Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Edukasi Bahan Kimia Berbahaya dalam Produk Makanan dan Kosmetik untuk Kader Desa Kedungsari, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo Shofia, Vivi; Bela Khofidatu Tazkiyah; Wardatul Jannah
Abdimas Toddopuli: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 7 No. 1 (2025): Volume 7 No 1, Desember 2025
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/atjpm.v7i1.7220

Abstract

Permasalahan mitra yaitu kader desa di Kedungsari, Kecamatan Maron, adalah keterbatasan pengetahuan tentang identifikasi zat kimia berbahaya (seperti formalin, rodamin B, merkuri) dalam produk pangan dan kosmetik, serta kurangnya keterampilan dan media untuk edukasi masyarakat. Tujuan pengabdian ini adalah meningkatkan kapasitas kader dalam mengenali bahaya bahan kimia berbahaya dan metode penyampaian informasi yang efektif. Metode yang digunakan meliputi edukasi partisipatif dengan pretest-posttest, paparan materi menggunakan powerpoint dan pembagian leaflet. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pengetahuan kader, dimana lebih dari 80% peserta mengalami peningkatan skor posttest. Selain itu, terjadi perubahan sikap dan praktik, seperti kesadaran membaca label produk dan komitmen untuk mengedukasi masyarakat. Kegiatan ini berhasil membentuk kader sebagai agen perubahan kesehatan di komunitasnya. Disarankan pelatihan berkelanjutan dan pengembangan media digital untuk memperluas dampak program.
Perbandingan Aktivitas Antioksidan Umbi dan Kulit Bawang Merah Probolinggo Menggunakan Metode 2,2-Diphenyl-1-Picrylhydrazyl Anggraeni, Adek Bela; Nurlaila, Hamida; Vivi Shofia; Azis, Fahmi Dimas Abdul
JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan) Vol. 8 No. 2 (2025): JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan)
Publisher : LPPM Universitas Hafshawaty Zainul Hasan Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33006/jikes.v8i2.800

Abstract

Abstrak Bawang merah (Allium cepa L.) asal Probolinggo dikenal kaya akan senyawa bioaktif seperti flavonoid dan sulfur yang berfungsi sebagai antioksidan dan meningkatkan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan aktivitas antioksidan kulit dan umbi bawang merah menggunakan metode DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl). Kulit dan umbi bawang merah diekstraksi menggunakan pelarut etanol, kemudian dilakukan pengukuran aktivitas antioksidan dengan metode DPPH untuk menentukan nilai IC50, yaitu konsentrasi yang dibutuhkan untuk mengurangi 50% radikal bebas. Kulit bawang merah menunjukkan aktivitas antioksidan lebih tinggi dibandingkan dengan umbi, dengan nilai IC50 masing-masing 6,41 µg/mL dan 16,50 µg/mL. Nilai IC50 yang lebih rendah pada kulit bawang merah menunjukkan aktivitas antioksidan yang lebih kuat dibandingkan umbi, menunjukkan perbedaan potensi antioksidan antara kedua bagian tanaman. Penelitian ini mengungkap bahwa kulit bawang merah memiliki potensi sebagai sumber antioksidan alami yang lebih tinggi dibandingkan umbi, dengan kedua bagian tanaman dikategorikan sebagai antioksidan kuat (IC50 < 50 µg/mL). Kulit bawang merah dapat dijadikan bahan alami yang lebih efektif dalam mencegah kerusakan akibat radikal bebas. Kata kunci: bawang merah, antioksidan, DPPH, kulit bawang merah, umbi bawang merah.   Abstract Probolinggo's shallot (Allium cepa L.) are well-known for being abundant in bioactive substances including sulfur and flavonoids, which have anti-oxidant and health-promoting properties. This study aims to compare the antioxidant activity of shallot skin and bulbs using the DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl) method. After ethanol solvent was used to extract the shallot skins and bulbs, the DPPH method was used to evaluate antioxidant activity and calculate the IC50 value—the concentration required to eliminate 50% of free radicals. The antioxidant activity of shallot skin was higher than that of bulbs, with IC50 values of 6.41 µg/mL and 16.50 µg/mL, respectively. Shallot skin has a lower IC50 value than bulbs, indicating higher antioxidant activity. This suggests that the two plant components have different antioxidant capacity. With both plant parts classified as powerful antioxidants (IC50 < 50 µg/mL), this study showed that shallot skin has the potential to be a higher source of natural antioxidants than bulbs. Shallot skin can be used as a natural ingredient that is more effective in preventing free radical damage. Keywords: shallot, antioxidant, DPPH, shallot skin, shallot bulb.
Potensi Ekstrak Etanol Kulit Bawang Merah terhadap Kadar Malondialdehid Jejunum Tikus Gastritis Sulistyorini, Endah; Narsih, Umi; Shofia, Vivi
JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan) Vol. 9 No. 1 (2025): JIKES (Jurnal Ilmu Kesehatan)
Publisher : LPPM Universitas Hafshawaty Zainul Hasan Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33006/ji-kes.v9i1.894

