Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

PEMETAAN ZONA POTENSIAL PENANGKAPAN LOBSTER BERBASIS BIO-EKOLOGI DI TELUK PALABUHANRATU Simbolon, Domu; Yusfiandayani, Roza; Sabila, Fathiha Rizki; Limbong, Mario
SEMAH Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Perairan Vol 8, No 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/semahjpsp.v8i1.1390

Abstract

Produktivitas tangkapan lobster di Teluk Palabuhanratu cenderung menurun. Kondisi ini diduga sebagai akibat keterbatasan informasi zona potensial penangkapan ikan. Pihak pengelola perikanan lobster dan nelayan sebagai pelaku penangkapan membutuhkan informasi yang lengkap dan akurat terkait dengan kriteria zona potensial penangkapan ikan. Indikator penentu zona potensial ini tidak hanya mempertimbangkan aspek produktivitas tetapi juga aspek bio-ekologi karena usaha penangkapan yang hanya berorientasi pada peningkatan produksi semata dapat menyebabkan degradasi sumber daya lobster dan penurunan potensi daerah penangkapan lobster. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik daerah penangkapan lobster berdasarkan aspek bio-ekologi dan memetakan zona potensial penangkapan lobster. Data yang dibutuhkan meliputi produksi lobster, jenis lobster, ukuran berat dan panjang karapas, dan titik lokasi penangkapan lobster. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara terhadap responden, dan studi literatur. Data selanjutnya dianalisis secara deskriptif dan studi komparatif. Panjang karapas lobster pasir, lobster mutiara dan lobster bambu yang dominan tertangkap masing-masing berkisar 60-85 mm, 60-111 mm, dan 60-111 mm. Persentase jumlah tangkapan lobster antara ukuran layak tangkap dengan layak tangkap untuk lobster pasir, lobster mutiara dan lobster bambu masing-masing 80:20, 60:40, dan 68:32. Daerah penangkapan lobster kategori potensial terdapat sekitar kawasan Cimaja, Samudera Beach Hotel, dan PPN Palabuhanratu, sedangkan kategori tidak potensial terdapat di sekitar Sungai Citepus, Pantai Batu Bintang dan Pantai Loji.
Komposisi Hasil Tangkapan Cantrang di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Kronjo M. Yoga Ramadhan; Limbong, Mario; Telussa, Riena F
Jurnal Ilmiah Satya Minabahari Vol. 8 No. 1 (2022): JISM VOL. 8 NO. 1 Agustus 2022
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Satya Negara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53676/jism.v8i1.171

Abstract

Alat tangkap cantrang memiliki hasil tangkapan yang dinilai memiliki selektifitas yang rendah tetapi memiliki produktivitas yang tinggi. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini menganalisis komposisi hasil tangkapan cantrang di PPI Kronjo dan juga menganalisis dari segi ekonomi. Penelitian ini berlokasi di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Kronjo dilakukan pada Desember 2021 sampai Januari 2022. Penelitian dilakukan secara observasi langsung dengan mengikuti operasi penangkapan ikan pada 1 kapal cantrang berkapasitas 8 GT Kronjo sebanyak 2 kali trip. Kapal cantrang dengan kapasitas 8 GT di PPI Kronjo menerapkan kegiatan menangkap ikan mingguan. Hasil Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa persentase hasil tangkapan utama 62% dan persentase hasil tangkapan sampingan berada pada range 38%. Dari hasil analisa keragaman hasil tangkapan, nilai indeks keanekaragaman Shannon-Wiener diperoleh nilai 2,41. Hasil indeks dominasi hasil tangkapan yang dihasilkan yaitu 0,11. Berdasarkan hasil yang didapatkan pada penelitian terlihat bahwa bila nilai indeks keanekaragaman tinggi maka nilai indeks dominasi rendah. Hal ini mengindikasikan bahwa selektivitas alat tangkap tergolong rendah dan tidak ramah lingkungan. Perlu diadakan penelitian lebih lanjut mengenai alternatif pemakaian by-catch reduction device di Perairan Teluk Pulo Cangkir, PPI Kronjo untuk mengurangi hasil tangkapan sampingan.
DEGRADASI DAERAH PENANGKAPAN IKAN DI PERAIRAN TELUK BANTEN, PROVINSI BANTEN Limbong, Mario; Telussa, Riena F.; Patanda, Mercy; Manik, Melani Indah Sari; Amri, Khairul
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 16, No 3 (2024): Desember 2024
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.16.3.2024.136 - 148

