Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Formulasi dan Evaluasi Fast Disintegrating Tablet (FDT) Loratadin Eryani, Mikhania Christiningtyas; Wikarsa, Saleh; Soemirtapura, Yeyet Cahyati
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol 39, No 1 & 2 (2014)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.161 KB)

Abstract

Fast Disintegrating Tablet (FDT) adalah sediaan tablet yang hancur cepat di mulut yang membantu mempermudah penggunaannya khususnya saat tidak tersedia air. Permasalahan yang dihadapi pada formulasi FDT adalah waktu hancur yang sangat singkat dan masalah rasa untuk zat aktif yang berasa tidak enak. Tujuan dari penelitian ini adalah memformulasi sediaan FDT loratadin yang memiliki rasa pahit. FDT dibuat dengan metode kempa langsung menggunakan manitol yang digranulasi dengan PVP K-30 sebagai pengisi atau Parteck® M 200 dengan kombinasi Avicel PH-102. Formula tersebut selanjutnya dibuat tablet dengan cara menambahkan Ac-Di-Sol pada beberapa konsentrasi dan kekerasan yang berbeda. Evaluasi sediaan meliputi pengujian kekerasan, friabilitas, friksibilitas, waktu pembasahan, waktu hancur, penetapan kadar, kesukaan dan disolusi. Profil uji disolusi kemudian dibandingkan dengan tablet inovator konvensional, Claritin®. Hasil pengujian menunjukkan bahwa tablet yang dibuat dengan menggunakan granul manitol maupun Parteck® M 200 dengan Ac-Di-Sol sebagai bahan penghancur dengan konsentrasi 2,5% dan kekerasan tablet ±4 kg dapat menghasilkan FDT yang memenuhi syarat, termasuk dari segi rasa. Hasil uji disolusi dari FDT yang dihasilkan menunjukkan bahwa loratadin terdisolusi lebih cepat dibandingkan Claritin® dengan nilai f2 kurang dari 30.Kata Kunci: loratadin, fast disintegrating tablet, waktu hancur, disolusi, rasa.AbstractFast Disintegrating Tablet (FDT) is a tablet which rapidly disintegrate in the mouth that facilitate in their use, especially when water is not available. The problem in FDT formulation is a very short disintegration time and the bad taste of active substances. The aim of this study was to formulate FDT loratadine which has a bitter taste. FDT was made by direct compression using granulated mannitol with PVP K-30 or Parteck® M 200 combined with Avicel PH-102 as diluent. Tablet was then made by adding the various concentration of Ac-Di-Sol and at different of hardness. The tablet evaluation included hardness, friability, frictibility, wetting time, disintegration time, loratadine assay, panelists test and dissolution test. Dissolution profiles were then compared to innovator conventional tablet, Claritin®. The results showed that the tablets which made using granulated mannitol or Parteck® M 200 with 2,5% Ac-Di-Sol and at ± 4 kg of hardness could produce FDT that meet the requirements, included the taste. The dissolution test showed that loratadine from FDT formulation dissolved faster than Claritin® tablets with f2 values less than 30.Keywords: loratadine, fast disintegrating tablet, disintegration time, dissolution, taste
Peningkatan Disolusi Nifedipin dari Mikrokristalnya yang Dibuat Melalui Pengendapan Antisolvent dengan Keberadaan Poloxamer 188 atau Natrium Lauril Sulfat Wikarsa, Saleh; Samaria, Monika Fenita
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol 37, No 3 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.95 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan laju disolusi nifedipin melalui pembentukan mikrokristalnya. Mikrokristal nifedipin dibuat melalui pengendapan antisolvent dengan keberadaan poloxamer 188 atau natrium lauril sulfat pada tiga konsentrasi (1%, 3%, dan 5%) sebagai stabilisator dan peningkatan keterbasahan. Karakterisasi mikrokristal yang dilakukan meliputi morfologi, spektrofotometer inframerah, difraksi sinar-X dan uji disolusi. Profil disolusi nifedipin dari mikrokristalnya menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan serbuk