Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

PENURUNAN KONSENTRASI GAS KARBON MONOKSIDA DARI KENDARAAN BERMOTOR MENGGUNAKAN ADSORBEN ZEOLIT ALAM Berlian Sitorus, Dian Rahayu Jati, Lalak Tarbiyatun Nasyin Maleiva,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 4, No 1 (2015): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karbon monoksida (CO) merupakan emisi pencemar paling dominan sebagai hasil pembakaran tidak sempurna dari kendaraan bermotor. Gas ini bersifat racun terhadap darah, sistem pernapasan dan saraf. Penggunaan material mikropori seperti zeolit alam diketahui mampu menurunkan konsentrasi CO. Zeolit yang telah dipreparasi, selanjutnya didealuminasi menggunakan HCl 6M dan dikarakterisasi dengan X-Ray Fluorescence (XRF) dan Gas Sorption Analyzer (GSA) pada zeolit tanpa dan dengan dealuminasi. Pengukuran konsentrasi CO dilakukan dengan pemasangan tabung adsorben tanpa dan dengan dealuminasi pada knalpot motor dengan variasi panjang tabung 5 dan 15 cm. Penurunan konsentrasi CO menggunakan adsorben tanpa dealuminasi dengan panjang tabung 5 dan 15 cm berturut-turut adalah 42,35% dan 57,40% serta menggunakan adsorben dengan dealuminasi berturut-turut adalah 53,83% dan 98,21%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa zeolit dengan dealuminasi mampu mengadsorpsi CO paling optimum dengan panjang tabung 15 cm. Kapasitas adsorpsi zeolit alam menggunakan dealuminasi dihitung berdasarkan isoterm BET yaitu 0,361 dan 0,395 g CO/g.   Kata kunci: adsorpsi, dealuminasi, karbon monoksida, kendaraan bermotor, zeolit alam
SINTESIS MATERIAL KONDUKTIF KOMPOSIT POLIANILIN-SELULOSA DARI TANAH GAMBUT Lia Destiarti, Deka Muthia Adriani, Berlian Sitorus,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 2, No 3 (2013): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada penelitian ini telah dilakukan sintesis material konduktif yang merupakan komposit polimer dari polianilin dan selulosa yang berasal dari tanah gambut. Polianilin (PANI) memiliki sifat fisik yang kaku sehingga dikompositkan dengan selulosa sebagai matriks agar diperoleh polimer yang elastis. Sintesis komposit PANI-selulosa diawali dengan melakukan swelling selulosa menggunakan dimetil sulfoksida. Pada sintesis komposit dilakukan variasi massa anilin yaitu 0,5g, 1g, dan 1,5g. Konduktivitas dan karakter morfologinya ditentukan masing-masing dengan Electrochemical Impedance Spectroscopy (EIS) dan Transmission Electron Microscope (TEM). Berdasarkan hasil pengukuran konduktivitas, komposit PANI-selulosa yang memiliki nilai konduktivitas tertinggi adalah komposit dengan jumlah anilin 1,5 g, yakni 1,57x10-3- 5,32x10-3S/cm. Karakterisasi dengan menggunakan TEM menunjukkan bahwa anilin masuk ke dalam ruang antar struktur selulosa sehingga terlihat selulosa membungkus polianilin. Kata kunci: polimer konduktif, polianilina-selulosa, gambut
KARBON AKTIF DARI LIMBAH CANGKANG SAWIT SEBAGAI ADSORBEN GAS DALAM BIOGAS HASIL FERMENTASI ANAEROBIK SAMPAH ORGANIK Afghani Jayuska, Apria Widyastuti Berlian Sitorus