Abstract

Abstrak Gastritis adalah peradangan mukosa lambung yang ditandai dengan peningkatan stress oksidatif dan kadar malondialdehid. Angka kejadian gastritis pada beberapa daerah di Indonesia cukup tinggi dengan prevalensi 274.396 kasus dari 238.45.952 jiwa penduduk setiap tahun. Kulit bawang merah (Allium sp.) mengandung senyawa antiinflamasi dan antioksidan yang berpotensi untuk pengobatan gastritis. Penelitian ini bertujuan mengetahui potensi ekstrak etanol kulit bawang merah dalam menurunkan kadar malondialdehid jejunum tikus putih (Rattus norvegicus) model gastritis. Metode penelitian ini menggunakan desain eksperimental research dengan rancangan post-test only control group design. Sebanyak 25 tikus dibagi dalam 5 kelompok, yakni kelompok tikus sehat, kelompok tikus gastritis, kelompok terapi ranitidin, kelompok terapi ekstrak kulit bawang merah dosis 100 dan 200 mg/kgBB. Kadar malondialdehid dianalisis dengan spektrofotometri UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan penurunan signifikan kadar malondialdehid pada kelompok dengan terapi ekstrak kulit bawang merah dosis 100 mg/kgBB dan 200 mg/kgBB yaitu penurunan sebesar 52,52% (1,313 ± 0,393)  pada dosis 100 mg/kgBB dan 61,69% (1,059 ± 0,264) pada dosis 200 mg/kgBB. Berdasarkan hasil penelitian, ekstrak etanol kulit bawang merah berpotensi sebagai agen antioksidan dan antiinflamasi dalam menurunkan kadar MDA pada kondisi gastritis. Kata kunci: gatritis, stress oksidatif, malondialdehid, tikus, kulit bawang merah   Abstract Gastritis is an inflammation of gastric mucosa characterized by increased oxidative stress and elevated levels of malondialdehyde (MDA). The number of gastritis cases in Indonesia is relatively high, with a prevalence of 274,396 cases among a population of 238,459,952 annually. Shallot peel (Allium sp.) contains anti-inflammatory and antioxidant compounds that have potential for treating gastritis. This study aimed to determine the potential of ethanol extract of shallot peel in reducing malondialdehyde levels in jejunum of white rats (Rattus norvegicus) with gastritis models. This research used an experimental design with a post-test only control group design. A total of 25 male white rats were divided into five groups: negative control, positive control, ranitidine therapy group, and treatment groups receiving shallot peel ethanol extract at doses of 100 mg/kgBW and 200 mg/kgBW. Malondialdehyde levels were analyzed using UV-Vis spectrophotometry. The results showed a significant decrease in malondialdehyde levels in the groups treated with shallot peel extract at doses of 100 mg/kgBW and 200 mg/kgBW, with reductions of 52.52% (1.313 ± 0.393) and 61.69% (1.059 ± 0.264), respectively. Based on these findings, ethanol extract of shallot peel has potential as an antioxidant and anti-inflammatory agent in reducing MDA levels under gastritis conditions. Keywords: gastritis, oxidative stress, malondialdehyde, mouse, shallot peel