nifedipin. Kecepatan disolusi terbaik nifedipin dari mikrokristalnya dengan keberadaan NLS adalah mikrokristal nifedipin-natrium lauril sulfat 5% sedangkan untuk profil disolusi nifedipin dari mikrokristalnya dengan keberadaan poloxamer 188 dalam berbagai konsentrasi tidak berbeda secara bermakna. Profil disolusi nifedipin terbaik dari mikrokristal nifedipin-natrium lauril sulfat dan poloxamer 188 tidak berbeda secara bermakna. Campuran fisik serbuk nifedipin-surfaktan dengan perbandingan 9:1 memberikan profil disolusi lebih baik dari mikrokristalnya. Hasil pengamatan mikrokristal melalui SEM tidak menunjukkan perbedaan morfologi kristal. Sementara hasil pemeriksaan serapan inframerah, difraksi sinar X memberikan parameter yang sama. Perbedaan kecepatan disolusi nifedipin dari serbuk nifedipin, mikrokristal, dan campuran fisik bukan disebabkan oleh perbedaan bentuk kristal (polimorfisme) tetapi karena adanya perbedaan ukuran partikel dan keberadaan surfaktan.Kata Kunci: nifedipin, poloxamer 188, natrium lauril sulfat, disolusi, pengendapan antisolvent, mikrokristal. The aim of this study is to enhance the dissolution rate of nifedipine through formation its microcrystal. Microcrystals of nifedipine are made by antisolvent precipitation with presence poloxamer 188 (PLX) and sodium lauryl sulfate (SLS) within three concentrations (1%, 3%, 5%) as stabilitator and wet improver. Then, the crystal characterization will be carried out through crystal morphology, infrared spectrum, x-ray diffraction pattern, and dissolution test. Dissolution rate profile of nifedipine from microcrystal showed enhancement was comapared by nifedipine powder. The best dissolution rate profile of nifedipine from microcrystal with presence of SLS is nifedipine microcrystal-SLS 5% whereas for dissolution rate profiles of nifedipine from microcrystal with presence of PLX within some concentration were not different significantly. Dissolution rate of nifedipine from microcrystal-SLS 5% was not different significantly with dissolution rate profiles of nifedipin from microcrystal with presence of PLX. Physical mixture of nifedipine powder-surfactant showed dissolution rate profiles better than its microcrystal. The crystal morphology which observed by SEM did not showed differences. The characterization with infrared spectrophotometer, X-ray diffraction showed the same result for all sample. The difference of dissolution rate of nifedipine was not caused by the shape of its crystal (polymorphism) but by the difference of particle size and presence of surfactant.Keyword: nifedipine, poloxamer 188, sodium lauryl sulfate, dissolution, antisolvent precipitation, microcrystal.
Pembuatan dan Karakterisasi Dispersi Padat Sistem Biner dan Terner dari Gliklazid Wardiyah, Wardiyah; Asyarie, Sukmadjaja; Wikarsa, Saleh
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol 37, No 3 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.265 KB)

Abstract

Gliklazid adalah obat yang mempunyai kelarutan rendah dan permeabilitas tinggi (BCS II). Teknik dispersi padat telah dikembangkan secara luas untuk meningkatkan laju disolusi obat yang mempunyai kelarutan rendah. Tujuan dari penelitian ini adalah meningkatkan laju disolusi gliklazid dengan teknik dispersi padat dengan pembawa poloxamer 188, HPMC, dan Eudragit® E100. Dispersi padat pada penelitian ini dibuat dengan metode pelarutan. Dispersi padat gliklazid dalam sistem biner dengan poloxamer188 dibuat dalam perbandingan ; 1:0,5, 1:0,75, 1:1, 1:1,5 dan 1:2, dengan HPMC dibuat dalam perbandingan 1:0,1, 1:0,125, dan 1:0,25 sedangkan dengan Eudragit® E100 1:0,25. Dispersi padat sistem terner dibuat perbandingan gliklazid-poloxamer188-HPMC 1:2:0,1 dan 1:2:0,25, sedangkan gliklazid-poloxamer188- Eudragit® E100 pada perbandingan 1:2:0,1 dan 1:2:0,25. Karakterisasi dilakukan dengan uji disolusi, DSC, FTIR, dan XRD. Pada menit ke-15, laju