Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Potensi Kandas Batuan Berdasarkan Metode Markland, dan Zona Rawan Longsor di Daerah Kaliwader, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah Sari Bahagiarti Kusumayudha; Azwar Thamrin; Heru Sigit Purwanto
Jurnal Mineral, Energi dan Lingkungan Vol 3, No 2 (2019): Desember
Publisher : Fakultas Teknologi Mineral, Universitas Pembangunan Nasional (UPN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jmel.v3i2.2190

Abstract

Daerah penelitian secara administratif berada di Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Secara geomorfologi, bentuk lahan daerah tersebut terdiri dari Perbukitan Struktural (S1), Lembah Homoklin (S2), Dataran Alluvial (F1), Tubuh Sungai (F2), dan Dataran Limpah Banjir (F3). Lito-stratigrafi daerah penelitian mulai dari batuan tertua, disusun oleh Satuan Breksi-vulkanik Kaligesing, Satuan Lava-andesit Kaligesing, kedua satuan berumur Oligosen Akhir hingga Miosen Awal, Satuan Batugamping-pasiran Sentolo berumur Miosen Tengah – Pliosen Awal (N14 – N19), dan Satuan endapan alluvial berumur recent. Di daerah penelitian juga dijumpai intrusi andesit berumur Oligosen Akhir – Miosen Awal. Struktur geologi berupa kekar dan sesar secara umum mempunyai orientasi Timurlaut – Baratdaya termasuk reverse left slip fault, dan Baratlaut – Tenggara, merupakan right lateral slip fault. Dari hasil analisis kestabilan lereng terhadap enam lokasi lereng batu berdasarkan metode Markland, diketahui bahwa lereng Wadas berpotensi longsor tipe wedge failure dan planar slide, lereng Kaliwader 1 berpotensi longsor tipe wedge failure, lereng Kaliwader 2 berpotensi longsor tipe wedge failure, lereng Kaliwader 3 berpotensi longsor tipe wedge failure, lereng Kaliwader 4 tidak berpotensi longsor, dan lereng Ngargosari berpotensi terjadi longsoran tipe wedge failure dan tipe planar slide. Penanggulangan longsor dapat dilakukan dengan melakukan pelandaian lereng dan atau metode trap/terasering.
Hubungan Batu Gamping Formasi Sentolo dan Breksi Vulkanik Kulon Progo: Sebuah Koreksi Stratigrafi Studi Kasus di Daerah Wonotopo, Kecamatan Gebang, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah Sari Bahagiarti Kusumayudha; Delvianus Kaesmetan; Heru Sigit Purwanto
Jurnal Mineral, Energi dan Lingkungan Vol 3, No 1 (2019): Juni
Publisher : Fakultas Teknologi Mineral, Universitas Pembangunan Nasional (UPN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jmel.v3i1.2102

Abstract

Fisiografi Jawa Tengah oleh Van Bemmelen (1949) dibagi menjadi enam zona, yaitu Dataran Aluvial Utara Jawa, Antiklinorium Serayu Utara, Kubah dan Punggungan pada Zona Depresi Tengah, Zona Depresi Tengah dengan Gunung-gunung Api Kuarter, dan Pegunungan Selatan. Daerah Wonotopo dan sekitarnya termasuk di dalam Kubah Kulon Progo. Litostratigrafi di daerah ini dari umur tua ke muda, secaraberturut-turutadalah Formasi Nanggulan, Formasi Kaligesing, Formasi Dukuh, Formasi Jonggrangan, Formasi Sentolo, serta endapan gunung api Kuarter dan endapan aluvial. Pada umumnyapara peneliti terdahulu (Van Bemmelen, 1949; Pringgoprawiro dan Riyanto, 1987;Rahardjo, dkk, 1995) menyebutkan bahwa hubungan stratigrafi antara batuan vulkanik di Kubah Kulon Progo dan satuan batugamping terutama Formasi Sentolo yang berada di atasnya adalah tidak selaras. Penelitian ini menemukan kontak langsung secara selaras dan menjemari antara breksi vulkanik dan batugamping berlapis Sentolo.Oleh sebab itu hal ini menjadi koreksi atau pengayaan khasanan ilmu pengetahuan atas hubungan stratigrafi antara kedua formasi.
Groundwater quality in Ponjong Karst, Gunungkidul Regency, Special Region of Yogyakarta Avellyn Shintya Sari; Sari Bahagiarti K; Suharsono Suharsono; C Prasetyadi
Journal of Earth and Marine Technology (JEMT) Vol 1, No 1 (2020)
Publisher : Lembaga Penelititan dan Pengabdian kepada Masyarakat - Institut Teknologi Adhi Tama Suraba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31284/j.jemt.2020.v1i1.1142

