Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

PENGARUH ELEVASI TERHADAP KEANEKARAGAMAN POHON DI KAWASAN GUNUNG TANGKOKO Johanes Daniel Mewengkang; Johny S. Tasirin; Maria Y.M.A. Sumakud
COCOS Vol. 14 No. 3 (2022): EDISI JULI-SEPTEMBER 2022
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/cocos.v8i8.38803

Abstract

Abstract Mount Tangkoko is an ideal place for this research because the Mount area stretches from the coastal elevation to an altitude of 1099 meters asl. This study aims to determine the effect of elevation on the diversity of tree species in the Tangkoko Mountain area. The results of this study identified 26 tree species and 20 families of 15 plots divided into three specified heights, namely 0 m above sea level (coastal forest), 300 m above sea level, and 600 masl. The diversity index shows a value of 2.43 at an elevation of 0 m, a value of 2.11 at an elevation of 300 m, and 1.95 at an elevation of 600 m, with the number of tree species at each elevation obtained sequentially amounting to 16, 13, and 11 tree species. Each height is dominated by The different tree species were Kleinhovia hospita tree with INP 55.22%, Cananga odorata tree at 300 m elevation with INP 94.92% and Spathodea campanulata tree at 600 m elevation with INP 101.52%. The tree attributes analyzed in the Tangkoko Mountain area show a general pattern which is indicated by the effect of elevation on the tree. However, statistical analysis shows a comparison of less visible differences in tree attributes (Diversity Index, Base area, Number of species per elevation, Number of families per elevation and tree density) and total tree diameter of the three elevations plotted. Key Word : tree diversity, tangkoko, elevation effect, altitude, ivi, important value index, lowland forest Pendahuluan Pada umumnya pohon mempunyai fungsi yang sangat besar bagi kehidupan dibumi, tidak hanya memproduksi oksigen sebagai senyawa esensial bagi makhluk hidup, pohon juga mempunyai fungsi edaphis yaitu merupakan tempat tinggal dari berbagai jenis makhluk hidup, berfungsi sebagai biomassa dan fungsi ekologis lainnya. Berbeda jenis pohon dapat juga mempunyai fungsi yang berbeda, seperti pada pohon bergenus ficus, pohon dengan genus ficus pada umumnya memiliki rongga pada batangnya yang digunakan primata tarsius untuk dijadikan sebagai sarang sekaligus tempat hewan ini melindungi diri dari predator. Tidak hanya untuk hewan, simbiosis ini juga dapat terjadi antar pohon dan tumbuhan. Pohon jelas menjadi salah satu objek untuk adanya simbiosis pada ekosistem huta
Potensi Ekowisata Gunung Payung Desa Poopo, Kabupaten Minahasa Selatan Pelle, Betrosali; Langi, Martina A.; Sumakud, Maria Y.M.A.
Silvarum Vol. 3 No. 2 (2024): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v3i2.57648

Abstract

Gunung Payung merupakan kawasan wisata yang berada diketinggian 500 mdpl, terletak di Desa Poopo, Kecamatan Ranoyapo, Kabupaten Minahasa Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi wisata berkaitan dengan aspek biofisik dan budaya masyarakat di kawasan wisata gunung payung desa Poopo. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik survey untuk melihat kondisi lokasi penelitian, eksplorasi untuk pengumpulan data jenis flora fauna, dokumentasi untuk melihat potensi fisik, dan wawancara untuk mengetahui potensi budaya masyarakat desa poopo. Hasil penelitian menunjukan Potensi biofisik terdapat 36 jenis flora; 1 jenis flora endemik sulawesi yaitu Pinang yaki (Areca vestiaria), dan 26 jenis fauna; 8 jenis fauna endemik Sulawesi 2 diantaranya berstatus Vulnerable oleh IUCN Redlist yaitu Kangkareng Sulawesi (Penelopides exarhatus), Julang Sulawesi (Aceros cassidix), 4 obyek fisik keindahan; lansekap lautan awan dan sunrise, pemandangan vegetasi hutan, persawahan, dan camping ground, selain potensi biofisik juga terdapat potensi 5 potensi Budaya masyarakat yaitu; peninggalan bersejarah batu lesung, batu tiga (tumani indo’ong), tradisi seni budaya mawolay, kuliner, dan budaya mapalus.
Analisis Potensi Kayu pada Hutan Hutan Rakyat Desa Kayuuwi Kecamatan Kawangkoan Barat Rantumbanua, Kiraldy; Walangitan, Hengki D.; Sumakud, Maria Y.M.A.
Silvarum Vol. 3 No. 2 (2024): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v3i2.57650

