Articles
Perubahan Kesiapsiagaan Masyarakat DAS Beringin Kota Semarang dalam Menghadapi Ancaman Banjir Bandang
Afrizal Novan Nurromansyah;
Jawoto Sih Setyono
Jurnal Wilayah dan Lingkungan Vol 2, No 3 (2014): December 2014
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (360.203 KB)
|
DOI: 10.14710/jwl.2.3.231-244
In 2010 a large flash flood happened in the region of Beringin watershed in Semarang. After the disaster, The Government of Semarang City with the community ran the program namely Flood Early Warning System (FEWS) conducted in the area of Beringin watershed. One of priority actions is strengthening for disaster preparedness. This research aims to describe the change of preparedness efforts that occurs after running the program. The research uses a qualitative approach. A method of sampling is purposive sampling. The technique of data analysis use descriptive qualitative analysis. The results of research show that the change occurring in understanding disaster preparedness efforts, mobilization of resources, flash flood early warning system and preparedness planning. Disaster understanding changes in sources of information on the aspect of knowledge, and the aspect of the act of disaster mitigation paradigm. On the preparedness efforts related to the mobilization of resources, the change happens on aspect of the availability of the disaster team, command procedures, the role of institutional aspects, the aspect of the institutional structure, the aspect of communication and coordination of the scheme, the agreement the use of tools and management of communication to the outside and in the region.
PENGELOLAAN KOTA-KOTA KECIL DI JAWA TENGAH: STUDI KASUS PADA EMPAT KOTA KECIL DI WILAYAH JOGLOSEMAR
Jawoto Sih Setyono;
Hadi Sabari Yunus;
Sri Rum Giyarsih
TATALOKA Vol 19, No 2 (2017): Volume 19 Number 2, May 2017
Publisher : Diponegoro University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (975.363 KB)
|
DOI: 10.14710/tataloka.19.2.142-162
Small cities and towns in Indonesia have experienced a significant development during the period of 2000-2010. However, the development of small cities and towns has not been in line with the way the urban areas are governed and managed. There is a tendency that the governments pay a little attention to the governance of smaller urban areas, especially those which do not municipal status or the urban areas which is part of regency administrative boundary. This research analyzes the governance and planning of small towns in Central Java taken four small towns in Joglosemar region (Yogyakarta-Surakarta-Semarang). The research applied some qualitative methods combining document analysis, interview and regulation analysis. It is found that there is a significant gap between the urban development and its planning and governance. Urban development policies seem to be lacking in providing guidelines to drive the development of the small towns so that they can perform their functions within their respective regional urban system as well as solve their internal problems. The governance has mostly relied on the role of local government despite continuing lack of institutional capacity in managing urban development.
Transisi Ekonomi Wilayah Kabupaten di Jawa Tengah dan Keterkaitannya dengan Perkembangan Ekonomi Lokalnya
Nisa Ayunda Adni;
Jawoto Sih Setyono
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 5, No 4 (2016): November 2016
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1368.073 KB)
Central Java economic development has been dynamic and diverse. The economy of the region has grown gradually and experienced structural transition. The regional economy which was originally based on the primary sector has transformed to a more modern one which the secondary and tertiary sectors start to dominate the economy. While the growth of the regional economy is widely believed to be caused mainly by exogenous factors, there has been tendency the emergence of local economic factors. This research aims to examine the possible relationship between economic transition and the persistence of local economic development factors among districts in Central Java. This study applies quantitative descriptive analysis combining the methods of scoring analysis, weighted analysis and correlation analysis together to explore the relationship. The research shows that in general there is positive relationship between economic growth and local economic development indicators. This result can contribute to fostering local factors as part of regional and local economic development policies for the region.
