Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Language Performance of an Eight-Year-Old Child with Speech Delay Okitasari, Indah; Sukma, Bayu Permana; Hendrastuti, Retno Hendrastuti; Lestariningsih, Dewi Nastiti; Ramadini, Febyasti Davela
Journal of Languages and Language Teaching Vol. 11 No. 4 (2023): October
Publisher : Universitas Pendidikan Mandalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/jollt.v11i4.8865

Abstract

Language development begins at the beginning of human life, but the stages are diverse. This study aimed at describing an 8 year old child speech delay and identifying the causes of the delay and its relation to language performance at school. A case study design encountered that AA could not speak clearly especially, and a hearer did not understand what she said except her mom. For almost one semester, the researchers tried to observe AA's speech pattern and found some speech error-unclear saying words containing H and Z, and X at the beginning and the end of the word. Often the researchers found her emotional when she was not able to perceive and deliver her feelings through words. Parents’ roles and background in the interview transcripts have also been one reason why AA got worse in speaking. However, the language subject result in the AA report book was not poor. The teacher had an alternative language learning to motivate The child to perform her best. Parent support is needed more as AA is under teacher supervision to learn in a higher class.
DERAJAT ILOKUSI KEBENCIAN BERDIKSI NAMA HEWAN DALAM BAHASA INDONESIA Sitanggang, Natal P.; Sukma, Bayu Permana; Sanubarianto, Salimulloh Tegar; Walangarei, Sjane F.; Jahdiah
Linguistik Indonesia Vol. 42 No. 2 (2024): Linguistik Indonesia
Publisher : Masyarakat Linguistik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/li.v42i2.545

Abstract

Penggunaan nama hewan dalam konteks ujaran kebencian sering menjadi perdebatan di ruang yang bersifat personal, komunal, dan publik. Tulisan ini membahas derajat ilokusi kebencian yang termuat dalam delapan diksi terkait nama hewan dalam bahasa Indonesia. Derajat tersebut secara kuantitatif dilihat dari penilaian penutur bahasa Indonesia. Diksi yang dibahas dalam kajian ini dibagi dalam dua kelompok: enam diksi merupakan data primer yang diperoleh melalui angket pertanyaan kepada responden, dan dua diksi terakhir bersifat sekunder yang diderivasi dari data primer. Data primer dikaitkan dengan latar belakang pendidikan dan klaim etnis penutur, sedangkan data sekunder tidak dikaitkan dengan latar belakang pendidikan maupun klaim etnis karena merupakan derivasi dari data primer. Analisis data dilakukan secara kuantitatif untuk melihat persentasi respons dalam kategori penghinaan, pencemaran nama baik, fitnah, dan netral. Data primer dijaring dari delapan ibukota provinsi di Indonesia. Dari penjaringan itu, diperoleh klaim etnis sebanyak 40 kelompok dengan tingkat pendidikan yang cukup bervariasi. Dari analisis statistik diperoleh gambaran bahwa mayoritas penutur menilainya sebagai bentuk penghinaan. Yang lainnya menilainya secara variatif sebagai netral, pencemaran, dan fitnah.
Spanduk Peringatan Bahaya Covid-19: Mengurai Tingkat Relevansi dan Efek Humor Sukma, Bayu Permana; Prayoga, Reza Amarta
Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 21 No 3 (2023): Desember 2023
Publisher : Univeritas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jik.v21i3.7923

