Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

The effect of red ginger extract as a feed additive of broiler quail Muttaqin, Abdul Zainal; Abun, Abun; Sujana, Endang
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 10, No 1 (2023): JITRO, January
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jitro.v10i1.28431

Abstract

This study aims to evaluate the effect of dietary inclusion of red ginger extract (Zingiber officinale var. rubrum) on total coliform of intestinal bacteria, digestibility, and performance of broiler quail. A total of 100 unsexed broiler quail were randomly assigned into five groups of treatment with four replications (5 quail each). Dietary treatments applied were P0 = basal feed + 0 mg/kg red ginger extract ; P1 = basal feed + 500 mg/kg red ginger extract; P2 = basal feed + 750 mg/kg red ginger extract; P3 = basal feed + 1000 mg/kg red ginger extract and P4 = basal feed + 4000 mg/kg tetracycline. Experimental feed were given to quail after 2 to 6 weeks old. Data were analyzed to test of variance and followed by Duncan test. The results reveal that the supplemented of red ginger extract in the feed had a significant effect (P<0.05) on total coliform bacteria in the quail intestine and nutrient digestibility, but did not have a significant effect (P>0.05) on growth performance. In conclusion, red ginger extract has a positive effect on total coliform of intestinal bacteria and nutrient digestibility but has no significant effect on growth performance broiler quail.
PERANAN BADAN USAHA MILIK DESA (BUMDes) DALAM MENINGKATKAN PEREKONOMIAN MASYARAKAT DESA (Studi Kasus Pada Bumdes Cibokormas Desa Cibarani Kecamatan Cisata Kabupaten Pandeglang) sujana, endang; Jumanah
NIAGARA Scientific Journal Vol 16 No 2 (2024): Jurnal Ilmiah Niagara
Publisher : LPPM STIA Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55651/niagara.v16i2.207

Abstract

Village-Owned Enterprises (BUMDes) are village business institutions managed by the community and village government in an effort to strengthen the village economy which is formed based on community needs and village potential. However, in fact the formation of BUMDes in Cibarani Village has not been able to improve the economy of the people of Cibarani Village, Cisata District. There are various obstacles experienced in managing BUMDes. This research uses a qualitative method with a case study approach which reveals problems in the BUMDes management system in Cibarani Village, Cisata District. To make it easier to analyze the problem, it is analyzed using the theory regarding the BUMDes management system based on research results from the Center for Development System Dynamics Studies (PKSP) Brawijaya University (2017: 13). he results of the research found that the role of BUMDes in improving the economy of village communities was not optimal and Cibokormas BUMDes had not fully implemented the principles in managing BUMDes, there were obstacles or constraints, one of which was low community participation, low levels of trust, low quality human resources, and insufficient business capital. minimal. Various efforts have been made but have not been able to bring about business development and have not been able to strengthen the economy of Cibarani Village. Keywords: Role, BUMDes, Community economy.
PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG DAUN MENGKUDU (Morinda citrifolia L.) DALAM RANSUM TERHADAP KUALITAS EKSTERIOR TELUR PUYUH PADJADJARAN Herliani, Lina; Sujana, Endang; Saefulhadjar, Deni
Jurnal Nutrisi Ternak Tropis dan Ilmu Pakan Vol 6, No 3 (2024)
Publisher : Unpad Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jnttip.v6i3.57564

Abstract

Kualitas eksterior sangat berpengaruh terhadap penjualan sehingga penting untuk diteliti. Kualitas telur yang baik dapat didapatkan dengan memperhatikan pakan dan suatu pakan yang dapat dilakukan penambahan pada ransum yaitu tepung daun Mengkudu. Hal yang ingin dicapai dari studi yang dilaksanakan yaitu guna mengidentifikasi mengenai mempertambahkan tepung daun mengkudu berdampak pada kualitas luar telur puyuh Padjadjaran. Variabel yang diobservasi pada studi yang dilaksanakan mencakup bobot telur, shape index, specific gravity, dan tebal kerabang. Penelitian dilaksanakan dari tanggal 24 Februari sampai dengan 07 April 2024. Metode yang dipergunakan yaitu metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap. Tersusun atas 4 percobaan dan 5 ulangan yaitu R-0 = Ransum dengan kandungan tepung daun Mengkudu 0% R-1 = Ransum penelitian melalui tambahan tepung daun Mengkudu 1%, R-2 = Ransum penelitian dengan tambahan tepung daun Mengkudu 2%, R-3 = Ransum penelitian dengan tambahan tepung daun Mengkudu 3%. Total telur yang diamati sebanyak 200 butir, dengan masing-masing 10 butir dalam setiap ulangan. Data yang diperoleh dilakukan analisis ragam (ANOVA). Hasil yang didapat dari penambahan tepung daun Mengkudu hingga taraf 3% berpengaruh tidak nyata pada kualitas eksterior telur puyuh mencakup bobot telur, shape index, specific gravity, dan tebal kerabang.
PENGARUH MODEL KANDANG YANG DIPERKAYA DENGAN LITTER DAN SARANA TEMPAT BERTELUR TERHADAP PERFORMA PRODUKSI PUYUH PADJADJARAN PARENT STOCK Lestari, Delita Tria; Setiawan, Iwan; Sujana, Endang
Jurnal Produksi Ternak Terapan Vol 5, No 2 (2024): Oktober, 2024
Publisher : Faculty of Animal Husbandry, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jptt.v5i2.55847

