Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

TOKSISITAS LINDI DENGAN PERLAKUAN BIOSORBEN NANOPARTIKEL KULIT PISANG KEPOK TERHADAP MORTALITAS DAN STRUKTUR HEPAR IKAN TAWES Nur Fitriyana Dewi; Sukiya Sukiya
Kingdom (The Journal of Biological Studies) Vol 7, No 3 (2018): Jurnal Prodi Biologi Vol 7 No 3 Tahun 2018
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/kingdom.v7i3.12402

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lindi yang diperlakukan denganbiosorben nanopartikel kulit pisang terhadap mortalitas dan struktur hepar ikan tawes. Lindiyang digunakan yaitu berasal dari TPA Piyungan, Bantul Yogyakarta. Ikan tawes dipilihkarena ikan tawes merupakan biota air yang peka terhadap perubahan lingkungan, sehinggasesuai untuk menentukan kualitas suatu perairan. Nanopartikel kulit pisang sebagai biosorbendiharapkan mampu menyerap zat toksik (Pb dan Cr) yang terdapat pada lindi.Sampel sebanyak 3 ekor ikan tawes dengan 3 kali pengulangan, Usia ikan tawes sekitar1-2 bulan dengan panjang 4-6 cm dan bobot 15-20 gram. Uji pendahuluan dilakukan terlebihdahulu untuK menentukan rentang kadar yang diperlukan untuk uji toksisitas. Hasil penelitianuji pendahuluan yaitu ambang batas bawah (LC0-48 jam) yaitu 1% sedangkan ambang batasatas (LC100-24 jam) yaitu 10%. Berdasarkan skala rand rentang kadar yang digunakan untukuji defitif yaitu 1,5% ; 2,5% ; 4% ; dan 6,3%. Setelah dilakukan uji defitif didapatkan kadaraman yang nantinya akan diberi nanopartikel kulit pisang kepok sebagai biosorben logamberat yang terdapat pada lindi.Hasil penelitian didapatkan uji toksisitas lindi TPA Piyungan terhadap mortalitas ikantawes menurut skala Loomis berada dalam tingkat luar biasa toksik dengan LC50 - 48 jam =0,0268 ml dan LC50 – 96 jam = 0,0029 ml. Respon struktur hepar ikan tawes yang diamatiberupa piknosis, karyoreksis, dan karyolisis. Kategori tingkat kerusakan pada hepar ikantawes tanpa pemberian biosorben nanopartikel kulit pisang kepok berada pada kategorisedang dan kategori ringan untuk hepar ikan tawes dengan pemberian biosorben nanopartikel.Kata kunci: mortalitas, ikan tawes, nanopartikel, kulit pisang.
STUDI KOMPARASI STRUKTUR ANATOMIK Noseleaf KELELAWAR Rhinolophus affinis DAN Hipposideros ater Desy Novita Sari; Sukiya Sukiya; Heru Nurcahyo
Kingdom (The Journal of Biological Studies) Vol 5, No 6 (2016): Jurnal Biologi Vol 5 No 6 tahun 2016
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/kingdom.v5i6.6022

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk  mengetahui perbedaan struktur anatomik noseleaf  kelelawar Rhinolophus affinis dan Hipposideros ater. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksplorasi. Objek penelitian ini adalah kelelawar Rhinolophus affinis dan Hipposideros ater jantan atau betina tidak sedang hamil/laktasi dan berumur dewasa. Pengulangan 5 kali pada masing-masing spesies berasal dari gua Cokakan. Kelelawar ditangkap dengan menggunakan jaring kabut/mist net. Noseleaf kelelawar diambil dimasukkan ke formalin 10% dan selanjutnya dibuat preparat. Hasil pengamatan dianalisis dengan analisis deskriptif untuk menerangkan perbedaan struktur anatomik noseleaf kelelawar Rhinolophus affinis dan Hipposideros ater. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang terlihat pada jenis jaringan penyusun noseleaf kelelawar Rhinolophus affinis dan Hipposideros ater, namun berdasarkan data pengukuran terdapat perbedaan jumlah rerata luas pada otot lurik dan tulang rawan. Kata kunci: Ekolokasi, Kelelawar, Noseleaf, Rhinolophus affinis dan Hipposideros ater
TOKSISITAS LIMBAH CAIR NATA DE COCO TERHADAP MORTALITAS DAN STRUKTUR HISTOLOGIK HEPAR PADA IKAN MAS (Cyprinus carpio) Ade Ulfa Nugroho; Sukiya Sukiya
Kingdom (The Journal of Biological Studies) Vol 7, No 2 (2018): Jurnal Prodi Biologi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/kingdom.v7i2.12130

