Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

PANDANGAN HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTIK JUAL BELI PASIR PUYA MENGANDUNG EMAS DIDESA TELUK KEPAYANG Nur Azizah, Raudah; Rahmat Sholihin; Muhammad Haris
An-Nahdhah | Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 16 No. 2 (2023): An-Nahdhah Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan
Publisher : Institut Agama Islam Darul Ulum Kandangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63216/annahdhah.v16i2.177

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi dengan adanya praktik jual beli pasir puya yang mengandung emas di Desa Teluk Kepayang Kecamatan Teluk Kepayang Kabupaten Tanah Bumbu yang dilakukan antara penjual dan pembeli. Transaksi jual beli pasir tersebut mempunyai kendala yaitu emas yang ada didalam pasir tersebut tidak terlihat, tidak nampak, dan tidak diketahui ada atau tidaknya kandungan emas yang terdapat didalamnya, pembeli bisa saja mendapatkan keuntungan jika didalamnya terdapat kadar emas dan bisa saja rugi jika tidak terdapat kadar emas sama sekali. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana praktik jual beli pasir puya yang mengandung emas dan bagaimana pandangan hukum Islam terhadap praktik jual beli pasir puya yang mengandung emas yang ada di Desa Teluk Kepayang Kecamatan Teluk Kepayang Kabupaten Tanah Bumbu. Penelitian ini merupakan penelitian hukum empiris atau secara umum merupakan penelitian studi lapangan, dengan menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu menggambarkan dan menganalisis serta memaparkan keadaan yang terjadi pada transaksi jual beli pasir puya yang berlokasi di Desa Teluk Kepayang Kecamatan Teluk Kepayang Kabupaten Tanah Bumbu. Subjek penelitian ini adalah penjual dan pembeli pasir puya yang mengandung emas. Adapun objeknya ialah pandangan hukum Islam terhadap praktik jual beli pasir puya yang mengandung emas. Hasil penelitian dalam jual beli ini, objek yang diakadkan yaitu pasir puya yang sudah dimasukkan kedalam karung goni tanpa mengetahui jelas objek yang diakadkan, baik secara kualitas maupun kuantitas barang, sehingga objek yang diakadkan mengandung kesamaran atau ketidakjelasan barang dan menimbulkan kerugian salah satu pihak akibat objek akad tersebut. Akad yang digunakan dalam jual beli pasir puya yang mengandung emas ini yaitu akad langsung, tempat berlangsungnya jual beli pasir puya ini berada disekitaran tempat pendulang emas. Jadi jual beli pasir puya yang mengandung emas ini terdapat unsur ketidakpastian, tidak transparan antara kedua belah pihak yang melakukan akad sehingga bisa menyebabkan kerugian disalah satu pihak. Dengan demikian praktik jual beli ini termasuk jual beli termasuk hukum jual beli gharar yang dibolehkan karena didalamnya terdapat unsur gharar yang ringan.
Pandangan Ulama Kota Banjarmasin Tentang Jual Beli Ikan Lele Yang Diberi Pakan Kotoran Hewan Bari, Abdul; Sholihin, Rahmat
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 2 (2024): Implementation and Dynamics of Islamic Law and Civil Law in Indonesia
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i2.637

