Claim Missing Document
Check
Articles

PENGARUH APLIKASI PACLOBUTRAZOL DAN MEDIA TANAM HIDROPONIK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KEINDAHAN TANAMAN MIANA (Coleus scutellarioides L.) Anggraini, Auliana; Widiwurjani, Widiwurjani; Suhardjono, Hadi
Jurnal Ilmiah Hijau Cendekia Vol 8 No 1 (2023): Jurnal Ilmiah Hijau Cendekia
Publisher : Universitas Islam Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32503/hijau.v8i1.2919

Abstract

Tanaman miana (Coleus scutellarioides L.) sering juga disebut dengan nama tanaman iler merupakan tanaman hias yang memanfaatkan keindahan daun. Miana termasuk dalam famili Lamiaceae yaitu tumbuhan berbunga yang memiliki ciri khas tersendiri dari masing-masing spesies. Tanaman hias yang baik dapat dinilai dari penampilan fisiknya. Penampilan fisik dengan daun yang kompak seragam dan batang tanaman yang tidak terlalu tinggi dengan pertumbuhan tanaman yang optimal merupakan suatu kriteria keindahan yang diinginkan pada tanaman hias. Aplikasi paclobutrazol bertujuan untuk membantu menekan pertumbuhan tinggi tanaman agar tidak terlalu tinggi. Sedangkan media tanam hidroponik bertujuan untuk membantu memaksimalkan pertumbuhan tanaman miana agar dapat tumbuh optimal dengan media tanam yang ringan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui konsentrasi paclobutrazol dan media tanam hidroponik yang tepat dalam mendapatkan pertumbuhan dan keindahan terbaik pada tanaman miana (Coleus scutellarioides L.). Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret hingga Mei 2022 dilaksanakan di Desa Nyamplung, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi interaksi nyata antara pengaruh aplikasi paclobutrazol dan media tanam hidroponik terhadap pertumbuhan dan keindahan pada tanaman miana (Coleus scutellarioides L.).
Pengaruh Kompos Limbah Baglog Jamur dan Zpt Hormon Organik Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Terong Ungu (Solanum melongena L.) Varietas Mustang F1 Prasetyo, Dina Aulia; Pribadi, Didik Utomo; Suhardjono, Hadi
Jurnal Agroekoteknologi Vol 17, No 1 (2025)
Publisher : Jurusan Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Untirta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33512/jur.agroekotetek.v17i1.31067

Abstract

Terong (Solanum melongena L.) merupakan tanaman sayuran yang cukup dikenal di negara Indonesia. Salah satu faktor yang mempengaruhi rendahnya hasil produksi terong adalah adanya faktor internal dan eksternal dalam pertumbuhan tanaman sehingga untuk mengoptimalkan pertumbuhan tanaman terong dapat dilakukan pemberian pupuk dan zat pengatur tumbuh yang sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan tanaman, salah satunya adalah dengan limbah baglog jamur tiram dan ZPT hormon organik (hormonik). Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh interaksi dan pengaruh utama kompos limbah baglog jamur dengan ZPT hormon organik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman terong (Solanum melongena L.). Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) secara faktorial yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama adalah pemberian kompos limbah baglog jamur (K) yang terdiri dari 3 taraf perlakuan yaitu K0: 275 g/tanaman, K1: 375 g/tanaman, K2: 475 g/tanaman, dan faktor kedua adalah pemberian ZPT Hormonik (H) yang terdiri dari 4 taraf yaitu H1: 3 ml/liter air, H2: 4 ml/liter air, H3: 5 ml/liter air, H4: 6 ml/liter air. Parameter yang diamati yaitu tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai), diameter batang (mm), umur saat muncul bunga (hst), jumlah bunga total per tanaman (bunga), jumlah buah per tanaman (buah), rata-rata panjang buah (cm), rata-rata diameter buah (mm), rata-rata berat buah per tanaman (gram), dan fruit set (%). Data hasil pengamatan dari masing-masing perlakuan dianalisis secara statistik dan dilanjutkan dengan uji lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa interaksi pemberian kompos baglog jamur dan ZPT hormon organik berpengaruh nyata terhadap umur muncul bunga, panjang buah panen ke 1, dan diameter buah panen 1. Pengaruh utama pemberian kompos baglog jamur 375 gr/tanaman merupakan dosis yang dapat memberikan hasil yang berbeda nyata terhadap parameter pertumbuhan dan hasil seperti: tinggi tanaman umur 14-35 HST (hari setelah transplanting), jumlah daun umur 14 dan 28 HST, dan berat buah panen ke 1 sedangkan pengaruh utama pemberian ZPT hormon organik 5 ml/l air dapat memberikan hasil yang berbeda nyata terhadap parameter panjang buah panen ke 1 sebesar 15,86 cm.
Pengaruh Defoliasi Daun dan Subtitusi Pupuk NPK Phonska dengan Guano terhadap Produksi Jagung (Zea mays L.) Novitasari, Vrida; Soedjarwo, Djarwatiningsih Poengky; Suhardjono, Hadi
BIOEDUSCIENCE Vol 9 No 2 (2025): BIOEDUSCIENCE
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/jbes/16135

