Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Efektivitas Batuk Efektif dan Fisioterapi Dada pada Penyakit Paru Obstruktif Kronis: Studi Kasus Dina Nafianida; Resti Yulianti Sutrisno; Badriyah, Badriyah
Jurnal Anoa Keperawatan Mandala Waluya Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Anoa Keperawatan Mandala Waluya
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners. Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/jakmw.v4i2.1058

Abstract

Penyakit paru obstruktif kronis atau peradangan paru kronis merupakan penyakit yang bersifat irreversible. Mortalitas akibat penyakit ini mencapai hampir 90% pada usia di bawah 70 tahun di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Terapi nonfarmakologis yang dapat dilakukan adalah batuk efektif dan fisioterapi dada untuk membantu mengeluarkan dahak pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas prosedur fisioterapi dada dan batuk efektif pada frekuensi napas atau respiratory rate (RR), saturasi oksigen (SpO2), suara napas, keluhan batuk serta sesak napas pasien. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan melakukan studi kasus pada lima pasien PPOK. Analisa data univariat menggunakan distribusi frekuensi, persentase, dan deskripsi kondisi pasien. Penelitian dilakukan di bangsal dalam RSUD Tidar Kota Magelang selama tiga hari perawatan kepada lima pasien PPOK. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan RR sebanyak 5 – 7x/menit, peningkatan SpO2 menjadi sebanyak 3 – 4%, perbaikan suara napas, keluhan batuk serta sesak napas pasien. Frekuensi napas sebelum intervensi dalam rentang 26 – 35x/menit menurun menjadi dalam rentang 20 – 28x/menit setelah intervensi. Sementara itu, SpO2 sebelum intervensi dalam rentang 91% - 96% meningkat menjadi lebih dari atau sama dengan 95%. Dengan membandingkan data kondisi pasien sebelum dan setelah intervensi, pemberian prosedur fisioterapi dada dan batuk efektif memiliki pengaruh pada perbaikan kondisi pasien PPOK.
Pengaruh Progressive Muscle Relaxation terhadap Penurunan Tingkat Keletihan Gagal Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisa Monika Izza Nasrulloh; Resti Yulianti Sutrisno; Purnomo Widiyanto
OBAT: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol. 2 No. 3 (2024): May : OBAT: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/obat.v2i3.414

Abstract

Chronic Kidney Failure (CKD) is a progressive and irreversible disease characterized by a decrease in the glomerular filtration rate (GFR). In this disease, uremia impairs the kidney's ability to maintain metabolism and water and electrolyte balance. Fatigue is one of the most common symptoms in patients undergoing hemodialysis which impacts quality of life. Progressive muscle relaxation is a type of non-pharmacological nursing intervention that can be used to treat fatigue in CKD patients undergoing hemodialysis. The aim of this research is to determine the application of progressive muscle relaxation therapy to fatigue in CKD patients undergoing hemodialysis therapy. The research design used is a case report. The instrument used to measure the level of fatigue is the Functional Assessment Chronic Illness Therapy (FACIT) fatigue scale. The intervention was carried out for ten to fifteen minutes over three days in the hospital hemodialysis unit and four days at the patient's home. Evaluation of respondents' level of fatigue was carried out on days 1, 5, and 8. The results of this study showed that the fatigue level score after intervention on day 1 was 16 (severe category), the score on day 5 was 20 (moderate category), and day 8 was 24 (moderate category). It can be concluded that progressive muscle relaxation therapy can reduce fatigue in CKD patients undergoing hemodialysis. The results of this research can be applied independently by nurses for CKD patients undergoing hemodialysis to reduce fatigue levels.
EFEKTIVITAS FOOT MASSAGE TERHADAP PENURUNAN INTENSITAS NYERI DAN KECEMASAN POST LAPARATOMI PADA PASIEN CANCER SIGMOID : STUDI KASUS Eri Anggara Anggara; Resti Yulianti Sutrisno; Badriyah Badriyah
Jurnal Online Keperawatan Indonesia Vol 8 No 1 (2025): Jurnal Online Keperawatan Indonesia
Publisher : UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Prevalensi kanker kolorektal dalam lima tahun terakhir mencapai 10,2% atau sekitar 104.235 orang. Dari masalah tersebut diperlukan tindakan laparatomi , tetapi setelah mendapatkan tindakan laparotomi, sering muncul keluhan nyeri dan kecemasan yang dapat mempengaruhi proses pemulihan, sehingga diperlukan intervensi non-farmakologis tambahan seperti foot massage. Foot massage adalah terapi pijat kaki yang memberikan stimulasi di area tertentu.  Tujuan: penelitian ini melihat bagaimana efek foot massage mengurangi rasa sakit dan kecemasan pasca-laparotomi. Metode: Penelitian ini menggunakan metode studi kasus 1 pasien dengan memberikan intervensi pijat kaki selama tiga hari dengan durasi 15 menit setiap hari dan evaluasi sebelum dan sesudah intervensi; kriteria pemilihan kasus adalah pasien dengan post laparotomi dengan kanker sigmoid. Intrumen digunakan pada penelitian ini adalah NRS (Numeric Rating Scale) terkait tingkat nyeri dan HARS (Hamilton Anxiety Rating Scale) terkait tingkat kecemasan  Hasil: Hasil studi kasus menunjukkan bahwa setelah pijat kaki, terjadi perubahan intensitas nyeri sebelum dan sesudah tindakan dengan penurunan 2 atau 20% setelah intervensi dan evaluasi setelah tiga hari dari skala 8 (nyeri parah) ke skala 1 (nyeri ringan),  Pada skor kecemasan ada penurunan dari kecemasan sedang menjadi tidak cemas. Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa pijat kaki dapat mengurangi intensitas rasa sakit dan kecemasan pasca-laparotomi.
Efektivitas Pursed Lip Breathing (PLB) terhadap Saturasi Oksigen dan Frekuensi Napas pada Pasien PPOK Aniswati Fauziah; Resti Yulianti Sutrisno; Supriyono Supriyono
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol. 8 No. 2 (2026): April 2026, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v8i2.1980