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh toksisitas limbah cair nata de coco terhadapmortalitas dan kerusakan struktur histologik hepar pada ikan mas (Cyprinus carpio). Jenis penelitian iniadalah penelitian eksperimen dengan satu faktor. Perlakuan yang diberikan terdiri dari 5 variasi kadarlimbah cair nata de coco yaitu 1,58%; 2,52%; 4,01%; 6,38%; 10% dan 0% (kontrol/tanpa limbah). Objekperlakuan yang digunakan adalah ikan mas, berukuran 3-5 cm dengan berat 0,8- 1 gram. Setiap perlakuanterdiri dari 3 ulangan, setiap ulangan terdiri dari 10 ekor ikan perlakuan. Data yang dihimpun merupakandata mortalitas ikan per-24 jam dan struktur histologik hepar ikan mas. Uji probit digunakan untukmengetahui LC50-96 jam untuk mengetahui kadar aman limbah cair nata de coco. Uji univariat digunakanuntuk mengetahui pengaruh kadar terhadap mortalitas ikan mas. Uji regresi digunakan untuk mengetahuipengaruh fisikokimia air perlakuan terhadap mortalitas ikan mas. Pengamatan histologik heparmenggunakan mikroskop cahaya dan diamati kerusakan selnya. Uji one way anova digunakan untukmengetahui pengaruh kadar limbah cair nata de coco terhadap kerusakan histologik hepar ikan mas.Hasilpenelitian menunjukan limbah cair nata de coco berpengaruh terhadap mortalitas ikan mas. Hasil dari ujiprobit menunjukan LC50-48 jam adalah 0,024 mg/L dan LC50-96 jam adalah 0.0208 mg/L. Perlakuanlimbah cair nata de coco berpengaruh terhadap kerusakan (piknosis, karioreksis, dan lisis) histologikhepar ikan mas.Kata kunci: Toksisitas, Ikan Mas (Cyprinus carpio), Limbah cair nata de coco, Mortalitas, dan Histologik Hepar
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana) TERHADAP GAMBARAN HISTOLOGIK HATI DAN GINJAL MENCIT (Mus musculus) YANG TERPAPAR ASAP ROKOK Ari Wijayanti; triharjana triharjana; Sukiya Sukiya
Kingdom (The Journal of Biological Studies) Vol 5, No 8 (2016): Jurnal Biologi Vol 5 No 8 tahun 2016
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/kingdom.v5i8.6033

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak kulit manggis (Garcinia mangostana) terhadap  gambaran histologik hati  dan ginjal mencit (Mus musculus) yang terpapar asap rokok serta mengetahui berapa konsentrasi ekstrak kulit manggis yang paling efektif untuk mencegah kerusakan jaringan hati dan ginjal. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Terdiri dari 5 kelompok yaitu kontrol negatif (KI), kontrol positif (KII) dan kelompok perlakuan yang masing-masing menggunakan variasi dosis ekstrak kulit manggis 280 mg/KgBB (KIII) ,560 mg/KgBB (KIV) dan 840 mg/KgBB (KIV) yang diberikan kepada mencit yang terpapar asap dari 2 batang rokok perhari selama 30 hari. Variabel yang diamati adalah kerusakan histologik hati dan ginjal. Parameter yang digunakan dalam mengumpulkan data kerusakan histologik meliputi jumlah sel hati dan sel tubulus ginjal yang mengalami piknosis, karioreksis dan kariolisis. Data hasil pengamatan dianalisis dengan Kruskal Wallis untuk melihat pengaruh perlakuan terhadap respon yang diamati, menggunakan taraf nilai signifikan ≤ 0,05. Hasil analisis data menunjukkan (1) Ekstrak kulit buah manggis berpengaruh menurunkan jumlah kerusakan sel hati dan sel tubulus ginjal pada mencit yang terpapar asap rokok. (2) Kelompok mencit dengan perlakuan ekstrak kulit manggis 840 mg/KgBB, memiliki jumlah kerusakan sel hati dan sel tubulus ginjal paling rendah. Kata Kunci : ekstrak kulit buah manggis, kerusakan sel hati, kerusakan sel  tubulus ginjal, mencit, asap rokok
PERBANDINGAN STRUKTUR KULIT IKAN Blenniella bilitonensis DAN Periophthalmus gracilis Cahyoaji Putra Anggara; Sukiya Sukiya
Kingdom (The Journal of Biological Studies) Vol 7, No 6 (2018): Jurnal Prodi Biologi Vol 7 No 6 Tahun 2018
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/kingdom.v7i6.13024

