Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Pelatihan Identifikasi Satwa Kunci Sulawesi bagi Siswa Sekolah Menengah Kota Manado di Taman Wisata Alam Batuputih, Kota Bitung, Sulawesi Utara Siahaan, Parluhutan; S, Saroyo
VIVABIO: Jurnal Pengabdian Multidisiplin No 3 (2019): VIVABIO: Jurnal Pengabdian Multidisiplin
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/vivabio.1.3.2019.26812

Abstract

Pendidikan merupakan upaya sadar dalam membentuk tiga domain dalam pendidikan, yaitu kecerdasan (kognitif), keterampilan (psikomotorik), dan sikap (afektif). Upaya pendidikan dalam mendukung kegiatan konservasi dapat dilakukan melalui pengintegrasian materi konservasi dalam kurikulum pendidikan sekolah. Sebagai bagian dari Subkawasan Sulawesi, Provinsi Sulawesi Utara memiliki kekayaan hayati yang unik dan sangat beragam. Provinsi ini terletak di ujung timur Semenanjung Utara Pulau Sulawesi yang juga terdiri dari beberapa pulau satelitnya. Sejarah alam yang berlangsung jutaan tahun menyebabkan kawasan ini memiliki bentuk-bentuk endemik, baik endemik kunci yang  juga endemik Sulawesi. Endemisme lahir dari proses isolasi geografis yang memacu berlangsungnya proses evolusi. Telah dilakukan kegiatan pelatihan identifikasi satwa kunci pada siswa sekolah menengah dari Kota Manado dengan tujuan untuk lebih mengapresiasi kekayaan hayati Pulau Sulawesi yang dapat mendukung kegiatan pendidikan formal di sekolah. Kegiatan diikuti 100 siswa sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas Kota Manado. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 9 Agustus 2019. Materi sosialisasi meliputi materi tentang konservasi biodiversitas di Sulawesi Utara dan praktik lapangan untuk mengamati dan mengidentifikasi satwa kunci Sulawesi yang dijumpai di Taman Wisata Alam Batuputih. Untuk mengevaluasi perubahan pengetahuan, sikap, dan keterampilan digunakan ujian/tes yang meliputi pretes dan postes serta hasil pengamatan dan identifikasi satwa kunci di Taman Wisata Alam Batuputih. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa: telah terjadi peningkatan pengetahuan dari rata-rata 6.8 menjadi 8,1, sikap positif dari 3,1 menjadi 3,7 (rentang 0-4) dan pengamatan dalam identifikasi satwa kunci menunjukkan hasil baik. Dengan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kegiatan telah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, serta sikap positif pada peserta.
Kandungan Klorofil Total Daun Pada Padi Lokal Sulawesi Utara Yang Mengalami Cekaman Banjir Tjolleng, Fitria; Siahaan, Parluhutan; Ai, Nio Song
Jurnal MIPA Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.8.2.2019.23516

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji respon fisiologi tanaman padi lokal Sulawesi Utara (varietas Ombong, Temo, TB, dan Sultan) terhadap cekaman banjir pada fase vegetatif berdasarkan kandungan klorofil total pada daun. Pot dan tanaman padi dimasukkan ke dalam ember sehingga terendam setinggi 27 cm di atas permukaan media. Perlakuan cekaman kebanjiran berlangsung selama 20 hari. Pengambilan data dilakukan pada hari ke-0 (sebelum perlakuan), 10, 15 dan 20 setelah perlakuan. Daun diambil sebanyak 1 g kemudian dihaluskan dan diekstraksi menggunakan alkohol 95% dan kandungan klorofil diukur dengan spektrofotometer. Data kandungan klorofil total dalam percobaan faktorial dianalisis dengan analisis sidik ragam dalam rancangan acak lengkap pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor varietas, faktor waktu dan interaksi antara keduanya tidak menunjukkan perbedaan yang nyata pada kandungan klorofil total pada daun tanaman padi (varietas Ombong, Temo, TB, dan Sultan) selama 20 hari perlakuan cekaman banjirThis study examined the physiological responses of North Sulawesi local rice plants in (Ombong, Temo, TB, and Sultan varieties) to partial submergence at the vegetative phase based on the content of total chlorophyll in the rice leaves. The pot and plants were submerged under water in a bucket about 27 cm above the surface of the media. The submergence treatment was lasted for 20 days. Data collection was carried out at day 0 (before treatment), 10, 15 and 20 after treatment. The leaves (about 1 g for ach sample) were collected, then refined and extracted using 95% ethanol. The total chlorophyll content was measured using spectrophotometer. Data of total chlorophyll content in the factorial experiment were analyzed using analysis of variance under completely randomized design at a 95% confidence level. The results of this study indicated that variety and time factors as well as their interactions showed no significant differences in the content of total chlorophyll in the leaves of rice plant varieties (Ombong, Temo, TB, and Sultan) during 20 days of partial submergence
Pola Aktivitas Harian Tangkasi (Tarsius spectrum) Di Taman Marga Satwa Naemundung Kota Bitung Manori, Orpa Smarce Fransina; de Queljoe, Edwin; ., Saroyo; Siahaan, Parluhutan
Jurnal MIPA Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.3.2.2014.5988

