Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Jurnal Filsafat

Metafisika Simbol Keris Jawa Siswanto, Nurhadi
Jurnal Filsafat "WISDOM" Vol 22, No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persoalan esensial dalam pengkajian metafisika simbol didasarkan pada dua pertanyaan pokok yaitu: (1) apakah simbol imanen dalam kemanusiaan saja (hanya berakar dan terbatas dalam roh manusia saja) ataukah simbol juga berakar kepada yang transenden (yang mengatasi manusia dan kehidupannya)?; dan (2)  apakah simbol hanya berdimensi horizontal saja ataukah berdimensi vertikal juga?Penciptaan keris merupakan perpaduan dari keinginan, harapan, tujuan, dan manfaat yang diinginkan dari sang pemesan keris dengan olah rasa, karsa, dan cipta sang empu yang terwujud dalam simbol-simbol pada luk, dhapur, dan pamor keris. Sang empu dalam proses tersebut, masuk dalam dimensi simbol-simbol umum yang berlaku dalam masyarakat Jawa. Keris Jawa bila dianalisis dari sudut metafisika simbol, maka terlihat simbolisasi keris Jawa pada golongan awam (masyarakat umum) lebih bersifat vertikal-transendental; pada golongan khusus (kaum intelek) simbolisasi keris Jawa berdimensi ganda yaitu vertikal-transendental, sekaligus horizontal-imanen; sedangkan pada golongan baru (yang menganggap keris adalah benda seni), simbolisasi keris Jawa lebih berdimensi horizontal-imanen.Kata kunci: keris, simbol, metafisika
METAFISIKA SIMBOL KERIS JAWA Siswanto, Nurhadi
Jurnal Filsafat "WISDOM" Vol 22, No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jf.12986

Abstract

Essential issue in the study of the metaphysics of symbol is based on two main questions: (1) is a symbol immanent in human (and limitedly rooted in the human spirit) or symbol is also rooted to the transcendent (which address the human and his life)?; and (2) is a symbol just has horizontal dimension or vertical dimension as well?The creation of keris is a mixture of desires, hopes, goals, and desired benefits from the buyer if the dagger with a sense, initiative and creativity embodied in the master symbols at luk, dhapur, and pamor. The master in the making process, entered the dimensions of the symbols commonly applicable in the Javanese community. Javanese keris analyzed from the point of the symbol, can be concluded that the symbol visible at the class of ordinary Javanese (the public) is more vertical-transcendental, and the special group (the intellectuals) Javanese symbol doubles the vertical dimension-transcendental, as well as horizontal-immanent, while the new class (the keris is considered as art), Javanese symbolism over the horizontal dimension-immanent.
PERUBAHAN PANDANGAN ONTOLOGI PADA WAYANG MASA ISLAM DAN PRA ISLAM Siswanto, Nurhadi
Jurnal Filsafat "WISDOM" Vol 27, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1984.194 KB) | DOI: 10.22146/jf.22093

Abstract

Puppet has developments and changes over time. Puppet continues to grow and develop in accordance with the development of the dominant civilization that accompanies it. A change in the function of puppet strikingly occurs in Islam and pre-Islamic era. Puppet that previously acted as a form of religious ritual to worship the ancestors and the ‘Dewa’ has been changes in function to serve as a media for the sake of religion propaganda and education. There was also a change on the ontological view in puppet. The changes occur due to difference concept of Deity’s thought in Islam and Hinduism. The Islam belief that does not recognize the concept ‘dewa’, it is not eliminating the existence of ‘dewa’ in various puppet stories, but instead desecrated it. ‘Dewa’ no longer considered sacred, perfect and unbeatable, but the god is considered common creatures that could also be defeated and make mistakes.
Metafisika Simbol Keris Jawa Siswanto, Nurhadi
Jurnal Filsafat "WISDOM" Vol 22, No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jf.3104

