Claim Missing Document
Check
Articles

Pertumbuhan vegetatif anggrek Dendrobium stratiotes Rchb.f. setelah pemberian monosodium glutamat dan pupuk “Hortech” Nintya Setiari; Yulita Nurchayati
Jurnal Biologi Tropika Vol. 2, No. 1, Tahun 2019
Publisher : Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.485 KB) | DOI: 10.14710/jbt.2.1.16-20

Abstract

Fertilizers are needed to encourage the growth of orchids because their growth is known to be very slow. Monosodium glutamate (MSG) is a crystalline salt containing sodium and glutamate which can stimulate plant growth. Therefore in this study, the application of MSG and fertilizer was carried out to promote the growth of D. stratiotesorchids. The application of MSG and fertilizer was given in a completely randomized design with a factorial pattern consisting of MSG concentration factors (0, 0.5 and 1%) and fertilizing factors (not fertilized and fertilized). There are six treatments and three replications per treatments. The parameters observed increased in leaf length (cm), the morphological response of orchid plants in the form of new shoot formation, new root formation, and bulb enlargement. Results of research and test Analysis of Variance (ANOVA) showed no interaction between MSG and fertilizer in influencing the length leaf orchid D. stratiotes. The length of leaves is highest in orchids by MSG 1% without fertilizer, while the formation of new shoots and bulb enlargement occurred in orchid plants which were given 0.5 and 1% MSG without fertilizer application. New root formation occurs in plants given MSG and fertilizer. The conclusion is the application of 1% MSG without fertilizer can promote the growth of. D. stratiotesorchids.
Pengaruh pupuk daun Gandasil D terhadap pertumbuhan, kandungan klorofil dan karotenoid tanaman bayam merah (Alternanthera amoena Voss.) Fetryani Soni Manurung; Yulita Nurchayati; Nintya Setiari
Jurnal Biologi Tropika Vol. 3, No. 1, Tahun 2020
Publisher : Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (637.586 KB) | DOI: 10.14710/jbt.1.1.24-32

Abstract

Red spinach is (Alternanthera amoena Voss.) a vegetable that contains vitamins (vitamin A, C, and E) and minerals.Yield optimization red amaranth cultivation can be done with additional supplementary fertilizer like fertilizer leaves Gandasil D. The purpose of this study are to examine the effect of Gandasil D fertilizer on vegetative growth of plants and determine the optimal concentration of Gandasil D fertilizer on the chlorophyll and carotenoid content of the leaves. The experiment was carried out by germinating red spinach seeds, transferring 14 -days-old seedlings into pots containing planting media and basic fertilizers.  Seedlings at 14-days-old were then given Gandasil D fertilizer by spraying on the surface of the leaves once a week until the age 32–days-old. The study was conducted with a CRD with a single factor with 4 treatments of Gandasil D concentration, namely 0g/L (control), 1g/L, 2g/L, and 3g/L with 5 replications.  Parameters observed that the number of leaves, plant height, root length, wet weight, dry weight, chlorophyll, and carotenoid content.  Data were analyzed by ANOVA followed by Duncan’ test at the 95% significance level. The results showed that the application of Gandasil D significantly affected the number of leaves, plant height, and fresh weight of the plant.  Spraying with Gandasil D did not show a significant effect on root length, plant dry weight, and chlorophyll and red spinach carotenoid content.  Gandasil D fertilizer at a concentration of  3g/L produces the most optimal growth of red spinach plants.
Karakterisasi morfologi dan fisiologi dari tiga varietas kentang (Solanum tuberosum L. ) di Kabupaten Magelang Jawa Tengah Yulita Nurchayati; Nintya Setiari; Nita Kumalasari Dewi; Fella Suffah Meinaswati
NICHE Journal of Tropical Biology Vol. 2, No. 2, Year 2019
Publisher : Department of Biology, Faculty of Sciences and Mathematics, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3443.385 KB) | DOI: 10.14710/niche.2.2.38-45