Abstract

Perikanan tangkap di Teluk Banten didominasi oleh perikanan skala kecil, dimana intensitas penangkapan dan penggunaan alat penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan diduga menyebabkan degradasi daerah penangkapan ikan. Selain itu, aktivitas daratan memberikan dampak yang negatif terhadap kualitas perairan. Penelitian ini bertujuan menganalisis kualitas perairan dan intensitas penangkapan, serta menentukan tingkat degradasi daerah penangkapan ikan di perairan Teluk Banten. Pengumpulan data dilakukan dengan metode survei dan wawancara. Data kualitas perairan dianalisis secara deskriptif berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004. Data perikanan tangkap yang ramah lingkungan diambil secara langsung dan dianalisis berdasarkan kriteria Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF). Status degradasi DPI ditentukan melalui pembobotan gabungan kondisi kualitas perairan dan perikanan tangkap yang ramah lingkungan. Berdasarkan hasil penelitian, kualitas perairan Teluk Banten masih dalam kondisi baik untuk kehidupan biota, walaupun parameter kecerahan dan salinitas belum sesuai dengan baku mutu air laut. Alat penangkapan ikan yang beroperasi di perairan Teluk Banten didominasi oleh jenis alat tangkap yang bersifat ramah lingkungan, seperti gillnet, pancing ulur, bagan perahu, dan bubu. Perairan Teluk Banten sudah terjadi degradasi daerah penangkapan ikan kategori ringan yaitu sekitar 58% yang diakibatkan oleh intensitas penangkapan dan penggunaan alat tangkap jaring arad. Pemanfaatan ruang laut untuk perikanan tangkap di Teluk Banten cukup tinggi sekitar 0,43 km2 untuk setiap unit penangkapan ikan.
Mapping West Java Northern waters quality using sea water quality standards Mercy Patanda; Dwi Ernaningsih; Mario Limbong
Depik Vol 13, No 3 (2024): DECEMBER 2024
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.13.3.40641

Abstract

Poor water quality caused by the influence of activities on land and sea can disrupt the ecosystem and the existence of fish resources in coastal areas. Damage to fish habitat impacts fishing areas, resulting in a decrease in fishermens catches. Fish resources will move further away from the coast, resulting in a narrower utilization of sea space for small fishermen and leading to conflicts. Thus, this study aims to analyze the quality of the aquatic environment and map the pollution degradation in the northern waters of West Java Province. The survey method was used in this study. The types of water quality data measured were water clarity, sea surface temperature, salinity, light attenuation coefficient, total suspended solids, and chlorophyll-a. In-situ seawater quality measurements in coastal waters were carried out at 30 points. In-situ water quality data was compared with remote sensing image data. Water quality parameter data was analyzed descriptively by comparing the results obtained with seawater quality standards for marine biota based on the Decree of the Minister of Environment No. 51 of 2004 concerning Seawater Quality Standards. The results showed that the light attenuation coefficient and salinity parameter had an average that did not comply with the seawater quality standards for biota. The parameters of chlorophyll-a, brightness, suspended solids load, and sea surface temperature were still within the threshold of seawater quality standards for biota life (good condition). The environmental conditions of the northern waters of West Java Province are classified as good, were around 3,261.703 km2, while the lightly polluted area was around 3,043.452 km2. The northern waters of West Java Province, classified as lightly polluted, were concentrated in two locations, the northern waters of Bekasi, and Indramayu.Keywords:Quality standardsDegradationWest JawaWater qualityMapping
Degradation of fishing grounds in North Waters of Banten Province, Indonesia Mario Limbong; Domu Simbolon; Ari Purbayanto; Roza Yusfiandayani; Khairul Amri
Depik Vol 12, No 3 (2023): DECEMBER 2023
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.12.3.34934

