Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : agriTECH

Karakteristik Fermentatif Medium deMann Rogosa Sharpe (MRS) Antosianin Beras Ketan Hitam (Oryza sativa var. glutinosa) Menggunakan Pediococcus pentosaceus N11.16 Nanik Suhartatik; Merkuria Karyantina; Muhammad Nur Cahyanto; Sri Raharjo; Endang Sutriswati Rahayu
agriTECH Vol 34, No 3 (2014)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.746 KB) | DOI: 10.22146/agritech.9457

Abstract

Anthocyanin was a bioactive compound which has an anti-infl ammatory effect, anticancer, antimutagen, antioxidant, anticholesterol, and also acts as therapheutic agent for artherioschlerosis. Initial step for anthocyanin metabolism was hydrolyzed to anthocyanidin (aglikon) by β-D-glucosidase. Pediococcus pentosaceus N11.16 is known to be one of bacteria which has a capability to hydrolyze black glutinous rice anthocyanin extract. The aims of this research were to study the fermentative characteristics of MRS containing black glutinous rice anthocyanin medium (MRSm+Anthocyanin) using lactic acid bacteria P. pentosaceus N11.16. The results showed that P. pentosaceus N11.16 could grew well in this medium. Total acid producing bacteria increased untill 2 log cycle with antioxidant activity (%RSA) 75% and the Fe 3+ ion reducing capacity 36.75%. Phenolic compound in the MRSm+ anthocyanin was 584.05 mg asam galat/100 mL after being fermented for 16 hours. Phenolic compound in MRSm+anthocyanin medium were higher than MRSm or control medium (MRS). Beta glucosidase activities of the bacterial cell tend to be higher in the MRS anthocyanin medium than MRS without sugar and control medium.ABSTRAKLangkah awal dalam metabolisme antosianin, komponen bioaktif utama yang terdapat dalam beras ketan hitam, adalah hidrolisis menjadi antosianidin (aglikon) dengan memanfaatkan enzim β,D-glukosidase. Pediococcus pentosaceus N11.16 merupakan salah satu bakteri yang telah diisolasi dan teruji kemampuannya untuk menghidrolisis antosianin beras ketan hitam. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik fermentatif medium fermentasi yang mengandung antosianin beras ketan hitam menggunakan bakteri asam laktat P. pentosaceus N11.16. Penelitian dilakukan dengan cara menguji kemampuan tumbuh isolat dalam medium MRS yang dimodifi kasi (MRSm) dengan penambahan antosianin beras ketan hitam. Hasil menunjukkan bahwa bakteri P. pentosaceus N11.16 mampu tumbuh dengan baik dalam medium MRS yang mengandung antosianin beras ketan hitam. Kenaikan mencapai 2 log cycle dengan aktivitas antioksidan (%RSA) mencapai 75% dan kemampuan menangkap logam mencapai 36,75%. Total fenol medium MRSm+antosianin mencapai 584,05 mg asam galat/100 mL medium setelah 16 jam fermentasi. Total fenol medium MRSm+antosianin cenderung lebih tinggi daripada MRSm atau kontrol (MRS). Aktivitas enzim β glukosidase sel bakteri cenderung lebih tinggi pada medium MRSm+antosianin daripada MRSm atau kontrol (MRS).
Stabilitas Ekstrak Antosianin Beras Ketan (Oryza sativa var. glutinosa) Hitam selama Proses Pemanasan dan Penyimpanan Nanik Suhartatik; Merkuria Karyantina; Akhmad Mustofa; Muhammad Nur Cahyanto; Sri Raharjo; Endang Sutriswati Rahayu
agriTECH Vol 33, No 4 (2013)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.062 KB) | DOI: 10.22146/agritech.9533