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan struktur morfologik permukaan kulitdan struktur histologik kulit ikan Periophthalmus gracilis dengan Blenniella bilitonensis dan untukmengetahui apakah kulit tersebut juga berperan sebagai tempat pertukaran gas pernafasan. Jenispenelitian ini adalah eksploratif. Lima sampel ikan diperoleh dari tempat yang berbeda, ikanPeriophthalmus gracilis di Hutan Mangrove Pasir Mendit, Kulon Progo, Yogyakarta dan ikanBlenniella bilitonensis di Pantai Siung, Gunung Kidul, Yogyakarta. Mendiskripsikan morfologipermukaan kulit pada kedua ikan. Tubuh ikan dibedah menjadi enam bagian diambil kulit untukpembuatan preparat histologik, pewarnaan menggunakan Hematoxylin-Eosin dengan metodeHumason. Pengamatan histologik pada struktur kulit ikan, dilakukan pengukuran ketebalan epidermis,jarak difusi, dan jumlah kapiler darah. Analisis hasil pengukuran dengan metode Independent SampleT-Test. Hasil penelitian menunjukkan permukaan kulit pada ikan Periophthalmus gracilis danBlenniella bilitonensis berlendir, halus, tidak bersisik, dan pengamatan struktur kulit mengindikasikanbahwa struktur histologik diperoleh hasil tidak berbeda nyata antara kedua ikan.Kata kunci : Periophthalmus gracilis, Blenniella bilitonensis, struktur kulit, zona intertidal, pantaisiung, hutan mangrove.
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK KULIT BUAH MANGGIS (GARCINIA MANGOSTANA) TERHADAP GAMBARAN HISTOLOGIK TRAKEA DAN PARU-PARU MENCIT (MUS MUSCULUS) YANG TERPAPAR ASAP ROKOK Cahaya Utami; Tri Harjana; Sukiya Sukiya
Kingdom (The Journal of Biological Studies) Vol 6, No 2 (2017): Jurnal Prodi Biologi Vol 6 No 2 Tahun 2017
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/kingdom.v6i2.6126

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana) terhadap  gambaran histologik trakea dan paru-paru mencit (Mus musculus) yang terpapar asap rokok. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Terdiri dari 5 kelompok yaitu kontrol negatif (KI), kontrol positif (KII) dan kelompok perlakuan yang masing-masing menggunakan variasi dosis ekstrak kulit buah manggis 280 mg/KgBB (KIII) ,560 mg/KgBB (KIV) dan 840 mg/KgBB (KIV) yang diberikan per oral kepada mencit yang terpapar asap rokok dari 2 batang rokok perhari selama 30 hari. Variabel yang diamati adalah kerusakan histologik trakea dan paru-paru. Parameter kerusakan histologik meliputi jumlah sel epitel trakea dan deskripsi gambaran histologik paru-paru mencit akibat perlakuan. Data hasil pengamatan histologik trakea dianalisis dengan Kruskal Wallis untuk melihat pengaruh perlakuan terhadap respon yang diamati (p ≤ 0,05) dan pada pengamatan histologik paru-paru dianalisis secara deskriptif. Hasil analisis data menunjukkan ekstrak kulit buah manggis berpengaruh menurunkan jumlah kerusakan sel epitel trakea mencit yang terpapar asap rokok. Ekstrak kulit buah manggis tidak berpengaruh pada gambaran histologik paru-paru mencit yang terpapar asap rokok. Kata Kunci : ekstrak kulit buah manggis, kerusakan sel epitel trakea, paru-paru, mencit, asap rokok.
BIOAKUSTIK KELELAWAR SUB ORDO MICROCHIROPTERA DI GUA SEPLAWAN Rizal Budi Margani; Sukiya Sukiya
Kingdom (The Journal of Biological Studies) Vol 7, No 3 (2018): Jurnal Prodi Biologi Vol 7 No 3 Tahun 2018
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/kingdom.v7i3.12445