Abstract

The hydrogeological condition of a region is determined by the type of lithology, morphology, and subsurface conditions where the condition is very helpful in the study of groundwater exploration. Especially when we encounter interesting geological conditions when the groundwater exploration in the karst area in which volcanic rocks are resulting from the activities of the active volcano in the past. Groundwater exploration at Ponjong area and surrounding does have its special characteristics, because it has 2 different rock characteristics where the northern part of the research area in the form of a karst area (limestone of Wonosari Formation) while the southern part is an area of ancient volcanoes with dominant volcanic rocks from Wuni Formation, As for the research on the above and subsurface research area where the research is conducted based on surface geology mapping, geoelectric data collection, and groundwater sampling. Geological mapping includes geomorphological data, stratigraphy, and geological structure. The aquifer system of the research area can be divided into two systems, inter-grain aquifer systems, and fracture aquifer systems. Overall quality groundwater in the research area is quite good. Ponjong District there are mining activities that have resulted in changes in the land use system in the area. This can cause changes in the water surplus in the area due to the changing catchment area.
Komunikasi Lingkungan untuk Mitigasi Bencana Erupsi Gunung Sinabung Puji Lestari; Sari Bahagiarti Kusumayudha; Eko Teguh Paripurno; Berliyan Ramadhaniyanto
Jurnal ASPIKOM - Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 3, No 1 (2016): Juli 2016
Publisher : Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.699 KB) | DOI: 10.24329/aspikom.v3i1.98

Abstract

This study aims to find a model of environmental communications for disaster mitigation eruption of Mount Sinabung at Karo district of North Sumatra. This research also aims at increasing public awareness and government in improving the effectiveness of disaster communications in Sinabung. Organizational Information Theory is used as concept of his study. The research uses descriptive qualitative method by employing data collection techniques such as Focus Group Discussion (FGD) and interviews on communication training for disaster mitigation at Sinabung. The research located in Karo district of North Sumatra, particularly at Regional Disaster Management Agency (BPBD), Department of Communication and Information Technology, and Kesbanglinmas, Head sub district, Head of village, and volunteers. The result of this research is a model of environmental communications to support early warning system in Sinabung.
Kelayakan Geo-ekowisata Gua berdasarkan Cave Rock Mass Rating (CRMR) di Kapanewon Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta Sari Bahagiarti Kusumayudha; Bambang Prastistho; Muhammad Faizal Zakaria; Istiana Rahatmawati; Tuti Setyaningrum
Jurnal Mineral, Energi dan Lingkungan Vol 5, No 2 (2021): Desember
Publisher : Fakultas Teknologi Mineral, Universitas Pembangunan Nasional (UPN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jmel.v5i2.4742