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model kandang terhadap performa produksi puyuh Padjadjaran parent stock fase layer. Penelitian ini menggunakan 200 ekor puyuh Padjadjaran parent stock terdiri dari 160 betina galur hitam dan 40 jantan galur coklat yang dipelihara selama 3 bulan dari tanggal 4 Februari - 5 Mei 2024 yang bertempat di Breeding Center Puyuh Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Perlakuan terdiri dari P1 (Model kandang baterai menggunakan ram kawat, P2 (Model kandang baterai menggunakan litter sekam), P3 (Model kandang baterai menggunakan ram kawat dan dilengkapi sarana tempat bertelur), dan P4 (Model kandang baterai dengan alas litter sekam dan dilengkapi sarana tempat bertelur). Setiap perlakuan dilakukan pengulangan sebanyak 5 kali dengan masing masing ulangan terdiri dari 10 ekor puyuh yaitu 8 ekor betina dan 2 ekor jantan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Model kandang yang diperkaya dengan alas litter dan sarana tempat bertelur memberikan pengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap konsumsi ransum, produksi telur dan konversi ransum. Rataan konsumsi ransum berkisar antara 29,32-29,52 g per ekor per hari, rata-rata produksi telur 86%-91,176%, dan rata-rata konversi ransum berkisar 2,66-2,83.
Deplesi dan Indeks Performa Ayam Broiler Pada Kandang Closed House yang Menggunakan dan Tanpa Menggunakan Inverter Exhaust Fan Fajaryani, Isty; Sujana, Endang; Setiawan, Iwan
Jurnal Produksi Ternak Terapan Vol 5, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Faculty of Animal Husbandry, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jptt.v5i1.48211

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai deplesi dan Indeks Performance (IP) ayam broiler pada kandang closed house yang menggunakan inverter exhaust fan dan tanpa menggunakan inverter exhaust fan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan 10 Maret 2023 – 24 April 2023, yaitu selama satu periode pemeliharaan ayam broiler di Peternakan Ayam Broiler Singaparna, PT. Mitra Berlian Unggas, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Metode yang digunakan yaitu metode riset antara pengamatan langsung (1 periode pemeliharaan) dan pemanfaatan data sekunder selama 5 (lima) periode pemeliharaan pada kandang yang sama. Perbandingan angka deplesi dan indeks performa antara kedua jenis kandang diuji menggunakan Uji Independent Sample T-Test. Hasil analisis uji Independent Sample T-Test menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara deplesi pada kandang yang menggunakan inverter exhaust fan dan tanpa inverter exhaust fan. Deplesi pada kandang dengan penggunaan inverter (5,51%) cenderung lebih rendah bila dibandingkan dengan deplesi pada kandang tanpa inverter (7%). Demikian pula hasil analisis uji Independent Sample T-Test pada indeks performa menunjukkan tidak adanya perbadaan signifikan, namun IP pada kandang dengan penggunaan inverter cenderung jauh lebih tinggi yaitu sebesar 414 bila dibandingkan dengan IP pada kandang tanpa inverter yaitu sebesar 369.
PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG KEONG MAS (Pomacea canaliculata L) DALAM RANSUM TERHADAP KONSUMSI RANSUM, PERTAMBAHAN BOBOT BADAN DAN KONVERSI RANSUM PUYUH PEDAGING SOLEHUDIN, DEBI NUR; Sujana, Endang; Tanwiriah, Wiwin; S. Suwartapradja, Opan
Jurnal Produksi Ternak Terapan Vol 5, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Faculty of Animal Husbandry, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jptt.v5i1.48822