disolusi terbesar dari dispersi padat sistem biner dan terner diperolah dari gliklazid-poloxamer188 1:2 dan gliklazidpoloxamer188-Eudragit® E100 1:2:0,25 yang memberikan peningkatan laju disolusi 12 kali dan 15 kali lebih besar dibanding gliklazid murni. Penurunan puncak endotermik dari gliklazid dalam dispersi padat dengan DSC dan penurunan intensitas pola difraksi gliklazid menunjukkan terjadinya penurunan derajat kristalinitas. Karakterisasi dengan FTIR menunjukkan hampir tidak ada pergeseran puncak serapan gugus fungsi gliklazid pada dispersi padat.Kata kunci: disolusi, gliklazid, dispersi padat, poloxamer 188, HPMC, Eudragit® E100 Gliclazide is a drug with poor water solubility and high permeability. Solid dispersion technique is widely used to improve the dissolution rate of the drug with poor solubility. This study aims to improve the dissolution rate of gliclazide by solid dispersion technique with poloxamer 188, HPMC, and Eudragit® E100 as carriers. Solid dispersions were prepared by solvent evaporation methods in binary and ternary system. In binary system gliklazid was mixed with poloxamer188 in the ratio of 1:0.5, 1:0.75, 1:1, 1:1.5 and 1:2, with HPMC in the ratio of 1:0.1, 1:0.125, and 1:0.25, and with Eudragit® E100 in 1:0.25 ratio. In ternary system gliclazide were prepared with poloxamer188 and HPMC in the ratio of 1:2:0.1 and 1:2:0.25, and with poloxamer188 and Eudragit® E100 in the ratio of 1:1:0.25 and 1:2:0.25. Pure gliclazide, solid dispersions and physical mixtures were characterized by dissolution testing, DSC, FTIR, dan XRD. At the 15th minute, the highest dissolution rate observed from binary and ternary solid dispersions of gliclazide were from gliclazide-poloxamer188 1:2 dan gliclazidepoloxamer188 and Eudragit® E100 1:2:0,25 which showed 12 and 15 fold increase in dissolution rate compared by pure gliclazide. The decrease of endothermic peak (DSC) and the intensity of the diffraction pattern by XRD of solid dispersions showed the decrease of crystallinity rate. Characterization by FTIR virtually showed no shift of absorption peaks of gliclazide on solid dispersion.Keywords: dissolution, gliclazide, solid dispersions, poloxamer 188, HPMC, Eudragit® E100
PENGERINGAN EKSTRAK KELOPAK BUNGA ROSELA (Hibiscus sabdariffa L.) MELALUI MIKROENKAPSULASI DENGAN MALTODEKSTRIN METODE SEMPROT KERING Nining, Nining; Seowandhi, Sundani Nurono; Wikarsa, Saleh
Farmasains : Jurnal Ilmiah Ilmu Kefarmasian Vol 4 No 2 (2017)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (821.954 KB) | DOI: 10.22236/farmasains.v4i2.234

Abstract

Rosela (Hibiscus sabdariffa L.) memiliki banyak aktivitas farmakologi yang telah banyak dilaporkan baik secara in vitro maupun in vivo dan telah banyak diuji secara klinis. Penggunaan ekstrak dalam bentuk serbuk akan lebih praktis dan lebih terukur pemakaiannya sebagai bahan baku farmasi serta memudahkan dalam penyimpanan, pendistribusian, standardisasi zat aktif dan dapat meningkatkan stabilitasnya. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari efek penambahan maltodekstrin terhadap karakteristik fisik serbuk ekstrak kelopak bunga rosela dengan pembentukan mikrokapsul metode semprot kering. Penelitian dilakukan dengan menyiapkan larutan umpan dalam rasio 1:1 (R1); 1:2 (R2); dan 1:4 (R3) dengan kandungan total padatan 10%. Kemudian dilakukan mikroenkapsulasi  metode semprot kering pada suhu inlet 110-115°C, outlet 99-104°C, dan laju alir 200 mL/jam. Mikrokapsul diperoleh dengan struktur morfologi seperti bola. Rata-rata ukuran partikel menurun seiring dengan penambahan maltodekstrin. Penambahan maltodekstrin dapat menurunkan sifat higroskopisitas ekstrak serta meningkatkan kelarutan dalam air dan susut pengeringan. Proses semprot kering serbuk R2 mimiliki nilai efisiensi enkapsulasi 97,73% dan perolehan kembali produk 74,05%. Semua serbuk mikrokapsul memberikan nilai sisa pelarut < 1%.