Abstract

Persoalan esensial dalam pengkajian metafisika simbol didasarkan pada dua pertanyaan pokok yaitu: (1) apakah simbol imanen dalam kemanusiaan saja (hanya berakar dan terbatas dalam roh manusia saja) ataukah simbol juga berakar kepada yang transenden (yang mengatasi manusia dan kehidupannya)?; dan (2)  apakah simbol hanya berdimensi horizontal saja ataukah berdimensi vertikal juga?Penciptaan keris merupakan perpaduan dari keinginan, harapan, tujuan, dan manfaat yang diinginkan dari sang pemesan keris dengan olah rasa, karsa, dan cipta sang empu yang terwujud dalam simbol-simbol pada luk, dhapur, dan pamor keris. Sang empu dalam proses tersebut, masuk dalam dimensi simbol-simbol umum yang berlaku dalam masyarakat Jawa. Keris Jawa bila dianalisis dari sudut metafisika simbol, maka terlihat simbolisasi keris Jawa pada golongan awam (masyarakat umum) lebih bersifat vertikal-transendental; pada golongan khusus (kaum intelek) simbolisasi keris Jawa berdimensi ganda yaitu vertikal-transendental, sekaligus horizontal-imanen; sedangkan pada golongan baru (yang menganggap keris adalah benda seni), simbolisasi keris Jawa lebih berdimensi horizontal-imanen.Kata kunci: keris, simbol, metafisika
Co-Authors -, Elisabeth Adhi Iswantoro Adianto, Asyraf Nur Afanda Dwi Ragil Risnavian Agoes Santoso Aguk Zuhdi Muchamad Fathallah Agus Nugroho, Kusnadi Ahmad Rusdiansyah Alfa Muhammad Megawan Ali Reza, Muhammad Andi Irma Arianty Aris Setya Yuwana Asyraf Nur Adianto Asyraf Nur Adianto Atikah Aghdhi Pratiwi Aydin Doğan Aydin Dogan Bachtiar Rosihan Aghda Baihaqy, Ahmed Raecky Cahyono, Beny Danim Musthofa Defriko Christian Dewandhika Dewi Sartika Dewi Sartika Dharma Gita Surya Prayoga Dimas Fajar Prasetyo Effi Latiffianti Eko Nurmianto Elisabeth - Erwin Widodo Erwin Widodo Fakher Shwan Rafeek Faris Zulfar Rosyadi Faris Zulfar Rosyadi Fathallah, Aguk Zuhdi Muhammad Hafidz Ridho Hari Prastowo Hasan Aji Prawira Hasan Aji Prawira Herawatie, Dyah Imam Trio Utama Iwan Febrianto Jamal Ramadhan Jamal Ramadhan Khoirunnisa Mahdiyah Syawalina Khoirunnisa Mahdiyah Syawalina Lutfianto, Muchammad Alfan M. Badrus Zaman Madina Nur Pratiwi Madina Nur Pratiwi Mar'atus Sholihah Maulin Masyito Putri Muhammad Ali Reza Muhammad Badrus Zaman Muhammad Badrus Zaman Muhammad Naufal Bintang Muhammad Naufal Bintang Muhammad Saifulloh Muhammad Saifulloh Muhammadi, Hamdan Musthofa, Danim Nabila Yuraisyah Salsabila Nabila Yuraisyah Salsabila Nugroho, Dwi Oktavianto Wahyu Oryza Akbar Rochmadhan Oryza Akbar Rochmadhan Prasetyo, Dimas Fajar Prawira, Hasan Aji Prayoga, Dharma Gita Surya Priambodo, Bangkit Nadyo Priyanta, Dwi Priyanta, Dwi Retno Widyaningrum Reza Tianto Ridho, Alvin Ichwannur Rizky Agung Sukandar Rochmadhan, Oryza Akbar Salsabila, Nabila Yuraisyah Semin Semin Semin Semin Semin Semin Semin Semin Septian Cahya Shaneza Fatma Rahmadhanty Shaneza Fatma Rahmadhanty Stefanus Eko Wiratno Sukriyah Kustanti Moerad Sukriyah Kustanti Moerad Syaputra, Oktavian Trika Pitana Widodo , Erwin Wolfgang Busse Wolfgang Busse Yani Dhina Mirenani Yani Dhina Mirenani Zaman, Muhammad Badrus Zulaihan, Ahmad Zya Labiba Zya Labiba