Abstract

The high level of fishing activity with small fishing vessels has resulted in relatively high utilization of marine space in coastal areas, manifesting changes in fishing grounds. Thus, this research aimed to analyze water quality, fishing intensity and to determine the level of degradation of fishing grounds in the northern waters of Banten Province. This research was conducted from June to August 2023 in the northern waters of Banten Province. Data collection was carried out using survey, remote sensing, and interview methods. Water quality data consisting of sea surface temperature, brightness, salinity, light attenuation coefficient, total suspended solids, and chlorophyll-a were analyzed descriptively. Eco-friendly capture fisheries data were taken directly from 120 fishermen and analyzed based on the CCRF criteria. Degradation status was determined by combining weight of water quality conditions and eco-friendly capture fisheries. Based on the research results, the northern waters of Banten Province is in good condition for biota life. Fishing equipment is dominated by eco-friendly fishing gear. Nevertheless, several parts of northern waters in Banten Province have experienced light degradation of fishing areas (18.28%) and the heavy degradation (7.71%). The use of marine space for capture fisheries in the northern waters of Banten Province is relatively high, around 50 units of fishing gear for 1 hectare of water.Keywords:EnvironmentFishing intensityFishing gearSpatial mappingWater quality
Mapping West Java Northern waters quality using sea water quality standards Patanda, Mercy; Ernaningsih, Dwi; Limbong, Mario
Depik Vol 13, No 3 (2024): DECEMBER 2024
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.13.3.40641

Abstract

Poor water quality caused by the influence of activities on land and sea can disrupt the ecosystem and the existence of fish resources in coastal areas. Damage to fish habitat impacts fishing areas, resulting in a decrease in fishermens catches. Fish resources will move further away from the coast, resulting in a narrower utilization of sea space for small fishermen and leading to conflicts. Thus, this study aims to analyze the quality of the aquatic environment and map the pollution degradation in the northern waters of West Java Province. The survey method was used in this study. The types of water quality data measured were water clarity, sea surface temperature, salinity, light attenuation coefficient, total suspended solids, and chlorophyll-a. In-situ seawater quality measurements in coastal waters were carried out at 30 points. In-situ water quality data was compared with remote sensing image data. Water quality parameter data was analyzed descriptively by comparing the results obtained with seawater quality standards for marine biota based on the Decree of the Minister of Environment No. 51 of 2004 concerning Seawater Quality Standards. The results showed that the light attenuation coefficient and salinity parameter had an average that did not comply with the seawater quality standards for biota. The parameters of chlorophyll-a, brightness, suspended solids load, and sea surface temperature were still within the threshold of seawater quality standards for biota life (good condition). The environmental conditions of the northern waters of West Java Province are classified as good, were around 3,261.703 km2, while the lightly polluted area was around 3,043.452 km2. The northern waters of West Java Province, classified as lightly polluted, were concentrated in two locations, the northern waters of Bekasi, and Indramayu.Keywords:Quality standardsDegradationWest JawaWater qualityMapping
UKURAN PERTAMA KALI TERTANGKAP DAN RASIO POTENSI PEMIJAHAN UDANG DOGOL MENGGUNAKAN JARING ARAD DI PERAIRAN BREBES Panggabean, Donwill; Limbong, Mario; Telussa, Riena F.; Fatmawati, Desi
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 15, No 1 (2023): (APRIL) 2023
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.15.1.2023.25-32