PREPARASI DAN KARAKTERISASI POLIMORFISME OBAT ANTI MALARIA ARTESUNATE Timbul Partogi H.; Sundani N. Soewandhi; Jessie S. Pamudji; Wikarsa Saleh
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 15, No 2: JANUARI 2014
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.177 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2014.15.2.4362

Abstract

PREPARASI DAN KARAKTERISASI POLIMORFISME OBAT ANTI MALARIA ARTESUNATE. Artesunate (AS) adalah derivat semisintetis dari Artemisinin, suatu obat anti malaria dari tumbuhan Artemisia annua yang terdiri atas struktur seskuiterpen endoperoksida. AS merupakan derivat artemisinin yang paling banyak digunakan sebagai obat antimalaria untuk menggantikan banyak obat malaria lain yang telah resisten terhadap malaria falsiparum. Khusus untuk AS, belum banyak studi yang dilakukan maupun literatur yang tersedia untuk mempelajari keadaan padatan (solid state) dan khususnya keberadaan polimorfisme dari AS. Polimorfisme dari suatu padatan memiliki fasa kristalin yang berbeda dalam susunan kisi kristal internalnya. Perbedaan kisi kristal (polimorfisme maupun pseudopolimorfisme) ini dalam bidang farmasi akan memberikan pengaruh terhadap ketersediaan hayati obat dan khasiat penggunaan obat secara klinis. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh dan mengamati perbedaan polimorfisme AS serta mengkarakterisasinya dengan analisis PXRD, IR dan DTA. Untuk lebih memperkuat hasil analisis, dilakukan juga cara mikroskopik baik dengan Hot Stage Microscopy (HSM) maupun dengan Scanning Electron Microscope (SEM). Hasil penelitian menunjukkan keberadaan dua bentuk polimorf yang berbeda dari obat antimalaria AS. Bentuk I merupakan bentuk komersial dari AS yang biasa digunakan sebagai bahan baku obat dan bentuk II diperoleh dari perlakuan bentuk I yang mengalami proses freeze drying.
Freeze drying and calcining hydrotalcite for improving acid neutralizing capacity Deny Puriyani Azhary; Sundani Nurono Soewandhi; Saleh Wikarsa
Indonesian Journal of Pharmacy Vol 21 No 1, 2010
Publisher : Faculty of Pharmacy Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Skip Utara, 55281, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (523.754 KB) | DOI: 10.14499/indonesianjpharm0iss0pp54-58

Abstract

Acid  neutralizing  capacity  (ANC)  is  one  of  the  important  factor  on effectivity  determination  of  antacid  dosage  forms.  Antacid dosage forms have different values depend on their ANC.  The objective of this research was to modified physical and chemical properties of hydrotalcite which can increase its acid neutralization capacity.  Hydrotalcite was treated by freeze drying and calcination at different temperature 100, 200, 300, and 500°C. This hydrotalcite was characterized by X-Ray Diffractometer  (XRD)  and  Scanning  Electron Microscope (SEM); and was determined acid neutralization capacity. The results showed  that  acid  neutralization  capacity  of  hydrotalcite  increased  after  it  was freeze  dried and  calcined  at  200,  300  and  500  °C.  The  result  of  XRD  for  the hydrotalcite  calcined  at  200  °C  have  showed  the  lower  intensity  of  peaks, whereas the calcination at 300 and 500 °C were disappeared and appeared new peaks at different 2θ.Key words: Acid neutralization capacity, hydrotalcite, calcination, XRD, SEM
Pembuatan dan Karakterisasi Dispersi Padat Sistem Biner dan Terner dari Gliklazid Wardiyah Wardiyah; Sukmadjaja Asyarie; Saleh Wikarsa