TRANSISI KLASTER INDUSTRI PADA KLASTER KOPI DI KABUPATEN TEMANGGUNG
Tiara Kurnia Candra;
Jawoto Sih Setyono
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 4 (2015): November 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (718.211 KB)
Isu globalisasi dan desentralisasi di negara berkembang khususnya di Indonesiatelah mendorong terjadinya fenomena pemerataan wilayah.Hal ini membawa implikasi pada semakin kompetitifnya daerah-daerah pinggiran dan menurunnya industri-industri besar. Oleh karena itu, pengembangan ekonomi lokal berbasis klaster merupakan upaya yang dinilai dapat menggerakkan kembali sektor ekonomi basis dan menambah kesempatan kerja. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui transisi klaster pada 4 klaster kopi Kabupaten Temanggung yang tersebar di Kecamatan Kledung, Candiroto, Kandangan dan Wonoboyo.Penelitian ini menggunakan dua teori sebagai landasan teori.Teori pertama adalah Teori Mekanisme Transisi oleh Van Dijk dan Sverrisson. Teori kedua adalah Teori Model Diamond Klaster oleh Michael Porter.Penelitian ini menggunakan tiga teknik analisis, yaitu analisis deskriptif,analisis penskoran dan analisis faktor.Dari penelitian ini dapat diketahui bahwa pola transisi yang terjadi pada keempat klaster kopi di Kabupaten Temanggung tersebut adalah transisi klaster lokasi menjadi pasar lokal.Selain transisi tersebut, terdapat dua variabel lain, yaitu penguatan ekspor dan transfer teknologi.Temuan tambahan ini berbeda dari teori awal yang disampaikan oleh Van Dijk dan Sverrisson. Selain itu, terdapat dua faktor pendorong yang memicu terjadinya transisi ini. Faktor pertama adalah faktor internal dan permintaan pasar. Faktor kedua adalah faktor eksternal dan tenaga kerja.
Dinamika Fungsi Kota Lasem dalam Perkembangan Wilayah
Pramita Musonniva;
Jawoto Sih Setyono
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 9, No 3 (2020): Agustus 2020
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Small town is a low-order center in the urban hierarchy that has a vital function in the development process. Cities that have more diverse functions are considered able to develop faster than cities that only have a single function. The dynamics of urban development can occur along with the times. Small cities can experience significant stagnation or even degradation when they are unable to adjust to the changing times. Lasem is an old city that was once the center of the duchy and important trade in the northern coastal region. However, since the transfer of the power center to the City of Rembang and Lasem has been reduced to the status of a Subdistrict City, the development of Lasem City has stagnated gradually. The purpose of this study was to determine the dynamics function of the Lasem City in regional development. The results obtained from this study are Lasem City experiencing dynamics in several city functions. The city of Lasem experiences dynamics of diverse city functions, in some functions it has increased but on the other hand it has stagnated and even degraded development. The dynamics that occur between one city function and another are interrelated. The city of Lasem should be able to develop more rapidly than it is now, because it already has the power of its initial growth factor.
TINGKAT KERENTANAN SOSIAL WILAYAH KABUPATEN WONOGIRI
Nisakhaira Rahmaningtyas;
Jawoto Sih Setyono
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 4 (2015): November 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (812.511 KB)
Konsep kerentanan pada dasarnya muncul akibat adanya permasalahan kemiskinan. Kerentanan sosial wilayah menggambarkan kerapuhan sosial dari suatu wilayah akibat pengaruh dari adanya bahaya, ancaman dan bencana yang memiliki potensi merusak, mengganggu serta merugikan. Data tahun 2010 menunjukkan bahwa 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah terbagi menjadi 6 klaster tingkat kemiskinan. Klaster yang termiskin yaitu klaster 4 dengan rata-rata persentase keluarga miskin sebesar 51,87% yang kemudian diikuti oleh klaster 3 dengan rata-rata persentase keluarga miskin sebesar 32,36%. Kabupaten Wonogiri termasuk dalam klaster 3 bersama dengan sembilan kabupaten lainnya.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat kerentanan sosial wilayah Kabupaten Wonogiri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Objek penelitian ini adalah wilayah Kabupaten Wonogiri dengan unit analisis 25 kecamatan di Kabupaten Wonogiri. Variabel yang diteliti yaitu modal manusia, modal sosial, kondisi geografis, jaringan politik dan pemerintahan, aset alam dan properti serta infrastruktur. Teknik analisis yang dilakukan meliputi analisis faktor dan analisis penskoran. Hasil analisis faktor memberikan gambaran adanya empat faktor dominan yang mempengaruhi tingkat kerentanan sosial wilayah di Kabupaten Wonogiri. Faktor dominan yang memiliki kontribusi terbesar dalam penentuan tingkat kerentanan yaitu faktor infrastruktur sebesar 30%. Sebagian besar wilayah Kabupaten Wonogiri termasuk dalam Kelas III dan IV yang berarti tingkat kerentanan sosial wilayah rendah dan tinggi.
