Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Kesejahteraan Masyarakat Petani Dataran Tinggi Dieng Menggunakan Pendekatan Penghidupan Berkelanjutan Isna Rahmawati; Iwan Rudiarto
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 20, No 3 (2022): July 2022
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.20.3.637-645

Abstract

Dataran Tinggi Dieng terletak di Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo memiliki produksi pertanian kentang yang tinggi. Namun kondisi tersebut tidak lantas membuat masyarakat Kecamatan Kejajar dalam keadaan ekonomi yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisi kesejahteraan masyarakat petani Dataran Tinggi Dieng menggunakan pendekatan penghidupan berkelanjutan. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif didukung dengan metode analisis deskriptif. Pengambilan data dilakukan menggunakan kuisioner dengan menggunakan teknik simple random sampling kepada 67 rumah tangga petani. Lima aset penghidupan berkelanjutan menjadi variabel dalam penelitian ini diantaranya adalah manusia, finansial, sosial, fisik dan alam. Kelima variabel tersebut memiliki indikator yang mewakili kesejahteraan masyarakat petani. Hasil penelitian menunjukan bahwa kesejahteraan masyarakat petani Dataran Tinggi Dieng dalam kategori sedang (10,31). Aset yang berpengaruh dalam kesejahteraan masyarakat petani Dataran Tinggi Dieng adalah aset sosial diikuti aset fisik, aset manusia, aset alam dan aset finansial. Dari hasil penelitian yang didapatkan, diperlukan upaya lebih lanjut untuk penguatan aset fisik, manusia, alam dan finansial agar kehidupan masyarakat petani Dataran Tinggi Dieng lebih sejahtera dan terlindungi dari kemiskinan dan kerentanan.ABSTRACTDieng Plateau which is located in Kejajar Sub-District, Wonosobo Regency, has high agricultural productivity in potato as a main crop. However, the high agricultural productivity doesn’t make positive impact in economics to the community. This study aims to analyze the welfare of Dieng Plateau farmer community based on sustainable livelihood approach. The study uses quantitative approach supported by descriptive quantitative analysis. A household questionnaires were distributed with a random sampling technique to 67 farm household samples. Five capital assets of sustainable livelihood become variables in this study are human, financial, social, physical and natural. The five variables have indicators that represent walfare of farmer community. The finding reveal that welfare of Dieng Plateau farmer community in middle category (10,31). Social assets become the major assets that influence the welfare of Dieng Plateau farmer community with physical, human, natural and financial assets being the least. Therefore, efforts on strengthening human, natural and financial assets are necessary to be done to improve the welfare of Dieng Plateau farmer community and protect them from poverty and vulnerability.
KAJIAN LOKASI POTENSIAL PENGEMBANGAN PERUMAHAN TERJANGKAU DI KOTA SEMARANG Hajar Annisa Abdurahman; Iwan Rudiarto
Jurnal Pengembangan Kota Vol 5, No 2: Desember 2017
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (657.297 KB) | DOI: 10.14710/jpk.5.2.104-111

Abstract

Human settlements supply has always been a problem in urban areas, particularly for the low-earners. There are few aspects to do in house procurement, such as location that will determine the cost of housing. Hence, this research aims to determine potential location to be developed as affordable housing for low-income people in Semarang. This research applied spatial analysis method based on Geographic Information System (GIS). The analysis results that only around 5,85% of allocated human settlement area in Semarang City is potential to be developed as affordable housing. In this study, the result show that in terms of location for affordable housing development, accessibility factor can determine the location with considering the particular planning standards.
KAPASITAS PEMERINTAH KOTA BANDUNG DALAM PENYEDIAAN TAMAN TEMATIK GUNA MEWUJUDKAN KOTA LAYAK HUNI Rani Widyahantari; Iwan Rudiarto
Jurnal Pengembangan Kota Vol 6, No 1: Juli 2018
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (593.14 KB) | DOI: 10.14710/jpk.6.1.9-16

