Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Farmaka

REVIEW ARTIKEL : PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK (PPOK) AFINA DWI RACHMAWATI; SULISTIYANINGSIH SULISTIYANINGSIH
Farmaka Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v18i2.26057

Abstract

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan masalah kesehatan global yang semakin meningkat, ditandai dengan obstruksi jalan nafas yang buruk, bronkiolitis obstruktif kronik dan emfisema. Penyakit ini disebabkan oleh paparan asap rokok dalam jangka waktu lama serta udara yang tidak bersih. Manajemen gejala dan resiko juga mencakup pengobatan secara farmakologi dan non-farmakologi. Beberapa obat yang digunakan untuk mengobati PPOK yaitu bronkodilator kerja cepat, antikolinergik kerja panjang, beta2-agonis kerja panjang, inhalasi kortikosteroid. Diketahui bahwa obat-obat tersebut memiliki efek positif untuk menghilangkan gejala batuk dan sesak nafas, eksaserbasi dan meningkatkan fungsi paru-paru.
ARTIKEL TINJAUAN: PENGGUNAAN NSAIDs (NON STEROIDAL ANTI INFLAMATION DRUGS) MENGINDUKSI PENINGKATAN TEKANAN DARAH PADA PASIEN ARTHRITIS FADHILA PUTRI IMANANTA; SULISTIYANINGSIH SULISTIYANINGSIH
Farmaka Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.586 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i1.16862

Abstract

NSAIDs (Non Steroidal Anti Inflamation Drugs) merupakan golongan obat antiinflamasi yang sering digunakan untuk mengatasi inflamasi pada pasien arthritis. Selain menghasilkan efek antiinflamasi, penghambatan sintesis prostaglandin oleh NSAIDs juga memiliki efek samping berupa peningkatan tekanan darah karena mekanisme yang berkaitan dengan retensi natrium dan air. Efek samping tersebut akan menjadi permasalahan ketika NSAIDs digunakan untuk mengatasi inflamasi pada pasien arthritis yang juga menderita hipertensi. Penghambatan sintesis prostaglandin oleh NSAIDs juga berdampak pada penurunakan aliran darah pada ginjal sehingga menyebabkan teraktivasinya sistem renin-angiotensin. Tujuan dari review ini yaitu untuk mengetahui efek penggunaan NSAIDs terhadap peningkatan tekanan darah pada pasien hipertensi dengan penyakit penyerta arthritis. Metode yang digunakan pada review ini yaitu dengan melakukan penelusuran pustaka berupa jurnal penelitian dan guideline. Didapatkan 16 jurnal dan guideline yang  berhubungan dengan penggunaan NSAIDs dan penyakit Hipertensi.  NSAIDs dapat menimbulkan peningkatan tekanan darah melalui mekanisme kerja penghambatan prostaglandin dan prostasiklin yang menyebabkan vasokonstriksi ginjal, peningkatan resobsi natrium dan air serta penurunan ekskresi natrium. Kata Kunci: NSAIDs, Hipertensi, Tekanan Darah, Arthritis
REVIEW: RESISTENSI ANTIBIOTIK PADA TERAPI PENGOBATAN JERAWAT Winona Madelina; Sulistiyaningsih Sulistiyaningsih
Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.311 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i2.17665

Abstract

Acne vulgaris (jerawat) adalah penyakit kulit peradangan kronis dengan patogenesis kompleks, melibatkan kelenjar sebasea, hiperkeratinisasi folikular, kolonisasi bakteri berlebihan, reaksi imun tubuh dan peradangan. Antibiotik memegang peran penting dalam terapi pengobatan jerawat. Pilihan pengobatan didasarkan pada persepsi dokter terkait efikasi, efektivitas biaya atau rasio risiko-manfaat dan jarang mempertimbangkan resistensi bakteri. Antibiotik topikal dan oral secara rutin digunakan untuk mengobati jerawat. Namun, kasus resistensi antibiotik meningkat, dengan banyak negara melaporkan bahwa lebih dari 50% dari strain Propionibacterium acnes tahan terhadap makrolida topikal, membuatnya kurang efektif. Prevalensi P. acnes resisten antibiotik bervariasi di berbagai belahan dunia. Angka prevalensi yang tinggi di antara negara-negara Eropa, dengan resistensi eritromisin ⁄ klindamisin berkisar dari 45% hingga 91% dan resistensi tetrasiklin dari 5% menjadi 26,4% (kecuali Italia dan Hungaria yang memiliki 0%). Di Asia, ada perbedaan besar dalam prevalensi P. acnes resisten antibiotik antara berbagai negara Asia. Misalnya di Jepang, tingkat resisten eritromisin ⁄ klindamicin hanya 4% dan tetrasiklin ⁄ doksisiklin dengan 2%. Di Korea, penelitian terbaru hanya menemukan satu dari 33 strain (3,2%) yang diisolasi resisten terhadap klindamisin dan penulis berpendapat bahwa P. acnes resisten antibiotik belum berkembang cukup baik di Korea.
Dispersi Padat DANINTYA FAIRUZ TRIANGGANI; Sulistiyaningsih Sulistiyaningsih
Farmaka Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.333 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i1.16703