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 37 No. 3 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gliklazid adalah obat yang mempunyai kelarutan rendah dan permeabilitas tinggi (BCS II). Teknik dispersi padat telah dikembangkan secara luas untuk meningkatkan laju disolusi obat yang mempunyai kelarutan rendah. Tujuan dari penelitian ini adalah meningkatkan laju disolusi gliklazid dengan teknik dispersi padat dengan pembawa poloxamer 188, HPMC, dan Eudragit® E100. Dispersi padat pada penelitian ini dibuat dengan metode pelarutan. Dispersi padat gliklazid dalam sistem biner dengan poloxamer188 dibuat dalam perbandingan ; 1:0,5, 1:0,75, 1:1, 1:1,5 dan 1:2, dengan HPMC dibuat dalam perbandingan 1:0,1, 1:0,125, dan 1:0,25 sedangkan dengan Eudragit® E100 1:0,25. Dispersi padat sistem terner dibuat perbandingan gliklazid-poloxamer188-HPMC 1:2:0,1 dan 1:2:0,25, sedangkan gliklazid-poloxamer188- Eudragit® E100 pada perbandingan 1:2:0,1 dan 1:2:0,25. Karakterisasi dilakukan dengan uji disolusi, DSC, FTIR, dan XRD. Pada menit ke-15, laju disolusi terbesar dari dispersi padat sistem biner dan terner diperolah dari gliklazid-poloxamer188 1:2 dan gliklazidpoloxamer188-Eudragit® E100 1:2:0,25 yang memberikan peningkatan laju disolusi 12 kali dan 15 kali lebih besar dibanding gliklazid murni. Penurunan puncak endotermik dari gliklazid dalam dispersi padat dengan DSC dan penurunan intensitas pola difraksi gliklazid menunjukkan terjadinya penurunan derajat kristalinitas. Karakterisasi dengan FTIR menunjukkan hampir tidak ada pergeseran puncak serapan gugus fungsi gliklazid pada dispersi padat.Kata kunci: disolusi, gliklazid, dispersi padat, poloxamer 188, HPMC, Eudragit® E100 Gliclazide is a drug with poor water solubility and high permeability. Solid dispersion technique is widely used to improve the dissolution rate of the drug with poor solubility. This study aims to improve the dissolution rate of gliclazide by solid dispersion technique with poloxamer 188, HPMC, and Eudragit® E100 as carriers. Solid dispersions were prepared by solvent evaporation methods in binary and ternary system. In binary system gliklazid was mixed with poloxamer188 in the ratio of 1:0.5, 1:0.75, 1:1, 1:1.5 and 1:2, with HPMC in the ratio of 1:0.1, 1:0.125, and 1:0.25, and with Eudragit® E100 in 1:0.25 ratio. In ternary system gliclazide were prepared with poloxamer188 and HPMC in the ratio of 1:2:0.1 and 1:2:0.25, and with poloxamer188 and Eudragit® E100 in the ratio of 1:1:0.25 and 1:2:0.25. Pure gliclazide, solid dispersions and physical mixtures were characterized by dissolution testing, DSC, FTIR, dan XRD. At the 15th minute, the highest dissolution rate observed from binary and ternary solid dispersions of gliclazide were from gliclazide-poloxamer188 1:2 dan gliclazidepoloxamer188 and Eudragit® E100 1:2:0,25 which showed 12 and 15 fold increase in dissolution rate compared by pure gliclazide. The decrease of endothermic peak (DSC) and the intensity of the diffraction pattern by XRD of solid dispersions showed the decrease of crystallinity rate. Characterization by FTIR virtually showed no shift of absorption peaks of gliclazide on solid dispersion.Keywords: dissolution, gliclazide, solid dispersions, poloxamer 188, HPMC, Eudragit® E100