Abstract

RTH merupakan tuntutan dasar yang jika tidak dipenuhi maka dapat menunjukan ketidakmampuan pemerintah dalam meningkatkan kualitas kehidupan kota dan keseimbangan ekologi. Pemerintah Kota Bandung berupaya memenuhi RTH dengan membangun taman tematik yakni taman yang diberi daya tarik agar dapat merubah taman yang semula pasif menjadi taman aktif. Taman tematik dibangun untuk meningkatkan indeks kebahagiaan warga serta mewadahi aktivitas komunitas dalam rangka mewujudkan kota layak huni. Sebanyak 30 taman tematik telah dibangun namun lokasinya masih terfokus di pusat kota. Penelitian ini hendak melihat kapasitas pemerintah daerah dalam penyediaan taman tematik yang dianalisis menggunakan kerangka tata kelola ruang publik meliputi komposisi, pemangku kepentingan, sarana serta tugas pemerintah. Dalam mewujudkan kota layak huni, pemerintah harus memegang peran utama dengan melakukan kolaborasi bersama stakeholders lainnya untuk percepatan penyediaan ruang publik terutama dalam hal anggaran. Hasil penelitian menunjukan bahwa kapasitas Pemerintah Kota Bandung cukup baik terutama dalam hal anggaran dan SDM, namun ketersediaan lahan masih menjadi kendala utama sehingga belum dapat menyediakan taman tematik yang merata di seluruh wilayah Kota Bandung.
Evaluasi Rumah Susun Pekunden Berdasarkan Kaidah Layak Huni dan Berkelanjutan Kariza Dewi Wiryanti; Iwan Rudiarto
Ruang Vol 1, No 4 (2015): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ruang.1.4.241-250

Abstract

Pertumbuhan penduduk di perkotaan yang semakin meningkat serta lahan yang terbatas membuat pembangunan Rumah Susun (Rusun) menjadi program andalan dalam pengentasan permukiman kumuh di kota. Hal ini lah yang juga dilakukan Pemerintah Kota Semarang dalam mengentaskan permukiman kumuh di Kelurahan Pekunden Kecamatan Semarang Tengah. Rusun Pekunden merupakan salah satu rusun yang dimiliki pemkot dan sudah berdiri 23 tahun silam dengan sistem kompensasi milik bagi penghuni asli permukiman dan selebihnya adalah sewa. Namun, sistem kepemilikan hunian yang tidak jelas dan kondisi fisik rusun yang menghawatirkan, mengindikasikan bahwa rusun tersebut tidak sesuai dengan kaidah hunian layak huni dan berkelanjutan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi Rusun Pekunden berdasarkan kaidah layak huni dan berkelanjutan. Metode yang dilakukan adalah metode kuantitatif dengan teknik analisis deskriptif. Beberapa aspek yang menjadi fokus dalam evaluasi ini adalah aspek fisik dan lingkungan, sosial dan ekonomi serta tenure security. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Rumah Susun Pekunden saat ini tidak layak huni dan tidak berkelanjutan. Hal ini dilihat dari aspek fisik lingkungan yang masih berada di bawah garis ideal begitu juga dengan aspek sosial ekonomi dan tenure security. Aspek dengan nilai terendah pada evaluasi ini adalah aspek tenure security. Aspek ini lah yang kemudian perlu perhatian lebih dalam permasalahan di rusun ini. 
Kajian Perkembangan Penggunaan Lahan Permukiman di Koridor Semarang Timur Iwan Rudiarto; Rizqy Ridho Prakasa; Kariza Dewi Wiryanti; Renni Maharani Putri; Dinda Kholivia Masykuroh
Ruang Vol 1, No 4 (2015): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ruang.1.4.281-290

Abstract

Pertumbuhan penduduk yang tinggi menuntut pemerintah untuk menyediakan kebutuhan akan rumah yang layak huni dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat serta dilengkapi fasilitas pelayanan umum. Lokasi merupakan salah satu faktor penting dalam pemilihan rumah. Rumah yang berada di pusat kota memudahkan bagi penghuni untuk melakukan aktiftas sehari-hari dengan meminimalisir biaya transportasi. Saat ini ketersediaan lahan di pusat kota tidak mampu memenuhi perkembangan perumahan. Fenomena ini membuat perkembangan perumahan bergeser ke daerah pinggiran. Tujuan dari penelitian ini ialah mengkaji perkembangan penggunaan lahan permukiman di daerah pinggiran koridor Semarang Timur. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan pemodelan spasial yang menggambarkan kondisi nyata di lapangan. Perkembangan Penggunaan Lahan Permukiman pada tahun 2002, 2006 dan 2011 menunjukkan bahwa lahan permukiman semakin berkembang. Jika dilihat pada arah perkembangan yang terjadi, pemusatan permukiman cenderung semakin padat kearah perbatasan Kota Semarang dengan Kabupaten Demak. Begitu juga dengan arah kepadatan penduduk yang cenderung berkembang kearah pinggiran tersebut. 
Prioritas lokasi pendaftaran tanah sistematik lengkap dengan metode analisis hierarki proses dan overlay tertimbang di Kabupaten Semarang Terry Christian Yuda; Iwan Rudiarto
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 16, No 1 (2021)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v16i1.35205

