Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

ASPEK PEMIDANAAN HUKUM PERKAWINAN SIRRÎDALAM PERSPEKTIF SIYÂSAH SYAR’IYYAH Sirin, Khaeron
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 20, No 2 (2012): Islam, Budaya dan Hukum
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Gagasan tentang pemidanaan terhadap kasus perkawinan yang tidak dicatatkan—biasa disebut perkawinan sirrî—yang mencuat di awal 2010 langsung memunculkan polemik. Bagi masyarakat yang mendukung, pemidanaan perkawinan yang tidak dicatatkan akan bisa memperketat prilaku perkawinan yang semena-mena, melindungi hak-hak perempuan dan anak-anak, serta menumbuhkan budaya tertib hukum di masyarakat. Sementara bagi kalangan yang menentang, perkawinan yang tidak dicatatkan adalah tetap sah secara agama (Islam)—jika dilakukan sesuai syarat dan rukun nikahnya—dan negara tidak bisa memidanakan pelaku perkawinan yang tidak mencatatkan perkawinannyake instansi pemerintah.Tulisan ini berusaha mengana-lisis polemik tersebut dari sudut pandang siyâsah syar`iyyah, utamanya berkait dengan peluang dimasukkannya aspek hukum pidana dalam penerapan hukum perkawinan di Indonesia. Abstract: The notion of criminalizing on illegal (not legally registered) marriage appearing in the early 2010 resulted polemics. Those who support this idea argue that it could tighten an unfair marriage, protect children and women rights, and create law-abiding culture concerning marriage in society. Those who deny the notion claim that an unregistered marriage is consider lawful from the perspective of Islam as long as it fulfils marriage principles and requirements. This article aims to analyze the case of unregistered marriage in Indonesia by siyâsah shar’iyyah perspective. Kata Kunci: Pemidanaan, perkawinansirrî, hukum Islam, siyâsah syar’iyyah
ASPEK PEMIDANAAN HUKUM PERKAWINAN SIRRÎDALAM PERSPEKTIF SIYÂSAH SYAR’IYYAH Sirin, Khaeron
KARSA: Journal of Social and Islamic Culture Islam, Budaya dan Hukum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v20i2.46

Abstract

Abstrak: Gagasan tentang pemidanaan terhadap kasus perkawinan yang tidak dicatatkan—biasa disebut perkawinan sirrî—yang mencuat di awal 2010 langsung memunculkan polemik. Bagi masyarakat yang mendukung, pemidanaan perkawinan yang tidak dicatatkan akan bisa memperketat prilaku perkawinan yang semena-mena, melindungi hak-hak perempuan dan anak-anak, serta menumbuhkan budaya tertib hukum di masyarakat. Sementara bagi kalangan yang menentang, perkawinan yang tidak dicatatkan adalah tetap sah secara agama (Islam)—jika dilakukan sesuai syarat dan rukun nikahnya—dan negara tidak bisa memidanakan pelaku perkawinan yang tidak mencatatkan perkawinannyake instansi pemerintah.Tulisan ini berusaha mengana-lisis polemik tersebut dari sudut pandang siyâsah syar`iyyah, utamanya berkait dengan peluang dimasukkannya aspek hukum pidana dalam penerapan hukum perkawinan di Indonesia. Abstract: The notion of criminalizing on illegal (not legally registered) marriage appearing in the early 2010 resulted polemics. Those who support this idea argue that it could tighten an unfair marriage, protect children and women rights, and create law-abiding culture concerning marriage in society. Those who deny the notion claim that an unregistered marriage is consider lawful from the perspective of Islam as long as it fulfils marriage principles and requirements. This article aims to analyze the case of unregistered marriage in Indonesia by siyâsah shar’iyyah perspective. Kata Kunci: Pemidanaan, perkawinansirrî, hukum Islam, siyâsah syar’iyyah
Model Pembelajaran Tahfidz Al-Qur’an di Indonesia, Iran, Turki, dan Arab Saudi Kaltsum, Lilik Ummi; Suparta, Mundzier; Thohari, Fuad; Sirin, Khaeron
An-Nuha : Jurnal Kajian Islam, Pendidikan, Budaya dan Sosial Vol. 8 No. 2 (2021): December
Publisher : LP2M Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36835/annuha.v8i2.458

