Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Hubungan Antara Spiritualitas Dengan Self- Forgiveness Warga Binaan Lapas Kelas IIB Takalar Riska Ayu N. Kamal; Ahmad Razak; Andi Halima
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 2 (2026): April - Juni
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i2.1115

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara spiritualitas dengan self-forgiveness pada warga binaan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Takalar. Kehidupan di lembaga pemasyarakatan sering kali diwarnai oleh perasaan bersalah, penyesalan, stigma diri, serta berbagai tekanan psikologis yang dapat memengaruhi kemampuan individu untuk memaafkan dirinya sendiri. Kondisi tersebut dapat menghambat proses penerimaan diri apabila tidak diimbangi dengan sumber daya internal yang memadai. Spiritualitas dipandang sebagai salah satu sumber daya internal yang dapat membantu individu memperoleh makna hidup, ketenangan batin, penerimaan diri, serta membantu menghadapi berbagai tekanan psikologis selama menjalani masa pembinaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional untuk melihat hubungan antara variabel spiritualitas dan self-forgiveness. Subjek penelitian berjumlah 88 warga binaan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Skala Self-Forgiveness yang dikembangkan oleh Larasati dan Widyastuti serta Spiritual Transcendence Scale-Short Form (STS-SF) yang dikembangkan oleh Piedmont. Analisis data dilakukan menggunakan teknik korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan SPSS versi 26. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara spiritualitas dengan self-forgiveness pada warga binaan Lapas Kelas IIB Takalar (r = 0,432; p = 0,000). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat spiritualitas yang dimiliki warga binaan, maka semakin tinggi pula kemampuan mereka dalam melakukan self-forgiveness. Dengan demikian, spiritualitas dapat dipahami sebagai salah satu faktor internal yang berkontribusi terhadap proses penerimaan diri dan pengurangan emosi negatif pada warga binaan selama menjalani masa pembinaan di lembaga pemasyarakatan.
Pengaruh School Well-Being Terhadap Academic Grit Siswa Yang Mengikuti Ekstrakurikuler di SMAN 2 Gowa Ghina Nailah; Andi Halima; Nurfajriyanti Rasyid
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - September
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i3.1783

Abstract

Siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler sering kali menghadapi berbagai tuntutan akademik dan nonakademik yang dapat memengaruhi ketekunan mereka dalam mencapai tujuan belajar. Kondisi tersebut berkaitan dengan Academic grit , yaitu kemampuan siswa untuk tetap tekun, konsisten, dan bertahan dalam menghadapi tantangan akademik. Salah satu faktor yang memengaruhi Academic grit  adalah School well-being, yaitu kondisi kesejahteraan siswa di lingkungan sekolah yang ditandai dengan rasa nyaman, aman, dan pengalaman positif selama berada di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh School well-being terhadap Academic grit  pada siswa SMA Negeri 2 Gowa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis regresi linear sederhana. Responden penelitian berjumlah 303 siswa yang diperoleh menggunakan teknik accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan School well-being terhadap Academic grit  dengan nilai signifikansi sebesar p<0,001 (p<0,05). Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,239 menunjukkan bahwa School well-being memberikan kontribusi sebesar 23,9% terhadap Academic grit . Hasil penelitian menunjukkan bahwa School well-being berpengaruh positif dan signifikan terhadap Academic grit . Temuan ini mengindikasikan bahwa peningkatan kesejahteraan siswa di sekolah dapat mendukung berkembangnya ketekunan dan kegigihan siswa dalam mencapai tujuan akademik. Implikasi penelitian ini adalah penting bagi sekolah untuk menciptakan lingkungan belajar yang nyaman, aman, dan suportif guna mendukung berkembangnya Academic grit  pada siswa, khususnya bagi siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.  
Hubungan Resiliensi Akademik Terhadap Stres Akademik Siswa Program Tahfidz SMA Islam Athirah Kota Makassar Rahma Aliyah Usman; Ahmad Razak; Andi Halima
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - September
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i3.1861

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara resiliensi akademik dan stres akademik pada siswa program tahfidz yang menghadapi tuntutan pembelajaran formal dan target hafalan Al-Qur’an secara bersamaan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel terdiri atas 113 siswa program tahfidz SMA Islam Athirah Kota Makassar yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala stres akademik dan skala resiliensi akademik, kemudian dianalisis dengan korelasi Pearson product-moment. Hasil analisis menunjukkan bahwa mayoritas siswa memiliki tingkat stres akademik dan resiliensi akademik pada kategori sedang. Uji hipotesis menemukan hubungan positif dan signifikan antara resiliensi akademik dan stres akademik dengan koefisien korelasi sebesar r = 0,385 dan p = 0,001. Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan siswa untuk bertahan dan beradaptasi dapat berkembang bersamaan dengan meningkatnya tekanan akademik dalam konteks tuntutan ganda. Penelitian ini menyimpulkan bahwa resiliensi akademik berkaitan secara signifikan dengan stres akademik pada siswa tahfidz. Hasil penelitian dapat menjadi dasar bagi sekolah untuk menyeimbangkan beban akademik dan target hafalan serta memperkuat layanan konseling, manajemen waktu, dan strategi koping adaptif. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu psikologi pendidikan, khususnya mengenai dinamika resiliensi akademik dan stres akademik pada siswa program tahfidz. Selain itu, hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi guru, pembina tahfidz, orang tua, dan pihak sekolah dalam menyusun program pendampingan yang mampu meningkatkan kesejahteraan psikologis serta keberhasilan belajar siswa.