Abstract

anthocyanin pigments are responsible for the red, blue, and purple colour in crop produces such as fruits, vegetables, rice, and flowers. This bioactive compound has been developed for natural colorants in food products, especially functional foods. The aims of this research were to study the stability of anthocyanin and its colour during heating in various temperatures and during storage under different conditions. The results showed that the higher the heating temperature and the longer the heating time, the higher degradation of anthocyanin. Except for anthocyanin extract heated below 50 c for not more than 15 min, it has increased the anthocyanin stability. antioxidant activities (% RSa, radical scavenging activity and fRaP value, Ferrous Radical Activity Power) decreased after the extract were heated at 70c. Extracts stored at room temperature with neutral solution (pH 7.0) have decreased their level of anthocyanin from 25 to 1.87 mg/100 mL. Storage at low temperature had not reduced significantly their anthocyanin concentration. ABSTRAKAntosianin sebagai senyawa yang menyebabkan timbulnya warna merah, biru, dan ungu pada padi, buah, sayuran, dan produk hortikultura lainnya, sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan pewarna alami pada produk pangan fungsional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari stabilitas dan warna ekstrak antosianin dari beras ketan hitam selama proses pemanasan dan penyimpanan. Hasil menunjukkan bahwa semakin tinggi suhu pemanasan dan semakin lama waktu pemanasan, menyebabkan kerusakan antosianin semakin banyak. Kecuali pada pemanasan <50 c tidak lebih dari 15 menit yang dapat meningkatkan kestabilan antosianin. aktivitas antioksidan (% RSa, radical scavenging activity dan nilai fRaP, Ferrous radical Activity Power) mengalami penurunan setelah dipanaskan pada suhu 70 oc. Penyimpanan pada suhu kamar dan pH 7,0 dapat menurunkan kadar antosianin ekstrak dari 25 menjadi 1,87 mg/100 mL. Sedangkan penyimpanan pada suhu rendah tidak menyebabkan perubahan kadar antosianin yang berarti.
Kombucha Rosella (Hibiscus sabdariffa Linn) dan Kemampuannya sebagai Antihiperkolesterolemia Nanik Suhartatik; Merkuria Karyantina; Indrias Tri Purwanti
agriTECH Vol 29, No 1 (2009)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (483.185 KB) | DOI: 10.22146/agritech.9758

Abstract

We know that there is another tea extract, e.i from calyx of roselle flower (Hibiscus sabdariffa Linn). This kind of tea could be made became kombucha by ferment roselle extract using microbe in the fermentation of kombucha. This mi­ crobe grown in roselle extract as a medium with variety of roselle concentration (30; 40; 50 grams of dried roselle/L). During the fermentation process, roselle kombucha was analyzed for pH value, total acid, antioxidant activity at 0, 1, 3, 5, 7, 10 days of fermentation. Roselle kombucha analyze for reducing blood cholesterol in male Sprague Dawley mice. Antioxidant activity of roselle kombucha was decline during fermentation process but not significant. Since the capa­ bility of kombucha for reducing cholesterol depend of fermentation process, so condition process that has been choose for the next trial was 3 days of fermentation and 40 g/L of dried roselle extract. Total acid of roselle kombucha increase during fermentation process and the pH value decline drasticly. Cholesterol could be reduced during consumpstion of kombucha (49 %) and roselle kombucha (56 %). Meanwhile, HDL level for placebo treatment were 52 mg/dL and could reach 76 mg/dL for kombucha administration and 77 mg/dL for roselle one. At the end of treatment, LDL level decline until 24 mg/dL for kombucha treatment and 10 mg/dL for roselle kombucha.ABSTRAKKita mengenal adanya teh yang diekstrak dari kelopak bunga rosella (Hibiscus sabdariffa Linn). Teh jenis ini dapat dibuat menjadi kombucha dengan cara memfermentasikan ekstrak rosella menggunakan peran mikrobia dalam fer­ mentasi kombucha. Mikrobia dalam fermentasi kombucha ini ditumbuhkan dalam ekstrak rosella sebagai medium per­ tumbuhan dengan variasi konsentrasi rosella (30, 40, 50 gram rosella kering/L). Selama proses fermentasi, kombucha rosella dianalisis pH, total asam, dan aktivitas antioksidan pada 0, 1, 3, 5, 7, 10 hari fermentasi. Kombucha yang mem­ punyai aktivitas antioksidan tinggi kemudian dianalisis kemampuannya dalam menurunkan kolesterol dalam darah menggunakan tikus Sprague Dawley jantan. Aktivitas antioksidan kombucha rosella cenderung turun selama proses fermentasi, akan tetapi penurunan ini tidak signifikan. Karena kemampuan kombucha dalam menurunkan kolesterol darah tergantung pada proses fermentasi, maka kondisi proses yang dipilih untuk uji selanjutnya adalah fermntasi selama 3 hari dengan konsentrasi rosella kering adalah 40 g/L. total asam kombucha rosella cenderung meningkat selama proses fermentasi dan pH turun dengan drastic. Kolesterol dapat turun setelah mengkonsumsi kombucha (49 %) dan pada perlakuan kombucha rosella akan mengalami penurunan sebanyak 56 %. Sementara itu, HDL untuk perlakuan placebo adalah 52 mg/dL dan dapat mencapai 76 mg/dL setelah mengkonsumsi kombucha dan mencapai 77 mg/dL untuk komsumsi kombucha rosella. Pada akhir fermentasi, LDL turun hingga 24 mg/dL untuk kombucha dan 10 mg/dL untuk kombucha rosella.
Stabilitas Minuman Isotonik Antosianin Beras Ketan Hitam dengan Senyawa Kopigmentasi Ekstrak Bunga Belimbing (Averrhoa Carambola) Nanik Suhartatik; Akhmad Mustofa
agriTECH Vol 38, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.668 KB) | DOI: 10.22146/agritech.15395