Abstract

Abstract This research is motivated by the sale of catfish where the main feed is in the form of animal feces, both istinja, carcasses and other feces. The sale of catfish is to contribute to the culinary field with a catfish menu. This research aims to find out how the views of scholars who live or work in the Banjarmasin City area on buying and selling including the above. This research is a field research, with a qualitative approach. This research was located in Banjarmasin City and Kotabaru. Data were collected through documentation and interviews. The researcher observed several fish ponds fed with animal feces in the Kotabaru area. The researcher also interviewed one of the fish pond owners in Kotabaru and six scholars from MUI Banjarmasin City, MUI South Kalimantan Province and a lecturer in fiqh muamalah from UIN Antasari Banjarmasin. The data collected was then processed using data editing and matrix techniques. The data is presented descriptively and analyzed qualitatively. The result of this research is that there are three opinions that are discussed in this thesis, namely absolute permissibility, conditional permissibility, and better avoidance. There are two scholars who allow buying and selling and consuming fish that are fed with dung, because according to him the dung he consumes does not affect the meat either in taste or smell, because in Islam the commerce carried out is the principle of mutual consent (Q.S. an-Nisâ/4: 29). Then the other three scholars argue by allowing with conditions, because consuming this fish must be seen from the protein or substances that are in it where there is feeding the catfish in the form of animal feces. It is makruh if the sale and purchase of this catfish where the catfish has a changed taste or odor. Because in Islam it is not recommended to consume a food that is disgusting (H.R. Ibn Umar / Q.S. al-Baqarah / 2: 173) and the fish must also be satisfied before consumption. In Islam it is forbidden to eat something that can cause harm (Q.S al-Mâidah/5: 88). Keywords: Views, Scholars, Buying and Selling, Feed, Manure Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya penjualan ikan lele yang mana pemberian pakan pokoknya berupa kotoran hewan, baik itu istinja, bangkai dan kotoran lainnya. Penjualan ikan lele ini untuk memberikan kontribusi dibidang kuliner dengan menu ikan lele. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pandangan ulama yang tinggal atau bekerja diwilayah Kota Banjarmasin terhadap jual beli termasuk diatas. Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research), dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini berlokasi di Kota Banjarmasin dan Kotabaru. Data dikumpulkan melalui dokumentasi dan wawancara. Peneliti mengamati beberapa kolam ikan yang diberi pakan kotoran hewan diwilayah Kotabaru. Peneliti juga mewawancarai salah satu pemilik kolam ikan di Kotabaru dan enam ulama baik dari MUI Kota Banjarmasin, MUI Provinsi Kalimantan Selatan dan Dosen fiqih muamalah dari UIN Antasari Banjarmasin. Data yang terkumpul kemudian diolah dengan menggunakan Teknik editing data dan matriks. Data disajikan secara deskriptif dan dianalisis secara kualitatif. Hasil dari penelitian ini adalah ada terdapat tiga pendapat yang menjadi pembahasan dalam skripsi ini yaitu boleh secara mutlak, boleh secara syarat, dan lebih baik dihindari. Ada dua ulama yang membolehkan jual beli dan mengkonsumsi ikan yang dibeeri pakan kotoran itu, karena menurut beliau kotoran yang dikonsumsinya ini tidak berpengaruh kepada daging baik itu rasa ataupun baunya, karena dalam Islam perniagaan yang dilakukan adalah asas suka sama suka (Q.S. an-Nisâ/4: 29). Kemudian tiga ulama lainnya berpendapat dengan membolehkan dengan syarat, karena mengkonsumsi ikan ini harus dilihat dari protein ataupun zat yang ada didalamnya yang mana adanya pemberian pakan pokok ikan lele itu berupa kotoran hewan. Makruh hukumnya apabila jual beli pada ikan lele ini yang mana ikan lele ini mempunyai rasa atau bau yang berubah. Karena dalam Islam tidak dianjurkan mengkonsumsi suatu makananan yang dirasa makanan itu menjijikan (H.R. Ibn Umar/ Q.S. al-Baqarah/2: 173) dan ikan tersebut juga harus dipuasakan sebelum dikonsmusi . Dalam Islam dilarang memakan sesuatu yang bisa menimbulkan kemudaratan (Q.S al-Mâidah/5: 88). Kata KunciL: Pandangan, Ulama, Jual Beli, Pakan, Kotoran Hewan.
Perspektif Masyarakat Kota Banjarmasin Terhadap Makanan Tanpa Jaminan Produk Halal (Tinjauan Hukum Islam) Amelia Fatmawati; Rahmat Sholihin
Interdisciplinary Explorations in Research Journal Vol. 1 No. 3 (2023): "Exploring the Wisdom Integration of Multidisciplinary Approaches in Higher Edu
Publisher : PT. Sharia Journal and Education Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ierj.v1i3.415