Abstract

Tangkasi (Tarsius spectrum) adalah primata primitif dari Famili Tarsidae dan merupakan primata endemik di Sulawesi. Tangkasi memiliki tubuh kecil, mempunyai mata bulat besar, dapat melompat dan dapat membalik 180˚. Karena keunikan yang dimiliki hewan ini menjadikannya disukai banyak orang sehingga diburu, diperdagangkan secara illegal dan dijadikan sebagai hewan peliharaan. Padahal tangkasi (T. spectrum) dilindungi, termasuk kategori rentan (Vulnerable) dan tercantum dalam CITES Appendix II. Tangkasi yang telah dikandangkan akan mengalami  perubahan perilaku dibanding yang ada di alam. Penelitian aktivitas harian tangkasi yang ada di dalam kandang belum pernah dilakukan di Sulawesi Utara, oleh karena itu, maka penelitian ini perlu dilakukan. Penelitian yang menganalisis aktivitas harian dan tingkah laku tangkasi (T. spectrum) di dalam kandang khususnya dilihat dari aktivitas makan, mencari makan, beristirahat, berpindah, dan aktivitas sosial. Metode pengambilan data secara Instantaneous sampling. Hasil pengamatan terhadap pola aktivitas harian di kandang yaitu : makan (1,5%), mencari makan (8,5%), berpindah (26,8%), instirahat (57,5%), dan sosial (5,5%). Aktivitas tertinggi adalah istirahat, diikuti dengan aktivitas berpindah, kemudian mencari makan, sosial dan yang terendah adalah aktivitas makan.Tangkasi (Tarsius spectrum) is a primitive primate from Family Tarsidae and a  endemic primate in Sulawesi. Tangkasi have a small body, and ayeball, they can jump and their can head flipped until 180˚. Tangkasi already caged will experience a change in behavior campared to the wild. Many  people hunt, trade illegally and use it as pet because of the uniqueness of this species.  Even though tangkasi (T. spectrum) is protected, included in vulnerable category and listed in CITES Appendix II. Research on daily activity of tangkasi in the cage has never been done in North Sulawesi, therefore, this research needs to be done. Studies analyzing daily activities and behavior tangkasi (T. spectrum) in the cage in terms of the activity of eating, foraging, resting, moving, and social activities. Data were collected by using Instantaneous sampling method. The observation of the daily activity patterns in the cage namely: eating (1.5%), foraging (8.5%), moving (26.8%), resting (57.5%), and social (5.5%) . The highest activity is resting, followed by moving activity, foraging, social and respectively the lowest is feeding activity.
Konsentrasi Klorofil pada Beberapa Varietas Tanaman Puring (Codiaeum varigatum L.) Gogahu, Yelni; Nio, Song Ai; Siahaan, Parluhutan
Jurnal MIPA Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.5.2.2016.12964