Abstract

Background: Corn (Zea mays L.) is the most essential food commodity after rice and a secondary crop. The demand for Corn in Indonesia is currently relatively high, yet its production has been declining. To increase Corn production, improvements in cultivation techniques are necessary. One such method is optimizing assimilate distribution through leaf defoliation, as well as creating optimal growing conditions through fertilization. Fertilization should be balanced by using both inorganic and organic fertilizers. In this study, NPK Phonska and Guano fertilizers were used. Methods: This study employed a factorial randomized complete block design (RCBD) with two factors. The first factor was the level of leaf defoliation below the cob, consisting of three levels: no defoliation (D1), defoliation leaving three leaves (D2), and defoliation leaving two leaves (D3). The second factor was the substitution of NPK Phonska and guano fertilizers with five levels: 100% NPK Phonska (P1), 75% NPK Phonska + 25% Guano (P2), 50% NPK Phonska + 50% Guano (P3), 25% NPK Phonska + 75% Guano (P4), and 100% Guano (P5). Results: The study's results showed that defoliation, leaving two leaves below the cob, combined with the application of 7 tons/ha of guano fertilizer without the addition of NPK, increased cob weight, cob length, and dry kernel weight per plant. Additionally, the independent application of 7 tons/ha of guano fertilizer without NPK Phonska significantly increased cob diameter. Conclusions: The combination treatment of defoliation, leaving two leaves below the cob, and the application of 7 tons/ha of guano fertilizer without the addition of NPK had the most favorable effect on Corn production.
PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN BAYAM MERAH (Amaranthus tricolor L.) PADA SISTEM AEROPONIK DENGAN PERLAKUAN ARAH PENANAMAN DAN JUMLAH TANAMAN/LUBANG Firmansyah, Muhammad Farhan; Suhardjono, Hadi; Suryandika, Fadila
Agrika Vol. 19 No. 1 (2025): MEI 2025
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v19i1.6712

Abstract

Bayam merah adalah sayuran populer di Indonesia terutama di perkotaan, tetapi keterbatasan lahan akibat urbanisasi menjadi tantangan. Sistem aeroponik vertikal heksagonal memiliki struktur seperti tower berbentuk segi enam yang dapat meningkatkan produksi di lahan sempit. Kelemahannya adalah struktur tersebut mengakibatkan distribusi cahaya kurang merata. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi apakah terdapat pengaruh arah penanaman serta menentukan populasi tanam optimal untuk meningkatkan produksi bayam merah. Penelitian dilakukan dengan percobaan faktorial menggunakan metode rancangan petak terbagi (RPT) dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama (main plot) adalah arah penanaman yang terdiri atas 6 taraf yaitu A1 (Timur), A2 (Timur Laut), A3 (Barat Laut), A4 (Barat), A5 (Barat Daya), A6 (Tenggara). Faktor kedua (sub plot) adalah jumlah populasi/lubang tanam yang terdiri atas 3 taraf yaitu P1 (2 tanaman/lubang) P2 (4 tanaman/lubang), dan P3 (6 tanaman/lubang). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kombinasi perlakuan A1P2 (Timur dan 4 tanaman/lubang) menghasilkan total berat segar/lubang terberat, sementara A1P1 (Timur dan 2 tanaman/lubang) memberikan hasil terbaik untuk jumlah daun, panjang akar, rata-rata berat segar, dan berat kering.  
Pengaruh Dosis Dan Frekuensi Pemberian Bio-Slurry Kotoran Kambing Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Tomat Nur Vita Sari, Intan; Kusumaningrum, RA Nora Augustien; Suhardjono, Hadi
Agrium Vol 20 No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/agrium.v20i1.10664