Abstract

Kapanewon Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, berada di kawasan geopark karst Gunungsewu. Daerah tersebut secara geologis terdiri dari batugamping terumbu dan batugamping berlapis, karakteristik hidrologi ditandai adanya sistem pengeringan bawah permukaan. Sejak kawasan Gunungsewu ditetapkan sebagai Unesco Global Geopark pada 2015, sektor pariwisata di daerah ini berkembang pesat. Kapanewon Tanjungsaripun berbenah mengembangkan potensi alamnya untuk pariwisatanya. Terdapat 5 (lima) lokasi berpotensi dikembangkan sebagai wisata gua karst dengan konsep geo-ekowisata, yaitu Gua Bentar, Gua Cabe, Gua Grengseng, Gua Pakubon dan Gua Tritis, yang memiliki keunikan dan daya tarik tersendiri dari aspek eksokarst, endokarst, serta legenda. Pengembangan situs-situs gua tersebut diharapkan mampu meningkatkan keekonomian dan kesejahteraan masyarakat sekitar. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, perlu dilakukan kajian berupa penerapan Cave Rock Mass Rating (CRMR) guna menentukan kelayakan gua dari aspek geoteknik terhadap risiko runtuh, bila dikembangkan sebagai destinasi geo eko-wisata. Hasilnya menunjukkan bahwa Gua Grengseng (nilai 47) memiliki risiko runtuh paling besar dibandingkan dengan Gua Bentar (nilai 69), Gua Cabe (nilai 80), Gua, Pakubon (nilai 81), dan Gua Tritis (nilai 79).
Kelayakan Geo-ekowisata Gua berdasarkan Cave Rock Mass Rating (CRMR) di Kapanewon Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta Sari Bahagiarti Kusumayudha; Bambang Prastistho; Muhammad Faizal Zakaria; Istiana Rahatmawati; Tuti Setyaningrum
Jurnal Mineral, Energi dan Lingkungan Vol 5, No 2 (2021): Desember
Publisher : Fakultas Teknologi Mineral, Universitas Pembangunan Nasional (UPN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jmel.v5i2.4742

Abstract

Kapanewon Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, berada di kawasan geopark karst Gunungsewu. Daerah tersebut secara geologis terdiri dari batugamping terumbu dan batugamping berlapis, karakteristik hidrologi ditandai adanya sistem pengeringan bawah permukaan. Sejak kawasan Gunungsewu ditetapkan sebagai Unesco Global Geopark pada 2015, sektor pariwisata di daerah ini berkembang pesat. Kapanewon Tanjungsaripun berbenah mengembangkan potensi alamnya untuk pariwisatanya. Terdapat 5 (lima) lokasi berpotensi dikembangkan sebagai wisata gua karst dengan konsep geo-ekowisata, yaitu Gua Bentar, Gua Cabe, Gua Grengseng, Gua Pakubon dan Gua Tritis, yang memiliki keunikan dan daya tarik tersendiri dari aspek eksokarst, endokarst, serta legenda. Pengembangan situs-situs gua tersebut diharapkan mampu meningkatkan keekonomian dan kesejahteraan masyarakat sekitar. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, perlu dilakukan kajian berupa penerapan Cave Rock Mass Rating (CRMR) guna menentukan kelayakan gua dari aspek geoteknik terhadap risiko runtuh, bila dikembangkan sebagai destinasi geo eko-wisata. Hasilnya menunjukkan bahwa Gua Grengseng (nilai 47) memiliki risiko runtuh paling besar dibandingkan dengan Gua Bentar (nilai 69), Gua Cabe (nilai 80), Gua, Pakubon (nilai 81), dan Gua Tritis (nilai 79).
PENGARUH LITOLOGI DAN STRUKTUR GEOLOGI TERHADAP AIR TANAH DI DAERAH WEDIOMBO, KECAMATAN GIRISUBO, KABUPATEN GUNUNGKIDUL, PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Arhananta - -; Sari Bahagiarti Kusumayudha; Agus Harjanto -
Jurnal Sumberdaya Bumi Berkelanjutan (SEMITAN) Vol 1, No 1 (2022)
Publisher : Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31284/j.semitan.2022.3064

Abstract

Daerah penelitian secara administratif berada pada Desa Jepitu, Desa Karangawen, Desa Tileng, Desa Balong, Desa Purwodadi, dan Desa Tepus, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas pemetaan geologi permukaan, Measuring Section (MS), pemetaan hidrogeologi, dan pengambilan conto batuan serta air tanah. Arah aliran air bawah tanah sepanjang teluk Wediombo dipengaruhi oleh sesar mendatar orde 1, dengan arah aliran yang berarah tenggara pada sisi barat dan berarah barat daya pada sisi timur. Pada bagian tengah, arah aliran air bawah tanah ke selatan dipengaruhi oleh sesar orde 2 (Sesar Pokgunung). Batugamping memengaruhi tingginya unsur Ca2+, HCO3-, dan CO32- pada air tanah. Lava lapuk (teralterasi) memengaruhi tingginya unsur Mg2+, Na+, K+, dan Cl- pada air tanah. Kontak breksi-batugamping memengaruhi tingginya unsur Mg2+, Na+, dan Cl- pada air tanah. Batugamping memengaruhi tingginya nilai daya hantar listrik, dan kekeruhan, serta dicirikan dengan debit yang tinggi. Lava segar dan kontak breksi-batugamping memengaruhi rendahnya nilai pH air tanah
Rock slope kinematics analysis by Markland method of the Bener District, Purworejo Regency, Central Java, Indonesia Sari Bahagiarti Kusumayudha; Azwar Thamrin; Heru Sigit Purwanto
International Journal of Advances in Applied Sciences Vol 12, No 2: June 2023
Publisher : Institute of Advanced Engineering and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11591/ijaas.v12.i2.pp111-120