Abstract

This article is the result of a study that discusses the tahfidz al-Qur’an learning model that is applied in Indonesia, Iran, Turkey, and Saudi Arabia. In addition, this research also wants to formulate the characteristics of each tahfidz institution by exploring the similarities and differences of each of the tahfidz institutions in the four countries in applying the tahfidz learning model, including its strategies and methods. The results of the study concluded that methodologically, learning tahfidz Qur’an in Indonesia, Iran, Turkey, and Saudi Arabia has similarities in terms of the continuity of the scientific pathways of the al-Qur’an teachers or al-Qur’an guides to the Prophet. In addition, the learning method applied also has similarities between one institution or pesantren and institutions in these countries, where the method is applied in a strict and structured manner, namely the bi al-naẓar method or the qirā’ah method, the kitābah method, and the method. simā'i The four countries also apply the same model in learning, namely talaqqī-mushāfahah, where students must deposit their memorization to the teacher face to face and the teacher must pay attention to the students reading. A significant difference between the countries with regard to specific materials or inserts is the level of understanding of the memorized verses. This research was conducted directly in four countries, namely Indonesia, Iran, Turkey, and Saudi Arabia with a qualitative approach and analyzed descriptively-comparatively.
Analisis Pendekatan Teks dan Konteks dalam Penentuan Pembagian Waris Islam Khaeron Sirin
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol 13, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v13i2.941

Abstract

Abstract: Analysis of a Text and Context Approach within the Formulation of Islamic Inheritance Distributions. For about fourteen centuries Islamic inheritance law has always been regarded as a qat‘î doctrine which covers for ijtihad and should be taken for granted. However, changes and developments over time, the existence of Islamic inheritance in the Quran have started to be claimed. To some liberalists and feminist activists, the law on Islamic inheritance is a product of salaf scholars to be regarded as rules that tend to be discriminative—just like the discrediting and prejudicing the rights of women—and not oriented towards human justice. Therefore, the provisions of Islamic inheritance need to be reviewed, even deconstructed by considering the social development of society.Keywords: Islamic law, justice, inheritance, tafsîrAbstraksi: Analisis Pendekatan Teks dan Konteks dalam Penentuan Pembagian Waris Islam. Selama lebih kurang empat belas abad hukum kewarisan Islam selalu dianggap sebagai doktrin yang bersifat qat‘î yang menutup rapat ruang ijtihad dan harus diterima secara taken for granted. Namun seiring perubahan dan perkembangan zaman, eksistensi hukum kewarisan Islam dalam Alquran mulai digugat. Oleh sebagian pemikir liberal dan aktivis feminisme, hukum kewarisan Islam produk ulama salaf dianggap sebagai aturan yang cenderung diskriminatif—semisal mendiskreditkan dan merugikan hak-hak perempuan—dan tidak berorientasi pada keadilan manusia. Karenanya, ketentuan hukum waris Islam tersebut harus ditafsir ulang, bahkan didekonstruksi dengan mempertimbangkan perkembangan sosial masyarakat.Kata Kunci: hukum Islam, keadilan, kewarisan, tafsirDOI: 10.15408/ajis.v13i2.941
Moderation of Higher Education Curriculum in Religious Deradicalization in Indonesia Ekawati Ekawati; M. Suparta; Khaeron Sirin; Maftuhah Maftuhah; Ade Pifianti
TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 6 NO. 2 2019
Publisher : Faculty of Educational Sciences, Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/tjems.v6i2.14886