Abstract

Tingginya tingkat penyebaran Corona Virus Desease 19 (Covid-19) di Indonesia sepanjang tahun 2020 mendorong pemerintah untuk melakukan penerapan aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Tidak hanya itu, masyarakat juga berinisiatif menyerukan pencegahan penyebaran Covid-19 melalui karantina wilayah (lockdown) dengan membuat spanduk-spanduk imbauan dan peringatan secara swadaya. Karena dibuat secara swadaya, imbauan dan peringatan bahaya Covid-19 pada spanduk dibuat secara bebas dan beragam, baik dari segi isi informasi, tampilan, maupun cara penyampaian. Tidak jarang imbauan dan peringatan tersebut menimbulkan efek humor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat relevansi informasi pada imbauan atau peringatan bahaya Covid-19 pada spanduk yang dibuat oleh masyarakat ditinjau dari Teori Relevansi (TR). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data penelitian ini dikumpulkan dari foto-foto yang berisi spanduk lucu yang diperoleh dari beberapa artikel di media daring, yaitu www.pikiran-rakyat.com, www.brilio.net,www.99.co., dan www.oto.detik.com.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa informasi pada spanduk buatan masyarakat terkait Covid-19 memiliki tingkat relevansi yang beragam. Tingkat relevansi tersebut dapat dibagi ke dalam tiga kategori, yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Namun demikian, hanya kategori rendah dan kategori sedang yang ditemukan pada data. Terkait hubungan antara tingkat relevansi dan efek humor yang ditimbulkannya, hasil penelitian menunjukkan bahwa spanduk dengan tingkat relevansi sedang maupun rendah berpotensi menciptakan sebuah efek humor. Setelah melewati beberapa tahap interpretasi, pembaca akan menangkap informasi inti sekaligus memperoleh efek humor yang dimaksudkan pembuat spanduk.
How Indonesian Students View Code-Mixing in Daily Conversations Nugraha, Indra; Jaelani, Alan; Sukma, Bayu Permana
Journal of English Teaching and Linguistics Studies (JET Li) Vol 6, No 2 (2024): Journal of English Teaching and Linguistics Studies (JET Li)
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55215/jetli.v6i2.10407

Abstract

Multilingualism in Indonesia refers to local or regional languages as the first or mother tongue, Bahasa Indonesia as the second or official language, and foreign languages in which English is the most spoken foreign language in Indonesia. Such a condition may bring us to code-mixing. Code-mixing is using more than one language or language variety in conversation. To some linguists, code-mixing is perceived as a negative phenomenon for several reasons, such as reducing the sense of necessity to use the 'original' language of the speakers. However, this view might only be found among the older generation. How about the younger generation's perception of the code-mixing phenomenon? This study explores the students' perception of code-mixing in daily conversations. The study used a questionnaire-based research method and involved 83 respondents from majors such as English education, Islamic broadcasting communication, and management aged 18-23. The results show that 73.5% of the respondents consider code-mixing a normal phenomenon in daily conversations. Furthermore, 51.8% of the respondents perceive code-mixing as usual while engaging in conversation, 41% as a positive phenomenon due to bilingual capacity, and only 7.2% perceive code-mixing as a negative one regarding disrespectful reasons to Bahasa Indonesia.
Perbandingan Kualitas Terjemahan Dua Karya Terjemahan Cerpen Jalan Lain ke Roma Karya Idrus Ditinjau dari Pengembangan Tema Sukma, Bayu Permana; Efse, Herlina Astuti
Jurnal Penerjemahan Vol 5 No 2 (2018): Jurnal Penerjemahan
Publisher : Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64571/ojp.v5i2.106

Abstract

Systemic Functional Linguistics provides many resources for translation studies. Some translation scholars even explicitly suggested SFL approach to develop their theories. One of SFL key features which can be applied to measure translation quality is thematic structure. This is possible because a good text should be composed of cohesive clauses (Eggins, 1994; Emilia, 2011). While theme has widely become topics in research on translations from other languages into English, it is still rarely explored in bahasa Indonesia-English translation. Using Eggins’ (2004) model of thematic progression, the authors explored how this feature was used in two English versions of Indonesian short story Jalan Lain ke Roma. Through the analysis and the comparison of thematic progression in source text and the two target texts, the authors attempted to show which text is better based on the thematic choices. The result of this study shows that although there is not significant difference between the two versions, the text titled Another Road to Rome is better at cohesion than the other titled Another Way to Rome. Keywords: Systemic Functional Linguistics, thematic structure, thematic progression, translation quality
Standardisasi Layanan Penerjemahan di Indonesia: Sebuah Pemikiran Awal Sukma, Bayu Permana; Khatimah , Husnul
Jurnal Penerjemahan Vol 6 No 1 (2019): Jurnal Penerjemahan
Publisher : Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64571/ojp.v6i1.107