Abstract

Bener District, Purworejo Regency, Central Java, Indonesia, located in the Kulon Progo Mountains can be classified as a high-risk area. Many experts and researchers have studied landslides, but there has been little research on rock slope kinematics. In fact, when such a rock slope is unstable and poorly monitored, it has the potential to endanger the community or facilities at the adjacent site. This is why slope kinematics research is required. To complete this study, rock kinematics analysis using the Markland method was performed on six representative slopes. The assessment results show that Kaliwader slope A, Kaliwader slope B, and Argosari slope each tend to collapse with wedge failure, Kaliwader slope D and Wadas slope have the potential for wedge failure and planar slide, but Kaliwader slope C does not. Despite their steep inclination, slopes that are likely to fail are strongly related to the presence of geologic structures, particularly joints, and faults, at the sites. The findings of this study will be helpful in the development of landslide vulnerability zones in the context of disaster mitigation.
ERT geoelectric application to determine the leakage direction of Embung Batur Agung, Karangwetan, Karangmojo District, Gunungkidul Regency, Indonesia Muhammad Faizal Zakaria; Sari Bahagiarti Kusumayudha; Hanafiah Hamid
International Journal of Advances in Applied Sciences Vol 12, No 2: June 2023
Publisher : Institute of Advanced Engineering and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11591/ijaas.v12.i2.pp93-102

Abstract

Embung Batur Agung is a source of irrigation for residents around Embung. Depreciation of water in the reservoir occurs due to leakage from the geomembrane layer of the Embung Batur Agung. This study aims to determine the direction of leakage from the reservoir so that appropriate treatment can be carried out. This research was done using hydrogeological analysis and electrical resistivity tomography (ERT) geoelectrical measurements. ERT Geoelectrical measurement uses a dipole-dipole configuration with a spacing of 5 m and 10 m and a line length of 100 m. There are 2 lines in the southwest and southeast of the reservoir. The results of geohydrology analysis, it was found that the aquifer system around the reservoir included in the Gunungsewu aquifer system, and the dynamics of surface groundwater are controlled by faults and fractures. The results of the ERT geoelectrical measurement, there is a low anomaly which can indicate a reservoir leak at 50-60 m on line 1 which is in the southwest of the reservoir. This low anomaly has a vertical pattern as well as there is a fracture which is the cause of the reservoir leak. These low anomaly values range from 4-30 Ωm which can be interpreted as the presence of water that has conductive properties. The results of this study are expected to be used by the local government to handle the leakage of the reservoir.
Analysis of Groundwater Biological Parameters in Ponjong District, Gunung Kidul Regency, Special Region of Yogyakarta Avellyn Shinthya Sari; Sari Bahagiarti Kusumayudha; Suharsono Suharsono; Corolus Prasetyadi
Journal of Applied Sciences, Management and Engineering Technology Vol 4, No 2 (2023): On Going
Publisher : Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31284/j.jasmet.2023.v4i2.5034

Abstract

This study shows that the condition of the well water tested based on physical, chemical and biological parameters to determine the feasibility of the water used by the surrounding community still meets the required quality standard thresholds. Although somewhat polluted because of the mining. Underground water in the karst area of Gunungkidul Regency is safe as raw water for drinking by residents and meets the standards set by the Indonesian Ministry of Health and Government Regulation Number 82 of 2001 concerning Water Quality Management and Water Pollution Control. If used as drinking water, it still has to go through water treatment or be heated to a certain boiling point, because it contains bacteria that may be harmful to humans.