Abstract

Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) merupakan penyebab utama kedelapan dari masalah kesehatan di seluruh dunia. Gejala utama dari PPOK adalah sesak napas. Penatalaksanaan untuk mengatasi sesak napas dapat dilakukan secara farmakologis maupun nonfarmakologis. Salah satu terapi nonfarmakologis yang dapat dilakukan yaitu latihan napas pursed lip breathing (PLB). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas PLB terhadap perubahan saturasi oksigen dan frekuensi napas pada pasien PPOK. Metode yang digunakan adalah studi kasus pada dua pasien PPOK di ruang rawat inap penyakit dalam Rumah Sakit Daerah. Intervensi yang diberikan pada pasien yaitu latihan napas PLB selama tiga hari dengan frekuensi tiga kali sehari dan durasi 5–10 menit setiap sesi. Analisis data dilakukan secara deskriptif kuantitatif dan komparatif dengan membandingkan angka saturasi oksigen dan frekuensi napas sebelum dan sesudah intervensi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan saturasi oksigen serta penurunan frekuensi pernapasan pada kedua responden setelah dilakukan intervensi tersebut. Saturasi oksigen naik dari 83%–91 % menjadi 94%–98% dan frekuensi napas turun dari 27–40x/menit menjadi 22–25x/menit. Selain itu, terjadi perbaikan tanda dan gejala seperti berkurangnya sesak napas. Dengan demikian, (PLB) terbukti efektif dalam meningkatkan oksigen dan memperbaiki kondisi respirasi pada pasien PPOK.
Efektivitas Kombinasi Aromaterapi Lavender dan Farmakologi dalam Manajemen Nyeri Pascaoperasi Dyah Faradhita; Resti Yulianti Sutrisno; Ana Widyastuti
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol. 8 No. 3 (2026): Juni 2026, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v8i3.1982

Abstract

Nyeri pascaoperasi merupakan keluhan yang sering muncul yang dapat memperlambat proses pemulihan. Manajemen nyeri di rumah sakit umumnya berfokus pada terapi farmakologi tanpa terapi nonfarmakologi secara optimal, sehingga perlu kombinasi terapi nonfarmakologi dan farmakologi, salah satunya aromaterapi lavender. Studi ini bertujuan untuk melihat efektivitas kombinasi aromaterapi lavender dan farmakologi untuk menurunkan skala nyeri pasien pascaoperasi. Studi ini menggunakan desain studi kasus pada pasien pascaoperasi sejumlah enam orang yang terbagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok yang hanya diberikan terapi farmakologi ketorolac 30 mg dan kelompok kombinasi aromaterapi lavender dan ketorolac 30 mg. Pengukuran skala nyeri menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) dilakukan sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data menggunakan deskriptif dengan menyajikan skala nyeri sebelum dan sesudah intervensi serta melihat selisih skala nyeri sebelum dan sesudah intervensi pada kedua kelompok. Hasil menunjukkan bahwa pada kelompok kombinasi aromaterapi lavender dan ketorolac 30 mg sebelum intervensi mengalami rentang nyeri 7–8 dan mengalami penurunan menjadi 3-5 dengan selisih penurunan 3-4 skala. Sedangkan kelompok ketorolac 30 mg sebelum intervensi mengalami rentang nyeri 5-7 dan mengalami penurunan menjadi 4-6, dengan selisih penurunan 1-2 skala. Berdasarkan studi kasus tersebut, kombinasi aromaterapi lavender dan farmakologi lebih efektif menurunkan skala nyeri pada pasien pascaoperasi daripada hanya diberikan terapi farmakologi.  
Efektivitas Kompres Dingin (Ice Pack Gel) sebagai Intervensi Keperawatan terhadap Penurunan Skala Nyeri pada Pasien Pascaoperasi ORIF Mei Riza Wistina; Resti Yulianti Sutrisno; Ana Widyastuti
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol. 8 No. 2 (2026): April 2026, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v8i2.1985

