Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Determinants of Relapse Among Schizophrenia Patients in West Kalimantan: A Cross-sectional Study Wahyu Kirana; Dewin Safitri; Yunita Dwi Anggreini
Contagion: Scientific Periodical Journal of Public Health and Coastal Health Vol 7, No 3 (2025): CONTAGION
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/contagion.v7i3.26541

Abstract

Relapse can affect functional impairment, rehospitalization, readmission, and long-term disability among schizophrenia patients. Although several factors, such as medication adherence, internalized stigma, and family support, are recognized as determining factors, there is still limited evidence from the Indonesian context, especially in West Kalimantan. This study aimed to evaluate the factors associated with relapse among schizophrenia patients. A quantitative, cross-sectional design was conducted at a mental hospital in West Kalimantan. A total of 63 patients and their families participated in this study, selected using a consecutive sampling technique. The MMAS-8, ISMI-9, and family support questionnaires were used to collect the data; patients completed the MMAS-8 and ISMI-9 questionnaires directly, whereas their&#8194;families completed the family support questionnaire using a Google Form. The patients' medical reports were used to identify the relapse rate. Data were analyzed using Fisher's exact test and multivariate logistic regression.? Fisher's exact test showed that medication adherence was significantly associated with relapse (p = 0.02, p < 0.05), while internalized stigma and family support were not associated (p = 0.21; p = 0.12, p > 0.05). Medication adherence was the strongest factor associated with relapse, with an Adjusted Odds Ratio (AOR) of 2.091. This finding suggests that schizophrenia patients with a low level of medication adherence were over two times more likely to experience a lifetime relapse compared to those with a higher level of medication adherence?Keywords: ?Family Support, Internalized Stigma, Medication Adherence, Relapse, Schizophrenia
PERAN SERTA ORANG TUA DALAM PEMANTAUAN PERKEMBANGAN MENTAL EMOSIONAL ANAK USIA DINI Lintang Sari; Dewin Safitri; Wahyu Kirana; Florensa Florensa; Fajar Yousriatin; Yunita Anggreini
LEMBAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 1 (2025): LEMBAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Panca Marga Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan mental emosional sangat penting bagi perkembangan anak baik untuk masa sekarang maupun masa yang akan datang, sehingga diperlukan perhatian khusus dalam mendeteksi kondisi mental emosional serta faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan masalah perkembangan yang terjadi. Peran orangtua merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap perkembangan mental emosional anak usia dini. Peran serta atau keterlibatan orangtua merupakan faktor yang paling krusial karena orangtua adalah sosok yang menciptakan lingkungan aman dan nyaman serta menumbuhkan rasa sayang dan empati pada anak. Selain itu, orangtua juga mempunyai kewajiban untuk membimbing anak dalam mengenali, memahami dan mengungkapkan emosi yang dirasakan secara benar.Perkembangan mental emosional anak merupakan faktor yang memengaruhi kualitas hidup anak baik di masa kini maupun masa akan datang. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan orangtua terkait pentingnya peran serta orangtua dalam pemantauan perkembangan mental emosional anak usia dini. Pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan metode partisipatif yang terdiri dari sosialisasi, penyuluhan dan edukasi, pendampingan, evaluasi dan umpan balik. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilakukan tanggal 08 Juli 2025 di Posyandu RW 5 wilayah kerja Puskesmas Banjar Serasan, Kecamatan Pontianak Timur, Kalimantan Barat. Setelah diberikan edukasi mengenai pentingnya peran serta orangtua dalam pemantauan perkembangan mental emosional anak usia dini, 80% peserta menyampaikan sudah memahami terkait perkembangan mental emosional anak usia dini. Perkembangan mental emosional setiap anak bervariasi. Masa usia dini merupakan golden age atau masa keemasan dalam hidup seseorang, yang mencakup seluruh aspek perkembangan, diantaranya perkembangan fisik, kognitif, mental, sosial dan emosi. Pada tahap ini, otak anak berada dalam kondisi optimal untuk menyerap dan memproses informasi, sehingga setiap rangsangan atau stimulasi yang diberikan kepada anak akan mempengaruhi hidup mereka di masa akan datang.
OPTIMALISASI PENCEGAHAN STROKE MELALUI SKRINING SKOR RISIKO STROKE DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BANJAR SERASAN PONTIANAK Dewin Safitri; Nurpratiwi Nurpratiwi; Lintang Sari; Wahyu Kirana; Yunita Dwi Anggreini
LEMBAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2026): LEMBAH: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Panca Marga Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemeriksaan skor risiko stroke merupakan Tindakan pencegahan efektif yang secara signifikan dapat mengurangi kejadian dan dampak stroke dengan mengidentifikasi individu berisiko tinggi sejak dini serta memungkinkan intervensi tepat waktu. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan mencegah kejadian stroke dengan cara mengidentifikasi kelompok risiko tinggi stroke melalui skrining skor risiko stroke. Pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan metode penyuluhan yang terdiri dari persiapan, pelaksanaan dan evaluasi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilakukan tanggal 11 Juli 2025 di Posyandu Mawar RW 3 yang termasuk dalam wilayah kerja Puskesmas Banjar Serasan, Kecamatan Pontianak Timur, Kalimantan Barat. Hasil skrining didapatkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan, usia < 60 tahun, mayoritas menderita hipertensi, frekuensi nadi teratur, tidak menderita diabetes melitus dan hiperkolesterol, bukan perokok, kadang-kadang berolahraga, indeks massa tubuh ideal dan tidak mempunyai riwayat keluarga dengan stroke. Dari hasil tersebut, faktor-faktor yang paling signifikan adalah faktor yang dapat dimodifikasi. Selain itu, berdasarkan hasil pemeriksaan, 13 partisipan (65%) termasuk dalam kategori risiko rendah dan 7 partisipan (35%) kategori risiko tinggi. Partisipan yang termasuk dalam kelompok risiko tinggi memerlukan manajemen diri yang baik sehingga pencegahan kejadian stroke dapat dilakukan.
Peningkatan Pengetahuan Perawat tentang Keselamatan Pasien di Fasilitas Layanan Kesehatan Berbasis Video Pembelajaran: Pengabdian Kepada Masyarakat: Penelitian Yunita Dwi Anggreini; Wahyu Kirana; Hendra Priyatnanto; Dewin Safitri
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 4 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 4 April - Juni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i4.5532