Abstract

Anthocyanin is a bioactive component which give basic color of red, purple, and blue to blackish foodstuffs. So, the anthocyanin could be developed as a natural pigment in foodstuffs, but it is unstable. Several studies have been conducted to improve its stability in the food system. The purpose of this study was to analyze the stability of anthocyanin in isotonic beverages as food system with the addition of copigmentation compound derived from star fruit flower extract. The stability of the isotonic beverage was tested at some heating temperatures and storage periods. Isotonic drink were formulated using anthocyanin extracted from glutinous rice flour. Isotonic beverages consist of sucrose, fructose, sodium benzoate, citric acid, KCl, and K2PO4 which were regulated containing anthocyanin equivalent to 25 mg/L. Added ingredients to increase the stability of anthocyanin in isotonic drinks was 5% star-fruit flower extract. During storage, the phenolic content, anthocyanin, and antioxidant activity of isotonic beverages were observed. The results showed that heating process declined the anthocyanin content significantly, from 25 mg/L to 2.82 mg/L. Decreased level of anthocyanin also occurred during storage. Heating at 50, 65, and 70 °C gave no significant difference of phenol content. Similar to its ability to capture DPPH radicals (% RSA DPPH, radical scavenging activity 2.2-diphenyl-1-picrylhydrazyl). Increasing the temperature from 50 to 70 °C would increase the stability of anthocyanin, total phenolic, and also the antioxidant activity. Meanwhile, storage would decrease the anthocyanin content but increase the phenolic content and the antioxidant activity. ABSTRAKAntosianin merupakan komponen bioaktif dan warna dasar bahan makanan yang berwarna merah, ungu, biru hingga kehitaman. Antosianin berpotensi dikembangkan sebagai pewarna alami untuk makanan, akan tetapi pigmen ini bersifat tidak stabil. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk meningkatkan stabilitasnya dalam sistem pangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis stabilitas antosianin dalam minuman isotonik sebagai sistem pangan dengan penambahan senyawa kopigmentasi yang berasal dari ekstrak bunga belimbing. Stabilitas minuman isotonik diuji pada beberapa suhu pemanasan dan periode penyimpanan. Minuman isotonik diformulasikan menggunakan antosianin hasil ekstraksi dari tepung beras ketan hitam. Minuman isotonik terdiri dari sukrosa, fruktosa, Na-benzoat, asam sitrat, KCl, dan K2PO4 yang diatur mengandung antosianin setara dengan 25 mg/L. Bahan yang ditambahkan untuk meningkatkan stabilitas antosianin pada minuman isotonik adalah ekstrak bunga maya (belimbing) 5%. Selama penyimpanan diamati kadar fenolik, kadar antosianin, dan aktivitas antioksidan dari minuman isotonik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pemanasan menyebabkan penurunan yang signifikan dari kadar antosianin, dari semula 25 mg/L menjadi hanya 2,82 mg/L saja. Penurunan kadar antosianin terjadi juga selama penyimpanan. Perlakuan suhu 50, 65, dan 70 °C memberikan perbedaan kadar fenolik yang tidak signifikan. Begitu pula dengan kemampuannya untuk menangkap radikal DPPH (% RSA DPPH, radical scavenging activity 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl). Kenaikan suhu dari 50 menjadi 70 °C, meningkatkan stabilitas antosianin, meningkatkan kadar fenolik, dan aktivitas antioksidannya. Sementara proses penyimpanan membuat kadar antosianin semakin menurun dan meningkatkan kadar fenolik serta aktivitas antioksidannya.
Phenolic Content and Antioxidant Activity of Black Glutinous Rice Anthocyanin during Fermentation by Pediococcus pentosaceus N11.16 Nanik Suhartatik; Akhmad Mustofa; Ponco Mursito
agriTECH Vol 39, No 1 (2019)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (707.686 KB) | DOI: 10.22146/agritech.36347