Abstract

Tanaman tomat memiliki potensi dan manfaat untuk dikembangkan. Upaya peningkatan produksi tomat perlu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pasar. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan pemberian pupuk organik secara efektif sebagai penyediaan unsur hara tanaman tomat. Penelitian bertujuan menggali informasi dosis dan frekuensi pemberian bio slurry kotoran kambing hasil fermentasi Mol Trichoderma sp. yang efektif untuk pertumbuhan dan produksi tanaman tomat. Penelitian bertempat di lahan Dusun Gandu, Desa Mlaras, Sumobito, Jombang bulan Februari sampai bulan Mei 2022. Rancangan percobaan dalam penelitian adalah RAL faktorial dua faktor, yaitu dosis bio slurry kotoran kambing dan frekuensi pemberian bio slurry kotoran kambing yang dikombinasikan menjadi 16 dan diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi dosis dan frekuensi pemberian memiliki interaksi terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, umur muncul bunga, jumlah total bunga, dan diameter buah. Perlakuan dosis dan frekuensi pemberian secara faktor tunggal masing-masing memberikan pengaruh nyata pada parameter hasil tanaman tomat. Kombinasi perlakuan dosis 75 ml/liter air dan 4x frekuensi pemberian bio slurry kotoran kambing hasil fermentasi Mol Trichoderma sp. memberikan pertumbuhan dan hasil terbaik.
PENINGKATAN PERTUMBUHAN DAN HASIL PADI BERAS MERAH (Oryza nivara) MELALUI PENAMBAHAN PUPUK NANOSILIKA PADA SISTEM ROOFTOP FARMING Putri, Olivia Damayanti; Sutini, Sutini; Suhardjono, Hadi
Jurnal Agroqua: Media Informasi Agronomi dan Budidaya Perairan Vol 21 No 2 (2023): Jurnal Agroqua
Publisher : University of Prof. Dr. Hazairin, SH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32663/ja.v21i2.4058

Abstract

One type of rice that is rich in potential nutritional content is brown rice, but the production of this type of rice is still far behind compared to other types of rice. Therefore, special efforts are needed to support production, one of which is through the use of superior varieties accompanied by the fulfillment of the right nutrients, especially the Si nutrient. This research aims to determine the effect of adding nanosilica on the growth and yield of red rice. This research used a factorial randomized block design consisting of 2 factors, namely variety (consisting of two levels V1 = Pamera, V2 = Pamelen) and nanosilica concentration (consisting of five levels S0: 0 mL L-1 (control); S1: 7, 5 mL L-1; S2: 10 mL L-1; S3: 12.5 mL L-1; S4: 15 mL L-1.). The results of the research concluded that applying nanosilica colloid to the Pamera and Pamelen varieties at a concentration of 15 mL L-1 was able to increase plant length and number of tillers, as well as speeding up the flowering age of red rice. However, giving nanosilica had no effect on harvest age and yield components.
Teknologi Budidaya Jamur Tiram dan Ikan Air Tawar Secara Terpadu di RW 03 Desa Kaliombo, Kec. Kota Tengah, Kediri Santoso, Juli; Soedjarwo, Djarwatiningsih Pongki; Sulistyono, Agus; Suhardjono, Hadi
Jurnal Aplikasi Sains dan Teknologi : Agrisevika Vol. 1 No. 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/agrisevika.v1i1.2

Abstract

Teknologi budidaya Jamur Tiram dan Ikan Lele secara terpadu merupakan peluang usaha alternatif lainnya yang dapat memberikan tambahan penghasilan dan kesejahteraan bagi masyarakat. Melalui kelompok-kelompok PKK RW 03 yang memiliki potensi sumberdaya dalam meningkatkan kemandirian dan memperoleh pendapatan tambahan. Metode yang diterapkan adalah percontohan, percobaan dan pendampingan, yaitu dengan cara memberikan contoh yang riil tentang prospek dan manfaat dalam budidaya jamur tiram dan ikan lele dengan menggunakan metode integrated farming yang berkelanjutan dengan memanfaatkan segala potensi lokal. Pendampingan Budidaya Terpadu Jamur Tiram Putih dan Ikan Lele, meliputi: pemeliharaan log jamur dan ikan lele, panen dan pasca panen, analisa usaha tani, membuat olahan jamur dan ikan lele menjadi produk home industry, serta pendampingan pemasaran dalam bentuk mentah dan olahan. Luaran program pendampingan berupa produk jamur tiram putih baik dalam bentuk segar maupun olahan, serta hasil sampingan berupa ikan lele.
Edukasi dan Implementasi Pemanfaatan Urine Sapi Terfermentasi untuk Produksi Pupuk Cair Mandiri di Tingkat Peternak Desa Pelem – Kertosono Santoso, Juli; Suhardjono, Hadi; Koentjoro , Yonny; Sutini
Jurnal Aplikasi Sains dan Teknologi : Agrisevika Vol. 2 No. 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/agrisevika.v2i1.16