Abstract

Kesalahan penggunaan obat tidak hanya terjadi di fasilitas pelayanan kesehatan, tetapi juga di rumah saat pasien atau pengasuh menyiapkan atau mengonsumsi obat. Prevalensi kesalahan pengobatan di rumah yang berakibat fatal berkisar antara 2–33%. Oleh karena itu, perawat memerlukan pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai standar patient safety, baik di rumah maupun di fasilitas kesehatan. Pengetahuan tersebut dapat ditingkatkan melalui pendidikan dan pelatihan dengan media audiovisual. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan perawat tentang keselamatan pasien di fasilitas layanan kesehatan. Metode yang digunakan adalah pendekatan PRA (Participatory Rural Appraisal) berbasis kebutuhan masyarakat, dengan sasaran petugas kesehatan di Puskesmas yang terlibat langsung dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Kegiatan dilaksanakan pada Januari 2026 dan diikuti oleh 30 peserta. Sebelum kegiatan, peserta mengisi kuesioner pretest tentang keselamatan pasien, kemudian mengikuti pembelajaran melalui video dan diskusi selama 30–45 menit, serta dilanjutkan dengan posttest. Data pengetahuan dianalisis secara deskriptif. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa setelah pembelajaran, sebagian besar peserta (80%) memiliki tingkat pengetahuan kategori baik. Dengan demikian, pembelajaran menggunakan video efektif meningkatkan pengetahuan peserta tentang keselamatan pasien.