Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Pengaruh Pembentukan Dispersi Padat Meloksikam - PVP K-25 terhadap Penetrasi Perkutan dari Sediaan Gel Sukmadjaya Asyarie; Sasanti Tarini D; Deni Rahmat
JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol 4 No 1 (2006): JIFI
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1114.156 KB)

Abstract

Most drugs are weak acids or bases and have a low water solubility. Ionized molecules are generally in small amounts absorbed by biological membranes. One possibility of drug modification for transport through biological membranes is by solid disperse system which enhances drug solubility. The solubility of drugs in such a system increases due to particle size reduction and transformation of its crystalline form. In this study, the dispersion system was used to increase the solubility of meloxicam which can influence the percutaneous permeation. Solid dispersion was prepared by modified solvent method using various ratios of PVP K-25 and was also able to lower the meloxicam melting point. Solid dispersion of meloxicam-PVP-K-25 (1:5) was characterized by infrared absorption spectroscopy, differential scanning calorimetry, X-ray diffraction analysis, and thin layer chromatography. Percutaneous penetration was studied by using a flow-through diffusion cell system, and besides that showed a lower diffusion rate of solid dispersion of meloxicam-PVP-K-25 compared to meloxicam.
Formulasi Mikroemulsi Glukosamin Hidroklorida Rima Hayati; Sasanti Tarini Darijanto; Daryono Hadi Tjahjono
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 14 No. 01 Juli 2017
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.355 KB)

Abstract

Glukosamin hidroklorida (glukosamin HCl) merupakan senyawa yang sudah populer sebagai suplemen untuk mengurangi rasa nyeri dan kerusakan sendi pada penderita osteoarthritis. Namun terdapat beberapa faktor yang menjadi tantangan dalam pengembangan sediaan glukosamin, yaitu dosis yang besar untuk diabsorpsi secara perkutan serta masalah stabilitas glukosamin di dalam air yang mudah sekali membentuk maillard product. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan mikroemulsi glukosamin HCl untuk penggunaan transdermal sehingga permeabilitas terhadap stratum korneum meningkat dan stabilitas sediaan lebih baik. Dalam penelitian ini glukosamin HCl dikembangkan dalam bentuk mikroemulsi M/A dan diperoleh formula optimum dengan komposisi glukosamin HCl 15%, isopropil miristat 4,2%, Tween 80 22,70%, isopropil alkohol 5,70%, natrium metabisulfit 0,10%, aquadeion 52,30%. Uji karakterisasi menunjukkan mikroemulsi memenuhi persyaratan secara organoleptis, viskositas, serta ukuran globul. Mikroemulsi stabil pada uji sentrifugasi. Sementara uji kadar dengan menggunakan metode KCKT diperoleh hasil 14,9%.
Optimasi Proses Pembuatan dan Karakterisasi Fisik Niosom Sinkonin Hariyanti Hariyanti; Sophi Damayanti; Sasanti Tarini
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 16 No. 02 Desember 2019
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (632.613 KB) | DOI: 10.30595/pharmacy.v16i2.5841

Abstract

Sinkonin praktis tidak larut dalam air, sedikit larut dalam kloroform dan alkohol. Hal ini berdampak pada rendahnya penetrasi transfollicular sinkonin, karena hanya bahan aktif hidrofilik yang mampu melewati hair follicle. Dengan demikian dibutuhkan satu sistem penghantaran yang mampu menurunkan hidrofobisitas sinkonin untuk meningkatkan penetrasi sinkonin ke follicle. Niosom merupakan vesikel ampifilik dengan struktur lapisan rangkap yang terbentuk dari hidrasi kombinasi surfaktan nonionik dan kolesterol yang mampu menurunkan hidrofobisitas sinkonin. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan proses pembuatan niosom sinkonin yang optimum. Pembuatan niosom sinkonin diawali dengan menentukan temperatur gelasi (Tg) dari span 60 dengan Differential Scanning Calorimetry (DSC), kemudian dilanjutkan dengan optimasi proses meliputi: optimasi kecepatan rotavapor pembentukan film lapis tipis, temperatur hidrasi, kecepatan rotavapor hidrasi, waktu hidrasi, dan waktu sonikasi. Karakteristik vesikel niosom yang optimal meliputi: ukuran partikel dan indeks polidispersitas dengan menggunakan Particle Size Analized (PSA) serta efisiensi penjeratan sinkonin dengan menggunakan KCKT. Temperatur gelasi (Tg) span 60 45±2 oC, kecepatan rotavapor pembentukan film lapis tipis niosom 210 rpm, temperatur hidrasi 55±2 oC, kecepatan rotavapor hidrasi 210 rpm, waktu hidrasi 20 menit, waktu sonikasi suspensi niosom 1 menit. Ukuran vesikel yang diperoleh adalah 100–200 nm, indeks polidispersitas 0,2–0,4 dan efisiensi penjeratan niosom sinkonin 84,49±0,0025%. Proses pembuatan niosom sinkonin memiliki pengaruh besar terhadap hasil ukuran vesikel dan efisiensi penjeratan niosom sinkonin.
Evaluasi Formula Krim Minyak Biji Delima (Punica granatum L.) dan Uji Aktivitas Antioksidan dengan Metode β-Carotene Bleaching Nur Mita; Sasanti Tarini D.; Sophi Damayanti
Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry Vol. 3 No. 2 (2015): J. Trop. Pharm. Chem.
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia, 75117, Gedung Administrasi Fakultas Farmasi Jl. Penajam, Kampus UNMUL Gunung Kelua, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jtpc.v3i2.97

