Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Diurnal Patterns of Testosterone and Cortisol Metabolites in Fecal of Javan Gibbons (Hylobates moloch) in Captivity PUDJI ASTUTI; TUTY LASWARDI YUSUF; ERIC HAYES; HERA MAHESHWARI; LUTHFIRALDA SJAHFIRDI; DONDIN SAJUTHI
HAYATI Journal of Biosciences Vol. 13 No. 2 (2006): June 2006
Publisher : Bogor Agricultural University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (78.12 KB) | DOI: 10.4308/hjb.13.2.69

Abstract

The aims of this research were to determine diurnal patterns of testosterone and cortisol metabolites to predict the testis functional status. In this study, fecal testosterone and cortisol were quantified in 77 samples from three male Hylobates moloch during a course of three months period. These data showed that the highest concentration of fecal testosterone occured at 18.00-06.00 (23.61 ng/g dried feces), then declined gradually. The lowest concentration was in the evening (5.54 ng/g dried feces). Our tests showed that there was a decrease in the mean testosterone concentration from 06.00-10.00 to 10.00-14.00 to 14.00-18.00. For cortisol, the highest concentration occured at 06.00-10.00 (597.84 ng/g dried feces), then decline gradually in the evening (225.73 ng/g dried feces). Key words: Hylobates moloch, feces, testosterone, cortisol, diurnal pattern
Fecal Steroid Profile of Female Javan Gibbons (Hylobates moloch) Maintained in Pairing-Typed Cage Hera Maheshwari; Luthfiralda Sjahfirdi; Pudji Astuti; Bambang Purwantara; Hadi Sukardi Alikodra; Dondin Sajuthi; Reviany Widjajakusuma
HAYATI Journal of Biosciences Vol. 17 No. 1 (2010): March 2010
Publisher : Bogor Agricultural University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.43 KB) | DOI: 10.4308/hjb.17.1.43

Abstract

Estrone conjugate (E1C) and pregnanediol glucuronide (PdG) were predominant steroid metabolites of estrogen and progesterone in feces of most primates and could be used to evaluate ovarian function. These metabolites were determined along with records of genital swelling throughout 3-4 months period from three female Javan Gibbons (Hylobates moloch) maintained in pairing-typed cage at Schmutzer Primate Center, Jakarta (Ullah) and at Taman Margasatwa Taman Sari, Bandung (Donna and Citah). Following methanolic extraction of lyophilized fecal powder, samples were analyzed using enzyme linked immunosorbent assay (ELISA) for E1C and PdG.  In all of the three females observed, both hormone profiles did not indicate any regular cycle of ovarian function even though genital swellings were sometimes observed. In one female (Donna) the hormone patterns showed clear signs of cycle irregularities with extended luteal phase of 40 days and erratic pattern of follicular phase. Of the other two females, no ovarian cycle was found. The data indicate that the fecal steroids analysis is a practical and valuable diagnostic tool for providing reliable information on ovarian function in Javan Gibbon. Factors affected reproductive hormonal profile should be taken in consideration in trying to achieve success in captive breeding program for this species.
FECAL STEROID PROFILE AND GENITAL SWELLING OF FEMALE JAVAN GIBBONS (Hylobates moloch Audebert 1797) MAINTAINED IN INDIVIDUAL CAGE Hera Maheshwari; Luthfiralda Sjahfirdi; Pudji Astuti; Bambang Purwantara; Hadi Sukadi Alikodra; Dondin Sajuthi; Reviany Widjajakusuma; Mozes R. Tolihere
Media Konservasi Vol 12 No 1 (2007): Media Konservasi
Publisher : Department of Forest Resources Conservation and Ecotourism - IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.389 KB) | DOI: 10.29244/medkon.12.1.%p

