Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : TEKNO

Analisis Sisa Umur Tempat Pembuangan Akhir Sumompo Di Kota Manado Melisa Manenda; Isri R. Manganka; Teddy Takaendengan
TEKNO Vol. 21 No. 85 (2023): TEKNO
Publisher : TEKNO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Manado melakukan pengelolaan persampahan bukan barang baru lagi, tempat pembuangan akhir sampah di sumompo. permasalahan utama di kota ini adalah banjir, salah satunya banjir sampah yang sampai saat ini belum bisa diatasi seratus persen. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan , didapat data laju timbulan sampah kota Manado sebesar 3,5 l/orang/hari atau sebesar 0,6 kg/org/hari. Jika jumlah penduduk Kota Manado 550.000 jiwa maka itu berarti ada 330 ton atau sekitar 1925 m3 setiap hari sampah yang terbuang ke TPA. Sampah yang dikelola berdasarkan UU Nomor 18 Tahun 2008 terdiri atas sampah rumah tangga (berasal dari kegiatan sehari-hari dalam rumah tangga, tidak termasuk tinja, dan sampah spesifik), sampah sejenis sampah rumah tangga (berasal dari kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas sosial, fasilitas umum, dan fasilitas lainnya), dan sampah spesifik (sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun, sampah yang mengandung limbah bahan berbahaya dan beracun, sampah yang timbul akibat bencana, puing bongkaran bangunan, sampah yang secara teknologi belum dapat diolah dan/atau sampah yang timbul secara tidak periodik) Pada dasarnya, kegiatan operasi pembuangan akhir merupakan kegiatan yang merubah bentang lahan dan kegiatan yang dapat menimbulkan kerusakan sumber daya lahan, air dan udara akibat kemungkinan terjadinya resiko pencemaran. Hasil penelitian Dari data Kapasitas daya tampung dengan luas : 13,699 Ha Daya tampung yang belum terpakai adalah seluas 1,86 Ha dan kedalaman cekungan hingga titik tertinggi timbulan sampah adalah 50 m, maka volume yang dapat ditampung adalah 930.000 m3. Volume sampah yang masuk setiap harinya rata-rata 650 m3/hari, jadi umur sisa TPA tanpa pengolahan ialah 1.430 hari atau = 3,9 tahun = 4 tahun. Sedangkan Jika dilakukan pengolahan dengan menggunakan TPS3R dengan efisiensi 45%, maka volume sampah yang masuk ke TPA Sumompo adalah sebesar: 650 m3/hari x 45% = 292, 5 m3/hari Maka umur sisa TPA Sumompo jika menggunakan pengolahan TPS3R adalah 3.179 hari atau = 8,7 tahun. Kata kunci: analisis sampah, sisa umur tempat pembuangan akhir, TPA Sumompo, Kota Manado
Perencanaan Sistem Pengelolaan Sampah Desa (Studi Kasus: Desa Pungkol Kecamatan Tatapaan Kabupaten Minahasa Selatan) Jein D. Wangka; Teddy Takaendengan; Roski R. I. Legrans
TEKNO Vol. 22 No. 88 (2024): TEKNO
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/jts.v22i88.56490

Abstract

Desa Pungkol yang terletak di Kecamatan Tatapaan Kabupaten Minahasa Selatan masih menerapkan pengelolaan sampah dengan cara dikumpulkan dan dibakar. Jumlah penduduknya sebesar 446 jiwa, sehingga jumlah penduduk ini tentunya akan bertambah setiap tahunnya. Penambahan jumlah penduduk akan diikuti dengan penambahan jumlah volume sampah yang dihasilkan. Sehingga potensi sampah yang tidak terkelolah nantinya akan menghasilkan sampah yang besar. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi eksisting sistem pengelolaan sampah (pengumpulan dan pewadahan) di Desa Pungkol, mengetahui volume, timbulan, komposisi sampah dan merencanakan sistem pengelolaan sampaj, serta menganalisis aspek non teknisnya (kelembagaan dan finansial). Metode penelitian yang digunakan yaitu pengukuran timbulan sampah secara langsung dari sumber sesuai SNI-19-3964-1994. Perencanaan akan berdasarkan Berdasarkan UU No.18 Pasal 19 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah “Pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis rumah tangga terdiri atas pengurangan sampah dan penanganan sampah” nantinya akan di rencanakan di Desa Pungkol. Kata kunci: perencanaan, sistem pengelolaan sampah, kelembagaan, pengelolaan sampah
Penataan Sistem Pengolahan Sampah Untuk Keberlanjutan Kawasan Lingkungan Pesisir Pantai Bitung Karangria Kota Manado Felincia Momongan; Isri R. Mangangka; Teddy Takaendengan
TEKNO Vol. 22 No. 88 (2024): TEKNO
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/jts.v22i88.56678