Abstract

Anthocyanin was developed into natural food colorant in microemulsion systems to improve their stability and readiness for food preparation. Anthocyanin has an antioxidant activity. The degradation of anthocyanin into small compound could increase the biological activity. Anthocyanin was extracted from black glutinous rice and prepared using food grade surfactant such as Tween 80, Tween 20, and Span 80. Microemulsion was then added into modified deMann Rogosa Sharp (MRS) medium as much as 5, 10, 15, 20 and 25 ppm. Lactic acid bacteria genus Pediococcus pentosaceus N11.16 were grown for 18–24 hours and were used as enzyme producers. This experiment was aimed to determine the stability of anthocyanin in microemulsion systems to enzymatic degradation. The modified MRS medium was added with microemulsion and incubated for 24 h. Phenolic content remained stable during the fermentation process in all treatments, while the highest antioxidant activity was found in the sample with 20 ppm of anthocyanin. Total acid-producing bacteria were also monitored during the incubation and the result showed that there was a decline in their growth. There was a significant change in the antioxidant activity during incubation.
Co-Authors Ainun Mardiyah Akhmad Mustofa Alfinda Taju Ulya Ali Djamhuri Amin Syahadi Angraini Mariam Saraswati Anna Mardiana Handayani Artha, Bareta Agdia Pury Arvita Fajar Sholeca Asa Pratita Aninditya Astutiningsih, Fitri Ayu Krisna Hadi, Kesia Uma Bareta Agdia Pury Artha Bernadetha Eden Krisdita Beti Cahyaning Astuti Christiningrum, Yulia Agnes Crisdyana Eko Setyaningsih Dara Chandra Pustika Desy Lustiyani Dewi Ayu Wulandari Setyobudi Dwi haryo Bintoro, Yudha Dwi Nurcahyani Dwi Yulia Vina Pratiwi Eko Yuliastuti E.S Endang S. Rahayu Endang Srijuliani Endang Sutriswati Rahayu Endang Sutriswati Rahayu Erdha Christyanna, Rachel Erma Ayu Nurcahyani Fadilah Husnun Fajar Eko Prastomo Fajar Sholeca, Arvita Fajariyah, Anna Firdhauzi, Amila Fitriyanto, Akbar Guntur Satrio Bhakti Handayani, Sri Harto Widodo, Harto Hasanah, Amalia L Haztien Silmi Triyani Hida Arum Sakura Husnun, Fadilah Ihfan Bagas Aditya Indrias Tri Purwanti Irvia Resti Puyanda Isnaini Elok Nur Azizah Istiqomah Setyorini Junianto, Faizal Kapti Rahayu Kapti Rahayu Kuswanto Kesia Uma Ayu Krisna Hadi Khabibulloh, Mohammad J M Kirana Swasti Ningrum kurnianti kumala setyaningrum Kurniawan, Yanuar Aldy Lestari, Wida Novia Linda Ristiana Linda Ristiana, Linda Maria, Agnes Merkuria Karyantina Mita Krisna Murti Muhammad Nur Cahyanto Mustofa, Ecio Mutiara Krisna Putri Nanda Pratiwi Ningrum, Ega Sulistiyo Ningrum, Kirana Swasti Nirwesthi, Kartika K Nugraheni, Ratna Dewi Nugroho, Wahyuningtyas Puji Nur'aini, Vivi Nuraini, Vivi Nurcahyani, Dwi Nurcahyani, Erma Ayu Nurhidayanti Nurhidayanti Nurjanah, Mimin Nurlisa, Devi Nur’Aini, Vivi Oktavia Permatasari Patmasari, Diyah Ayu Eka Permatasari, Oktavia Ponco Mursito Pradana, Ridofan Aji Pranata, Gigih Rachel Erdha Christyanna Rama Bagaskara Yulianto Renhard Sirumapea Ria Pertiwi Risky mawardi Riyani Saputri, Wikiyas L Saraswati, Angraini Mariam Satrio Bhakti, Guntur SHAHERTIAN PUTRI, AYUK FEBRIANA Sholihah, Efi N Sirumapea, Renhard Sokhif Saiful Anwar Sri . Handayani Sri Handayani Sri Handayani Sri Raharjo Sri Raharjo Sri Raharjo Srijuliani, Endang Titiek F Djaafar Tri Marwati Triyani, Haztien Silmi Triyono, Kharis Vivi Nuraini Wahyuningtyas Puji Nugroho Wanda Nurwidyana Utami Warjito, W Widya Anggraini Pamungkas Wijaya, Danastri Wulandari, Yustina Wuri Yannie Asrie Widanti Yudha Dwi haryo Bintoro Yudha Dwi Haryo Bintoro Yustina Wuri Wulandari Yustina Wuri Wulandari Yustina Wuri Wulandari Yustina Wuri Wulandari