Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

PERBEDAAN STRATEGI KOPING PADA PEREMPUAN HINDU BALI YANG BEKERJA DAN YANG TIDAK BEKERJA Angligan, I G. A. Intan Kinanti; Suarya, Luh Made Karisma Sukmayanti
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.424 KB)

Abstract

In general, women have two roles in life, there are domestic roles and public roles. In terms of Balinese culture, women have three roles or triple roles in life, which are reproductive roles, productive roles, and social roles. Being Balinese Hindu women which is inseparable from the customary of traditional bonds, of course, requires a balance in running are three roles or triple roles in life. There are still many Balinese women imprisoned in a state of dilemma to do a job search for a career, while on the other hand must be a housewife and social activities that unwittingly has its own demands. If this condition is not communicated properly, it can interfere with the psychological condition or stress. To deal with stress and to prevent the negative effects of stress continues to occur, then the individual conduct coping strategies. However, coping strategies do vary considerably between one individual with another individual. This study aims to determine differences in coping strategies in Bali Hindu woman who works and what does not work. This research is a quantitative study using chi-square analysis techniques. The sampling technique used is purposive sampling, on the subject of Balinese Hindu women who worked (being employee) as many as 100 people and who are not working (unemployee) as many as 100 people who live in Denpasar with an age range of 20 years to 40 years. A parametric in this study using a scale of coping strategies as much as 31 item with reliability coefficient of 0,917. The results of this study obtained significance value of 0,406 or is above 0,05 (p>0,05). Based on these results it can be said that there is no difference in coping strategies in employee and unemployee Balinese Hindu woman ( who works and what does not work). A total of 164 subjects in this study belongs to the category of subjects who have combine coping strategies. Keywords: Balinese Hindu Women, Being Employee, Being Unemployee, Coping Strategies
HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL DAN PENYESUAIAN DIRI PADA MASA PENSIUN PEJABAT STRUKTURAL DI PEMERINTAHAN PROVINSI BALI Biya, Cokorda Istri Mirah Jayanti; Suarya, Luh Made Karisma Sukmayanti
Jurnal Psikologi Udayana Vol 3 No 2 (2016)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.434 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2016.v03.i02.p17

Abstract

Personal adjustment is an important factor for retirees. Adjustment is kind of behavior that aims to respond the individual needs. The purpose of personal adjustment is to obtain well becoming between personal demand and the environment where the individual lives. In order to get better personal adjustment in retirement, it really needs social support. Social support refers to provide comfort, taking care and appreciating. The structural officer is identical with adequate service facility, the presence of assistants, the relations and high income, which is cause the relationship between social support and personal adjustment in retirement is highly visible on the structural officer of Civil Servants (PNS) in Bali Province Government who has retired already. This research aims to determine the relationship between social support and personal adjustment in the retirement of structural officer. The subject of this research is structural officer who has retired already and worked in Bali Province, age range is 57-58 years old. Total subjects in this study is 105 persons. Reliability of social support scale is 0.910 and the reliability of retirement personal adjustment scale is 0.894. Normality of social support is 0.200 and normality of personal adjustment in retirement variable is 0.052. Linearity test is 0.000. Analysis methods in this research is pearson product moment correlation . The result of correlation test is 0.717(p=0.000). Based on the result, it shows that there is relationship between social support and personal adjustment in the sstructural civil servants of government in Bali Province. Its mean the higher the sosial support, the higher the adjustment to retirement.Keywords: social support, personal adjustment, retirement
Ketidakpuasan terhadap Tubuh dan Indeks Masa Tubuh sebagai Prediktor terhadap Perilaku Makan Intuitif Remaja Suarya, Luh Made Karisma Sukmayanti; Immanuel, Aria Saloka; Gagahriyanto, Muhammad Anjar
Jurnal Psikologi Udayana Vol 10 No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843//JPU.2023.v10.i02.p04