Abstract

AbstractThis paper aims to know and analyze the forms of moderation of Islamic Higher Education curriculum. This moderate map of the curriculum is useful for policymaking in order to build an inclusive-multicultural awareness to minimize religious radicalism. This research is qualitative research with the historical approach. The method is used to examine the processes that take place in the life of the community under study. The results conclude that the forms of moderation of Islamic university curriculum in Indonesia are: first, integration and internalization of science. The Second, strengthening the theology of Rahmatanlil-'Alamin. Third, the deradicalization of religion through the strengthening of the local wisdom of Java. The Fourth, build an anti-radicalism curriculum. Fifth, the evaluation of multicultural-oriented learning. Sixth, Integral Muslim Personality Development Assistance Program (P3KMI). Seventh, Value Integration Plurality in the curriculum.Eighth, multicultural learning methods.AbstrakArtikel ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis bentuk-bentuk moderasi kurikulum Pendidikan Tinggi Islam. Peta kurikulum yang moderat ini berguna untuk pembuatan kebijakan dalam rangka membangun kesadaran inklusif-multikultural untuk meminimalkan radikalisme agama. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan historis. Metode ini digunakan untuk memeriksa proses yang terjadi dalam kehidupan masyarakat yang diteliti. Hasilnya menyimpulkan bahwa bentuk moderasi kurikulum universitas Islam di Indonesia adalah: pertama, integrasi dan internalisasi sains. Yang Kedua, memperkuat teologi Rahmatan lil-'Alamin. Ketiga, deradikalisasi agama melalui penguatan kearifan lokal Jawa. Keempat, bangun kurikulum anti-radikalisme. Kelima, evaluasi pembelajaran yang berorientasi multikultural. Keenam, Program Bantuan Pengembangan Kepribadian Muslim Integral (P3KMI). Ketujuh, Pluralitas Integrasi Nilai dalam kurikulum. Kedelapan, metode pembelajaran multikultural.How to Cite: Ekawati., Suparta, M., Sirin, K., Maftuhah, Pifianti, A. (2019).   Moderation of Higher Education Curriculum in Religious Deradicalization in Indonesia. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 6(2), 169-178. doi:10.15408/tjems.v6i2. 14886. 
PENGARUH PENGETAHUAN DAN PROMOSI PRODUK AMANAH TERHADAP MINAT MASYARAKAT KUTABUMI KABUPATEN TANGERANG MENGGUNAKAN PEGADAIAN SYARIAH Zarin Muhammad Jabbar; Khaeron Sirin
Jurnal Manajemen Dakwah Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Jurusan Manajemen Dakwah, Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Syarif Hidayatulla

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.62 KB) | DOI: 10.15408/jmd.v9i2.24950

Abstract

Artikel ini menjelaskan tentang pengaruh variabel independen (X) yaitu pengetahuan dan promosi kepada variabel dependen (Y) minat terhadap minat masyarakat Kutabumi Kabupaten Tangerang menggunakan Pegadaian Syariah.  Penelitian dilakukan karena masyarakat di hari ini mengetahui bahwa pegadaian hanya sebagai tempat menggadaikan barang. Fakta sebenarnya bahwa Pegadaian Syariah memiliki begitu banyak produk pemenuh kebutuhan masyarakat dalam upaya mencapai kehidupan sejahtera yang salah satunya adalah produk Amanah yang menjadi fokus kajian. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif. Hasil uji di lapangan menunjukan bahwa antara variabel independen yang dalam penelitian ini pengetahuan dan promosi memiliki pengaruh positif kepada variabel dependen, yaitu minat masyarakat Kutabumi di Kabupaten Tangerang, baik secara parsial dan juga secara simultan. Pengaruh pengetahuan dan promosi berpengaruh sebesar 59,8% yang diperoleh dari hasil uji koefisien determinasi pada masyarakat Kutabumi, Tangerang.Kata Kunci : Pengetahuan, Promosi, Minat, Produk Amanah, Pegadaian SyariahArtikel ini menjelaskan tentang pengaruh variabel independen (X) yaitu pengetahuan dan promosi kepada variabel dependen (Y) minat terhadap minat masyarakat Kutabumi Kabupaten Tangerang menggunakan Pegadaian Syariah.  Penelitian dilakukan karena masyarakat di hari ini mengetahui bahwa pegadaian hanya sebagai tempat menggadaikan barang. Fakta sebenarnya bahwa Pegadaian Syariah memiliki begitu banyak produk pemenuh kebutuhan masyarakat dalam upaya mencapai kehidupan sejahtera yang salah satunya adalah produk Amanah yang menjadi fokus kajian. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif. Hasil uji di lapangan menunjukan bahwa antara variabel independen yang dalam penelitian ini pengetahuan dan promosi memiliki pengaruh positif kepada variabel dependen, yaitu minat masyarakat Kutabumi di Kabupaten Tangerang, baik secara parsial dan juga secara simultan. Pengaruh pengetahuan dan promosi berpengaruh sebesar 59,8% yang diperoleh dari hasil uji koefisien determinasi pada masyarakat Kutabumi, Tangerang. KataKunci:Pengetahuan, Promosi, Minat, Produk Amanah, Pegadaian Syariah
Penggunaan Pembiayaan Gadai Emas Syariah Pada Nasabah Bsm Bangkalan Madura Desi Noe Komala; Khaeron Sirin
Jurnal Manajemen Dakwah Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Jurusan Manajemen Dakwah, Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Syarif Hidayatulla