EFEKTIVITAS DAN EFISIENSI PERAN PEMERINTAH DALAM TANGGAP DARURAT BANJIR DI KABUPATEN SRAGEN
Aulia Nuriasari;
Jawoto Sih Setyono
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (569.407 KB)
Salah satu dampak perubahan iklim adalah terjadinya bencana banjir di beberapa Daerah Aliran Sungai seperti di DAS Bengawan Solo yang merupakan DAS terpanjang di Pulau Jawa. Kabupaten Sragen sebagai bagian dari DAS Bengawan Solo hulu hampir tiap tahunnya mengalami bencana banjir. Adanya kecenderungan peningkatan wilayah terdampak banjir pada dua tahun terakhir (2011-2012) yang disertai dengan belum adanya organisasi dan kebijakan khusus dalam penanganannya mengindikasikan bahwa peran pemerintah daerah Kabupaten Sragen kurang mampu untuk mencapai tujuan penanganan banjir tersebut yaitu meminimalisasi kerugian sebagai dampak negatif yang ditimbulkan. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja pemerintah daerah Kabupaten Sragen khususnya lembaga yang berperan dalam tanggap darurat. Kinerja dinilai dari aspek efektivitas dengan variabel kualitas dan kecukupan serta aspek efisiensi dengan variabel kejelasan, kesesuaian dan siklus waktu. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan analisis deskriptif kuantitatif serta analisis skoring dan pembobotan. Melalui beberapa analisis tersebut penelitian ini menghasilkan temuan studi yaitu peran lembaga penanganan bencana banjir dalam tanggap darurat di Kabupaten Sragen memiliki kinerja baik (efektif dan efisien). Akan tetapi, kinerja lembaga pemerintah Kabupaten Sragen tersebut dipengaruhi oleh beberapa nilai tinggi dan nilai yang kurang baik menurut hasil penilaian kinerja oleh responden dalam beberapa indikator.
Tingkat Aksesibilitas Halte BRT di Kecamatan Banyumanik
Annisa Bayanti Nusantara;
Jawoto Sih Setyono
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 8, No 2 (2019): Mei 2019
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (943.054 KB)
Banyumanik District is a new growth center that tends to develop towards the suburbs. The development of a new growth center was followed by an increasing population in Banyumanik District and is currently dominated by the productive age population. The more developed Banyumanik District, the more needs that must be met, such as transportation. It is seen from the number of productive age population in Banyumanik District while the activity center is in the center of Semarang City. Trans Semarang is a public transportation that is provided to fulfill the needs of the citizen for transportation, but until now it still has a small number of enthusiasts, as seen from the average load factor rate of 45.72%. Accessibility to shelters is very important in the operation of Trans Semarang because Trans Semarang is a closed public transportation system. The purpose of this research is to find out the conditions of accessibility and the level of accessibility of shelter according to perspective of productive age population in Banyumanik District. The analytical tools used are scoring and descriptive statistics. The results of the analysis showed that the accessibility level of shelters in Banyumanik District is divided into 3 levels, namely Level V, Level VI, and Level VII but overall Banyumanik District falls into Level VI with a score of 92.14. This means that the accessibility of shelters is moderate but tends to be bad based on each condition forming the accessibility factor for the shelter.