Abstract

Abstrak This research is motivated by the existence of food sold in Banjarmasin City that does not have a halal product guarantee, this food is food without a halal label that has the possibility of mixing with something haram. The purpose of this study is to determine the perspective of the people of Banjarmasin City on food without a guarantee of halal products and to analyze the review of Islamic law regarding the perspective of the people of Banjarmasin City on food without a guarantee of halal products. This research is qualitative empirical research, which is research that knows the perceptions, habits and facts of the community in the field, analyzed by researchers, and supported by various data derived from library research and analyzed descriptively. The chosen research site is Banjarmasin City. Data collection was done by interviewing informants who have the criteria of being Muslim and living in the Central Banjarmasin District of Banjarmasin City. The results of this study indicate that the people of Banjarmasin City believe that the halal label only provides clarity on packaged food, while there is no similar clarity on non-packaged food. This is because the people of Banjarmasin City know and pay attention to the requirements of halal food, which are not only from the ingredients, but also from other aspects. The people of Banjarmasin City adhere to the arguments of the Qur'an in determining the halal-haram law of a food. However, if they come across food without a halal label that they think might lead to haram, they put the status of the food in the syubhat category and choose not to buy the food. In this case, the people of Banjarmasin City have implemented wara' behavior or the behavior of maintaining and refraining from various things that are not worth doing by someone in order to avoid something haram. Kata Kunci: Banjarmasin, Food, Halal Label Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya makanan yang dijual di Kota Banjarmasin yang tidak memiliki jaminan produk halal, makanan tersebut merupakan makanan tanpa label halal yang memiliki kemungkinan tercampur dengan sesuatu yang haram. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perspektif masyarakat Kota Banjarmasin terhadap makanan tanpa jaminan produk halal dan untuk menganalisis tinjauan hukum Islam mengenai perspektif masyarakat Kota Banjarmasin terhadap makanan tanpa jaminan produk halal. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif empiris, yaitu penelitian yang mengetahui persepsi, kebiasaan dan fakta-fakta masyarakat di lapangan, dianalisis oleh peneliti, dan didukung oleh berbagai data yang berasal dari penelitian kepustakaan (library research) dan dianalisis secara deskriptif. Lokasi penelitian yang dipilih adalah Kota Banjarmasin. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mewawancarai informan yang memiliki kriteria beragama Islam dan berdomisili di Kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat Kota Banjarmasin meyakini bahwa label halal hanya memberikan kejelasan pada makanan kemasan, sedangkan pada makanan non-kemasan tidak ada kejelasan yang sama. Hal ini dikarenakan masyarakat Kota Banjarmasin mengetahui dan memperhatikan syarat-syarat makanan halal yang tidak hanya dari bahannya saja, tetapi juga dari aspek lainnya. Masyarakat Kota Banjarmasin berpegang teguh pada dalil-dalil Al-Qur'an dalam menentukan hukum halal-haram suatu makanan. Namun, jika mereka menemukan makanan tanpa label halal yang menurut mereka dapat menjurus ke arah haram, mereka memasukkan status makanan tersebut ke dalam kategori syubhat dan memilih untuk tidak membeli makanan tersebut. Dalam hal ini, masyarakat Kota Banjarmasin telah menerapkan perilaku wara' atau perilaku menjaga dan menahan diri dari berbagai hal yang tidak layak dilakukan oleh seseorang agar terhindar dari sesuatu yang haram. Kata Kunci: Banjarmasin, Makanan, Label Halal. This is an open access article under the CC BY-NC-SA license.
Analisis Hukum Islam Terhadap Tradisi Uang Pelangkahan (Studi Kasus Desa Hawang Kecamatan Limpasu Kabupaten Hulu Sungai Tengah) Rusmini; Fauziah Hayati; Rahmat Sholihin
Interdisciplinary Explorations in Research Journal Vol. 1 No. 3 (2023): "Exploring the Wisdom Integration of Multidisciplinary Approaches in Higher Edu
Publisher : PT. Sharia Journal and Education Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ierj.v1i3.422