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 2, No 1 (2013): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karbon aktif yang berasal dari limbah cangkang sawit dapat digunakan untuk penyerapan gas CO2 dan pemurnian biogas. Karbon aktif yang berasal dari cangkang sawit berukuran mikropori agar dapat menyerap gas dengan baik. Hasil karakterisasi menggunakan Gas Sorption Analyzer (GSA) menunjukkan nilai volume total pori, luas permukaan dan rerata jejari pori. Hasil analisis karbon aktivasi kimia memiliki volume pori 0,1304 cc/g, luas permukaaan 208,091 m2/g dan rerata jejari pori 12,531 dan hasil analisis karbon aktif komersial memiliki luas permukaan 666,534 m2/g dengan volume total pori 0,3571 cc/g dan rerata jari pori 10,713 ?. Pada pengukuran gas, karbon aktif cangkang sawit aktivasi kimia memiliki daya serap CO2 sebesar 6,1% dan kadar CH4 yang terukur sebesar 65,5% sedangkan pada karbon aktif komersial daya serap CO2 sebesar 12,97% dan kadar CH4 yang terukur sebesar 70,5%. Perbedaan pengukuran gas CH4 dengan menggunakan adsorben karbon aktif komersial dan karbon aktif cangkang sawit tidak terlalu jauh berbeda. Berdasarkan hasil analisis dengan GSA dan pengukuran gas, maka dapat disimpulkan karbon aktif yang berasal dari cangkang sawit memiliki potensi sebagai adsorben gas dilihat dari meningkatnya kadar CH4 sebelum menggunakan adsorben dan setelah menggunakan adsorben.
SINTESIS KOMPOSIT POLIANILINA-SELULOSA MENGGUNAKAN MATRIKS SELULOSA DARI TANDAN KOSONG SAWIT Harlia, Eko Saputra Berlian Sitorus
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 2, No 1 (2013): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sintesis komposit polianilina-selulosa menggunakan matriks selulosa yang berasal dari tandan kosong sawit telah dilakukan dalam penelitian ini. Jumlah polianilina yang terkomposit pada matriks selulosa dapat ditingkatkan dengan cara memasukkan polianilina ke dalam ruang antar struktur selulosa. Adanya ikatan hidrogen antar struktur selulosa menyebabkan polianilina sulit masuk. Proses swelling dilakukan untuk memperbesar ruang antar struktur selulosa sehingga molekul anilina dapat masuk. Sintesis komposit polianilina-selulosa dilakukan dengan variasi perlakuan awal swelling pada selulosa menggunakan dimetil sulfoksida (DMSO) dan tanpa perlakuan awal swelling pada selulosa. Selain itu, sintesis komposit polianilina-selulosa juga dilakukan dengan variasi massa anilina yaitu 0,5 g, 1 g, dan 1,5 g. Konduktivitas komposit polianilina-selulosa ditentukan dengan menggunakan Electrochemical Impedance Spectroscopy. Berdasarkan hasil pengukuran konduktivitas, komposit polianilina-selulosa yang dihasilkan bersifat semikonduktor. Nilai konduktivitas tertinggi dimiliki oleh komposit dengan variasi jumlah anilina 1,5 g, yakni 1,35 x 10-2 1,54 x 10-2 S/cm untuk komposit yang disintesis tanpa perlakuan awal swelling dan 3,58 x 10-3 3,87 x 10-3 S/cm untuk komposit yang disintesis melalui perlakuan awal swelling. Hasil pengukuran konduktivitas menunjukkan bahwa komposit polianilina-selulosa yang disintesis melalui perlakuan awal swelling memiliki nilai konduktivitas lebih tinggi dibandingkan dengan komposit yang disintesis tanpa melalui perlakuan awal swelling. Kata kunci: komposit, polianilina, selulosa, swelling.
Analisis Morfologi Selulosa Kristalin Serbuk Kayu Belian (Eusideroxylon Zwageri) Jimmy, Jimmy; Malino, Mariana Bara; Sitorus, Berlian
PRISMA FISIKA Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Fisika, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/pf.v2i2.7317