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian Tepung Keong Mas (Pomacea canaliculata L) dalam ransum terhadap Konsumsi Ransum, Pertambahan Bobot Badan dan Konversi Ransum Puyuh Pedaging.  Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sukamenak, Kecamatan Darmaraja Jatigede, Kabupaten Sumedang Jawa Barat, pada bulan Mei-Juni 2023.  Objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah 100 ekor puyuh pedaging mulai dari umur 0 hari sampai dengan umur 42 hari atau 6 minggu.  Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental dengan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL), yang terdiri atas 5 perlakuan yaitu P0 (Ransum tanpa penggunaan Tepung Keong Mas), P1 (Ransum mengandung 5% Tepung Keong Mas), P2 (Ransum menggunakan 10% Tepung Keong Mas), P3 (Ransum menggunakan 15% Tepung Keong Mas) dan P4 (Ransum menggunakan 20% Tepung Keong Mas).  Setiap perlakuan diulang sebanyak 4 kali.  Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian tepung keong mas memberikan pengaruh tidak nyata terhadap konsumsi ransum, namun memberikan pengaruh nyata terhadap pertambahan bobot badan dan konversi ransum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian tepung keong mas hingga taraf 10% dalam ransum (P2) menghasilkan konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan konversi ransum paling baik pada puyuh pedaging
The Relationship Between Body Weight and Egg Weight of Padjadjaran Quails of Layer and Broiler Types Sujana, Endang; Indrijani, Heni; Nugraha, Achmad Nugraha Trieandi; Hidayatullah, Syarif; Rahmat, Dedi
Jurnal Ilmu Ternak Universitas Padjadjaran Vol 24, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jit.v24i2.58314

Abstract

The study investigating the relationship between body weight and egg weight in Padjadjaran quails, encompassing both layer and broiler types, was conducted at the Quail Breeding Center within the Faculty of Animal Husbandry at Universitas Padjadjaran. The research involved 100 female quails, consisting of 50 from each type, all of which were 15 weeks old, along with their eggs. The primary aim was to assess the strength and nature of the relationship between body weight and egg weight in these quails. A correlational method was employed for the analysis. The findings revealed a strong correlation between body weight and egg weight in Padjadjaran layer quails, indicated by a correlation coefficient of 0.792. The relationship was represented by the regression equation \( y = 0.0586x + 0.8429 \), which had a relatively high coefficient of determination (\( R^2 \)) of 0.6281. Conversely, the results for Padjadjaran broiler quails indicated a weak correlation, with a correlation coefficient of 0.374. The regression equation for broiler quails was \( y = 0.0145x + 8.0157 \), exhibiting a low coefficient of determination (\( R^2 \)) of 0.1402. In conclusion, the study identified a strong correlation between body weight and egg weight for Padjadjaran layer quails, while a weak correlation was observed for Padjadjaran broiler quails. Furthermore, the regression equation for predicting egg weight based on body weight is deemed reliable for Padjadjaran layer quails but not applicable to broiler quails, as the low determination value suggests that the regression model for broiler quails is insufficient for such predictions.
THE DIFFERENT C/N RATIO OF QUAIL FECES AND RICE STRAW MIXTURE AFFECTS TEMPERATURE CHANGE, MICROBIAL COUNT, ORGANIC-C CONTENT, AND TOTAL N CONTENT IN EARLY DECOMPOSITION RESULTS Priyati, Ani; Sujana, Endang; Setiawati, Mieke Rochini; Anas, Anas
Jurnal Ilmu Ternak Universitas Padjadjaran Vol 24, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jit.v24i2.58201