Abstract

Abstrak Idealnya perilaku makan dalam keseharian individu dapat memberikan dampak sehat secara fisik maupun psikososial. Namun, terkadang individu berperilaku makan semata-mata dilakukan karena ketidaknyamanan kondisi psikologis dan sosial, ataupun sebaliknya, perilaku makan yang berdampak pada kondisi fisik dan psikososial yang kurang sehat. Perilaku makan intuitif menjadi salah satu alternatif perilaku makan yang lebih adaptif karena lebih mengandalkan sinyal fisiologis rasa lapar dan rasa kenyang, untuk makan maupun menghentikan aktivitas makan. Agar individu dapat intuitif dalam berperilaku makan dibutuhkan faktor-faktor tertentu. Faktor yang dipertimbangkan dalam perilaku makan remaja adalah ketidakpuasan terhadap tubuh dan indeks massa tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran ketidakpuasan terhadap tubuh dan indeks massa tubuh terhadap perilaku makan intuitif pada remaja. Alat ukur yang digunakan adalah Skala Perilaku Makan Intuitif, Skala Ketidakpuasan terhadap Tubuh, pada remaja sebanyak 135 orang. Reliabilitas Skala Perilaku Makan Intuitif adalah 0,625, dan reliabilitas dimensi kognitif, afektif, serta perilaku pada Skala Ketidakpuasan terhadap Tubuh berkisar antara 0,689-0,835. Hasil uji regresi berganda menunjukkan model prediksi ketidakpuasan terhadap tubuh F(4,130)=5,205, p<0,05, yang mengindikasikan bahwa ketidakpuasan terhadap tubuh dan indeks massa tubuh secara bersama-sama berperan terhadap perilaku makan intuitif, meskipun kemudian ditemukan bahwa hanya dimensi perilaku dari ketidakpuasan terhadap tubuh (beta=-0,391, p<0,05) yang secara signifikan memprediksi perilaku makan intuitif jika dibandingkan dengan prediktor lainnya dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil tersebut, patut dipertimbangkan faktor ketidakpuasan terhadap tubuh yang lebih rendah guna membantu perilaku makan remaja yang lebih intuitif sehingga diperolehnya kondisi fisik dan psikososial yang lebih sejahtera. Kata kunci: indeks massa tubuh, ketidakpuasan terhadap tubuh, perilaku makan intuitif, remaja Abstract Ideally, eating behavior should be beneficial for individuals’ physical and psychosocial well-being. However, individuals sometimes exhibit eating behavior that is motivated by psychological and social discomforts, or vice versa, where eating behavior causes unhealthy conditions. In this study, intuitive eating behavior could be one of the alternatives for a more adaptive way of eating because it relies on the physiological cues of hunger and satiety for the individuals to eat or stop eating. There are some known factors for individuals to eat intuitively, such as body dissatisfaction and body mass index. This study aims to investigate the role of body dissatisfaction and body mass index in adolescents’ intuitive eating behavior. There were two instruments employed in this study, namely the Intuitive Eating Behavior Scale and Body Dissatisfaction Scale, which were administered to 135 participants. Reliability for the Intuitive Eating Behavior Scale was 0.625, while the cognitive, affective, and behavioral dimensions of Body Dissatisfaction Scale were ranging from 0.689-0.835. The multiple regression analysis showed a predictive model of body dissatisfaction [F(4,130)=5.205, p<0.05], which indicates that body dissatisfaction and body mass index simultaneously affect intuitive eating behavior, although it was later found that only the behavior dimension of body dissatisfaction (beta=-0,391, p<0,05) that could significantly predict intuitive eating behavior compared to the other predictors in this study. Therefore, it is recommended that the behavioral aspect of body dissatisfaction should be considered as an important factor in adolescents’ intuitive eating behavior in order to achieve a better physical and psychosocial well-being. Keywords: body mass index, body dissatisfaction, intuitive eating behavior, adolescents
Peran kecerdasan emosional dan persaingan antar saudara terhadap motivasi berprestasi pada remaja Asari, Putu Cahya Gita; Suarya, Luh Made Karisma Sukmayanti
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (687.544 KB)