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk menganalisis morfologi selulosa kristalin hasil sintesis dari serbuk gergajikayu belian (Eusideroxylon Zwageri). Selulosa kristalin diperoleh melalui proses ekstraksi, bleaching danhidrolisis. Proses hidrolisis disertai dengan sonifikasi dan sentrifugasi dengan memvariasikan kelajuansentrifugasi adalah untuk mempelajari pengaruh kelajuan sentrifugasi terhadap ukuran kristalin yangterbentuk. Berdasarkan analisis SEM, morfologi selulosa kristalin yang dihasilkan berupa fiber denganukuran partikel rerata adalah 14,27 μm untuk kelajuan sentrifugasi 3.500 rpm dan 13,71 μm untukkelajuan sentrifugasi 4.500 rpm.Kata kunci: Analisis morfologi, Kayu belian, Selulosa kristalin, Sentrifugasi, Sonikasi
BIOAKTIVITAS EKSTRAK BATANG KECOMBRANG (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm.) TERHADAP RAYAP Coptotermes curvignathus. sp Harlia, Berlian Sitorus, Fitri Rislyana,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 4, No 3 (2015): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm.) adalah salah satu tanaman dari famili Zingiberaceae dan merupakan tanaman herba yang digunakan masyarakat sebagai pemberi aroma makanan, dan beberapa penelitian sebelumnya telah mengaplikasikan tanaman kecombrang sebagai anti bakteri dan anti nyamuk. Dalam penelitian ini dilakukan uji potensi biotermitisida dari ekstrak batang kecombrang (E. elatior (Jack) R.M.Sm.) terhadap rayap jenis Coptotermes curvignathus. sp. Penelitian dilakukan dengan cara fraksinasi secara bertingkat menggunakan pelarut etanol, n-heksan dan kloroform, dimana masing-masing fraksi dibuat dalam konsentrasi 0% (kontrol negatif), 2%, 4%, 6%, 8%, 10% dan kontrol positif (fipronil) yang dilakukan selama 7 hari dengan pengulangan sebanyak 3 kali. Tiap kelompok perlakuan berjumlah 50 ekor rayap jenis C. curvignathus.sp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan ekstrak batang kecombrang sebesar 2,15%, terdiri dari 1,06% fraksi etanol; 0,45% fraksi n-heksan dan 0,20% fraksi kloroform. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi kloroform memiliki toksisitas yang tinggi karena dengan konsentrasi minimum 4% mampu mematikan rayap uji 100% pada hari ke-6. Berdasarkan hasil skrining fitokimia, fraksi kloroform mengandung golongan senyawa steroid, alkaloid dan flavonoid yang memiliki bioaktivitas tinggi terhadap rayap. Hal ini membuktikan bahwa ekstrak batang kecombrang (E. elatior (Jack) R.M.Sm.) memiliki sifat biotermitisida terhadap rayap C. curvignathus. sp.   Kata kunci: biotermitisida, kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm.), rayap Coptotermes curvignathus. sp
PEMBUATAN REAKTOR FOTOKATALISDAN APLIKASINYA UNTUK DEGRADASIBAHAN ORGANIK AIR GAMBUT MENGGUNAKAN KATALIS TiO2 Berlian Sitorus, Sony Fajar Jayadi, Lia Destiarti,
Jurnal Kimia Khatulistiwa Vol 3, No 3 (2014): Jurnal Kimia Khatulistiwa
Publisher : Jurnal Kimia Khatulistiwa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk membuat reaktor fotokatalisis tipe batch untuk degradasi bahan organik dalam air gambut dengan menggunakan katalis titanium dioksida (TiO2). Reaktor dirancang dengan bentuk balok yang memiliki luas sisi sebesar 8.006 cm2. Lampu UV A sebanyak 6 buah yang masing-masing mempunyai daya sebesar 10 watt dan flux density sebesar 0,074 watt/cm2.Tabung sampel dapat memuat 1000 mL Larutan. Kecepatan pengadukan yang digunakan adalah sebesar 1200 rpm. Uji kinerja pada reaktor fotokatalis dilakukan dengan variasi waktu degradasi bahan organik dalam air gambut dengan cara mengukur penurunan absorbansi humat dan bilangan permanganat di dalam air gambut. Absorbansi sebelum dan sesudah fotokatalisis ditentukan dengan spektrofotometri UV-Visible dan penentuan bilangan permanganat dilakukan dengan titrasi permanganometri. Proses fotokatalis dalam reaktor batch selama 5 jam mampu mendegradasi bahan organik dalam air gambut. Penurunan terbaik dalam degradasi air gambut dengan pengukuran absorbansi pada proses fotokatalisis TiO2 sebesar 89,4% dan penurunan bilangan permanganat sebesar 83,52%.   Kata kunci : Reaktor fotokatalisis, TiO2, air gambut, bahan organik
Comparative Study of Electricity Generation Fueled by Gasoline, Liquefied Petroleum Gas and Biogas from Municipal Solid Waste Seno Darmawan Panjaitan; Yandri Yandri; Sukandar Sukandar; Berlian Sitorus
International Journal of Electrical and Computer Engineering (IJECE) Vol 3, No 6: December 2013
Publisher : Institute of Advanced Engineering and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.465 KB)