Abstract

Kelarutan merupakan faktor yang penting dalam penghantaran obat secara oral. Untuk obat dengan kelarutan yang rendah tetapi permeabilitasnya tinggi, tahap penentu absorpsi obat ditentukan oleh proses disolusi. Sehingga, diperlukan suatu usaha untuk meningkatkan disolusi dengan meningkatkan kelarutannya sehingga mempercepat proses absorpsi dan onset kerja obat. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan kelarutan obat adalah menggunakan metode dispersi padat yaitu produk solid yang umumnya terdiri dari obat hidrofobik dan matriks hidrofilik. Penggunaan metode dispersi padat yang tepat dapat meningkatkan kelarutan obat sehingga meningkatkan mutu produk. Sehingga, artikel ini berisi ulasan mengenai dispersi padat termasuk klasifikasi, keuntungan, kerugian, mekanisme pelepasan, dan metode pembuatan, serta metode evaluasi dari dispersi padat dengan tujuan agar penggunaan dispersi padat menjadi tepat dan dapat menjamin mutu produk obat tersebut.
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol dan Fraksi Daun Jawer Kotok (Coleus atropurpureus (L.) Benth.) Terhadap Bakteri Propionibacterium acnes ATTC 1223 dan Staphylococcus epidermidis ATTC 12228 NIDIAZKA PUSPANEGARA FAUZI; SULISTIYANINGSIH SULISTIYANINGSIH; DUDI RUNADI; IMAM ADI WICAKSONO
Farmaka Vol 15, No 3 (2017): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (728.782 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i3.12810

Abstract

Jerawat atau akne merupakan kondisi kulit dimana terdapat penyumbatan pori-pori kulit yang terlihat dari timbulnya bintik-bintik pada wajah yang sering terjadi pada usia remaja, yang biasanya disebabkan oleh bakteri Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis. Salah satu tanaman yang dapat berfungsi sebagai antijerawat adalah jawer kotok (Coleus Atropurpureus (L) Benth.). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol dan fraksi daun jawer kotok (Coleus Atropurpureus (L) Benth.) serta menetapkan nilai KHTM (Konsentrasi Hambat Tumbuh Minimum) dan KBM (Konsentrasi Bunuh Minimum) nya terhadap bakteri Propionibacterium acnes ATTC 1223 dan Staphylococcus epidermidis ATTC 12228. Tahap penelitian meliputi determinasi tumbuhan dan penyiapan simplisia, ekstraksi simplisia, fraksinasi ekstrak, penapisan fitokimia ekstrak, dan penentuan profil Kromatografi Lapis Tipis (KLT) ekstrak, uji konfirmasi bakteri, uji aktivitas antibakteri ekstrak, uji aktivitas antibakteri ekstrak dan fraksi, penentuan Konsentrasi Hambat Tumbuh Minimum (KHTM) dan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) fraksi teraktif dari ekstrak. Metode untuk uji aktivitas antibakteri adalah metode difusi agar. Untuk penetapan KHTM dan KBM menggunakan metode mikrodilusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak, fraksi n-heksan, dan fraksi etil asetat daun jawer kotok mempunyai aktivitas terhadap Propionibacterium acnes ATTC 1223 dan Staphylococcus epidermidis ATTC 12228. Fraksi teraktif adalah fraksi n-heksan dengan nilai KHTM terhadap Propionibacterium acnes ATTC 1223 antara 0,78% - 0,0487%  b/v dan nilai KBM 1,56%  b/v sedangkan nilai KHTM terhadap Staphylococcus epidermidis ATTC 12228 antara 0,39% - 0,0487% b/v dan nilai KBM 0,78 % b/v. Kata kunci : Antibakteri, Daun Jawer Kotok, Coleus Atropurpureus (L) Benth., , Propionibacterium acnes, Staphylococcus epidermidis
Obat Herbal untuk Penanganan Kemoterapi dan Efek Samping YOGIYANTO YANTO; Sulistiyaningsih Sulistiyaningsih
Farmaka Vol 15, No 4 (2017): Farmaka Desember
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.245 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i4.14750

Abstract

Kanker merupakan salah satu penyebab kematian utama di seluruh dunia dimana pada tahun 2012, sekitar 8,2 juta kematian disebabkan oleh kanker. Penyakit kanker adalah penyakit yang timbul akibat pertumbuhan tidak normal sel jaringan tubuh yang berubah menjadi sel kanker. Sejauh ini, penanganan untuk penyakit kanker dapat dilakukan dengan kemoterapi, radioterapi, dan operasi. Beberapa obat kemoterapi yang paling sering digunakan adalah antimetabolit (contoh: metotreksat), agen interaktif DNA (contoh: cisplatin), agen antitubulin (contoh: taksan), hormon dan agen penarget molekular. Namun obat kemoterapi tidak lepas dari efek samping yang dapat menurunkan kualitas hidup penderita kanker. Oleh karena itu, review ini akan membahas tentang obat-obat herbal yang dapat digunakan sebagai antikanker serta menangani efek samping dari kemoterapi. Metode dalam review ini adalah penelusuran pustaka dengan menggunakan Pubmed dan Google Scholar. Pencarian dilakukan dengan menggunakan kata kunci “chemotherapy”, “herbal chemotherapy”, “efek samping kemoterapi”, “obat tradisional kemoterapi”. Hasil review menunjukkan bahwa penggunaan obat herbal atau bahan alami dalam penanganan kemoterapi memberikan efek kemoterapi dengan berbagai mekanisme seperti menekan proliferasi sel, induksi apoptosis, memperlambat metastasis, tanpa menurunkan kualitas hidup penderita kanker. Beberapa obat herbal juga dapat digunakan untuk mengatasi efek samping yang muncul akibat kemoterapi seperti anoreksia, diare, neuropati, dan lain-lain.