Abstract

Sesuai dengan rencana tata ruang wilayah Kabupaten Semarang, Kecamatan Sumowono dikembangkan menjadi kawasan pertanian produktif, dengan sistem agropolitan. Penataan ruang dapat dilakukan dengan optimal apabila seluruh bidang tanah pada kawasan tersebut sudah terdaftar, sehingga perencanaan, pemanfaatan dan pengendaliannya dapat dilakukan dengan seksama. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan prioritas lokasi pendaftaran tanah sistematik lengkap (PTSL) di Kecamatan Sumowono yang terdiri dari 16 desa. Metode yang digunakan adalah gabungan dari metode Analysis Hierarchy Process (AHP) dan Weighted Overlay. AHP digunakan untuk menentukan bobot setiap variabel penentuan prioritas, sedangkan analisis weighted overlay digunakan untuk menentukan prioritas lokasi PTSL dengan mengintegrasikan bobot dengan nilai masing-masing variabel di setiap desa. Hasil AHP menyatakan bahwa bobot tertinggi dalam perencanaan pendaftaran tanah sistematik lengkap adalah jumlah bidang tanah belum terdaftar (30,3%) dan jumlah penduduk bekerja (13,4%). Analisis terakhir menghasilkan tiga tingkat prioritas. Prioritas pertama terdapat pada Desa Candigaron. Prioritas kedua terdiri dari 9 desa: Desa Keseneg, Desa Pledokan, Desa Kemitir, Desa Losari, Desa Sumowono, Desa Jubelan, Desa Lanjan, Desa Ngadikerso, dan Desa Kebonagung. Sedangkan prioritas ketiga terdiri dari 6 desa: Desa Medongan, Desa Kemawi, Desa Piyanggang, Desa Bumen, Desa Trayu, dan Desa Duren.
Daya Dukung Permukiman dan Kesesuaian Pola Ruang Kawasan Permukiman di Kecamatan Gunungpati Kota Semarang Hermawan, Adhe Dodit; Rudiarto, Iwan
Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota Vol 19, No 1 (2023): JPWK Volume 19 No. 1 March 2023
Publisher : Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/pwk.v19i1.23914

Abstract

Peningkatan kebutuhan ruang akibat bertambahnya jumlah penduduk secara perlahan tetapi pasti akan mengubah pola ruang di suatu wilayah. Banyak kawasan permukiman baru yang terbangun di daerah pinggiran kota karena harga lahan yang relatif lebih murah meskipun sebenarnya daerah tersebut kurang sesuai untuk dikembangkan sebagai kawasan permukiman. Secara umum wilayah Kecamatan Gunungpati merupakan lahan kebun/tegalan yang berperan sebagai daerah resapan dan topografinya adalah wilayah perbukitan dengan kelerengan yang beragam. Pembangunan perumahan dan kawasan permukiman yang cukup intens di wilayah tersebut dikhawatirkan akan mengancam keseimbangan lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji dan mengetahui tingkat daya dukung kawasan permukiman di Kecamatan Gunungpati serta kesesuaian kawasan permukiman tersebut terhadap arahan pola ruang kawasan permukiman di Kota Semarang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Teknik pengumpulan data sekunder dilakukan dengan mengkaji/menelaah dokumen-dokumen dari instansi terkait, sedangkan data primer diperoleh melalui observasi langsung pada lokasi di wilayah studi. Analisis data dilakukan melalui analisis spasial dengan menggunakan aplikasi Sistem Informasi Geografis dan Penginderaan Jauh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum tingkat daya dukung permukiman di Kecamatan Gunungpati tergolong cukup baik dan hanya ada satu kelurahan yang wilayahnya kurang mendukung kegiatan permukiman. Arahan pemanfaatan ruang di Kecamatan Gunungpati yang mengacu pada RTRW Kota Semarang Tahun 2011 – 2031 didominasi peruntukannya untuk kawasan budidaya dan 48,7 % dari luas kawasan budidaya tersebut diarahkan untuk penggunaan lahan kawasan permukiman. Dari total luas kawasan permukiman di Kecamatan Gunungpati pada tahun 2018, sebanyak 89,91 Ha diantaranya tidak lagi mendukung untuk dikembangkan sebagai kawasan permukiman. Ditinjau dari aspek kesesuaian terhadap rencana pola ruang kawasan permukiman, pemanfaatan lahan kawasan permukiman eksisting di Kecamatan Gunungpati memiliki tingkat kesesuaian yang cukup beragam.
Kajian Perkiraan Dampak Rencana Pembangunan Pelabuhan Onshore Bagi Masyarakat di Pesisir Kota Pekalongan Insani, Tia Dianing; Rudiarto, Iwan
Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota Vol 20, No 1 (2024): JPWK Volume 20 No. 1 March 2024
Publisher : Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/pwk.v20i1.61063