Abstract

Pengukuran estron terkonjugasi (E1C) dan pregnanediol glucuronat (PdG) di feses dilakukan pada tiga ekor Owa Jawa (Hylobates moloch AUDEBERT 1797) betina untuk mengevaluasi fungsi ovarium ketiga owa tersebut yang masing-masing dipelihara di kandang individu di Pusat Studi Satwa Primata IPB dan di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta.. Contoh feses dikoleksi secara regular pada jam 07.00-09.00, 5-7 kali seminggu selama 4-9 bulan. Setelah melalui proses pengeringbekuan, contoh feses diekstraksi menggunakan metanol dan asai E1C dan PdG dilakukan dengan enzyme immunoassay (EIA). Profil hormon yang diperoleh menggambarkan adanya satu betina yang bersiklus dengan panjang siklus 21-25 hari. Lama fase folikular yang diperoleh pada betina tersebut bervariasi antara 11-18 hari, dan fase luteal yang relative konstan dengan lama 8-12 hari. Akan halnya dua betina yang lain, tidak diperoleh adanya gambaran pola yang menunjukkan siklus ovarium yang regular. Pembengkakan organ kelamin luar yang berfluktuasi juga hanya teramati pada betina yang bersiklus dengan lama pembengkakan 3-5 hari, dan perdarahan menstruasi terjadi selama 2-3 hari. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pengukuran steroid di feses merupakan suatu metoda nonivasif yang dapat diterapkan untuk mengevaluasi fungsi ovarium Owa Jawa. Keadaan fisiologis dari individual betina mungkin menjadi bahan pertimbangan lain dibandingkan tipe perkandangan sebagai faktor yang mempengaruhi profil hormonal.Kata kunci: Owa Jawa, steroid di feses, pembengkakan organ kelamin luar
Pengaruh Kondisi Vasektomi pada Perilaku Reproduksi Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia, Bogor Hana Nabilah; Luthfiralda Sjahfirdi; Wendi Prameswari
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI SAINS DAN TEKNOLOGI Vol 4, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/sst.v4i3.282

Abstract

Abstrak - Telah dilakukan pengamatan perilaku reproduksi moyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) yang telah disterilkan dengan metode vasektomi. Tujuan penelitian adalah mengamati pengaruh vasektomi monyet ekor panjang terhadap perilaku reproduksinya. Pengamatan dilakukan pada tiga ekor monyet ekor panjang jantan (Jantan1, Jantan2, dan Jantan3) yang dikandangkan bersama dua ekor monyet ekor panjang betina (Betina1 dan Betina2) dengan metode scan sampling dan ad libitum dengan interval waktu 5 menit tanpa jeda. Pengamatan dilakukan dari pukul 08.00-15.00 WIB selama 14 hari di bulan Agustus 2016, serta dengan total titik sampel yang diperoleh adalah 1008. Hasil pengamatan menunjukkan ketiga jantan masih aktif melakukan perilaku reproduksi, dengan Jantan1 yang merupakan jantan dominan dalam kelompok yang lebih mendominasi betina dibanding Jantan2 dan Jantan3, dibuktikan dengan nilai MM (Male Mounts) terhadap betina yaitu Jantan1 sebanyak 111 kali, Jantan2 sebanyak 10 kali dan Jantan3 sebanyak 21 kali. Perilaku reproduksi pada ketiga jantan masih ditemukan karena metode vasektomi tidak merusak proses spermatogenesis sehingga sistem hormonal hewan tidak terganggu. Terdapat perbedaan frekuensi perilaku reproduksi jantan terhadap Betina1 dan Betina2. Hal tersebut dikarenakan preferensi jantan dalam kelompok yang lebih memilih untuk kawin dengan Betina1 daripada Betina2, yang dibuktikan dengan nilai FRS (Female Refuses Sex) dari Betina1 terhadap jantan sebanyak 111 kali sementara Betina2 sebanyak 7 kali. Diduga Betina1 merupakan betina dominan dengan kadar hormon estrogen yang lebih tinggi daripada Betina2.Kata Kunci - Macaca fascicularis, Rehabilitasi, Perilaku Reproduksi, VasektomiAbstract - A study of reproductive behavior has been conducted on long tail macaques (Macaca fascicularis) which have been sterilized by a vasectomy method at Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Bogor. The purpose of the study is to observe the influence of vasectomy to reproductive behavior of those animals. Observation was conducted on 3 (three) male macaques (the code names are: Jantan1, Jantan2 and Jantan3) which were captive-housed with 2 other female macaques (the code names are: Betina1 and Betina2). The method of observation is a combination of scan sampling and ad libitum methods with 5 (five) minutes intervals without pause. Daily observation were done from 08:00 am to 03:00 pm for 14 days in August 2016 and brought about 1,008 sample points. Results showed all males still actively performed reproductive behavior with Jantan1 in dominant position to all females compared to other males. Male Mounts (MM) of Jantan1 (111 times) was found higher than other males (Jantan2 10 times and Jantan3 21 times). We resume that reproductive behavior was still found in all males because vasectomy methods did not affect spermatogenesis process therefore the hormonal system remain in normal condition. There are differences in the frequency of males’ reproductive behavior to all females since all males preferring to mate with Betina1 instead of Betina2. The Female Refuse Sex behavior to males was found higher in Betina1 (111 times) than Betina2 (7 times) as Betina1 assumed to be dominant than Betina2.Keywords - Macaca fascicularis, Rehabilitation, Reproductive Behavior, Vasectomy
PEMERIKSAAN PROFIL HORMON PROGESTERON SELAMA SIKLUS ESTRUS TIKUS (Rattus norvegicus) BETINA MENGGUNAKAN PERANGKAT INFRAMERAH Luthfiralda Sjahfirdi; Putri Krida Gita P.; Pudji Astuti; Hera Maheshwari
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 7, No 1 (2013): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (551.153 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v7i1.562