Peningkatan Disolusi Nifedipin dari Mikrokristalnya yang Dibuat Melalui Pengendapan Antisolvent dengan Keberadaan Poloxamer 188 atau Natrium Lauril Sulfat Saleh Wikarsa; Monika Fenita Samaria
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 37 No. 3 (2012)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan laju disolusi nifedipin melalui pembentukan mikrokristalnya. Mikrokristal nifedipin dibuat melalui pengendapan antisolvent dengan keberadaan poloxamer 188 atau natrium lauril sulfat pada tiga konsentrasi (1%, 3%, dan 5%) sebagai stabilisator dan peningkatan keterbasahan. Karakterisasi mikrokristal yang dilakukan meliputi morfologi, spektrofotometer inframerah, difraksi sinar-X dan uji disolusi. Profil disolusi nifedipin dari mikrokristalnya menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan serbuk nifedipin. Kecepatan disolusi terbaik nifedipin dari mikrokristalnya dengan keberadaan NLS adalah mikrokristal nifedipin-natrium lauril sulfat 5% sedangkan untuk profil disolusi nifedipin dari mikrokristalnya dengan keberadaan poloxamer 188 dalam berbagai konsentrasi tidak berbeda secara bermakna. Profil disolusi nifedipin terbaik dari mikrokristal nifedipin-natrium lauril sulfat dan poloxamer 188 tidak berbeda secara bermakna. Campuran fisik serbuk nifedipin-surfaktan dengan perbandingan 9:1 memberikan profil disolusi lebih baik dari mikrokristalnya. Hasil pengamatan mikrokristal melalui SEM tidak menunjukkan perbedaan morfologi kristal. Sementara hasil pemeriksaan serapan inframerah, difraksi sinar X memberikan parameter yang sama. Perbedaan kecepatan disolusi nifedipin dari serbuk nifedipin, mikrokristal, dan campuran fisik bukan disebabkan oleh perbedaan bentuk kristal (polimorfisme) tetapi karena adanya perbedaan ukuran partikel dan keberadaan surfaktan.Kata Kunci: nifedipin, poloxamer 188, natrium lauril sulfat, disolusi, pengendapan antisolvent, mikrokristal. The aim of this study is to enhance the dissolution rate of nifedipine through formation its microcrystal. Microcrystals of nifedipine are made by antisolvent precipitation with presence poloxamer 188 (PLX) and sodium lauryl sulfate (SLS) within three concentrations (1%, 3%, 5%) as stabilitator and wet improver. Then, the crystal characterization will be carried out through crystal morphology, infrared spectrum, x-ray diffraction pattern, and dissolution test. Dissolution rate profile of nifedipine from microcrystal showed enhancement was comapared by nifedipine powder. The best dissolution rate profile of nifedipine from microcrystal with presence of SLS is nifedipine microcrystal-SLS 5% whereas for dissolution rate profiles of nifedipine from microcrystal with presence of PLX within some concentration were not different significantly. Dissolution rate of nifedipine from microcrystal-SLS 5% was not different significantly with dissolution rate profiles of nifedipin from microcrystal with presence of PLX. Physical mixture of nifedipine powder-surfactant showed dissolution rate profiles better than its microcrystal. The crystal morphology which observed by SEM did not showed differences. The characterization with infrared spectrophotometer, X-ray diffraction showed the same result for all sample. The difference of dissolution rate of nifedipine was not caused by the shape of its crystal (polymorphism) but by the difference of particle size and presence of surfactant.Keyword: nifedipine, poloxamer 188, sodium lauryl sulfate, dissolution, antisolvent precipitation, microcrystal.