Abstract

Tanaman puring memiliki varietas yang sangat banyak dan terdapat sekitar 260 varietas puring yang ada di Indonesia. Puring merupakan tanaman yang memiliki warna dan bentuk daun yang beragam seperti kuning, hijau, merah dan coklat sehingga tanaman puring dimanfaatkan sebagai tanaman hias warna-warni tersebut disebabkan karena adanya bermacam-macam pigmen warna didalam daun. Dalam proses fotosintesis klorofil atau pigmen hijau daun sangat diperlukan sehingga setiap daun sangat membutuhkan klorofil. Belum ada data yang menunjukkan apakah perbedaan dominansi warna pigmen daun juga mengandung perbedaan kandungan klorofilnya. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji pengaruh perbedaan warna daun pada 9 varietas dan perbedaan umur tanaman terhadap kandungan klorofil tanaman puring (puring cobra, puring spageti lokal, puring bor merah, puring jengkol, puring jempol, puring jet merah, puring kura-kura moncolor, puring bor cristata, puring lele) dan perbedaan umur daun tanaman terhadap kandungan klorofilnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun pada umur 3 bulan kandungan klorofilnya sama pada semua varietas baik kandungan konsentrasi klorofil total, klorofil a maupun  klorofil b. Pada 3 varietas (puring cobra, puring spageti lokal dan puring bor merah) daun yang telah berumur 8 bulan mengandung konsentrasi klorofil total dan klorofil a  yang berbeda antara daun muda dan daun tua sedangkan konsentrasi korofil b tidak berbeda pada semua varietas.Croton plants has so many varieties. Around 260 varieties of Croton plants are found in Indonesia. Croton plant is a plant with various color leaves such as yellow, green, red and brown which make Croton plant is used to be a house-plant. Those colors exist because of many color pigment in leaf. Every leaf needs chlorophyll or green pigment in photosynthesis process. There is no data that shows different color leaves contain different amount of chlorophyll. This research is done in order to find out the effects of difference in color leaves and plants age towards chlorophyll contents in Croton plants (puring cobra, puring spageti lokal, puring bor merah, puring jengkol, puring jempol, puring jet merah, puring kura-kura moncolor, puring bor cristata, puring lele) and different leaves age towards chlorophyll contents. The results showed that the leaf at the age of 3 months has the same chlorophyll contents whether in total chlorophyll, a chlorophyll ad b chlorophyll with the other varieties. The leaf in the age of 8 months in 3 varieties (puring cobra, puring spageti lokal dan puring bor merah) contains different consentration of total chlorophyll and a chlorophyll between young leaves and older leaves while the concentration of b chlorophyll does not differ at all varieties.
Kandungan Klorofil Total Daun Puring (Codiaeum variegatum L.) Yang Mengalami Cekaman Kekeringan Sonke, Natasya Gloria; Siahaan, Parluhutan; Ai, Nio Song
Jurnal MIPA Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.8.2.2019.23517

Abstract

elah dilakukan penelitian untuk mengevaluasi kandungan klorofil total pada daun tanaman puring (Codiaeum variegatum L.) yang mengalami cekaman kekeringan. Tanaman puring varietas gelatik diberi perlakuan kekeringan selama 14 hari dengan tiga kali ulangan pada tanaman puring yang daunnya telah berkembang penuh (fully expanded leaf). Pengambilan sampel daun diambil pada hari ke-0 (sebelum perlakuan kekeringan dimulai), ke-7 dan ke-14 (setelah perlakuan kekeringan) yaitu pada daun tua dan daun muda pada tanaman control/diairi (DA) dan tidak diairi (TA). Kandungan klorofil daun diukur dengan menggunakan alat spektrofotometer pada panjang gelombang 649 dan 665 nm. Data yang diperoleh dianalisis dengan ANAVA dalam Rancangan Acak Lengkap pada tingkat kepercayaan 95% dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor umur daun serta interaksi antara umur daun dan waktu menyebabkan terjadinya perbedaan kandungan klorofil total pada daun tanaman puring varietas gelatikA study was carried out to evaluate the total chlorophyll content of croton (Codiaeum variegatum L. var. Belvalen) leaves under drought stress. The drought stress was applied for 14 days with three replications on leaf. The fully expanded leaves (old and young leaves) were collected at day 0, 7 and 14 from control (DA) and unirrigated (TA) plants. Leaf chlorophyll content measured using a spectrophotometer at 649 and 665 nm wavelengths. The data were analysed by ANOVA in Completely Randomized Design at 95% confidence level and followed by Least Significant Difference (LSD) test. The results showed that leaf age factor and the interaction between leaf age and time caused differences in total chlorophyll content in the leaves of croton cv. Gelatik plants
Uji Sitotoksisitas Ekstrak Metanol Daun Sisik Naga (Drymoglossum piloselloides Presl.) terhadap Sel Leukemia P388 Sahid, Anwar; Pandiangan, Dingse; Siahaan, Parluhutan; Rumondor, Marhaenus J.
Jurnal MIPA Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.2.2.2013.2758