Abstract

Penelitian ini bertujuan memperoleh profil fluktuasi kadar hormon ovari sepanjang siklus estrus. Sampel darah yang berasal dari sepuluh ekor tikus betina diambil selama tiga siklus estrus dan dianalisis menggunakan perangkat inframerah. Kadar progesteron selama tiga siklus memiliki kisaran 6-11 ng/ml pada masa estrus dan meningkat menjadi 32-49 ng/ml pada saat non-estrus.
APLIKASI FOURIER TRANSFORM INFRARED (FTIR) DAN PENGAMATAN PEMBENGKAKAN GENITAL PADA SPESIES PRIMATA, LUTUNG JAWA (Trachypithecus auratus) UNTUK MENDETEKSI MASA SUBUR Luthfiralda Sjahfirdi; Nikki Aldi; Hera Maheshwari; Pudji Astuti
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 9, No 2 (2015): September
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.927 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v9i2.2837

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui gugus fungsi penanda yang merepresentasikaan hormon metabolit E1C dan PdG serta bilangan gelombangnya pada urine yang didukung dengan pengamatan genitalia untuk memastikan pendeteksian masa subur pada lutung jawa (Trachypithecus auratus). Sampel urine dan pengamatan genitalia diperoleh dari 2 (dua) ekor lutung jawa betina di Pusat Primata Schmutzer, Kebun Binatang Ragunan, Jakarta. Sampel urin diambil setiap hari dan dilengkapi dengan pengamatan genitalia. Hasil menunjukkan bahwa gugus fungsi penanda yang merepresentasikan E1C dan PdG pada lutung jawa sama dengan yang teridentifikasi pada tikus namun dengan bilangan gelombang berbeda.  Hormon metabolit E1C direpresentasikan melalui gugus fungsi alkil, aromatik, dan hidroksil pada bilangan gelombang 596 cm-1, 698 cm-1, 3599 cm-1, dan PdG direpresentasikan melalui gugus fungsi alkil dan aldehid pada bilangan gelombang 1450 dan 1699 cm-1. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa gugus fungsi penanda yang teridentifikasi oleh fourier transform infrared (FTIR) dapat berlaku secara universal, namun bilangan gelombang yang merepresentasikannya bersifat spesifik spesies.
Optimalisasi Prinsip-Prinsip Pancasila Untuk Konservasi yang Efektif Sebagai Strategi Mengurangi Kepunahan Spesies dan Mendorong Upaya Pelestarian Alam Hadi, Nestiyanto; Ainy, Noer Sarifah; Sjahfirdi, Luthfiralda; Pudjiastuti, Sri Rahayu; Andayani, Noviar; Islahuddin, Islahuddin
Jurnal Ilmiah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 9, No 2 (2024): Juli 2024
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um019v9i2p201-210