Abstract

Nyeri pascaoperasi merupakan salah satu masalah utama pada pasien yang menjalani tindakan Open Reduction Internal Fixation (ORIF), yang dapat menghambat proses penyembuhan dan menurunkan kualitas hidup pasien. Intervensi keperawatan dalam manajemen nyeri tidak hanya dilakukan dengan kolaborasi farmakologis, tetapi juga dapat didukung dengan intervensi nonfarmakologis yang aman dan efektif, salah satunya adalah kompres dingin menggunakan ice pack gel. Studi kasus ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas kompres dingin sebagai intervensi keperawatan terhadap penurunan skala nyeri pada pasien pascaoperasi ORIF. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan dua responden di ruang rawat inap bedah. Intervensi keperawatan dilakukan selama dua hari dengan frekuensi satu kali sehari selama 15 menit sebelum pemberian analgesik. Pengukuran nyeri menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan membandingkan perubahan skor nyeri sebelum dan sesudah intervensi pada masing-masing responden, kemudian data disajikan dalam bentuk tabel dan narasi untuk melihat pola penurunan nyeri selama dua hari intervensi. Hasil menunjukkan bahwa pada responden 1 terjadi penurunan skala nyeri dari 6 menjadi 5 pada hari pertama dan dari 5 menjadi 4 pada hari kedua. Pada responden 2 terjadi penurunan dari 5 menjadi 4 pada hari pertama dan dari 4 menjadi 2 pada hari kedua. Kesimpulan pada studi kasus ini menunjukkan bahwa kompres dingin menggunakan ice pack gel efektif dalam menurunkan intensitas nyeri pada pasien pascaoperasi ORIF dan dapat digunakan sebagai terapi pendukung dalam manajemen nyeri nonfarmakologis.
Partisipasi Masyarakat dalam Melindungi Pelajar Sekolah dari Iklan, Promosi, dan Sponsor Tembakau Dianita Sugiyo; Resti Yulianti Sutrisno
Journal of Community Engagement in Health Vol. 4 No. 1 (2021): Maret
Publisher : Universitas STRADA Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30994/jceh.v4i1.98

Abstract

Penggunaan tembakau di Indonesia, terutama di kalangan remaja usia 10 hingga 18 tahun, terlihat meningkat dari 7,2% pada tahun 2013 menjadi 9,1% pada tahun 2018. Namun demikian, dampak merokok ini bertentangan dengan maraknya iklan tembakau, promosi, dan sponsorship. Program pemberdayaan ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas masyarakat terhadap iklan tembakau, promosi, dan pelarangan sponsorship dalam melindungi generasi penerus dari dampak penggunaan tembakau yang merugikan, melalui berbagai kegiatan; seperti Focus Group Discussion, program penguatan kapasitas, program partisipasi masyarakat, serta monitoring dan evaluasi program. Proyek tersebut melibatkan masyarakat dan pemangku kepentingan dalam memberdayakan hak perlindungan pelajar sekolah dari merokok dan efek-efeknya. Kelompok masyarakat yang berpartisipasi dalam proyek ini adalah Kepala Desa, Petugas Kesehatan Dasar, dan Pemerintah Daerah. Para mitra diedukasi tentang Kebijakan Pemerintah Daerah tentang iklan tembakau, promosi, dan larangan sponsor dan bagaimana seharusnya hal tersebut diamanatkan demi kesehatan masyarakat. Dukungan publik dan kesadaran masyarakat sangat penting dalam memantau aksi taktik industri tembakau dalam menarik publik secara luas atas produknya dengan cara menayangkan iklan, promosi, dan sponsor rokok.