terbatas di dataran tinggi dengan suhu rendah. Habitat alami tersebut sudah banyak dikonversi untuk penggunaan lainnya. Induksi radiasi sinar gamma merupakan metode alternatif untuk mendapatkan tanaman mutan toleransi terhadap kondisi suhu yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui radiosensitivitas protocorm C. hartinahianum J.B. Comber & R.E. Nasution terhadap iradiasi sinar gamma dan pertumbuhan PLBs di suhu ruang kultur yang berbeda. Protocorm diiradiasi dalam kisaran dosis iradiasi 0, 5, 10, 15, dan 20 Gy, kemudian separoh populasi protocorm pasca iradiasi diinkubasi dalam ruang kultur dengan suhu 16-18 oC dan separoh yang lain di suhu 22-27 oC, untuk mengevaluasi radiosentitivitas dan pertumbuhannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LD20 dan LD50 protocorm di ruang kultur bersuhu 16-18 oC adalah 26.98 Gy dan 38.24, sementara LD20 dan LD50 protocorm pada ruang kultur bersuhu 22-27 oC adalah 17.08 Gy dan 27.29 Gy. Proliferasi PLBs dan morfogenesis tunas C. hartinahianum lebih baik pada ruang kultur dengan suhu 22-27 oC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa re-iradiasi sinar gamma sebaiknya dilakukan pada LD20 atau LD50 dari ruang kultur dengan suhu 22-27 oC yaitu sebesar 17.08 Gy dan 27.29 Gy, untuk mendapatkan mutan putatif C. hartinahianum. Kata kunci: dosis letal, induksi mutasi in vitro, iradiasi sinar gamma, multiplikasi, protocorm like bodies (PLBs)
Kajian Morfologi, Sitologi, dan Struktur Anatomi Daun Nepenthes spp. asal Kalimantan Barat DAMAYANTI, FITRI; ROOSTIKA, IKA; MANSUR, MUHAMMAD
Bioedukasi: Jurnal Pendidikan Biologi Vol 8, No 2 (2015): Bioedukasi: Jurnal Pendidikan Biologi
Publisher : Department of Biology Education Faculty of Teacher Training and Education Sebelas Maret Un

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/bioedukasi-uns.v8i2.3862

Abstract

The objective was to describe morphology, structure of anatomy, and cytology characters of the five species as well as to determine their differences each other. In the present study five Nepenthes from West Kalimantan were evaluated: N. veitchii, N. negleta, N. bicalcarata, N. clipeata, and N. hirsuta. Morfology analysis of five species Nepenthes showed different morphology in particular shape of pitcher that each species have a unique pitcher. Cytology analysis showed high variation between species. In general, it was demonstrated that N. bicalcarata tended to have bigger epidermal cells and stomata. N. bicalcarata had aktinocytik tipe of stomata and N. clipeata, N. veitchii, N. hirsuta, and N. negleta had anomocytik tipe of stomata. Stomata only had on the lower surface except N. negleta had stomata on the upper too. N. negleta had the higher of density and index stomata. The result of transversal showed variation of mesofil tissue (parenchim of palisade and spons). Epidermis cell was conducted in one layer with hipoepidermis cell more than one layer with the biggest size than epidermis cell. N. veitchii had more tricoma from the others species.