Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Perbandingan Kadar Pati pada Beras Coklat Dibandingkan dengan Beras Putih Menggunakan Uji Iodida Chandra, Natasya; Sandra, Yurika; Arifandi, Firman
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 2 No. 12 (2022): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v2i12.488

Abstract

Kasus global menyatakan Diabetes bukan hanya penyebab kematian dini di seluruh dunia, tetapi juga penyebab utama kebutaan, penyakit jantung, dan gagal ginjal. Beras (Oryza sativa) merupakan makanan pokok sebagian besar penduduk di Indonesia, bahkan sebagian penduduk dunia, karena mudah dikonsumsi dan nilai energinya yang cukup tinggi. Jenis beras bermacam-macam salah satunya beras putih dan beras coklat. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui menggunakan Uji Iodida untuk membandingkan Kandungan Pati pada Beras Merah dan Beras Putih untuk menentukan jenis beras yang baik untuk dikonsumsi pengidap  penyakit diabetes. Jenis penelitian ini menggunakan deskriptif analitik dengan kelompok sampel yaitu beras putih (Oryza sativa L) dan beras coklat yang diperoleh dari beras yang tersedia dipasaran, kemudian sampel ini diuji kadar patinya dengan uji Iodida. Data dianalisis dengan menggunakan uji T untuk melihat perbandingan kadar pati pada beras coklat dan putih. Hasil penelitian menunjukkaan kadar pati pada beras coklat sebesar 22,58 mg/100 mg beras (22,58 %), lebih rendah daripada kadar pati beras putih sebesar 24,47 mg/100mg beras (24,47%) Pada hasil uji T didapatkan nilai p <0,05, maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan signifikan hasil pada beras coklat dan beras putih. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar pati pada beras coklat lebih rendah dibandingkan dengan beras putih.
Perbandingan Kadar Pati pada Beras Merah Dibandingkan dengan Beras Putih Menggunakan Uji Iodida Ramirez, Igor; Sandra, Yurika; Arifandi, Firman
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 2 No. 12 (2022): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v2i12.489

Abstract

Diabetes Mellitus adalah penyakit yang ditandai dengan  peningkatan kadar glukosa di dalam darah, erat kaitannya dengan mengkonsumsi karbohidrat yang berlebihan. Karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi tubuh manusia. Salah satu sumber karbohidrat yaitu beras. Beras merupakan makanan pokok utama masyarakat Indonesia. Jenis beras bermacam-macam salah satunya beras putih dan beras merah. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui perbandingan kadar pati pada beras merah dibandingkan dengan beras putih menggunakan uji iodida untuk menentukan jenis beras yang terbaik. Jenis penelitian ini menggunakan deskriptif analitik dengan kelompok sampel yaitu beras putih (Oryza sativa L) dan beras merah (Oryza nivara) yang diperoleh dari beras yang tersedia dipasaran, kemudian sampel ini di uji kadar patinya menggunakan uji Iodida. Data dianalisis dengan menggunakan uji T untuk melihat perbandingan kadar pati pada beras merah dan putih. Hasil penelitian menunjukkaan kadar pati pada beras merah sebesar 18,47gr/100gr (18,47%)  lebih rendah daripada kadar pati beras putih sebesar 24,47gr/100gr (24,47%). Kemudian hasil uji statistik t test didapatkan nilai p<0,05 yang artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara kadar pati pada beras merah dan beras putih. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar pati pada beras merah lebih rendah dibandingkan dengan beras putih.
Pengaruh Suhu dan Waktu Ekstraksi Terhadap Kadar Tanin Dari Ekstrak Etanol Daun Badotan (Ageratum conyzoides L.) Natasya, Aprilia; Titani Azzahra, Aninda; Sandra, Yurika
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v10i11.62392