TINGKAT KERENTANAN EKONOMI WILAYAH KABUPATEN WONIGIRI
Restu Sita Harsiwi;
Jawoto Sih Setyono
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 4 (2015): November 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1044.892 KB)
Kabupaten Wonogiri merupakan kabupaten dengan peringkat ke-8 di Jawa Tengah dengan tingkat kemiskinan tinggi pada tahun 2003-2007 dengan tingkat kemiskinan 25,04%. Pada tahun 2010, angka kemiskinan di Kabupaten Wonogiri mengalami peningkatan yakni mencapai angka 32,36%. Kabupaten Wonogiri juga merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang tergolong daerah tertinggal pada tahun 2001-2005 dan pada tahun 2012. Selain itu, Kabupaten Wonogiri menjadi salah satu kabupaten dengan kondisi perekonomian yang kurang stabi karena angka kemiskinan yang terus meningkat dari tahun 2007-2010 dan peningkatan PDRB yang tidak terlalu signifikan. Hal ini tentunya berpotensi menimbulkan kerentanan ekonomi wilayah.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kerentanan ekonomi wilayah Kabupaten Wonogiri dengan menggunakan metode survei sebagai strategi penelitian. Objek penelitian ini adalah wilayah Kabupaten Wonogiri dengan kecamatan sebagai unit analisis. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis faktor dan analisis penskoran. Berdasarkan analisis yang dilakukan, diketahui bahwa dari 6 faktor yang mempengaruhi kerentanan ekonomi wilayah, hanya 4 faktor yang mempengaruhi tingkat kerentanan ekonomi wilayah Kabupaten Wonogiri. Faktor kemampuan produksi barang dan jasa menjadi faktor dominan dengan kontribusi tertinggi, yaitu 31,16%. Sementara itu faktor kemiskinan, menjadi faktor dominan dengan kontribusi terendah Dilihat secara keseluruhan, Kabupaten Wonogiri tergolong dalam kategori 4 atau termasuk wilayah yang tergolong rentan tinggi dilihat dari segi ekonomi.
KEBERADAAN PEMULUNG DALAM PENGELOLAAN SAMPAH DI KOTA MAGELANG (Studi Kasus: Kelurahan Jurangombo Utara dan Rejowinangun Utara)
Kintan Kartika Larasati;
Jawoto Sih Setyono
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (372.898 KB)
Sektor formal di Kota Magelang hanya mampu melayani 70% sampah yang timbul setiap hari. Hal ini memberikan peluang ekonomi bagi kaum marjinal, khususnya pemulung. Penelitian ini dilakukan terhadap 12 pemulung melalui pendekatan kualitatif, dengan studi kasus di Kelurahan Jurangombo Utara dan Rejowinangun Utara. Berdasarkan hasil penelitian, aktivitas pemulung di kedua kelurahan ini mendukung dalam pengelolaan sampah berkelanjutan. Pemulung berhasil mengurangi sampah sebesar ±245 kg per hari dan memilah sampah berdasar jenisnya. Sampah yang telah dikumpulkan, lalu dijual pada pengepul, dan didistribusikan ke industri daur ulang sampah. Namun, keberadaan pemulung dalam mengelola sampah kurang diakui oleh masyarakat dan Pemerintah Kota Magelang. Aktivitas pemulung terlalu dieksploitasi tetapi penghasilannya sangat sedikit. Berbagai faktor internal dan eksternal mempengaruhi kerentanan dan ketidaktahanan pemulung secara sosial ekonomi. Hal ini perlu diperbaiki, dan keberadaan pemulung sebaiknya diakui. Salah satu caranya adalah membentuk paguyuban pemulung. Paguyuban tersebut berfungsi untuk mengatur aktivitas pemulung, memudahkan dalam memberi pelatihan pengelolaan sampah, memudahkan akses terhadap fasilitas umum, meningkatkan penghasilan, dan meningkatkan kualitas hidup pemulung. Pola pandang masyarakat terhadap aktivitas pemulung juga perlu dirubah agar keberadaan pemulung lebih diakui.