Abstract

Penelitian mengenai uji sitotoksisitas ekstrak metanol daun sisik naga (Drymoglossum piloselloides Presl.) terhadap sel leukemia P388 telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sitotoksisitas ekstrak metanol daun sisik naga terhadap sel leukemia P388 berdasarkan penghambatan pertumbuhan sel 50% (IC50). Metoda yang dilakukan menggunakan uji MTT (Microculture Tetrazolium Technique) pada sel kanker leukemia P388. Sel dikultur menggunakan media RPMI (Roswell Park Memorial Institute). Pertumbuhan sel diukur melalui absorbansi formazan pada panjang gelombang 540 nm pada berbagai konsentrasi dari 0,1 µg/mL sampai 100 µg/mL ekstrak sampel. IC50 ditentukan dengan persamaan logaritma antara nilai absorbansi dengan konsentrasi ekstrak. Pengolahan data digunakan program Originlab 9.0 32-bit (Originlab Corporation  USA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak metanol daun sisik naga memiliki efek sitotoksik terhadap sel leukemia P388 yang ditunjukkan dengan penghambatan pertumbuhan sel leukemia sebanyak 50% adalah 19,32 µg/mL.The research about cytotoxicity assay of sisik naga (Drymoglossum piloselloides Presl.) leaf methanol extract on leukemia cells P388 has been done. This study aimed to determine the cytotoxicity of the methanol extract of sisik naga leaf against leukemia cells P388 based on the inhibition of 50% growth (IC50). The MTT (Microculture Tetrazolium Technique) test was used in this experiment. Leukemia cells were cultured on RPMI (Roswell Park Memorial Institute) medium. The cell growth was determined by measuring the formazan absorbance in variation of concentration 0,1 µg/mL to 100 µg/mL of sample extract at 540 nm. IC50 determined by logarithmic equation of absorbance values with concentration of extract. Data analysis used the program Originlab 9.0 32-bit (Originlab Corporation USA). The result showed that methanol extract of sisik naga leaf had cytotoxic effects against leukemia cells and inhibition of 50% leukemia cell growth was 19.32 µg/mL.
Panjang Dan Volume Akar Tanaman Padi Lokal Sulawesi Utara Saat Kekeringan Yang Diinduksi Dengan Polietilen Glikol 8000 Mangansige, Crestie T.; Ai, Nio Song; Siahaan, Parluhutan
Jurnal MIPA Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.7.2.2018.20618

Abstract

Kekeringan berdampak buruk terhadap produktivitas dan produksi pangan di dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ada tidaknya perbedaan respons morfologis berdasarkan panjang dan volume akar pada tanaman padi lokal Sulawesi Utara (varietas Superwin, Ombong, Temo, dan Burungan) yang mengalami kekeringan dengan induksi PEG 8000. Tanaman padi dengan empat daun yang telah berkembang penuh pada fase vegetatif diberi perlakuan kekeringan yang diinduksi dengan PEG 8000 (potensial air/PA medium 0; -0,25; -0,5 MPa) selama 6 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor varietas, faktor konsentrasi PEG 8000, faktor waktu perlakuan, interaksi antara faktor varietas dan konsentrasi PEG, interaksi antar faktor varietas dan waktu perlakuan, interaksi antara faktor konsentrasi dan waktu perlakuan, interaksi antara faktor varietas, konsentrasi PEG dan waktu perlakuan tidak menyebabkan perbedaan panjang dan volume akar. Dalam penelitian ini  panjang dan volume akar tidak dapat dijadikan sebagai indikator cekaman kekeringan pada keempat varietas padi lokal Sulawesi Utara.Drought decreases the productivity and production of food in the world. This study aimed to evaluate the differences of morphological responses based on root length and volume in North Sulawesi local rice (cv. Superwin, Ombong, Temo, dan Burungan) under PEG-8000-induced drought. The 4-fully-expanded-leaf plants at the vegetative phase were treated by growing the plants in the PEG 8000 solution with water potential/PA 0; -0.25; -0.5 MPa or 6 hours. The results showed that factors of variety, PEG 8000 concentration, treatment period, interaction between variety and PEG 8000 concentration, interaction between variety and treatment period, interaction between PEG 8000 concentration and treatment period, interaction among variety, PEG 8000 concentration and treatment period did not result in any differences in root length and volume. Root length and volume were not able to be used as drought indicators of in these four North Sulawesi local rice
Pengenalan Satwa Endemik Sulawesi yang Hidup di Kota Bitung Bagi Siswa Sekolah Dasar di Kelurahan Batuputih Bawah, Kecamatan Ranowulu, Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara Saroyo, Saroyo; Siahaan, Parluhutan; Papu, Adelfia
The Studies of Social Sciences Vol. 5 No. 2 (2023): The Studies of Social Sciences
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35801/tsss.v5i2.51604