Abstract

The development of the foreign-oriented manufacturing industrial sector in Indonesia brings consequences to the increase of the need for translation services. It eventually has consequences to the need of standardization of translators and standardization of translation services which have not been available. This study aims to discuss the standardization of interpreting and translation services abroad which can be used as a reference for standardizing translation services in Indonesia, as well as how Indonesia significantly requires standardization of interpreters and translators. This study adopts a qualitative-descriptive approach. The data collection technique is study of document using content analysis. The results of the study show that foreign countries, particularly developed ones such as the United States and some European Union countries have standardized their translation services in order to improve the quality of translation and the quality of services of translation-service providers. In addition, standardization of translation in Indonesia is necessarily needed in order to give benefits for translation service providers to be able to provide good quality translation and standardized services. In other words, standardization is highly required to provide a benchmark and guidance regarding the translation services and products. Keywords: standardization, translation services, interpreter and translator.
PELANGGARAN PRINSIP-PRINSIP KESOPANAN PADA MEMO DINAS DI SALAH SATU PERGURUAN TINGGI DI BANTEN Utomo, Dhafid Wahyu; Sukma, Bayu Permana
Jurnal Sasindo UNPAM Vol. 3 No. 3 (2015): Jurnal Sasindo UNPAM
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/sasindo.v3i3.%p