Abstract

Livestock waste is one of the factors that must be considered in livestock farming, as it can cause environmental pollution. Quail feces, a type of livestock waste, generally has a low carbon-to-nitrogen ratio, necessitating the supplementation of carbon source from rice straw. Rice straw, which contains high fiber content, is often discarded or burned and has not been utilized by farmers, even though it is suitable for processing into solid or liquid organic fertilizer (POC). Because of the substantial changes in temperature and microbial composition that occur during the composting process, initial breakdown is critical. Using native microbes from quail feces, this study aims to ascertain the impact of the C/N ratio of a mixture of quail feces and rice straw on temperature changes, total microbial count (bacteria, fungi, and actinomycetes), and the content of organic C and total N during the initial decomposition process. This research employed an experimental method with four treatments of C/N ratio mixtures of quail feces and rice straw: 20, 25, 30, and 35. The observed variables included temperature changes, total microbial count (bacteria, fungi, and actinomycetes), and the content of organic C and total N over 14 days of initial decomposition. The best decomposition process was achieved with a C/N ratio of 20, the highest temperature change (thermophilic phase on the second day and a maximum temperature of 65°C), and total counts of bacteria, fungi, and actinomycetes of 9.6 x 1011 cfu/mg, 2.7 x 104 cfu/mg, and 5.6 x 106 cfu/mg, respectively. The organic C content was 37.62%, and the total N content was 3.11% (C/N 12.09). 
PENGARUH MODEL KANDANG YANG DIPERKAYA DENGAN LITTER DAN TEMPAT BERTELUR TERHADAP BOBOT TELUR, DAYA TETAS, BOBOT TETAS DAN KUALITAS DOQ PUYUH PADJADJARAN ISMAIL, M RAHMAT; Setiawan, Iwan; Sujana, Endang
Jurnal Produksi Ternak Terapan Vol 6, No 1 (2025): Volume 6 Nomor 1 Maret 2025
Publisher : Faculty of Animal Husbandry, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jptt.v6i1.55764

Abstract

Penelitian dengan Judul Pengaruh Model Kandang yang Diperkaya dengan Litter dan Tempat Bertelur terhadap Bobot Telur, Daya Tetas, Bobot Tetas dan Kualitas DOQ Puyuh Padjadjaran telah dilaksanakan di Breeding Center Puyuh Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran pada tanggal 25 Maret – 6 Mei 2024.  Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), setiap perlakuan dilakukan pengulangan sebanyak 5 kali dengan masing-masing ulangan diisi 8 ekor puyuh betina galur hitam dan 2 ekor puyuh jantan galur cokelat.  Perlakuan model kandang diberikan pada puyuh mulai umur 3 sampai 12 minggu, terdiri dari P1 (kandang baterai ram kawat), P2 (kandang baterai dengan litter sekam padi), P3 (kandang baterai ram kawat ditambah tempat bertelur) dan P4 (kandang baterai dengan litter sekam padi ditambah tempat bertelur).  Data nilai bobot telur, daya tetas, bobot tetas dan kualitas DOQ dianalisis ragam dan untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan diuji menggunakan Uji Jarak Berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan model kandang memberikan pengaruh nyata terhadap daya tetas, namun berpengaruh tidak nyata terhadap bobot telur, bobot tetas dan kualitas DOQ puyuh Padjadjaran. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa model kandang baterai ram kawat ditambah tempat bertelur (P3) memberikan daya tetas terbaik pada puyuh PadjadajaranKata kunci: model kandang, bobot telur, daya tetas, bobot tetas, kualitas DOQ
PENGARUH PERBEDAAN BENTUK TEMPAT PAKAN TERHADAP PERFORMA PUYUH PADJADJARAN PETELUR FASE GROWER FARIKAH, UTARI SITTI; Sujana, Endang; Setiawan, Iwan
Jurnal Produksi Ternak Terapan Vol 6, No 2 (2025): Volume 6 Nomor 2 Juli 2025
Publisher : Faculty of Animal Husbandry, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jptt.v6i2.55676

Abstract

Penelitian yang berjudul “Pengaruh Perbedaan Bentuk Tempat Pakan Terhadap Performa Puyuh Padjadjaran Petelur Fase Grower” telah dilaksanakan di Breeding Centre Puyuh Padjadjaran kawasan Sustainable Livestock Techno Park (SLTP) Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, Sumedang Jawa Barat, pada tanggal 20 Desember 2023 sampai dengan 09 Januari 2024. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan bentuk tempat pakan terhadap konsumsi ransum (feed intake), pertambahan bobot badan (PBB) dan konversi ransum (FCR) pada puyuh Padjadjaran petelur fase grower. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas 3 perlakuan dan 6 kali ulangan. Perlakuan terdiri dari P1 = Feeder Tray, P2 = Trough Feeder dan P3 = Baby Chick Feeder. Total puyuh yang digunakan berjumlah 360 ekor yang dibagi ke dalam 18 unit cage percobaan, masing-masing unit diisi oleh 20 ekor puyuh. Data yang diperoleh dianalisis ragam (ANOVA) dan dilakukan Uji Jarak Berganda Duncan untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan bentuk tempat pakan berpengaruh tidak nyata terhadap konsumsi ransum (Feed Intake), namun berpengaruh nyata terhadap pertambahan bobot badan (PBB) dan konversi ransum (FCR). Tempat pakan baby chick feeder (P3) menunjukkan pertambahan bobot badan tertinggi dengan konversi ransum terbaik.