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (629.766 KB) | DOI: 10.15408/jmd.v8i1.19930

Abstract

This article discusses the motives and customer satisfaction in the use of Islamic gold pawning financing products at BSM Bangkalan Madura. This research was conducted through a descriptive qualitative method. The concept used in this study is an approach to the culture of Bangkalan people who have a penchant for collecting gold so that from the craze there is a high interest in the gold pawning in Bangkalan. The results of the study show that the motivation of customers to mortgage gold in BSM Bangkalan varies greatly but has one goal which is to meet economic needs, economic needs in question are needs that are productive or consumptive. While the factors that influence customer satisfaction include: in terms of product, price, service or company location. These four factors will make customers feel satisfied with the use of BSM Bangkalan sharia gold pawn. Artikel ini membahas tentang motif dan kepuasan konsumen dalam penggunaan produk pembiayaan gadai emas syariah di BSM Bangkalan Madura. Penelitian ini dilakukan melalui metode deskriptif kualitatif. Konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan budaya masyarakat Bangkalan yang memiliki kegemaran mengoleksi emas sehingga dari kegemaran tersebut muncul minat yang tinggi terhadap gadai emas di Bangkalan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi nasabah untuk menggadaikan emas di BSM Bangkalan sangat bervariasi namun mempunyai satu tujuan yaitu untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, kebutuhan ekonomi yang dimaksud adalah kebutuhan yang bersifat produktif atau konsumtif. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan konsumen antara lain: dari segi produk, harga, pelayanan atau lokasi perusahaan. Keempat faktor tersebut akan membuat nasabah merasa puas dengan penggunaan gadai emas syariah BSM Bangkalan. Kata kunci: Gunakan; Pembiayaan Gadai Emas Syariah; Nasabah Gadai BSM Bangkalan
ASPEK PEMIDANAAN HUKUM PERKAWINAN SIRRÎDALAM PERSPEKTIF SIYÂSAH SYAR’IYYAH Khaeron Sirin
Karsa: Journal of Social and Islamic Culture Islam, Budaya dan Hukum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v20i2.46