Abstract

This paper presents a comparative study in terms of power quality and fuel consumption in electricity generation using three kinds of fuel: gasoline, liquefied petroleum gas (LPG) and biogas from anaerobic digestion of municipal solid waste. The electrical parameters measured and compared are voltage, current, frequency, active power, apparent power, reactive power, power factor, displacement power factor, current harmonics, voltage harmonics, transient, sags and swell. From the experiment, resistive loads (100 W bulb and 2 x 100 W bulbs) and resistive-inductive load (125 W water pump) were used as loads of generator set. It can be seen that in general, the power quality among those three fuels shows almost the similar performance. The problem on using combustible gases, either LPG or biogas, significantly appears at the frequency with greatly difference to the standard (i.e. 50 Hz).DOI:http://dx.doi.org/10.11591/ijece.v3i6.3942
Migration from Gasoline to Gaseous Fuel for Small-scale Electricity Generation Systems Seno D. Panjaitan; Yandri Yandri; Sukandar Sukandar; Berlian Sitorus
TELKOMNIKA (Telecommunication Computing Electronics and Control) Vol 11, No 1: March 2013
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/telkomnika.v11i1.879

Abstract

This paper describes a study that gives a consideration to change fuel source for electriccity generator from gasoline to combustible gas. A gaseous fuel conversion technology is presented and its performance is compared with gasoline. In the experiment, two types of load were tested, resistive and resistive-inductive. By using both fuels mostly the power factor (Cos φ) of resistive-inductive load variations were greater than 0.8, and they had slight difference on operational voltage. The drawback of using gaseous fuel is the frequency of the electricity might be not reach the standard frequency (i.e. 50 Hz). In the lab scale experiment, the gasoline consumption increased proportionally with the load increase, while using gaseous fuel the consumption of gas equal also increased where the average consumption value is 100 gram per 15 minutes operation for the tested load in the experiment. The main advantage using gaseous fuel (liquefied petroleum gas or biogas) compared to gasoline is a cleaner emitted gas after combustion.
Formal Design and Analysis of a Wastewater Treatment Control System Based on Petri Net Seno D. Panjaitan; Berlian Sitorus
Journal of Engineering and Technological Sciences Vol. 44 No. 1 (2012)
Publisher : Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/itbj.eng.sci.2012.44.1.1

Abstract

This paper proposes a new control design approach for industrial wastewater treatment where its logic control is verifiable. In this research, a treatment control design in a lab-scale was controlled by a microcontroller circuit. The developed system combined anaerobic digestion, aeration and filtration process. Its logic control algorithm was designed by using Signal Interpreted Petri Net. In the logic verification, six analysis properties were satisfied: conflict free (logical process had no conflict behavior), termination (the process could be terminated from any state), non-contradictory outputs, live (any process state could always be reached from other state), deadlock-free, and reversible (the process could always back to initial condition). In the design evaluation, the average value of transparency metrics was 0.984 close to 1 as the best value. The system performance was evaluated by pollutant removal efficiency. The highest removal efficiencies were obtained when each anaerobic and aeration treatment were performed for three days respectively and followed by filtration. Within this condition, the system obtained average removal efficiency 91.7% of Chemical Oxygen Demand and 95.4% of Total Suspended Solids. In terms of electricity consumption, the system needed only 1,857.6 Watt-hour for a batch treatment process.