Abstract

Motivasi berprestasi adalah keinginan mengalami keberhasilan dan berpartisipasi ke dalam kegiatan, dengan keberhasilan yang bergantung pada upaya dan kemampuan pribadi. Motivasi berprestasi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah kecerdasan emosional dan persaingan antar saudara. Individu yang memiliki kecerdasan emosional yang baik cenderung akan dapat memotivasi diri untuk lebih berprestasi. Begitu pula dengan persaingan antar saudara berperan terhadap motivasi berprestasi, apabila terjadi persaingan antar saudara kandung karena adanya, rasa cemburu sebagai akibat dari perilaku membandingkan oleh orangtua. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif untuk mengetahui peran kecerdasan emosional dan persaingan antar saudara terhadap motivasi berprestasi pada remaja. Subjek dalam penelitian ini adalah remaja dengan rentang usia 12 tahun hingga 21 tahun, sebanyak 137 orang yang dipilih dengan simple random sampling. Alat ukur yang digunakan adalah Skala Motivasi Berprestasi dengan reliabilitas 0.950, Skala Kecerdasan Emosional dengan reliabilitas 0.931, dan Skala persaingan antar saudara dengan reliabilitas 0.946. Hasil uji regresi berganda menunjukkan nilai R=0,727 dan koefisien determinasi sebesar 0,528. Hal ini menunjukkan bahwa variabel kecerdasan emosional dan persaingan antar saudara memberikan hubungan yang positif terhadap motivasi berprestasi dan memberikan pengaruh sebesar 52,8% terhadap motivasi berprestasi. Berdasarkan hal tersebut remaja hendaknya belajar mengelola emosi dengan berlatih introspeksi diri beinteraksi ataupun beradaptasi dengan kehidupan sosialnya, serta orangtua dan masyarakat mampu membuat suasana lingkungan yang positif dengan harapan dapat terciptanya motivasi berprestasi. Kata Kunci: Kecerdasan emosi, motivasi berprestasi, persaingan antar saudara, remaja
MEDITASI MENINGKATKAN REGULASI EMOSI PADA REMAJA Tejena, Natassa R; Suarya, Luh Made Karisma Sukmayanti
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.987 KB)

Abstract

Pada masa remaja, individu mengalami perubahan emosi. Emosi remaja yang cenderung meledak-ledak dan sulit dikendalikan apabila tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan berbagai masalah bagi remaja dan lingkungan sekitarnya. Untuk itu, remaja membutuhkan kemampuan regulasi emosi. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk melatih regulasi emosi adalah meditasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah meditasi meningkatkan regulasi emosi pada remaja. Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimen dengan desain penelitian NonEquivalent Group Design. Meditasi yang digunakan adalah meditasi Bali Usada yang terdiri dari meditasi teknik mindfulness dan loving kindness. Subjek dalam penelitian ini adalah remaja berusia 15 sampai dengan 18 tahun atau siswa SMA atau SMK di Denpasar yang diperoleh dengan melakukan two stages cluster sampling. Subjek dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok eksperimen yang terdiri dari 32 orang dan kelompok kontrol yang terdiri dari 31 orang. Kedua kelompok diberikan pre-test berupa skala regulasi emosi. Kemudian, kelompok eksperimen diberikan perlakuan berupa pelatihan meditasi selama sebulan, sedangkan kelompok kontrol tidak diberikan pelatihan. Setelah itu, kedua kelompok diberi post-test berupa skala regulasi emosi.Hasil uji hipotesis dengan Paired Sample ttest menunjukkan nilai signifikansi selisih pre-test dan post-test pada kelompok eksperimen sebesar 0.000yang kurang dari 0.05 (p<0.05) dan nilai signifikansi selisih pre-test dan post-test pada kelompok kontrol sebesar 0.388 yang lebih dari 0.05 (p>0.05). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa meditasi dapat meningkatkan regulasi emosi pada remaja. Kata Kunci: meditasi, regulasi emosi, remaja.
Hubungan Intensitas Latihan Musik Gamelan Bali dan Kecerdasan Emosional Ariani, Nyoman Wiraadi Tria; Suarya, Luh Made Karisma Sukmayanti
Jurnal Psikologi Udayana Vol 1 No 1 (2013)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.018 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2013.v01.i01.p15

Abstract

Nowdays, more teenagers have a tendency of experiencing emotional difficulties that needed a way to overcome them, such as by developing the adolescent's emotional intelligence. The development of adolescent's emotional intelligence can be done through music, one of them with the traditional Indonesian gamelan music of Bali. Exercise at Balinese gamelan is played by a group of individuals together with the rules or certain grip. At the time of practicing gamelan, besides having a duty to beat his own gamelan instrument, the individual must also consider the gamelan instruments played by colleagues in the ensemble, so can produce a harmonious sound of gamelan (Donder, 2005). This study aims to determine the relationship between exercise intensity Balinese gamelan music and emotional intelligence.   This study uses quantitative correlation with the number of subjects 135 students of ISI Denpasar. The sampling method used purposive sampling and data collection tool using Exercise Intensity Scale Gamelan Music of Bali (r = 0.848) and Emotional Intelligence Scale (r = 0.772). Methods of data analysis using Product-Moment correlation, which then obtained yield was 0,550. The results showed a positive relationship between exercise intensity of Balinese gamelan music and emotional intelligence are the higher intensity of exercise at Balinese gamelan music, the higher the emotional intelligence will be. Intensity exercise Balinese gamelan music's variable can contribute 30,25% to the variables of emotional intelligence, while 69.75% was influenced by other factors than the variable of intensity exercise Balinese gamelan music. Other factors beyond the intensity exercise Balinese gamelan music's variable by Goleman (1997) is a family environment, environmental non-family, physical, and psychological.   Keywords: Intensity of exercise to music, Balinese gamelan, emotional intelligence
HUBUNGAN ANTARA SOCIAL COMPARISON DAN HARGA DIRI TERHADAP CITRA TUBUH PADA REMAJA PEREMPUAN Sari, Ida Ayu Wika Permata; Suarya, Luh Made Karisma Sukmayanti
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (563.272 KB)