Abstract

Naungan dan Tipe Substrat Berbeda pada Periode Aklimatisasi Ex-vitro Phalaenopsis Hibrid Ade Arisma Fauziah; Nurullita Prahasti; Nintya Setiari; Endang Saptiningsih
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 5, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.5.1.2020.60-66

Abstract

Produksi bibit Phalaenopsis Hibrid umumnya dilakukan melalui teknik kultur jaringan. Tahap selanjutnya adalah aklimatisasi plantlet di lingkungan ex-vitro. Penggunaan naungan dan tipe substrat berperan terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup plantlet selama periode awal aklimatisasi. Penelitian ini mengkaji peran naungan dan tipe substrat yang berbeda terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup plantlet Phalaenopsis Hibrid selama periode awal aklimatisasi di greenhouse. Penelitian menggunakan plantlet Phalaenopsis Hibrid dalam botol dan naungan paranet. Plantlet diberi 3 tipe substrat yaitu serabut kelapa, akar paku kadaka, sphagnum serta semua perlakuan dinaungi paranet secara bertahap. Parameter penelitian yang diukur meliputi: jumlah akar, total panjang akar, panjang daun, berat segar dan persentase kematian plantlet. Rancangan Acak Lengkap dengan satu faktor dan 3 ulangan digunakan dalam penelitian ini. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan uji LSD pada taraf signifikansi 95% (P < 0,05). Penelitian dilakukan selama 5 minggu di greenhouse Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Matemetika, UNDIP. Plantlet tumbuh dan mampu bertahan hidup pada semua substrat dan naungan paranet secara bertahap. Pembentukan pori besar pada substrat serabut kelapa dan akar kadaka meningkatkan jumlah dan panjang akar. Kemampuan menjerap air tinggi pada spagnum meningkatkan berat segar plantlet. Penutupan paranet secara bertahap dan penggunaan substrat serabut kelapa, akar kadaka serta spagnum mempertahankan kelangsungan hidup plantlet selama periode awal aklimatisasi ex-vitro.   Kata kunci:aklimatisasi, Phalaenopsis Hibrid, serabut kelapa, akar kadaka, sphagnum
Respon Eksplan Batang Kentang (Solanum tuberosum L.) terhadap Perlakuan Konsentrasi Thidiazuron (TDZ) pada Media MS secara In Vitro Jefri Saputro; Nintya Setiari; Yulita Nurchayati; Munifatul Izzati
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 5, Nomor 2, Tahun 2020
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.5.2.2020.147-156

Abstract

Kentang (Solanum tuberosum L.) merupakan komoditas yang berpotensi dalam diversifikasi pangan, namun perbanyakan bibit dengan umbi tidak efektif untuk persediaan bibit nasional. Solusi dari permasalahan tersebut adalah perbanyakan dengan kultur jaringan melalui teknik organogenesis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis jenis eksplan dan konsentrasi TDZ yang tepat untuk meningkatkan respon viabilitas dan organogenesis eksplan. Metode yang digunakan adalah induksi organogenesis. Eksplan batang dipotong melintang dan diinisiasi dalam media MS dengan konsentrasi TDZ berbeda. Desain penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 2x4. Faktor pertama adalah jenis eksplan (batang tanpa tunas atau B0 dan batang bertunas atau B1), dan faktor kedua adalah konsentrasi TDZ (0ppm atau T0, 4,5ppm atau T4,5, 6ppm atau T6 dan 7,5ppm atau T7,5). Parameter yang diamati adalah persentase eksplan steril, persentase eksplan hidup, jumlah tunas, jumlah daun dan jumlah akar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis eksplan batang bertunas cenderung meningkatkan viabilitas dan persentase eksplan hidup daripada jenis eksplan batang tanpa tunas, sedangkan peningkatan konsentrasi TDZ cenderung menurunkan viabilitas dan persentase eksplan hidup. Jenis eksplan dan konsentrasi TDZ mempengaruhi secara nyata jumlah tunas, daun dan akar. Peningkatan konsentrasi TDZ sampai 4,5ppm merupakan konsentrasi optimal dalam  meningkatkan jumlah tunas dan daun. Kata kunci : Solanum tuberosum, TDZ, jenis eksplan, , viabilitas,  organogenesis
Mikropropagasi Tunas Alfalfa (Medicago sativa L.) pada Kombinasi Benzil amino purin (BAP) dan Thidiazuron (TDZ) Diah Nurmaningrum; Yulita Nurchayati; Nintya Setiari
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 2, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.2.2.2017.211-217