Abstract

Daun badotan (Ageratum conyzoides L.) diketahui mengandung senyawa tanin yang berpotensi sebagai antioksidan alami. Namun, kadar tanin yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh kondisi ekstraksi seperti suhu dan waktu, sehingga diperlukan penentuan kondisi optimum untuk memperoleh hasil maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi suhu dan waktu ekstraksi terhadap kadar total tanin pada ekstrak etanol daun badotan. Metode yang digunakan adalah maserasi dengan pelarut etanol 70%, disertai variasi suhu (28°C, 40°C, dan 60°C) serta waktu ekstraksi (24 jam, 48 jam, dan 72 jam). Analisis kadar tanin dilakukan secara spektrofotometri menggunakan asam galat sebagai standar dan dinyatakan dalam satuan µg GAE/g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar tanin tertinggi diperoleh pada suhu ekstraksi 40°C sebesar 100,27 µg GAE/g dan waktu ekstraksi 24 jam sebesar 98,55 µg GAE/g. Peningkatan suhu maupun lamanya waktu ekstraksi yang berlebihan menyebabkan penurunan kadar tanin akibat degradasi senyawa aktif. Temuan ini mengindikasikan bahwa kondisi ekstraksi optimum diperlukan untuk mempertahankan kestabilan tanin, serta dapat menjadi landasan dalam pengembangan produk herbal dari daun badotan yang efisien dan ramah lingkungan.
Deteksi Anemia Pada Remaja Putri dalam Upaya Membentuk Keluarga Bebas Stunting di Desa Medong, Pandeglang Donanti, Elita; Ambar Hardjanti; Yurika Sandra; Arif Triman
Info Abdi Cendekia Vol. 8 No. 2: Desember 2025
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/iac.v8i2.180

Abstract

Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan menunjukkan, prevalensi balita stunting di Banten pada tahun 2022 menempati peringkat ke-23 tertinggi secara nasional. Kabupaten Pandeglang merupakan wilayah dengan prevalensi balita stunting tertinggi di Banten, yakni mencapai 29,4%. Upaya menurunkan stunting yang terbaik adalah dari hulunya yaitu dari kondisi kesehatan para remaja putri, ibu hamil dan lingkungan. Permasalahan gizi pada seorang remaja putri misalnya anemia, dapat berlanjut hingga dewasa jika tidak dilakukan penanganan. Di Desa Medong telah dilakukan suplementasi Tablet Tambah Darah (TTD) untuk remaja putri namun masih ada upaya-upaya yang belum dilakukan secara optimal dalam penurunan percepatan stunting. Oleh karena itu, dalam kegiatan ini dilakukan optimalisasi pemantauan konsumsi TTD pada remaja putri, pemberian edukasi mengenai anemia dan kesiapan dalam memasuki tahap pernikahan serta pemeriksaan antropometri dan Hb untuk mendeteksi status gizi dan anemia. Kesimpulan yang didapat dari kegiatan ini yaitu (1) edukasi berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan remaja (2) distribusi status gizi kurang pada remaja putri Desa Medong adalah sebesar 5% dan (3) prevalensi anemia pada remaja putri Desa Medong adalah sebesar 16%. Dengan demikian perlu dilakukan edukasi secara rutin tidak hanya kepada remaja putri namun juga ibu hamil dan seluruh kelompok masyarakat yang ada.
Characterization of Fibroblast Secretome: Extracelular Vesicles (EVs) Particle Count, Molecular Size and Total Protein Levels Riliani, Marisa; Kusuma, Indra; Sandra, Yurika; Zakiyah, Zakiyah; Ramansyah, Aditya
Smart Medical Journal Vol 8, No 3 (2025): December
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13057/smj.v8i3.109896

Abstract

Introduction: The secretome of human dermal fibroblasts consists of diverse bioactive molecules including proteins and extracellular vesicles (EVs), playing a key role in skin regeneration and homeostasis. Molecular weight-based fractionation provides insights into the functional heterogeneity of the conditioned medium (CM). This study aimed to characterize size-fractionated CM from fibroblasts to reveal its molecular properties and potential bioactivity.Methods: A descriptive laboratory study was conducted using conditioned medium from passage 5 human dermal fibroblasts cultured in serum-free conditions. Tangential flow filtration (TFF) was applied to fractionate the CM into low (LMW), medium (MMW), and high molecular weight (HMW) components. Nanoparticle tracking analysis (NTA) quantified EV particle concentration and size, while total protein content was assessed by BCA assay. Experiments were performed in triplicate (n=3).Results: Particle concentrations increased with molecular weight, with HMW fractions showing the highest counts but slightly smaller average particle sizes compared to LMW and MMW fractions. Total protein concentration also rose with molecular weight, peaking in HMW fractions, indicating enrichment of larger protein complexes and vesicles. Fractionation maintained consistent particle size distribution across fractions, supporting effective separation.Conclusion: Fibroblast secretome exhibits heterogeneous EV and protein populations distinguishable by molecular weight fractionation. The enriched higher molecular weight fractions contain more EVs and proteins, suggesting distinct biological roles. Combining TFF with further purification steps may enhance separation purity, facilitating therapeutic applications of secretome components.