Abstract

Kota Bitung memiliki peranan yang penting dalam upaya konservasi satwa endemik Pulau Sulawesi karena terdapatnya beberapa jenis secara alami di daerah tersebut. Setelah berakhirnya masa pandemi covid-19, kegiatan wisata alam kembali berlangsung dengan perkembangan yang sangat cepat. Bahkan dapat dikatakan bahwa kegiatan wisata alam telah telah memegang peranan penting dalam perekonomian sebagian masyarakat Kota Bitung. Sebagai penunjang daerah tujuan wisata alam, terdapat satu kawasan konservasi penting di Kota Bitung, yaitu Taman Wisata Alam Batuputih. Kawasan ini terletak di Kelurahan Batuputih Bawah dan masih mendukung sebagian satwa endemik Pulau Sulawesi dan beberapa merupakan satwa kunci Pulau Sulawesi dan menjadi daya tarik wisata alam. Namun sayangnya, ancaman terhadap kelangsungan hidup satwa sangat besar terutama karena perburuan dan perusakan habitat. Dengan latar belakang tersebut, upaya konservasi satwa endemik penting untuk dilaksanakan termasuk upaya pengenalan kepada anak usia dini di daerah yang berbatasan langsung dengan kawasan tersebut. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat telah dilaksanakan di Kelurahan Batuputih Bawah dengan tujuan untuk memperkenalkan jenis-jenis dan manfaat satwa endemik Sulawesi yang hidup di Taman Wisata Alam Batuputih dan Cagar Alam Duasudara/Tangkoko sehingga tertanam sikap konservasi pada generasi usia dini sehingga diharapkan satwa tersebut tetap lestari. Kegiatan diikuti oleh 40 siswa sekolah dasar dengan metode tanya jawab, sumbang saran, dan game terhadap kekayaan satwa endemik Pulau Sulawesi di Kota Bitung. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa para siswa menyadari pentingnya keberadaan satwa tersebut beserta upaya keikutsertaan mereka dalam konservasi. Kesimpulan hasil kegiatan pengabdian ialah terjadinya peningkatan pengetahuan dan sikap peserta terhadap upaya konservasi satwa endemik Pulau Sulawesi di Kota Bitung.
Host Diversity of Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin in Rice Field in Bolaang Mongondow Regency Siahaan, Parluhutan; Saroyo, Saroyo; Langoy, Marnix L.D.; Saimima, Arie J.
Akta Agrosia Vol 24 No 2 (2021)
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian (BPFP), Fakultas Pertanian, Universitas Bengkkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beauveria bassiana can attack a variety of hosts and their virulence can vary at each host and location. Exploration of the diversity of hosts B. bassiana from local isolates needs to be done as initial information that can explain the ability of B. bassiana in infecting insects. Sampling locations were selected in three district, each district selected three stations and each station consisted of 10 plots. The location of sampling is determined by the purposive random sampling method. Each station was made a plot measuring 1m x 1m and distributed randomly. Every insect infected with B. bassiana was taken and taken to a laboratory for identification. The results showed that there were five insects that hosted B. bassiana, namely Nilaparvata lugens, Scotinophara coarctata, Leptocorisa oratorius, Nezara viridula and Paraeucosmetus pallicornis. The highest host diversity index was found in North Dumoga with a value of 1.47. The highest abundance index was found in N. lugens host in East Dumoga with a value of 43%. The highest density was found in the host N. lugens in Central Dumoga with a value of 1.93 ind / m2. There were indications of differences in virulence of the  B. bassiana local isolates that were influenced by the spesies of host and location Keywords: Beauveria bassiana, diversity,  Bolaang Mogondow Regency, diversity and abundance indices
Vegetative Growth Response of Soybean (Glycine max L. Merril) After Applicated Several Plant Growth Regulators (PGRs) Mangais, Rowland; Rampe, Henny L.; Siahaan, Parluhutan
Akta Agrosia Vol 25 No 1 (2022)
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian (BPFP), Fakultas Pertanian, Universitas Bengkkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Vegetative growth of plants can be influenced by internal factors including hormones (Plant Growth Regulators). The purpose of the study is to determine the growth response of soybean ( Glycine max L.Merril) after application of some plant growth regulators (PGRs). The research method used was Completely Randomized Design (CRD). There were four levels of extract concentration that were applied namely P0: Control, P1: onion extract, P2  bamboo shoot extract, and P3:  banana weevil extract. Data of the growt parameters were analyzed with ANOVA (Analysis of Variance) and continued with LSD 0.05 test. Results of the study showed that the application of PGRs from extracts of onion , bamboo shoots and banana weevil give the  increase of growth in height of plants  in 15 days after planting, fresh  weight, dry wight and root volume  of soybean (G. max). Application of PGRs couldn’t give any effect in high, number of leaves and ratio of canopy roots 27 days after planting.Keywords : Glycine max L. Merril , Vegetative growth, and Plant Growth  Regulators (PGRs