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui spesies serta karakteristik bioakustik kelelawar subordo Microchiroptera di Gua Seplawan.Penelitian ini merupakan penelitian eksploratif. Penelitiandilakukan dari pertengahan November 2017 di mulut Gua Seplawan. Pengumpulan data dilakukandengan morfometri, identifikasi, dan pengambilan bioakustik sampel kelelawar.Data dianalisis secaradeskriptif,. analisis data bioakustik dibantu dengan aplikasi android Bat Recorder dan programkomputer windows BatSound Touch Lite. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 4 jeniskelelawar di Gua Seplawan. Kelelawar-kelelawar tersebut yaitu Rhinolophus borneensis, Rhinolophuspusillus, Hipposideros larvatus, Miniopterus magnater. Hasil rekaman bioakustik kelelawarmenunjukkan adanya kelelawar yang mengeluarkan bioakustik harmoni yaitu Miniopterus magnater,hunting call oleh jenis Hipposideros larvatus, stress call oleh jenis Miniopterus magnater, sosial calloleh Rhinolophus pusillus dan Hipposideros larvatus. Perbedaan berdasarkan pola spektogram,frekuensi, dan durasi.Kata Kunci : Microchiroptera, Bioakustik, Gua Seplawan
PENGARUH EKSTRAK DAUN KENARI (Canarium indicum, L.) TERHADAP PERKEMBANGAN FOLIKEL OVARIUM TIKUS PUTIH BETINA (Rattus norvegicus, L.) Rahayu Tri Rejeki; Tri Harjana; Sukiya Sukiya
Kingdom (The Journal of Biological Studies) Vol 6, No 3 (2017): Jurnal Prodi Biologi Vol 6 No 3 Tahun 2017
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/kingdom.v6i3.6820

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak  daun  kenari (Canarium indicum,L) terhadap perkembangan folikel ovarium tikus putih (Rattus norvegicus,L).Penelitian eksperimen ini menggunakan 16 ekor tikus putih betina yang dibagi dalam 4kelompok.  Kelompok  tanpa  ekstrak  daun  kenari  sebagai  kelompok  kontrol,  tiga  kelompok  lainsebagai kelompok perlakuan yang diberi perlakuan ekstrak daun kenari dengan dosis, masing-masing P1 (200mg ekstrak daun kenari), P2 (300mg ekstrak daun kenari) dan P3 (400mg ekstrak daun  kenari). Pemberian perlakuan ekstrak daun kenari dilakukan selama 21 hari secara oral. Data hasil pengamatan dianalisis dianalisis dengan uji Kruskal Wallis dengan menghitung jumlah folikel ovarium, yaitu : folikel primer, folikel sekunder, folikel tersier, folikel de graff, ovulasi, corpus  luteum dan folikel atresia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun kenari berpengaruh nyata (P≤0,05) terhadap folikel tersier, folikel atresia, ovulasi dan corpus luteum, serta berpengaruh tidak nyata (p≥0,05) terhadap folikel primer, folikel sekunder dan folikel de graff.Kata kunci: Ekstrak daun kenari, folikel ovarium, tikus putih 
Nilai Penting dan Kemerataan Plankton di Perairan Sungai Bedog Rifa Hidayatun; Sudarsono Sudarsono; Sukiya Sukiya
Kingdom (The Journal of Biological Studies) Vol 5, No 4 (2016): Jurnal Prodi Biologi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/kingdom.v5i4.5853