Abstract

Abstract This study is related to the review of Islamic law in the Pelangkahan tradition. The main topic is how Islamic law views the Pelangkahan tradition in the people of Hawang Village, Limpasu District, Hulu Sungai Tengah Regency.Pelangkahan is a gift from a man/husband who is going to marry his younger sibling who precedes his sibling above him who is not yet married with the aim of eliminating feelings of sadness and making happiness for the sibling who is stepping. This study was conducted because this tradition has a hereditary element, which means that the practice is passed down from generation to generation.This research is interesting because it digs deeper into the sustainable aspects and relevance of these traditions in the cultural context of society. This research uses qualitative methods by interviewing the people concerned. Research results: The Pelangkahan tradition does not conflict with Islamic law. Keywords: Tradition, Pelangkahan, Review of Islamic Law Abstrak Kajian ini berkaitan dengan tinjauan hukum Islam dalam tradisi Pelangkahan. Pokok bahasannya adalah bagaimana pandangan hukum Islam terhadap tradisi Pelangkahan pada masyarakat Desa Hawang Kecamatan Limpasu Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Pelangkahan merupakan pemberian seorang laki-laki/suami yang akan mengawinkan adiknya yang mendahului adiknya yang diatasnya yang belum menikah dengan tujuan menghilangkan rasa sedih dan membahagiakan adik yang akan melangkah. Kajian ini dilakukan karena tradisi ini mempunyai unsur turun temurun yang artinya pengamalannya dilakukan secara turun-temurun. Penelitian ini menarik karena menggali lebih dalam aspek keberlanjutan dan relevansi tradisi tersebut dalam konteks budaya masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan cara mewawancarai orang-orang yang bersangkutan. Hasil Penelitian: Tradisi Pelangkahan tidak bertentangan dengan syariat Islam. Kata Kunci: Tradisi, Pelangkahan, Tinjauan Hukum Islam This is an open access article under the CC BY-NC-SA license.
Islam Nusantara (Sebuah Konsep Pendidikan Beragama Secara Moderat) Rahmat Sholihin; Amelia Rahmaniah
Interdisciplinary Explorations in Research Journal Vol. 2 No. 1 (2024): Integration of Islamic Knowledge and Values in Education, Islamic Studies, Loca
Publisher : PT. Sharia Journal and Education Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ierj.v2i1.431