Abstract

Penataan keberlanjutan lingkungan pengolahan sampah bahwa pesisir pantai saat ini sangat penting untuk mencegah kerusakan lingkungan. Apalagi pesisir Pantai Karangria, saat ini menjadi obyek wisata baru bagi masyarakat dan wisatawan. Salah satu permasalahan yang timbul akibat adanya fasilitas tersebut adalah meningkatnya timbulan sampah. Sampah yang dihasilkan oleh aktivitas penunjung yang membuang sampah sembarangan di Kawasan Pantai Bitung Karangria. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, timbulan sampah yang dihasilkan pada Pantai Bitung Karangria sebesar 30,685 kg/haridengan komposisi sampah yang terdiri atas sampah plastic 59%, daun 33% dan kayu atau ranting 8%. Untuk menrencankan sistem pengelolaan sampah di Pantai Bitung Karangria yaitu pewadahan, pengumpulan, tempat penampungan sementara (TPS), dan pengangkutan. Dari komposisi sampah yang dihasilkan oleh Pantai Bitung Karangria berupa plastic, daun dan kayu, akan diolah menggunakan 3R (reduce, reuse dan recycle). Kata kunci: pesisir pantai, pantai Bitung Karangria, pengolahan sampah
Efektifitas Sistem Pengolahan Sampah Di Kawasan Pesisir Pantai Moinit Desa Tawaang Kabupaten Minahasa Selatan Agnes V. Pasarong; Teddy Takaendengan; Roski R. I. Legrans
TEKNO Vol. 22 No. 88 (2024): TEKNO
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/jts.v22i88.56679

Abstract

Melimpahnya sumber daya alam di wilayah pesisir dan pesisir menimbulkan daya tarik tersendiri. Tingginya aktivitas manusia telah menimbulkan berbagai dampak buruk terhadap kehidupan manusia dan struktur lingkungan hidup sehingga menimbulkan pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup. Pantai Moinit merupakan salah satu daya tarik wisata bagi wisatawan yang perlu didukung dengan penyediaan fasilitas pengolahan sampah. Saat ini di wilayah pesisir pantai masih kurang ketersediaan tempat sampah sehingga banyak sampah yang dibuang sembarangan di sekitar pantai. Pantai Moinit di Desa Tawang merupakan salah satu kawasan pesisir yang perlu ditingkatkan pengelolaan sampahnya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, timbulan sampah yang dihasilkan di pantai Moinit rata-rata sebesar 31.00 kg/hari dengan komposisi sampah yang mendominasi yakni sampah kayu atau ranting sebesar 47%, sampah plastik sebesar 41%, dan sampah daun 12%. Untuk itu direncanakan sistem pengelolaan sampah di Pantai Moinit Desa Tawaang yang meliputi pewadahan, pengumpulan, TPS dan pengolahan sampah. sistem pengelolaan sampah di Pantai Moinit Desa Tawaang meliputih pewadahan, pengumpulan, TPS dan pengolahan sampah. Dari komposisi sampah berupa sampah kayu atau ranting, daun kering, dan sampah plastik yang dihasilkan di pantai Moinit, kemudian akan diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna yaitu briket, kompos, dan ecobrick. Kata kunci: pengolahan sampah, kawasan pesisir, Pantai Moinit