Abstract

Minyak biji delima memiliki aktivitas antioksidan kuat, sehingga berpotensi untuk diformulasi menjadi sediaan antioksidan topikal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi formula sediaan krim minyak biji delima dan menguji aktivitas antioksidan dari sediaan tersebut. Krim a/m diformulasi menggunakan emulgator Tween 80- Span 80. Evaluasi sediaan meliputi pemeriksaan pH dan viskositas sediaan yang disimpan selama 4 minggu pada suhu kamar, stabilitas fisik dengan metode Freeze Thaw sebanyak 4 siklus dimana 1 siklus terdiri dari 48 jam pada suhu 4°C dan 48 jam pada suhu 40°C. Potensi antioksidan diuji dengan metode β-Carotene Bleaching. Formula krim yang mengandung minyak biji delima 1% stabil secara fisik. Hasil uji efek antioksidan menunjukkan persen penghambatan minyak biji delima murni dan minyak biji delima dalam bentuk krim terhadap penurunan warna β-Carotene berturut-turut adalah 73,41% dan 52,80%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa aktivitas antioksidan minyak biji delima dalam bentuk krim mengalami penurunan 0,3 kali.Kata kunci: krim, minyak biji delima, antioksidan, β-Carotene BleachingABSTRACTPomegranate seed oil has a potent antioxidant activity that is potential to be formulate into topical antioxidant dosage form. The purpose of this study is to formulate cream of pomegranate seed oil that physically stable, however have antioxidant activity. Cream w/o was formulated using Tween 80 - Span 80 as emulsifier. Evaluation of cream products includes determining pH and viscosity of the preparations stored for 4 weeks at room temperature, physical stability test by Freeze Thaw method which was carried out for 4 cycles in where 1 cycle consists of 48 hours at 4°C and 48 hours at 40°C. Antioxidant activity was tested by β-carotene bleaching method. The results of the research showed that all cream formulas containing pomegranate seed oil 1% were physically stable and can increase the comfortness in use on the skin. The antioxidant test results showed antioxidant activity of pure pomegranate seed oil and pomegranate seed oil as formulated in creams have antioxidant capacity with inhibition percentage of 73.41% and 52.80%, respectively. Based on these results it can be concluded that the antioxidant activity of pomegranate seed oil in cream decreased 0,3 times.Keywords: cream, pomegranate seed oil, antioxidant, β-Carotene Bleaching
Formulasi Solid Lipid Nanoparticle Ceramide Garnadi Jafar; Sasanti Tarini Darijanto; Rachmat Mauludin
Journal of Pharmascience Vol. 2 No. 2 (2015): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v2i2.5826

Abstract

ABSTRAK Ceramide merupakan senyawa golongan Phytosphingosine yang secara alami terdapat didalam kulit disekitar stratum korneum yang memiliki efek sebagai menjaga kelembaban kulit. Ceramide yang terdapat dikulit secara alami akan berkurang seiring dengan penuaan dan faktor lainnya yang mengakibatkan kulit menjadi kering. Untuk mengatasi masalah ini maka pada penelitian ini dilakukan pengembangan formula solid lipid nanoparticle (SLN) ceramide sintetik yang diinkorporasikan kedalam sediaan gel agar membentuk sistem oklusif pada kulit untuk membantu dalam mengatasi TEWL (Transepidermal Water Loss). Pembuatan SLN yang digunakan yaitu ultraturax dan ultrasonik probe dengan pemilihan 3 jenis lipid padat (asam stearat, gliserol monostearat dan apifil) serta 2 jenis surfaktan (tego care dan planta care). Karakterisasi SLN meliputi analisis ukuran partikel, indeks polidispersitas, zeta potensial, morfologi (TEM) dan stabilitas fisik. SLN ceramide yang stabil terbentuk dengan kapasitas pemuatan ceramide 4 %  dengan kapasitas apifil 4 % dan planta care 1 % memiliki diameter globul 113.5 ± 3.60 nm dan indeks polidisperitas 0.263 ± 0.01. Selama penyimpanan 2 bulan kandungan ceramide relative stabil dengan nilai 92.26 %. Kata Kunci : ceramide, SLN, kelembaban. ABSTRACTCeramide is a substance from Phytosphingosine group that naturally occured around stratum corneum region within our skin, possessing skin moisturizing activity. Along with aging process, ceramide will progressively reduce in number, bringing dryness to the skin. In this research, solid lipid nanoparticle (SLN) formulation containing synthetic ceramide was developed and later incorporated into gel and cream dosage forms that formed occlussive system on skin surface to reduce Transepidermal Water Loss (TEWL). SLN manufactured by ultrathurax and probe ultrasonic using 3 types of solid lipids (stearic acid, glycerol monostearate, and apiphyl) and 2 types of surfactants (tego care and planta care). SLN characterisation including particle size analysis, polydispersity index, zeta potensial determination, morphology (TEM), and physical stability. Ceramide SLN then incorporated into gel or cream dosage form. Physical stability conducted were organoleptic, pH, and viscosity tests in room temperature storage and also in accelerated stability test condition. Cream dosage forms before and after stability test (freeze-thaw instability test) were compared, showing viscosity reduction after 5cycles. Moisturity test was later conducted using CM 825 corneometer. Stable ceramide SLN was formed with 4 % ceramide loading capacity using 4 % apiphyl and 1 % planta care, having globules diameter of 113.5 ± 3.60 nm and polydispersity index of 0.263 ± 0.01. During 2 months storage, ceramide was relatively stable with concentration of 92.26 %.Keywords : ceramide, SLN, gel, cream, moisturity