Abstract

Citra tubuh merupakan hal yang sangat penting bagi seorang remaja. Remaja perempuan memiliki kekhawatiran yang lebih tinggi terhadap konsep citra tubuh yang dimiliki. Seseorang biasanya dalam menilai citra tubuh yang dimiliki melalui sebuah social comparison dan juga menilai harga diri yang dimiliki untuk menghasilkan penilaian citra tubuh yang negatif ataukah positif. Subjek pada peneitian ini berjumlah 100 orang remaja perempuan yang berusia 15-18 tahun. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini ialah cluster random sampling. Alat ukur penelitian yang digunakan ialah Skala Citra Tubuh, Skala Social Comparison, dan Skala Harga Diri. Hasil uji analisis regresi ganda menunjukan nilai R 0,729 dan R2 0,532 sehingga dapat dikatakan bahwa perbandingan sosial dan harga diri menentukan 53,2% citra tubuh yang dimiliki oleh remaja perempuan. Koefisien beta terstandarisasi dari social comparison sebesar -0,411 dengan nilai t sebesar -5,063 dan memiliki taraf signifikansi sebesar 0,000 (<0,05) yang menunjukkan bahwa social comparison berhubungan terhadap citra tubuh, nilai t yang negatif menunjukan bahwa variabel social comparison memiliki hubungan yang berlawanan terhadap variabel citra tubuh, dimana artinya hubungan antara perbandingan sosial dan citra tubuh berbanding terbalik yaitu semakin tinggi social comparison, maka akan semakin rendah citra tubuhnya begitupun sebaliknya. Variabel harga diri memiliki koefisien beta terstandarisasi sebesar -0,427 dengan nilai t sebesar -5,258 dan memiliki taraf signifikansi sebesar 0,00 (<0,05) yang menunjukkan bahwa harga diri berhubungan terhadap citra tubuh, nilai t yang negatif menunjukan bahwa variabel harga diri memiliki hubungan yang berlawanan terhadap variabel citra tubuh, dimana artinya hubungan antara harga diri dan citra tubuh berbanding terbalik yaitu semakin tinggi harga diri, maka akan semakin rendah citra tubuhnya begitupun sebaliknya. Kata Kunci : Citra Tubuh, Social Comparison, Harga Diri, dan Remaja Perempuan
Kepatuhan Mengonsumsi Obat Pasien Hipertensi Di Denpasar Ditinjau Dari Kepribadian Tipe A Dan Tipe B Evadewi, Putu Kenny Rani; Suarya, Luh Made Karisma Sukmayanti
Jurnal Psikologi Udayana Vol 1 No 1 (2013)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.185 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2013.v01.i01.p04

Abstract

The changes of life style in today’ such as reductions in physical activity led to the emergence of a variety of chronic diseases such for instance hypertension. Hypertensive patients are required to take medication on a regular basis, so that the necessary compliance in taking the drug. There are various factors that affect adherence taking the drug, one of which is personality. Personality type A and type B is said to have a close relationship with chronic disease. This study aims to determine the compliance of hypertensive patients taking the drug in Denpasar in terms of personality type A and type B.   This research is quantitative comparative method. Sampling technique used is purposive random sampling. The population in this study were hypertensive patients in Denpasar with the number of respondents 267 subjects. Number of samples with type A personalities are 135 subjects and type B personality as much as 132 subjects. Data analysis methods used are independent samples t test (p<0,05).   The results indicate there are differences in medication adherence among hypertensive patients taking personality types A and B (significance p=0.001). More respondents overall had a bad drug taking compliance (189 subjects) compared to subjects who had good adherence (78 subjects). Moreover, taking medication compliance analysis based on age, sex, duration of hypertension showed more male subjects, ages 52 to 59 years, with hypertension 6 to 10 years which may had a role in adherence patients taking medication.   Keywords: Compliance of medication consumption, type A and type B personalities, hypertension
DINAMIKA HARAPAN IBU TUNGGAL YANG MEMILIKI ANAK DENGAN GANGGUAN AUTISME PADA FASE DEWASA AWAL Pratiwi, Putu Ika; Suarya, Luh Made Karisma Sukmayanti
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (636.583 KB)

