Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Interpretasi Makna Lirik Lagu “Sesi Potret” Karya Ari Lesmana melalui Pendekatan Hermeneutik Friedrich Schleiermacher Susana Rarsina; Andre Layan; Elka Anakotta
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.8560

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menginterpretasikan makna lirik lagu “Sesi Potret” karya Ari Lesmana melalui pendekatan hermeneutik Friedrich Schleiermacher. Di tengah perkembangan musik populer, lagu dipahami sebagai teks budaya yang tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai representasi pengalaman eksistensial manusia yang mengandung makna simbolik serta reflektif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif interpretatif dengan menitikberatkan pada dua dimensi utama hermeneutika Schleiermacher, yaitu interpretasi gramatikal dan interpretasi psikologis, serta konsep lingkaran hermeneutik sebagai kerangka analisis utama. Data penelitian berupa lirik lagu yang dianalisis secara mendalam untuk memahami hubungan antara teks, pengarang, dan pengalaman pendengar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara gramatikal simbol “potret” merepresentasikan memori yang terfragmentasi, sedangkan istilah “sesi” menegaskan keterbatasan waktu dalam kehidupan manusia. Pemilihan diksi dalam lagu membangun suasana reflektif yang menampilkan hubungan erat antara kenangan, kehilangan, dan pencarian identitas diri. Secara psikologis, lagu ini merefleksikan dunia batin pengarang yang bergulat dengan kesadaran akan waktu, kerinduan terhadap masa lalu, dan upaya memahami makna hidup di tengah perubahan. Melalui lingkaran hermeneutik, makna lagu dipahami sebagai sesuatu yang dinamis dan terbuka karena dipengaruhi oleh interaksi antara teks dan pengalaman subjektif pendengar. Secara kritis, lagu ini juga merefleksikan kehidupan modern yang cenderung dangkal, ketika manusia lebih fokus mengabadikan momen daripada menghayati pengalaman hidup itu sendiri. Dengan demikian, lagu “Sesi Potret” memiliki nilai estetis sekaligus reflektif dalam memahami relasi kompleks antara waktu, kenangan, dan eksistensi manusia di era kontemporer.
Hermeneutika Kecurigaan Terhadap Tren Flexing: Menyingkap Lapisan Makna Tersembunyi dan Simbol Semiotika di Media Sosial: Penelitian Bernase Titaley; Elka Anakotta; Selderika Patty
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 4 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 4 April - Juni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i4.6491

Abstract

Fenomena flexing di media sosial berkembang menjadi lebih dari sekadar praktik pamer kekayaan, tetapi telah menjadi bahasa simbolik dalam budaya digital kontemporer. Melalui platform seperti TikTok, Instagram, dan Facebook, individu membangun identitas diri melalui representasi visual berupa barang mewah, perjalanan eksklusif, dan gaya hidup konsumtif. Penelitian ini bertujuan membongkar makna tersembunyi dibalik praktik flexing menggunakan pendekatan Hermeneutika Kecurigaan dari Paul Ricoeur. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif interpretatif dengan pendekatan fenomenologi-hermeneutik. Dalam penelitian ini, flexing dipahami bukan hanya sebagai realitas objektif, tetapi sebagai teks simbolik yang mengandung makna ideologis, psikologis, sosial, dan eksistensial.             Hasil kajian menunjukkan bahwa praktik flexing sering kali menjadi bentuk kompensasi atas kecemasan sosial, kebutuhan validasi, krisis identitas, dan alienasi individu di tengah budaya kapitalisme digital. Simbol kemewahan yang ditampilkan tidak selalu merepresentasikan kepemilikan nyata, melainkan berfungsi sebagai topeng sosial demi memperoleh pengakuan dan status di ruang publik digital. Selain itu, budaya flexing memperlihatkan bagaimana media sosial membentuk standar keberhasilan dan citra diri yang semu. Dengan demikian, Hermeneutika Kecurigaan membuka ruang pembacaan kritis terhadap budaya digital yang selama ini diterima secara literal oleh masyarakat sehingga pengguna media sosial dapat lebih reflektif dalam memahami simbol dan realitas di dunia digital.
Interpretasi Makna Kalwedo sebagai Salam Persaudaraan di Maluku Barat Daya: Kajian Hermeneutika Gadamer Misye Waliana; Elka Anakotta
Atmosfer: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra, Seni, Budaya, dan Sosial Humaniora Vol. 4 No. 2 (2026): Mei: Atmosfer: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra, Seni, Budaya, dan Sosial Huma
Publisher : Universitas Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59024/atmosfer.v4i2.1748