Abstract

 Di ranah formal, seperti di perguruan tinggi, penggunaan bahasa yang formal dan sopan merupakan suatu kewajiban bagi setiap peserta tutur. Pematuhan terhadap prinsip-prinsiptertentu dalam setiap peristiwa tutur sangatlah penting. Tetapi pada kenyataanya, masih ditemukan pelanggaran terhadap prinsip tersebut khususnya prinsip kesopanan. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelanggaran prinsip-prinsip kesopanan pada memo dinas di salah satu perguruan tinggi di Banten. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yakni deskriptif kualitatifdengan menggunakan Teori Leech (1983) tentang prinsip-prinsip kesopanan dalam menganalisis data.Data utama dalam penelitian ini yakni memo dinas di salah satu perguruan tinggi di Banten. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya pelanggaran maksim kebijaksanaan dan maksim penghargaan.Simpulan dari penelitian ini bahwa peserta tutur disarankan untuk mematuhi kaidah-kaidah dalam berbahasa, khususnya prinsip kesopanan untuk menjaga rasa kebersamaan, keharmonisan, dan kenyamanan antara penutur dan mitra tutur dalam berkomunikasi. Kata Kunci:memo dinas, pelanggaran prinsip kesopanan.  
Pola tuturan perundungan siber (cyberbullying) di kalangan pelajar Indonesia Sukma, Bayu Permana; Puspitasari, Devi Ambarwati; Afiyani, Siti Afni; Okitasari, Indah; Palupi, Dian; Kusumawardani, Fani; Khatimah, Husnul; Prayoga, Reza Amarta
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya Vol. 49, No. 2
Publisher : citeus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Language evidence is consulted in dealing with cyberbullying cases. Linguistic analysis is used to reveal the nature of speech and cyberbullying expressions that have legal implications. This study aimed to find the speech patterns used by students in cyberbullying, identify the features of insults in cyberbullying speech, and identify the legal implications of cyberbullying speech on social media. 504 speech data were collected from Facebook and Twitter from January to April 2020. They were all written in social media accounts of Indonesian high school students. The cyberbullying speech data was analyzed qualitatively using forensic linguistics analysis, i.e., analyzing the linguistic aspects of social media speech data with linguistic theory, particularly speech act theory. Results of the linguistic analysis were then linked to the legal implication of the social media speech. The analysis shows that four general patterns of cyberbullying speech are found, Head Act, Head Act - Supportive Move, Supportive Move - Head Act, and Supportive Move - Head Act - Supportive Move. In addition, three features of insults in cyberbullying are found: the use of pejorative words or phrases, the use of words or phrases with negative connotations, and the use of 'reply' or 'mention' features. The patterns of cyberbullying speech found in this study indicate that the insulting effects of different word or phrase formulation vary. However, they all may have legal implications, especially the violations of Law of Information and Electronic Transaction (UU ITE), particularly Article 27 Paragraph (3) regarding insults and defamation. Alat bukti kebahasaan sangat diperlukan dalam penangangan kasus perundungan siber. Pembuktian tuturan perundungan siber dilakukan melalui hasil analisis linguistik yang mampu menunjukkan hakikat pertuturan dan ekspresi perundungan yang berimplikasi hukum. Tujuan penelitian ini adalah menemukan pola tuturan yang digunakan oleh pelajar dalam melakukan perundungan siber, mengidentifikasi fitur ekpresi penghinaan yang terkandung dalam tuturan perundungan siber, dan mengidentifikasi implikasi hukum tuturan pada perundungan siber di media sosial. 504 data tuturan yang berasal Instagram dan Twitter diambil pada rentang waktu Januari hingga April 2020. Seluruh data tuturan tersebut ditulis oleh akun pelajar sekolah menengah di Indonesia. Analisis data kualitatif dilakukan untuk mengkonfirmasi data tuturan perundungan siber dengan telaah linguistik forensik, yakni menganalisis aspek kebahasaan data tuturan media sosial dengan teori linguistik, khususnya teori tindak tutur. Hasil analisis linguistik kemudian dihubungkan dengan aspek implikasi hukum dari tuturan media sosial tersebut. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan empat pola umum tuturan perundungan siber, yaitu head act, head act - supportive move, supportive move - head act, dan supportive move - head act - supportive move. Selain itu ditemukan pula tiga fitur ekspresi penghinaan dalam tuturan perundungan siber, yaitu penggunaan kata atau frasa peyoratif, penggunaan kata atau frasa berkonotasi negatif, dan penggunaan fitur membalas (reply/mention). Pola tuturan perundungan siber yang telah ditemukan dalam penelitian ini menunjukkan perbedaan efek penghinaan yang ditimbulkan dari formulasi kata atau frasa, namun semua tuturan tersebut memiliki potensi implikasi hukum, khususnya pelanggaran UU ITE, utamanya pasal 27 ayat (3) tentang penghinaan dan pencemaran nama baik.
Introducing CILLCO: A corpus model of vernacular Indonesian as a cultural capital Pradita, Intan; Puspitasari, Devi Ambarwati; Karlina, Yenny; Sukma, Bayu Permana
Jurnal Komunikasi Vol. 20 No. 1 (2026): VOLUME 20 NO 1 APRIL 2026
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/komunikasi.vol20.iss1.art10