Abstract

Teknologi kultur jaringan menjadi alternatif teknologi yang mampu menyediakan bibit secara massal, seragam dan relatif cepat. Multiplikasi tunas dari kultur pucuk merupakan tahap untuk mendukung pembentukan planlet dengan penambahan zat pengatur tumbuh (ZPT) sitokinin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh ZPT  Benzil Aminopurin (BAP) dan  thidiazuron (TDZ)  terhadap pembentukan tunas alfalfa pada media kultur serta mengetahui konsentrasi kedua ZPT dalam membentuk tunas secara optimal. Kultur pucuk diperoleh dari kecambah aseptik berumur 10 hari, dan ditumbuhkan di dalam medium Murashige&Skoog (MS). Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 kombinasi dari 2 faktor berupa 2 macam sitokinin. Faktor pertama adalah BAP dengan konsentrasi 0; 0,3; 0,6: 0,9 mg/L dan faktor kedua adalah TDZ dengan konsentrasi  0; 0,9; 0,6; 0,3 mg/L. Data yang diperoleh dianalisis dengan ANOVA, dan  dilanjutkan dengan uji Duncan pada taraf signifikansi 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu inisiasi tercepat (2,33 hari) terdapat pada perlakuan kombinasi BAP 0,3 mg/L dan TDZ 0,9 mg/L, sedangkan jumlah tunas terbanyak (8,00) diperoleh pada perlakuan kombinasi BAP 0,9 mg/L dan TDZ 0,3  mg/L. Tunas terpanjang terdapat pada media tanpa ZPT (kontrol). Kesimpulannya kombinasi BAP dan TDZ di dalam media MS efektif mempercepat waktu inisiasi dan meningkatkan pertumbuhan tunas alfalfa. Kata kunci : alfalfa (Medicago sativa); induksi pertunasan; BAP; TDZ
Pertumbuhan dan Produksi Tomat (Lycopersicon esculentum Mill.) Varietas Servo pada Frekuensi Penyiraman yang Berbeda Sulistyowati Sulistyowati; Yulita Nurchayati; Nintya Setiari
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 6, Nomor 1, Tahun 2021
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.6.1.2021.26-34

Abstract

Tomat merupakan tanaman familia Solanaceae yang memiliki nilai ekonomis. Penyediaan air yang cukup selama budidaya mempengaruhi pertumbuhan dan produksi buah tomat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh frekuensi penyiraman terhadap pertumbuhan dan produksi buah tomat. Penelitian dilakukan di rumah percobaan dan Laboratorium Biologi Struktur dan Fungsi Tumbuhan Departemen Biologi FSM UNDIP. Desain penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari tiga perlakuan yaitu frekuensi penyiraman setiap hari, frekuensi penyiraman dua hari sekali, dan frekuensi penyiraman tiga hari sekali. Percobaan dilakukan dengan lima ulangan. Data dianalisis menggunakan analisis varians (ANOVA) pada taraf kepercayaan 95% dan dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi penyiraman berpengaruh terhadap tinggi tanaman, bobot segar tanaman, waktu muncul bunga, jumlah buah, berat buah dan kandungan karotenoid buah tomat. Semakin sering frekuensi penyiraman dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi buah tetapi semakin berkurang frekuensi penyiraman maka berdampak pada kandungan karotenoid buahnya.
RESPONSE OF SEED GERMINATION AND GROWTH OF Nepenthes gymnamphora Nees IN VITRO TO THE CONCENTRATION OF MS MINERAL SALT, PEPTONE AND THIDIAZURON Fella Suffah Meinaswati; Nintya Setiari; Yulita Nurchayati; Sri Widodo Agung Suedy
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 9 No. 1 (2022): June 2022
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.874 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v9i1.5049