Abstract

Culture and traditions in Southwest Maluku contain a wealth of local wisdom that serves as a social glue, one of which is reflected in the use of the greeting Kalwedo. This greeting is not just a mere pleasantry, but has a very strong meaning in presenting the values ​​of brotherhood and local wisdom of the people of Southwest Maluku. This study shows several things, including, this study aims to interpret the antagonistic meaning of the greeting Kalwedo as a symbol of brotherhood by using the hermeneutic approach of Hans-Georg Gadamer. The research method used is qualitative descriptive-analysis. Data analysis was carried out through three hermeneutic movements, namely phenomenology, reconstruction, and dialogue. The results of the study show that Kalwedo contains the meaning of "we are together" or "we are one" which means emphasizing the unity of existence between the greeter and the greeted. Based on Gadamer's perspective, this meaning is formed from the fusion of horizons, namely between the past and the present, where the tradition will remain alive and meaningful in the contemporary context. The Kalwedo greeting serves as a medium for erasing barriers of difference, strengthening bonds of brotherhood, and building awareness of an inclusive collective identity. In conclusion, Kalwedo is a manifestation of wirkungsgeschichte (influential history) that continuously shapes and maintains social harmony amidst the dynamics of community life in Southwest Maluku.
Representasi Sains dan Rekonstruksi Peradaban dalam Anime Dr. Stone: Analisis Hermeneutika Friedrich Schleiermacher Febrilianti Febrilianti; Elka Anakotta
In Theos : Jurnal Pendidikan dan Theologi Vol. 5 No. 9 (2025): September
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/intheos.v5i9.4274

Abstract

Penelitian ini mengkaji representasi sains dan rekonstruksi peradaban dalam anime Dr. Stone melalui hermeneutika Friedrich Schleiermacher serta menelaah relevansinya bagi Pendidikan Agama Kristen. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif kepustakaan melalui pembacaan Dr. Stone Season 1 sebagai sumber primer dan artikel ilmiah terkait sebagai sumber sekunder. Kebaruan penelitian ini terletak pada penggunaan interpretasi gramatikal, interpretasi psikologis, dan lingkar hermeneutik untuk membaca anime sebagai teks budaya audiovisual. Temuan penelitian menunjukkan bahwa sains dalam Dr. Stone tidak hanya berfungsi sebagai pengetahuan teknis, tetapi juga sebagai dasar simbolik dan praktis bagi pembentukan kembali kehidupan bersama. Pada tataran gramatikal, makna dibangun melalui dialog, istilah ilmiah, dan struktur naratif, sedangkan pada tataran psikologis ia tamPendidikan Agama Kristen sebagai harapan, tanggung jawab, kerja sama, dan orientasi masa depan. Pembacaan ini juga memperlihatkan bahwa hasil interpretasi hermeneutik dapat diterjemahkan ke ranah pedagogis secara lebih konkret. Secara teologis, anime ini membuka ruang refleksi Pendidikan Agama Kristen tentang sains sebagai tanggung jawab iman dalam mandat budaya, hikmat, dan pemeliharaan Allah.
Biarlah Anak-anak Itu Datang Kepada-Ku: Tinjauan Hermeneutik Schleiermacher terhadap Markus 10:13–16 dalam Perspektif Keadilan Sosial Novembry Patty; Yoel Baunsele; Elka Anakotta
In Theos : Jurnal Pendidikan dan Theologi Vol. 5 No. 9 (2025): September
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/intheos.v5i9.4284

Abstract

Penelitian ini berfokus pada interpretasi  terhadap teks Markus 10: 13-16 dengan menggunakan metode hermeneutik untuk membedah teks ini. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa studi pustaka. Selain itu, metode hermeneutik dari Schleirmacher dengan pendekatan interpretasi gramatikal dan psikologis, digunakan untuk membedah teks Markus 10:13-16. Tulisan ini menitikberatkan pada penggunaan metode hermeneutik dari Schleirmacher dalam interpretasi teks. Dan dalam isterpretasi ditemukan bahwa, teks Markus 10: 13-16 adalah bagian dari kritik penulis teks terhadap masyarakat Yahudi serta terhadap budaya patriarkhi saat itu yang sangat mendiskriminatif anak dalam kehidupan sosial masyarakat saat itu. Temuan ini memberikan refleksi kritis terhadap konteks masa kini, yang cendrung mendiskriminasi anak dalam lingkungan sosial masyarakat. Oleh karena itu penelitian ini mengusulkan pentingnya anak dalam kehidupan bersama dan melibatkan anak sebagai pusat pemberitaan dan pelayanan bergereja.