Abstract

This study presents CILLCO (Corpus of Indonesian Language, Linguistics, and Communities), a digital corpus designed to document and analyze vernacular language varieties in everyday and digital contexts. Jointly established by the Research Center for Language, Literature, and Community at the National Research and Innovation Agency (BRIN) in collaboration with the English Department of Universitas Islam Indonesia (UII), CILLCO addresses the historical gap between the national standard language (Bahasa Indonesia baku) and its vernacular varieties at the interpersonal, media, and online levels across the Indonesian archipelago. While most existing Indonesian corpora focus on written and formal language, CILLCO focuses on naturally occurring communication, capturing data such as WhatsApp exchanges and everyday conversations. As such, CILLCO functions as a linguistic and communicative resource platform, providing researchers with empirical materials to examine how meaning is made, identities are negotiated, and social relations are enacted in the hybrid spaces of spoken and digital communication. The corpus incorporates multimodal sources, including spoken discourse, social media interactions, online conversations, web documents and comments, transcribed interviews, and regional narratives, all encoded through sophisticated annotation and retrieval tools. By embedding CILLCO within current work in corpus linguistics, communication research, and digital ethnography, this study demonstrates the corpus's potential to advance interdisciplinary investigation into language use, digital discourse, and sociocultural change in Indonesia. CILLCO offers a solid empirical foundation for analyzing communicative practices in Southeast Asia, contributing to decentered, corpus-driven communication research. Ultimately, it sheds light on how digital vernacular communication reshapes the linguistic landscapes and communicative identities of Indonesian speakers in an era of rapid digital transformation.
Menilik Isu Lingkungan dan Kelestarian Alam dalam UU IKN melalui Linguistik Korpus Bayu Permana Sukma; Devi Ambarwati Puspitasari; Winci Firdaus
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 13, No 2 (2024): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v13i2.6838

Abstract

This study aims to analyze and determine the extent to which environmental issues and natural sustainability are accommodated in Law no. 3 of 2022 concerning IKN using a corpus linguistics approach. The data collected in this research is the complete text of Law no. 3 of 2022 concerning IKN, which covers the entire text of the law, including preambles, articles and attachments consisting of 1,099 tokens and reaching 8,653 word frequencies. This research utilizes the use of tools, namely AantConc version 4.2. The analysis techniques applied are word frequency analysis, keywords, concordance, and N-grams. The results of the findings and analysis of statistical data related to vocabulary on environmental topics show that there is no significance in environmental topics that are facilitated in the contents of Law No. 3 of 2023, especially regulations related to law enforcement against environmental violations. The only keyword that appeared in the first hundred hits was the word 'environment' and it was ranked 78th, far below the words 'authority' and 'government' which were in the top ten area, and development-related keywords which were in the top ten, ranked 20th to 30th. Other keywords related to natural sustainability were found in ranks 200th to 800th, out of a total of 1,099 existing tokens. It shows that environmental and sustainability issues are not discussed in a sufficient proportion since their occurrence is significantly fewer than the frequency of the other keywords related to government and development.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengetahui sejauh mana isu lingkungan dan kelestarian alam diakomodasi di dalam UU No. 3 Tahun 2022 tentang IKN dengan menggunakan pendekatan linguistik korpus. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah teks lengkap dari UU No. 3 Tahun 2022 tentang IKN, yang mencakup seluruh naskah undang-undang, termasuk preambule, pasal-pasal, dan lampiran yang terdiri atas 1.099 token dan mencapai 8.653 frekuensi kata. Penelitian ini memanfaatkan penggunaan alat bantu, yaitu AntConc versi 4.2. Teknik analisis yang diterapkan adalah analisis frekuensi kata, kata kunci, konkordasi, dan N-gram. Hasil temuan dan analisis data statistik terkait kosa kata dengan topik lingkungan menunjukkan bahwa tidak ditemukan signifikasi topik lingkungan yang terfasilitasi dalam isi Undang-undang No.3 Tahun 2023, khususnya peratutan terkait penegakan hukum terhadap pelanggaran lingkungan. Satu-satunya kata kunci yang muncul di seratus hits pertama hanyalah kata ‘lingkungan’ dan berada di peringkat ke-78, jauh di bawah kata ‘otorita’ dan ‘pemerintahan’ yang berada di area sepuluh besar, dan kata kunci terkait pembangunan yang berada di peringkat 20 sampai 30. Kata kunci terkait kelestarian alam lainnya ditemukan pada peringkat ke-200 hingga ke-800, dari total 1.099 token yang ada. Hal ini menunjukkan bahwa isu lingkungan dan kelestarian alam tidak banyak dibahas dalam UU IKN karena jumlah kemunculannya tidak sebesar kata-kata kunci lain yang terkait dengan pemerintahan dan pembangunan.