Abstract

Abstract The issue of Islam Nusantara has become a new discourse for Muslims in Indonesia, a new offer in the concept of moderate religious education. Various groups have spoken out in response to this issue. Initially raised by NU clerics, it was responded to variously by Indonesian Muslims. Within NU itself there is debate, as well as among Muhammadiyah. The identity of "Islam" will be more grounded when added with the word "Nusantara" for those who support it. Meanwhile, those who reject the argument argue that the sacredness of the name "Islam" does not need to be given the addition of "Nusantara" because it will lead to different perspectives. Such an addition is considered taboo and inappropriate because it will obscure its original identity. The objectives of this research are: To find out the conception of "Islam Nusantara" in the perception of Urang Banjar, as well as their attitude towards Islam Nusantara, both those who accept (pro) and those who reject (con) the term. And to try to find an affirmative solution to the various issues about Islam Nusantara that have developed among the Banjar people. Although there have been many writings on the theme of Islam Nusantara, no one has researched and discussed it in Banjarmasin and its surrounding areas. Therefore, this paper becomes interesting when global issues are viewed in terms of the locality of Banjar culture. Keywords: Islam Nusantara, Religious Education, Moderate Abstrak Isu Islam Nusantara menjadi wacana baru bagi umat Islam di Indonesia, sebuah tawaran baru dalam konsep pendidikan beragama secara moderat. Beragam kalangan bersuara dalam menanggapi persoalan ini. Awalnya dilontarkan oleh Ulama NU, namun ditanggapi beragam oleh umat Islam Indonesia. Di tubuh NU sendiri terjadi perdebatan, begitu juga di kalangan Muhammadiyah. Identitas “Islam” akan lebih membumi ketika ditambah dengan kata “Nusantara” bagi yang mendukung. Sementara bagi yang menolak berargumen bahwa kesakralan nama “Islam” tidak perlu diberi tambahan “Nusantara” karena akan menimbulkan perspektif yang berbeda. Tambahan seperti itu dianggap tabu dan tidak pantas karena akan mengaburkan identitas aslinya. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah: untuk mengetahui konsepsi “Islam Nusantara” dalam persepsi Urang Banjar, serta sikap mereka terhadap Islam Nusantara, baik yang menerima (pro) maupun yang menolak (kontra) terhadap istilah tersebut. Dan berupaya menemukan solusi kompirmatif terhadap berbagai isu tentang Islam Nusantara yang berkembang di kalangan masyarakat Banjar. Meskipun sudah banyak tulisan yang bertema Islam Nusantara, tapi untuk wilayah Banjarmasin dan sekitarnya masih belum ada yang meneliti dan membahas tentang hal tersebut. Oleh karena itu, tulisan ini menjadi menarik ketika isu global dilihat dari segi lokalitas budaya Banjar. Kata kunci: Islam Nusantara, Pendidikan Beragama, Moderat
Fenomena Para Pekerja Anak Di Kalimantan Selatan (Dilema: Pendidikan Dan Pekerjaan) Rahmat Sholihin; Pati Matu Jahra
Interdisciplinary Explorations in Research Journal Vol. 2 No. 1 (2024): Integration of Islamic Knowledge and Values in Education, Islamic Studies, Loca
Publisher : PT. Sharia Journal and Education Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ierj.v2i1.436

Abstract

ABSTRACT This text discusses the phenomenon of child labor in South Kalimantan, specifically in the cities of Banjarmasin and Martapura. It highlights how children are actively involved in various business activities to support their families. The city of Banjarmasin sees children participating in busking at traffic lights, while in Martapura, children are involved in peddling and selling in markets and shops. These children are faced with the dilemma of balancing work and education. The text aims to explore the challenges faced by child laborers and the attitudes of the Banjar community towards them through a field research with an anthropological approach. It emphasizes the contrast between the joy and learning of childhood and the hardships of working at such a young age. Overall, the text raises awareness about the issue of child labor and the need to address it. Keywords: Accountability, Ethnography, Tri Hita Karana   ABSTRAK Tulisan ini membahas fenomena pekerja anak di Kalimantan Selatan, khususnya di kota Banjarmasin dan Martapura. Tulisan ini menyoroti bagaimana anak-anak secara aktif terlibat dalam berbagai kegiatan usaha untuk menghidupi keluarga mereka. Di kota Banjarmasin, anak-anak ikut mengamen di lampu merah, sementara di Martapura, anak-anak terlibat dalam kegiatan berjualan di pasar dan pertokoan. Anak-anak ini dihadapkan pada dilema untuk menyeimbangkan antara pekerjaan dan pendidikan. Tulisan ini bertujuan untuk mengeksplorasi tantangan yang dihadapi oleh pekerja anak dan sikap masyarakat Banjar terhadap mereka melalui penelitian lapangan dengan pendekatan antropologi. Teks ini menekankan kontras antara keceriaan dan pembelajaran di masa kanak-kanak dan kesulitan bekerja di usia yang begitu muda. Secara keseluruhan, teks ini meningkatkan kesadaran tentang isu pekerja anak dan kebutuhan untuk mengatasinya. Kata kunci: Pekerja Anak, Pendidikan, Pekerjaan