Abstract

Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan (PPNP) mengalami penurunan kinerja akibat banjir rob dan penurunan tanah. Pemerintah Kota Pekalongan berupaya mengatasi permasalahan tersebut melalui rencana pembangunan Pelabuhan Onshore untuk meningkatkan sektor perikanan tangkap dan perekonomian masyarakat di sekitar kawasan pelabuhan. Namun demikian, sebagaimana umumnya rencana pembangunan di Indonesia, belum ada evaluasi awal (ex-ante) yang dilakukan meskipun keberadaannya dapat meminimalisir masalah dan ketidaksesuaian hasil. Oleh karenanya penelitian ini bertujuan mengkaji perkiraan dampak rencana pembangunan Pelabuhan Perikanan Onshore bagi masyarakat di pesisir Kota Pekalongan pada aspek fisik ruang dan sosial-ekonomi menggunakan pendekatan ex-ante. Lokasi penelitian adalah Kelurahan Panjang Wetan dan Kelurahan Krapyak, Kota Pekalongan. FGD dan wawancara dilakukan guna menghimpun data penilaian masyarakat terhadap rencana pembangunan dan pendapat mengenai dampak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penilaian masyarakat untuk aspek fisik ruang dan aspek sosial-ekonomi pada tahap perencanaan berkorelasi positif terhadap perkiraan dampak pada tahap pembangunan dan operasional, sehingga penilaian antara dampak positif dan negatif menjadi seimbang. Selain itu, terpenuhinya informasi mengenai komponen-komponen evaluasi ex-ante dalam rencana pembangunan Pelabuhan Onshore dapat menjadi indikasi awal kesesuaian antara rencana pembangunan Pelabuhan Onshore dengan kebutuhan masyarakat.
KARAKTERISTIK DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGEMBANGAN POTENSI LOKAL PADA WILAYAH PERI-URBAN (WPU) KLATEN-JAWA TENGAH Wiwandari Handayani; Iwan Rudiarto; Reny Yesiana
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 11, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v11i2.8025

Abstract

This paper aims to further comprehend characteristic and influential factors oflocal potential development in peri urban area of Klaten – Central Java. Simpledescriptive statistic was applied to process the data obtained from questionairegiven to 57 respondents. The respondent are owner of various kinds of smallmediumindustries located in the peri-urban Klaten. The result of the analysisindicates that the activity of most of local based small-medium industries in periurbanKlaten are still lead to the production -oriented activities. Accordingly,based on the respondents’ perception, capital, labourers, and raw materials arechosen as the influential factors to boost the development of their local basedactivities. They are very unlikely to consider technology and innovation that mayimportant to create a more market based products/market-oriented activities asthe influential factors that should be further developed. Therefore, there is a needof paradigm shift for these economic actors to be directed to a morecontemporary thought that put element of technology and innovation as importantand should be improved rather than keep the traditional thought that onlyconsider conventional production factors as the key succes factors to developsuch economic activities.
The Impact of Transit Oriented Development on Walkability: A Case Study of Dukuh Atas Station, Jakarta Napitupulu, Deciana Matiur Ria; Rudiarto, Iwan
Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota Vol 21, No 1 (2025): JPWK Volume 21 No. 1 March 2025
Publisher : Universitas Diponegoro Publishing Group, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/pwk.v21i1.52284

Abstract

Jakarta has one of the world's lowest averages daily step counts due to a variety of factors, including a changing urban environment and a lack of pedestrian infrastructure. In response, the Jakarta government shifted its development strategy to prioritize mass transportation and pedestrians over private vehicles. However, tackling relatively complicated urban issues cannot be accomplished solely by strengthening the transport system; it must be followed by urban development oriented towards transit locations. Therefore, "transit-oriented development" (TOD) has been introduced to increase the neighbourhood's walkability. Walkability is described as a key indicator of active travel or as a parameter of how useful the built environment is for people who walk to various locations and for multiple purposes.The Dukuh Atas TOD, one of Jakarta's earliest TODs, is used as a case study – focusing on a 400-meter-radius core area – to analyze how TOD intervention impacts the walkability of an area.The study used descriptive qualitative methods, including the production of maps at two different time periods to compare conditions before and after the construction of the MRT station and the Dukuh Atas TOD, conducting field observationsto directly observe and understand, capture phenomena that arise, record them, and consider the relationships between aspects of these events, and gathering pedestrian and commuter perceptionsthrough questionnaires and interviews to analyze the variables of intermodal conflict on the pathway, maintenance and cleanliness, connectivity, amenities, and disability infrastructure. According to the variables used in this study to determine whether TOD intervention has affected walkability in Dukuh Atas area, despite some of sidewalks are still inaccessible to everyone, the results indicate that several government interventions implemented of Dukuh Atas TOD development have significantly improved walkability in several zones. This research is expected to contribute to the improvement of Dukuh Atas TOD in creating a walkable environment.