Formulasi dan Evaluasi Fast Disintegrating Tablet (FDT) Loratadin Mikhania Christiningtyas Eryani; Saleh Wikarsa; Yeyet Cahyati Soemirtapura
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 39 No. 1 & 2 (2014)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fast Disintegrating Tablet (FDT) adalah sediaan tablet yang hancur cepat di mulut yang membantu mempermudah penggunaannya khususnya saat tidak tersedia air. Permasalahan yang dihadapi pada formulasi FDT adalah waktu hancur yang sangat singkat dan masalah rasa untuk zat aktif yang berasa tidak enak. Tujuan dari penelitian ini adalah memformulasi sediaan FDT loratadin yang memiliki rasa pahit. FDT dibuat dengan metode kempa langsung menggunakan manitol yang digranulasi dengan PVP K-30 sebagai pengisi atau Parteck® M 200 dengan kombinasi Avicel PH-102. Formula tersebut selanjutnya dibuat tablet dengan cara menambahkan Ac-Di-Sol pada beberapa konsentrasi dan kekerasan yang berbeda. Evaluasi sediaan meliputi pengujian kekerasan, friabilitas, friksibilitas, waktu pembasahan, waktu hancur, penetapan kadar, kesukaan dan disolusi. Profil uji disolusi kemudian dibandingkan dengan tablet inovator konvensional, Claritin®. Hasil pengujian menunjukkan bahwa tablet yang dibuat dengan menggunakan granul manitol maupun Parteck® M 200 dengan Ac-Di-Sol sebagai bahan penghancur dengan konsentrasi 2,5% dan kekerasan tablet ±4 kg dapat menghasilkan FDT yang memenuhi syarat, termasuk dari segi rasa. Hasil uji disolusi dari FDT yang dihasilkan menunjukkan bahwa loratadin terdisolusi lebih cepat dibandingkan Claritin® dengan nilai f2 kurang dari 30.Kata Kunci: loratadin, fast disintegrating tablet, waktu hancur, disolusi, rasa.AbstractFast Disintegrating Tablet (FDT) is a tablet which rapidly disintegrate in the mouth that facilitate in their use, especially when water is not available. The problem in FDT formulation is a very short disintegration time and the bad taste of active substances. The aim of this study was to formulate FDT loratadine which has a bitter taste. FDT was made by direct compression using granulated mannitol with PVP K-30 or Parteck® M 200 combined with Avicel PH-102 as diluent. Tablet was then made by adding the various concentration of Ac-Di-Sol and at different of hardness. The tablet evaluation included hardness, friability, frictibility, wetting time, disintegration time, loratadine assay, panelists test and dissolution test. Dissolution profiles were then compared to innovator conventional tablet, Claritin®. The results showed that the tablets which made using granulated mannitol or Parteck® M 200 with 2,5% Ac-Di-Sol and at ± 4 kg of hardness could produce FDT that meet the requirements, included the taste. The dissolution test showed that loratadine from FDT formulation dissolved faster than Claritin® tablets with f2 values less than 30.Keywords: loratadine, fast disintegrating tablet, disintegration time, dissolution, taste
PENGERINGAN EKSTRAK KELOPAK BUNGA ROSELA (Hibiscus sabdariffa L.) MELALUI MIKROENKAPSULASI DENGAN MALTODEKSTRIN METODE SEMPROT KERING Nining Nining; Sundani Nurono Seowandhi; Saleh Wikarsa
Farmasains : Jurnal Ilmiah Ilmu Kefarmasian Vol. 4 No. 2 (2017)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (821.954 KB) | DOI: 10.22236/farmasains.v4i2.234

Abstract

Rosela (Hibiscus sabdariffa L.) memiliki banyak aktivitas farmakologi yang telah banyak dilaporkan baik secara in vitro maupun in vivo dan telah banyak diuji secara klinis. Penggunaan ekstrak dalam bentuk serbuk akan lebih praktis dan lebih terukur pemakaiannya sebagai bahan baku farmasi serta memudahkan dalam penyimpanan, pendistribusian, standardisasi zat aktif dan dapat meningkatkan stabilitasnya. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari efek penambahan maltodekstrin terhadap karakteristik fisik serbuk ekstrak kelopak bunga rosela dengan pembentukan mikrokapsul metode semprot kering. Penelitian dilakukan dengan menyiapkan larutan umpan dalam rasio 1:1 (R1); 1:2 (R2); dan 1:4 (R3) dengan kandungan total padatan 10%. Kemudian dilakukan mikroenkapsulasi  metode semprot kering pada suhu inlet 110-115°C, outlet 99-104°C, dan laju alir 200 mL/jam. Mikrokapsul diperoleh dengan struktur morfologi seperti bola. Rata-rata ukuran partikel menurun seiring dengan penambahan maltodekstrin. Penambahan maltodekstrin dapat menurunkan sifat higroskopisitas ekstrak serta meningkatkan kelarutan dalam air dan susut pengeringan. Proses semprot kering serbuk R2 mimiliki nilai efisiensi enkapsulasi 97,73% dan perolehan kembali produk 74,05%. Semua serbuk mikrokapsul memberikan nilai sisa pelarut < 1%.