Abstract

-
Perilaku Maternal Dan Kesejahteraan Tapir Asia (Tapirus Indicus) Di Taman Margasatwa Ragunan Sjahfirdi, Luthfiralda; Ananda, Syafira Dwi
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI SAINS DAN TEKNOLOGI Vol 8, No 2 (2023): Mei 2023
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/sst.v8i2.1655

Abstract

The asian tapir (Tapirus indicus) population continues to decline so the IUCN establishes its conservation status as endangered. One of the conservation efforts that can be done is ex-situ in the zoo. The environmental condition of the zoo is different from their natural habitat which results in asian tapirs having to adapt. One form of adaptation is behavior change that can be experienced by female asian tapir. Behavioral changes such as not wanting to breastfeed can threaten the survival of their offspring. This study aims to identify the maternal behavior of asian tapirs through daytime activities, determine the response of its calf, and determine the welfare of asian tapir in Taman Margasatwa Ragunan (TMR). Observations were made on one female asian tapir and one asian tapir calf. The observation was done from 9.00 to 14.00 during August 2022 and uses the focal animal sampling method. The results show that the mother does more self care than maternal care. Maternal behavior that is carried out are nurse and social. The calf responds by sniffing its mother’s stomach to suckle and approach its mother’s body. The five animal welfare points are fulfilled in asian tapir at TMR.Keywords – Asian tapir, Daily behavior, Maternal care, Tapirus indicus
Perilaku Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) Betina pada Kandang Dalam di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Firmanza, Nasya Aqila; Sjahfirdi, Luthfiralda
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI SAINS DAN TEKNOLOGI Vol 8, No 1 (2023): Januari 2023
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/sst.v8i1.1671

Abstract

Gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) adalah satwa yang mempunyai ikatan keluarga yang kuat dan sistem sosial matriarki yang dipimpin oleh gajah betina dewasa dominan. Kondisi dan perilaku gajah di habitat aslinya tentu berbeda dibandingkan di penangkaran seperti kebun binatang. Taman Margasatwa Ragunan (TMR) merupakah salah satu wilayah konservasi ex-situ. Pengamatan perilaku antargajah betina di kawasan ex-situ penting dilakukan karena bertujuan untuk mengamati dan menganalisis interaksi yang ada antargajah betina pada kandang dalam di TMR. Penelitian dilakukan dengan mengamati perilaku individu dan perilaku sosial antarbetina pada tiga individu gajah sumatra betina yang terdiri dari dua ekor gajah dewasa dan satu ekor gajah anakan yang berada bersama di kandang dalam. Metode yang digunakan adalah scan animal sampling. Hasil pengamatan yaitu perilaku individu gajah sumatra betina pada kandang dalam di TMR didominasi oleh perilaku bergerak dan perilaku sosial antargajah sumatra betina didominasi oleh perilaku mengejar gajah lain. Hasil pengamatan perilaku antargajah betina pada setiap individu gajah berbeda dipengaruhi oleh faktor internal gajah dan lingkungan sekitar.Keywords – Elephas maximus, female sumatran elephant, individual behavior, social behavior
Understanding Orangutan Reproduction: Biological Aspects, Climate Change, and Contaminant Exposure Saka, Raisa Tatum; Sjahfirdi, Luthfiralda; Ariantie, Oriza Savitri
Al-Hayat: Journal of Biology and Applied Biology Vol. 8 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ah.v8i1.26876

Abstract

Orangutans are arboreal primates and the only great apes native to Asia. Reproduction is crucial for the survival and long-term viability of orangutan populations. This review explores orangutan reproductive biology, focusing on its key features and the potential influences of environmental change. Orangutan (Pongo spp.) reproduction is marked by delayed sexual maturation, long interbirth intervals, and intensive maternal care, reflecting a slow life history strategy. Male bimaturism produces flanged and unflanged forms, each with different mating strategies shaped by social context. Female strategies, such as mate selection and resistance to coercive mating, play a critical role in reproductive outcomes. Climate change, through shifts in rainfall and temperature, is expected to affect food availability, potentially disrupting reproductive timing and offspring survival. The increasing presence of nanoparticles is also considered an emerging threat, though data specific to primates remains limited. Conservation efforts have focused on habitat protection, conflict mitigation, and ex-situ management, including rehabilitation and management of captive individuals in zoos; however, cryopreservation remains largely unexplored.