Abstract

Penelitian mengenai nilai penting dan kemerataan plankton di Sungai Bedog telah dilakukan pada bulan Februari 2016. Penelitian bertujuan untuk mengetahui jenis plankton, nilai penting tertinggi plankton, dan kemerataan plankton di perairan Sungai Bedog dari hulu (Desa Turi, Kabupaten Sleman) sampai hilir (Pantai Baru, Kabupaten Bantul).Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif dengan purposive sampel didasarkan pada perubahan penggunaan DAS Bedog dari hulu sampai hilir. Pengambilan sampel plankton dilakukan dengan mengambil sampel air sebanyak 50 liter kemudian menyaringnya  menggunakan planktonnet. Sampel diawetkan menggunakan gliserin dan diidentifikasi di laboratorium biologi menggunakan buku identifikasi Edmonson (1996) dan Needham and Needham (1973). Pengukuran kondisi fisika dan kimia lingkungan dilakukan pada setiap stasiun meliputi pengukuran suhu air, kuat arus, kekeruhan, pH, intensitas cahaya, salinitas, DO, BOD, nitrat, dan fosfat.Hasil penelitian diperoleh plankton yang terdapat di Sungai Bedog terdiri dari fitoplankton dan zooplankton. Fitoplankton yang ditemukan terdiri dari 4 kelas yaitu Bacillariophyceae (17 jenis), Chlorophyceae (10 jenis), Cyanophyceae (7 jenis), dan Conjugate (2 jenis). Zooplankton terdiri dari 6 kelas yaitu Rotifera (20 jenis), Sarcodina (2 jenis), Crustacea (2 jenis), Copepoda (3 jenis), Tubulinea (1 jenis), dan Lobosea (1 jenis). Tabelaria binalis adalah jenis dengan nilai penting tertinggi yaitu 90,12. Kelas Bacillariophyceae adalah kelas dengan nilai penting tertinggi yaitu 192,22. Nilai penting fitoplankton lebih tinggi dibandingkan nilai penting zooplankton yaitu 241,91 dan 58,09. Kemerataan fitoplankton cukup merata, sedangkan zooplankton kurang merata, dan plankton secara keseluruhan di Sungai Bedog adalah cukup merata. Kata kunci : plankton, identifikasi, nilai penting, kemerataan, Sungai Bedog
STRUKTUR KELOMPOK MONYET EKOR PANJANG (Macaca fascicularis Raffles, 1821) DAN INTERAKSINYA DENGAN PENDUDUK SEKITAR SUAKA MARGASATWA PALIYAN Ahmad Arifandy Hidayat; Sukarni Hidayati; Sukiya Sukiya
Kingdom (The Journal of Biological Studies) Vol 5, No 8 (2016): Jurnal Biologi Vol 5 No 8 tahun 2016
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/kingdom.v5i8.6034

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui struktur kelompok monyet ekor panjang di Suaka Margasatwa Paliyan, (2) mengetahui deteksi dan reaksi monyet ekor panjang terhadap kehadiran manusia di Suaka Margasatwa Paliyan, (3) mengetahui interaksi monyet ekor panjang dengan penduduk sekitar Suaka Margasatwa Paliyan. Pengumpulan data struktur kelompok monyet ekor panjang menggunakan metode concentration count dengan pengamatan dititikberatkan pada pohon tempat tidur kelompok monyet ekor panjang di dua stasiun pengamatan, Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) struktur kelompok monyet ekor panjang di stasiun pengamatan satu habitat terganggu dekat dengan pemukiman sebanyak 33 ekor terdiri dari 9 ekor jantan dewasa, 16 ekor betina dewasa, 5 ekor juvenile dan 3 ekor Invant. Struktur kelompok di stasiun  pengamatan dua habitat tak terganggu jauh dari pemukiman sejumlah 25 ekor terdiri dari 6 ekor jantan dewasa, 10 ekor betina dewasa, 5 ekor juvenile dan 4 ekor invant   (2) monyet ekor panjang stasiun pengamatan dua memiliki tingkat kewaspadaan yang lebih baik dibandingkan stasiun pengamatan satu dengan perbandingan persentase 64 % : 27 %. (3) Interaksi monyet ekor panjang dengan penduduk sekitar lebih banyak terjadi pada stasiun pengamatan satu dibandingkan stasiun pengamatan dua. Kata kunci: Interaksi, Macaca fascicularis, struktur kelompok, Suaka Margasatwa Paliyan