Abstract

Nepenthes gymnamphora Nees is a Java's rare endemic species. Ex-situ conservation of this endangered species can be done through in vitro culture technique. The aims of this study were to determine (1) the mineral salt concentration of MS basal media and addition of peptone (P) on N. gymnamphora seed germination and seedling emergence and (2) the effects of TDZ in ½MS medium on seedling growth. Seeds were surface sterilized and cultured on four media formulations (½MS, MS, ½MS+P, MS+P) for 8 weeks. In the second experiment, ten-week-old seedlings, 0,25 cm in length were cultured on ½MS supplemented with 0, 0,5, 1,0, or 1,5 mg/L TDZ. Seedling growth was recorded at 8 weeks of culture. Results of this experiment showed that ½MS was the best medium for N. gymnamphora seed germination as indicated by the highest percentage of germination, the tallest seedling, and the fastest seedling emergence. Moreover, the best growth of N. gymnamphora was found on ½MS without TDZ. Nepenthes gymnamphora Nees. merupakan spesies endemik Pulau Jawa yang tergolong langka, sehingga perlu upaya konservasi. Konservasi ex situ spesies ini dapat dilakukan dengan teknik kultur jaringan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi garam mineral media MS dan pepton yang dapat mendukung perkecambahan biji dan menentukan konsentrasi TDZ untuk pertumbuhan kecambah N. gymnamphora in vitro.  Pada percobaan I, biji N. gymnamphora disterilisasi dan ditabur di 4 kombinasi media, yaitu MS, ½MS, dengan dan tanpa penambahan 2g/L pepton. Pada percobaan II, kecambah berukuran ± 0,25 cm dengan penambahan beberapa konsentrasi TDZ (0; 0,5; 1; 1,5 ppm) pada media ½MS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media ½MS menghasilkan persentase perkecambahan biji tertinggi (56%) dengan tinggi kecambah kecambah terbaik. Media ½MS tanpa TDZ menghasilkan pertumbuhan kecambah terbaik yang ditunjukkan oleh waktu tercepat munculnya daun, Media ½MS merupakan konsentrasi garam mineral terbaik untuk perkecambahan biji N. gymnamphora, tanpa TDZ.
Analysis effect of shade level on the physiological and anatomical characteristics of hybrid Phalaenopsis orchid at the acclimatization stage Ade Arisma Fauziah; Nintya Setiari; Endang Saptiningsih
Kultivasi Vol 21, No 2 (2022): Jurnal Kultivasi
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kultivasi.v21i2.38554