Abstract

Keterbatasan data yang tersedia di Kabupaten Brebes menyebabkan sulitnya menduga potensi dan status stok sumber daya udang. Upaya yang dapat dilakukan untuk menduga status sumber daya udang dan strategi pengelolaannya adalah dengan pendekatan aspek biologi dan rasio potensi pemijahan. Sampel udang dogol yang ditangkap menggunakan jaring arad diambil di Kabupaten Brebes selama 2 bulan. Panjang karapas udang dogol yang diukur berjumlah 1.004 ekor dengan menggunakan jangka sorong. Penelitian dilakukan untuk melihat komposisi hasil tangkapan, ukuran pertama kali tertangkap, serta rasio potensi pemijahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil tangkapan jaring arad di perairan Brebes didominasi hasil tangkapan sampingan (80,10%), hasil tangkapan utama (16,98%), dan hasil tangkapan lainnya yang dibuang ke laut (discard) sebanyak 2,92%. Hasil tangkapan utama yang paling banyak tertangkap adalah udang dogol dengan kisaran panjang karapas sekitar 30,1 – 56,0 mmCL. Ukuran karapas pertama kali tertangkap udang dogol berada di atas ukuran pertama kali matang gonad. Selektivitas alat tangkap jaring arad yang digunakan untuk menangkap udang dogol sekitar 40,87 mmCL. Status sumber daya udang dogol berdasarkan nilai rasio potensi pemijahan tergolong baik sehingga penangkapan udang dogol dengan jaring arad masih berkelanjutan.
ASPEK BIOLOGI IKAN TEMBANG (Sardinella gibbosa) DI PUSAT PENDARATAN IKAN (PPI) KRONJO KABUPATEN TANGERANG Limbong, Mario; Rahmani, Urip; Duho, Emanuel
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 14, No 1 (2022): (APRIL) 2022
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.14.1.2022.47-56

Abstract

Perairan Kronjo memiliki potensi ikan Sardinella gibbosa yang cukup besar dan bernilai ekonomis yang tinggi. Tingginya permintaan ikan tembang menyebabkan semakin meningkatnya upaya penangkapan. Pengawasan penangkapan perlu dilakukan untuk melihat kondisi habitat ikan agar tidak terjadi growth overfishing. Penelitian mengenai aspek biologi ikan tembang untuk menggambarkan kondisi habitat daerah penangkapan ikan di perairan Kabupaten Tangerang masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aspek biologi ikan tembang serta status habitat ikan tembang di perairan Kronjo. Penelitian dilakukan pada September sampai Desember 2021 di PPI Kronjo. Jumlah ikan yang diukur panjang dan beratnya sekitar 1.188 ekor. Analisis data menggunakan regresi power untuk hubungan panjang berat, uji khi kuadrat untuk menentukan nisbah kelamin, dan fungsi logistik untuk menentukan ukuran pertama kali ikan tertangkap. Ikan S. gibbosa yang ditangkap di perairan Kronjo berukuran 11,6 – 17,2 cm dan berat tubuh ikan berkisar antara 10,7 – 41,8 gr. Ikan S. gibbosa betina lebih dominan tertangkap dengan nisbah kelamin 2,01:1 terhadap ikan jantan. Panjang total S. gibbosa pertama kali tertangkap di perairan Kronjo adalah 14,7 cm dengan pola pertumbuhan bersifat allometrik negatif. Panjang infinity ikan S. gibbosa adalah 18,85 cm sedangkan nilai faktor kondisi sebesar 1,08. Status sumber daya ikan S. gibbosa di perairan Kronjo masih dalam kondisi cukup baik (potensial) dan keberkelanjutan namun diperlukan pengaturan intensitas penangkapan.Kronjo waters have a large potential for Sardinella gibbosa and high economic value. The high demand for S. gibbosa has led to increased fishing efforts. Fishing supervision needs to be carried out to see the condition of the fishing grounds so that growth overfishing does not occur. Research on the biological aspects of S. gibbosa to describe the conditions of fishing grounds in the waters of Tangerang Regency is still very limited. This study aimed to analyze the biological aspects of S. gibbosa and the status of the habitat of S. gibbosa in Kronjo waters. The research was conducted from September to December 2021 at Kronjo fishing base. There were 1,188 fish measured and weighed. Data analysis used power regression for the relationship between length and weight, the chi-square test to determine the sex ratio, and logistic functions to determine the length at first capture. The total length of S. gibbosa ranged from 11.6 – 17.2 cm, and the body weight of fish ranged from 10.7 – 41.8 g. The female S. gibbosa was more dominantly caught with a sex ratio of 2.01:1 to the male fish. Length at first capture in Kronjo waters was 14.7 cm with a negative allometric growth pattern. The infinity length of S. gibbosa is 18.85 cm, while the condition factor value is 1.08. The resource status of S. gibbosa in Kronjo waters is still in reasonably good condition (potential) and sustainable, but it is necessary to regulate fishing intensity.