Abstract

Menjadi ibu tunggal yang memiliki anak dengan gangguan autisme dapat menyebabkan cemas dan depresi maternal(Orsmond dkk., 2007). Seiring bertambahnya usia, stresor ibu tunggal juga meningkat. Hal tersebut dapat memengaruhikesejahteraan hidup ibu tunggal dan kualitas pengasuhan. Kondisi patologis yang berlanjut dapat mengarah padapemikiran kematian dan kecenderungan pengabaian pengasuhan (Cox dkk., 2015). Salah satu cara yang dapat dilakukanibu tunggal untuk meminimalisir kondisi patologis adalah dengan mengembangkan harapan (Monsson, 2010). Harapandidefinisikan sebagai kondisi mental yang positif tentang kemampuan untuk mencapai tujuan di masa mendatang (Lopez& Snyder, 2003). Penelitian ini bertujuan untuk melihat dinamika harapan ibu tunggal yang memiliki anak dengangangguan autisme pada fase dewasa awal.Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan studi kasus. Teknikpengambilan sampel adalah sampel bertujuan. Responden merupakan ibu tunggal, memiliki anak dengan gangguanautisme pada fase dewasa awal. Data dikumpulkan dengan melakukan wawancara, observasi, dan penghimpunandokumen. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan sistem koding, terdiri dari koding terbuka, aksial, dan selektif(Strauss, 2003). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dinamika harapan terdiri dari fase penurunan level harapan,fase membangun harapan, dan proses harapan. Kondisi anteseden dan faktor harapan memengaruhi dinamika harapandalam penelitian ini. Kata kunci: dinamika harapan, ibu tunggal, gangguan autisme pada fase dewasa awal
HUBUNGAN SIKAP TERHADAP AYAHAN DENGAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS PEREMPUAN HINDU BALI DI DESA ADAT LEGIAN Jayanti, Ni Luh Christina Prapmika; Suarya, Luh Made Karisma Sukmayanti
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.518 KB)

Abstract

Setiap perempuan yang menikah dengan laki-laki Hindu Bali dan beragama Hindu, akan secara langsung melaksanakan social roles (peran sosial) dengan tanggung jawab melaksanakan ayahan, selain melaksanakan peran sebagai ibu rumah tangga dan bekerja. Ayahan adalah wajib kerja atau tugas yang harus dilaksanakan oleh krama banjar atau krama desa, baik kegiatan adat, kegiatan agama maupun kegiatan sosial kemasyarakatan. Frekuensi pelaksanaan ayahan di Desa Adat Legian yang cenderung tinggi, dengan penerapan yang cukup kompleks dan diasumsikan menyebabkan ketidakseimbangan dalam peran yang dimiliki perempuan Hindu Bali, dapat memunculkan sikap yang negatif terhadap ayahan pada perempuan Hindu Bali di Desa Adat Legian dan diyakini berhubungan dengan kesejahteraan psikologis perempuan Hindu Bali. Sebaliknya, ketika perempuan Hindu Bali di Desa Adat Legian dengan ikhlas dan merasa bahagia melaksanakan ayahan yang cukup kompleks, akan memunculkan sikap positif terhadap ayahan yang dapat berhubungan dengan kesejahteraan psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan postif antara sikap terhadap ayahan dengan kesejahteraan psikologis pada perempuan Hindu Bali di Desa Adat Legian dan seberapa besar sikap terhadap ayahan berkontribusi terhadap kesejahteraan psikologis pada perempuan Hindu Bali di Desa Adat Legian. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan analisis regresi sederhana. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan skala penelitian yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya kepada 221 perempuan Hindu Bali di Desa Adat Legian. Data penelitian mengikuti distribusi normal dan linear. Hasil dari penelitian ini menunjukkan koefisien korelasi sebesar 0.180 dan probabilitas 0.007 (p<0.05). Hal ini berarti ada hubungan positif antara sikap terhadap ayahan dengan kesejahteraan psikologis perempuan Hindu Bali di Desa Adat Legian. Sumbangan dari variabel sikap terhadap ayahan terhadap kesejahteraan psikologis adalah sebesar 3.2%. Kata Kunci: sikap, ayahan, kesejahteraan psikologis, perempuan Hindu Bali, Legian.