Abstract

AbstractProduction of hybrid Phalaenopsis seedlings is generally applied by in vitro culture techniques. The final stage of in vitro culture is acclimatization. The acclimatization stage is crucial because the plantlets must adapt to the ex-vitro environment. Shade supports plantlet growth during the early stages of acclimatization. This study aims to determine the effect of shade level on the physiological and anatomical characteristics of the Phalaenopsis hybrid orchid at the acclimatization stage. The research used Phalaenopsis plantlet hybrid and shading level. Plantlets were shaded at 40%, 55%, and 70%. Parameters measured included: photosynthetic pigment content, number and area of leaves, number and length of roots, stomata density, size of stomata and fresh weight. This study used a completely randomized design with one factor and ten replications. Data were analyzed using the ANOVA test and LSD test at a significance level of 5% (p<0.05). The results showed the highest photosynthetic pigment content in the 55% shade, and there was a difference in the size of the stomatal guard cells between ex vitro and in vitro leaves at 40% shade. Shade level did not affect leaf growth, roots, fresh weight and stomata density. However, it affected photosynthetic pigment content and size of guard cells in the ex vitro leaves of Phalaenopsis hybrid orchids. The most optimal growth of the Phalaenopsis hybrid was at 55% shade.Keywords: acclimatization, ex vitro leaves, shade AbstrakProduksi bibit Phalaenopsis hibrid umumnya dilakukan dengan teknik kultur in vitro. Tahap akhir dari kultur in vitro adalah aklimatisasi. Aklimatisasi merupakan tahap paling penting karena planlet harus beradaptasi di lingkungan ex vitro. Naungan menunjang pertumbuhan planlet selama tahap awal aklimatisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat naungan terhadap karakteristik fisiologis dan anatomis anggrek Phalaenopsis hibrid pada tahap aklimatisasi. Penelitian menggunakan planlet Phalaenopsis hibrid dan tingkat naungan. Planlet diberi paranet 40%, 55%, dan 70%. Parameter yang diukur meliputi: kandungan pigmen fotosintesis, jumlah dan luas daun, jumlah dan panjang akar, densitas stomata, ukuran stomata dan berat segar. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan satu faktor dan 10 ulangan. Data dianalisis menggunakan Uji ANOVA dan Uji LSD pada taraf signifikasi 5% (p< 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan pigmen fotosintesis tertinggi terdapat pada naungan 55% danterdapat perbedaan ukuran sel penutup stomata antara daun ex vitro dan in vitro pada naungan 40%. Tingkat naungan tidak mempengaruhi pertumbuhan daun, akar, berat segar serta densitas stomata, namun mempengaruhi kandungan pigmen fotosintesis serta ukuran sel penutup stomata daun ex vitro pada anggrek Phalaenopsis hibrid. Pertumbuhan Phalaenopsis hibrid yang paling optimal berada pada naungan 55%. Kata Kunci: aklimatisasi, daun ex vitro, naungan 
Vitamin C and total soluble solid content of crystal guava at different storage duration and ripeness Khafid, Abdul; Nurchayati, Yulita; Hastuti, Endah Dwi; Setiari, Nintya
Kultivasi Vol 22, No 2 (2023): Jurnal Kultivasi
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kultivasi.v22i2.44124

Abstract

Crystal guava (Psidium guajava var. 'Crystal') fruit is in great demand because of its delicious taste and high nutritional content. Storage aims to prevent postharvest damage to the fruit. However, storage that is too long causes morphological damage and decreased nutrients. This study aims to determine the effect of storage duration, fruit ripeness stage and the interaction between both factors on vitamin C and total soluble solids (TSS) content of crystal guava, and determine which treatment can produce the highest vitamin C and TSS. Fruits harvested simultaneously with three levels of ripeness based on the skin color: unripe fruit is dark green, ripe is light green, very ripe is yellowish green. Samples selected based on the same weight range. Storage was carried out for 0, 5, and 10 days at ± 10oC. The study used a completely randomized design (CRD) with a 3x3 factorial pattern with two factors: storage duration and fruit ripeness level. Parameters observed were vitamin C, TSS, weight loss, diameter shrinkage, skin color and hardness. Data were analyzed using ANOVA and DMRT. Both treatments showed an interaction on vitamin C content. The best treatment was unripe fruit stored for ten days with 14.955 ppm of vitamin C. Both treatments did not show any interaction on TSS content. The best treatment was five days storage with TSS of 8.25 °Brix and very ripe fruit of 8.21 °Brix. Based on vitamin C, TSS content, and physical condition variables, the best guava fruit is unripe fruit stored for 10 days.Keywords: color, postharvest, physical, quality, softening