Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Potential of Honey Hydrogel Modern Dressing in Wound Healing of Patients with Grade II Diabetic Foot Ulcer Afikirtiani, Winda; Arwani, Arwani; Widigdo, Dwi Ari Murti
Indonesian Contemporary Nursing Journal (ICON Journal) Vol. 8 No. 1 (2023): Volume 8 No. 1 Agustus 2023
Publisher : Faculty of Nursing, Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/icon.v8i1.28153

Abstract

Aims: To analyze the potential of honey hydrogel modern dressing in wound healing process in patients with grade II diabetic ulcers. Methods: The research design used a true experiment with a randomized pretest posttestcontrol group design. This study had 36 respondents who were divided into 2 groupsthrough simple random sampling. The intervention group was given honey hydrogel with 4measurements. The first measurement or pretest on day 1, the second measurement orposttest 1 on day 7, the third measurement or posttest 2 on day 14, and the fourthmeasurement or posttest 3 on day 21. The instrument used to measure patient woundhealing using the Bates-Jensen Wound Assessment Tool (BWAT). Results: The increase in the mean wound healing score of patients who were given honeyhydrogel modern dressing from a score of 42.11 on day 1 to 34.56 on day 21 with p = 0.001while the increase in the mean wound healing score of patients who were givenmanufacturer hydrogel modern dressing from a score of 41.67 on day 1 to 37.17 on day 21with p = 0.001. The effect size between the intervention group and the control group is quitestrong with a value of 0.78. Conclusion: Honey hydrogel has the potential to promote wound healing in patients withgrade II diabetic ulcers. Further research is recommended to explore the use of honeyhydrogel by innovating the manufacturing process to ensure consistent dosing in thetreatment of grade II diabetic ulcers.
Pengaruh Kombinasi Expressive Writing Therapy dan Afirmasi Positif Terhadap Kecemasan pada Pasien Hemodialisis di RSUD Tidar Kota Magelang: Kombinasi Expressive Writing Therapy dan Afirmasi Positif Meinanda Enjang Wulansari; Angga Sugiarto; Erna Erawati; Dwi Ari Murti Widigdo
KEWINUS: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Vol 2 No 1 (2025): Juni
Publisher : Universitas Widya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65175/kewinus.v2i1.33

Abstract

Patients undergoing hemodialysis often experience anxiety due to the unpredictable nature of their illness, raising concerns about potential recovery and dependence on dialysis machines. Addressing anxiety is crucial, as it significantly impacts patients' quality of life. The combination of expressive writing therapy and positive affirmations is a non-pharmacological approach to managing anxiety by allowing individuals to express their feelings and thoughts through writing and reinforce their self-esteem through positive statements. This study aims to investigate the effect of the combination of expressive writing therapy and positive affirmations on anxiety in hemodialysis patients at RSUD Tidar, Magelang. A quantitative research design was employed, utilizing a quasi-experimental approach with a pretest-posttest design and a control group. Purposive sampling was used, resulting in a total of 40 respondents. The Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) was utilized as the measurement instrument. In the intervention group, the Paired T-test yielded a p-value of 0.000 (p < 0.005). In the control group, the Wilcoxon test resulted in a p-value of 0.000 (p > 0.05). The Mann-Whitney U test indicated a p-value of 0.000 (p < 0.05) when comparing the intervention and control groups. These findings demonstrate that the combination of expressive writing therapy and positive affirmations is effective in reducing anxiety among hemodialysis patients. Keyword : Anxiety; expressive writing therapy; hemodialysis; positive affirmations
Hubungan Hubungan Self Efficacy dengan Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien Chronic Kidney Disease Yang Menjalani Hemodialisis Di RSUD Tidar Kota Magelang: Analisis Hubungan Self Efficacy terhadap Tingkat Kepatuhan Terapi Farmakologis Jihan Nur Fitriana; Nita Tri septiana; Dwi Ari Murti Widigdo; Erna Erawati
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Vol 11 No 3 (2026): JURNAL KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jkm.v11i3.30975

Abstract

Latar Belakang: Penyakit Ginjal Kronis (CKD) adalah kondisi kronis progresif yang membutuhkan perawatan jangka panjang, termasuk hemodialisis rutin dan penggunaan obat secara terus menerus. Namun, ketidakpatuhan terhadap pengobatan tetap menjadi masalah utama di antara pasien CKD dan dapat menyebabkan memburuknya kondisi kesehatan dan penurunan kualitas hidup. Efikasi diri, yang didefinisikan sebagai keyakinan individu terhadap kemampuan mereka untuk mengelola perilaku terkait kesehatan, dianggap sebagai faktor psikologis penting. Faktor yang memengaruhi kepatuhan pengobatan. Tujuan: Untuk mengidentifikasi hubungan antara efikasi diri dan kepatuhan pengobatan pada pasien dengan Penyakit Ginjal Kronis yang menjalani hemodialisis . Metode: Studi ini menggunakan desain korelasional deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 65 pasien dengan CKD yang menjalani hemodialisis dipilih menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Chronic Kidney Disease Self-Efficacy (CKD-SE) dan Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8). Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Kendall's tau-b dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat efikasi diri yang tinggi (41,5%) dan tingkat kepatuhan pengobatan yang moderat (38,5%). Terdapat hubungan yang kuat dan signifikan antara efikasi diri dan kepatuhan pengobatan (r = 0,683; p < 0,001). Di antara aspek efikasi diri, pemecahan masalah memiliki korelasi terkuat dengan kepatuhan pengobatan (r = 0,621), diikuti oleh otonomi (r = 0,580) dan integrasi diri (r = 0,486), sedangkan pencarian dukungan sosial menunjukkan korelasi yang signifikan tetapi lemah (r = 0,351; p = 0,003). Kesimpulan: Efikasi diri secara signifikan berhubungan dengan kepatuhan pengobatan di antara pasien CKD yang menjalani hemodialisis. Memperkuat efikasi diri pasien, khususnya dalam pemecahan masalah, otonomi, dan integrasi diri, sangat penting untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan. Penyedia layanan kesehatan, terutama perawat, didorong untuk menerapkan intervensi pendidikan dan psikososial untuk meningkatkan efikasi diri dan mengoptimalkan hasil pengobatan.