Abstract

Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mengedukasi dan mengimplementasikan pemanfaatan urine sapi terfermentasi sebagai pupuk cair mandiri di tingkat peternak, khususnya di Desa Pelem, Kertosono. Selama ini, urine sapi seringkali menjadi limbah yang kurang termanfaatkan dan berpotensi mencemari lingkungan.  Padahal, urine sapi memiliki kandungan nutrisi yang tinggi, seperti nitrogen, fosfor, dan kalium, yang sangat baik untuk pertumbuhan tanaman.  Metode yang digunakan dalam pengabdian ini meliputi sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan langsung kepada peternak mengenai teknik fermentasi urine sapi menggunakan bahan-bahan lokal yang mudah didapatkan.  Hasil dari kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dan keterampilan peternak dalam mengolah urine sapi menjadi pupuk cair organik berkualitas.  Dengan kemampuan memproduksi pupuk cair secara mandiri, peternak dan petani di Desa Pelem diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia yang mahal, meningkatkan kesuburan tanah, serta mencapai pertanian yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.
PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN SELADA (Lactuca sativa L.) DENGAN SISTEM AEROPONIK VERTIKAL HEKSAGONAL PADA BERBAGAI INTERVAL WAKTU PENYIRAMAN Wibisono, Ari; Suhardjono, Hadi; Suryandika, Fadila
Agrika Vol. 19 No. 2 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v19i2.6808

Abstract

Aeroponik merupakan salah satu teknologi pada budidaya  secara urban farming. Tanaman selada (Lactuca sativa L.) merupakan salah satu jenis tanaman sayuran yang sangat cocok dibudidayakan menggunakan sistem aeroponik. Sistem aeroponik yang tepat juga dapat mendukung pertumbuhan dan hasil tanaman selada. Sistem aeroponik juga memiliki faktor penting yaitu interval waktu penyemprotan. Pada tanaman selada, interval waktu penyemprotan yang jaraknya terlalu singkat dapat menyebabkan akar tanaman menjadi busuk karena terkena larutan nutrisi dalam waktu yang lama. Sebaliknya, interval waktu penyemprotan yang jaraknya terlalu lama dapat menyebabkan tanaman kekurangan air dan nutrisi, sehingga pertumbuhannya terhambat. Oleh karena itu penelitian yang mengkaji interval waktu penyemprotan pada model instalasi aeroponik vertikal heksagonal perlu dilakukan. Penelitian dilaksanakan di Greenhouse Fakultas Pertanian UPN “Veteran” Jawa Timur, Kecamatan Gunung Anyar, Kota Surabaya. Perlakuan diaplikasin menggunakan pompa yang diatur interval waktu semprotnya. Waktu penyemprotan terdiri dari 3 macam waktu yaitu I1: menyala selama 24 jam (non Stop); I2: 5 menit menyala (on), 5 menit mati (off); I3: 5 menit menyala (on), 10 menit mati (off). Hasil penelitian menunjukkan Perlakuan interval waktu penyemprotan berpengaruh nyata pada beberapa parameter antara lain jumlah daun, berat segar dan berat kering. Interval waktu penyemprotan I2 (5 menit menyala (on); 5 menit mati (off)) memiliki nilai tertinggi pada jumlah daun, berat segar dan berat kering, tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan I1 (menyala selama 24 jam (non stop)). Interval waktu penyemprotan I2 (5 menit menyala (on); 5 menit mati (off)) menjadi interval waktu penyemprotan terbaik pada budidaya selada dengan sistem aeroponik vertikal heksagonal.
Optimization of Cultivation Settings of Chlorella Grown in Indoor Photobioreactor and Assessment as Superfood Talitha Maritza Putri Tara; Hadi Suhardjono; Saefur Rohman
AGRORADIX : Jurnal Ilmu Pertanian Vol 9 No 1 (2025): Agustus-Desember 2025
Publisher : Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Islam Darul 'Ulum (UNISDA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52166/agroteknologi.v9i1.10667

Abstract

Microalgae are microorganisms with great potential as a superfood. Microalgae can serve as an alternative food source. One of their ecosystems is freshwater, where they can be cultivated on a small scale using indoor farming systems, especially in urban areas. This is because microalgae can live anywhere as long as their growth factors are fulfilled. This becomes a bright spot for agriculture in Indonesia, where land is becoming increasingly limited, causing millennial farmers to struggle with conventional cultivation. Therefore, indoor farming systems with IoT can become an alternative solution that supports food security and more effective microalgae cultivation. Microalgae are photosynthetic unicellular organisms influenced by several factors, including pH and light intensity. pH plays an important role in enzyme activity and nutrient availability, while light intensity affects biomass, cell density, and nutritional content. Both factors are crucial in determining biomass, cell density and protein content. However, studies on the combined effect of pH and light intensity on protein content in microalgae are still limited. Thus, this research aims to investigate the influence of pH and light intensity on protein content in an indoor farming system with IoT. The findings are expected to contribute valuable knowledge about optimal pH and light conditions for maximizing protein content in microalgae cultivation as a superfood. Then, according to the result, the combined interaction is 7 pH and 3000 lux light intensity is the optimal for cultivation of microalgae, which is much higher than other combines.