Abstract

Abstrak: Gagasan tentang pemidanaan terhadap kasus perkawinan yang tidak dicatatkan—biasa disebut perkawinan sirrî—yang mencuat di awal 2010 langsung memunculkan polemik. Bagi masyarakat yang mendukung, pemidanaan perkawinan yang tidak dicatatkan akan bisa memperketat prilaku perkawinan yang semena-mena, melindungi hak-hak perempuan dan anak-anak, serta menumbuhkan budaya tertib hukum di masyarakat. Sementara bagi kalangan yang menentang, perkawinan yang tidak dicatatkan adalah tetap sah secara agama (Islam)—jika dilakukan sesuai syarat dan rukun nikahnya—dan negara tidak bisa memidanakan pelaku perkawinan yang tidak mencatatkan perkawinannyake instansi pemerintah.Tulisan ini berusaha mengana-lisis polemik tersebut dari sudut pandang siyâsah syar`iyyah, utamanya berkait dengan peluang dimasukkannya aspek hukum pidana dalam penerapan hukum perkawinan di Indonesia. Abstract: The notion of criminalizing on illegal (not legally registered) marriage appearing in the early 2010 resulted polemics. Those who support this idea argue that it could tighten an unfair marriage, protect children and women rights, and create law-abiding culture concerning marriage in society. Those who deny the notion claim that an unregistered marriage is consider lawful from the perspective of Islam as long as it fulfils marriage principles and requirements. This article aims to analyze the case of unregistered marriage in Indonesia by siyâsah shar’iyyah perspective. Kata Kunci: Pemidanaan, perkawinansirrî, hukum Islam, siyâsah syar’iyyah
Aspek Pemidanaan Dalam Hukum Perkawinan (Analisis Terhadap Perkawinan Yang Tidak Dicatatkan di Indonesia Khaeron Sirin
Al-Risalah Vol 12 No 01 (2012): June 2012
Publisher : Faculty of Sharia, Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.767 KB) | DOI: 10.30631/alrisalah.v12i01.432

Abstract

Artikel ini mencoba untuk mengkritik gagasan hukuman terhadap perkawinan tidak terdaftar seperti pernikahan diam-diam, kawin kontrak, dan poligami tanpa izin resmi dari pengadilan yang telah muncul sejak awal 2010 dan telah menyebabkan polemik di kalangan masyarakat. Banyak orang mendukung ide ini, sementara orang lain menolaknya. Mereka yang mendukung gagasan melihat bahwa hukuman terhadap perkawinan terdaftar akan membatasi pernikahan kasar, melindungi hak-hak perempuan dan anak-anak, dan membawa tentang budaya hukum dan ketertiban di kalangan masyarakat dalam hal pernikahan. Sebaliknya, mereka yang menolak gagasan berpendapat bahwa pernikahan tidak terdaftar dianggap agama hukum dan berlaku terutama dalam Islam ketika itu dilakukan sesuai dengan persyaratan dan prinsip-prinsip pernikahan.
Hukuman Mati Dalam Wacana Demokrasi (Perdebatan Antara Hukum Islam dan HAM di Indonesia) Khaeron Sirin
Al-Risalah Vol 13 No 01 (2013): June 2013
Publisher : Faculty of Sharia, Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.909 KB) | DOI: 10.30631/alrisalah.v13i01.441

Abstract

Secara yuridis formal, pelaksaan hukuman mati di Indonesia telah dibenarkan. Ada beberapa pasal dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang memuat ancaman hukuman mati. Di luar KUHP, tercatat setidaknya banyak peraturan perundang-undangan yang memiliki ancaman hukuman mati, misalnya: Undang-Undang Narkotika, Undang-Undang Anti Korupsi, Undang-Undang Anti terorisme, dan Undang-Undang Pengadilan HAM. Hal ini menunjukkan bahwa hukuman mati di Indonesia semakin eksis dalam tata peraturan perundang-undangan di Indonesia. Namun, seiring dengan maraknya gagasan humanisme atau nilai-nilai kemanusiaan universal yang merebak seusai perang dunia kedua, adanya hukuman mati menjadi tidak logis lagi dalam kehidupan saat ini. Dengan kata lain, menurut para pembela HAM, dinamisasi hukum pidana di dunia saat ini telah bergeser dari teori pembalasan ke teori rehabilitasi, di mana teori tersebut bersifat clinic treatment. Menyikapi adanya perdebatan bahkan pertentangan, perlu dilakukan obyektivikasi hukuman mati dalam konteks demokrasi di Indonesia, dimana pelaksanaan hukuman mati harus melepaskan diri dari pengaruh atau kepentingan lainnya, baik itu agama (Islam) ataupun HAM. Hukuman mati mesti ditempatkan dalam perspektif yang lebih luas dan lintas kepentingan, sehingga ketika hukuman mati itu diterapkan atau tidak diterapkan, maka hal itu tidak berarti mengalahkan atau menindas salah satu kepentingan