Abstract

Tujuan Penelitian ini untuk mendeskripsikan komposisi jenis dan menganalisis potensi kayu pada hutan rakyat di Desa Kayuuwi, Kecamatan Kawangkoan Barat, Kabupaten Minahasa. Penelitian ini di laksanakan pada bulan Februari 2023. Pengamatan terdiri dari pengambilan jenis pohon, diameter dan tinggi bebas cabang, serta akan di catat tanaman kehutanan dan pertanian untuk mengetahui komposisi hutan rakyat yang terdapat pada 34 plot ukur. Potensi kayu yang di maksud dalam hal ini adalah potensi kayu yang sudah dapat digunakan yaitu pohon yang berdiameter ≥ 20 cm. Terdapat 12 jenis pohon pada hutan rakyat dengan jumlah individu sebanyak 262 dan volume kayu keseluruhan 113.7 m³. Berdasarkan hasil penelitian nilai pendugaan rata-rata hutan rakyat perhektar yaitu 33,43 ± 4,6 m³/ha. Kayu hutan rakyat biasanya di gunakan oleh masyarakat sebagai bahan dalam pembuatan rumah kayu dan furnitur. Serta terdapat komposisi jenis yang telah diidentifikasi terdapat 20 jenis tanaman berkayu dan 9 tanaman semusim.
Persepsi Masyarakat Terhadap Peran Ekosistem Hutan Mangrove di Desa Tinongko Pulau Mantehage Kawasan Taman Nasional Bunaken Gaputra, Adin; Walangitan, Hengki D.; Sumakud, Maria Y.M.A.
Silvarum Vol. 3 No. 3 (2024): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v3i3.54013

Abstract

Hutan mangrove memiliki peran besar bagi makhluk hidup baik secara langsung ataupun tidak langsung. Ekosistem mangrove merupakan habitat, tempat berlindung dan juga sebagai suplai makanan yang dapat menunjang perkembangan biota. Hutan mangrove di Pulau Mantehage memiliki luas 1.340,92 Ha yang ditetapkan sebagai zona inti kawasan konsevasi oleh Taman Nasional Bunaken dan sebagai kawasan lindung berdasarkan peta RTRW Minahasa Utara tahun 2011-2031. Namun sebelum menjadi kawasan konservasi terjadi konflik tenurial antara masyarakat setempat dengan pengelolah Taman Nasional Bunaken, konflik tenurial di Pulau Mantehage terjadi akibat adanya perbedaan kepentingan pemanfaatan lahan antara pemangku kawasan dengan masyarakat setempat. Pemangku kawasan mempunyai kepentingan mengatur, mengarahkan, mengawasi untuk melaksanakan visi dan misi pengelolaan yang telah ditetapkan, sebaliknya masyarakat merasa telah turun temurun memiliki, menguasai dan mengolah lahan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi masyarakat Desa Tinongko Pulau Mantehage Kawasan Taman Nasional Bunaken tentang peran ekosistem hutan mangrove bagi kehidupan masyarakat yang beraktifitas di sekitar hutan. Berdasarkan hasil penelitian persepsi masyarakat terhadap peran ekosistem mangrove di Desa Tinongko didapatkan hasil perhitungan persepsi masyarakat tergolong kategori tinggi, namun pada anailisis persepsi masyarakat tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat persepsi dengan karakteristik responden. Kata kunci : Persepsi Masyarakat, Peran Ekosistem Mangrove, Pulau Mantehage.
Identifikasi Medan Banjir di Bentang Alam Binerean, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Provinsi Sulawesi Selatan Ragentu, Deris Wijayanti; Rombang, Johan A.; Sumakud, Maria Y.M.A.
Silvarum Vol. 4 No. 1 (2025): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v4i1.58055

Abstract

Kejadian banjir disebabkan terutama oleh limpasan air permukaan yang jauh melebihi kemampuan tanah untuk menyerap air yang datang. Kelebihan air ini diakibatkan oleh curah hujan yang tinggi, berkurangnya daya serap lahan, dan kiriman banjir bandang. Wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan mempunyai beberapa sungai yang ada pada kecamatan Pinolosian Tengah yaitu sungai Mataindo dan Minangan Mopopungu. Kejadian banjir hampir setiap tahun terjadi pada sungai yang ada di Pinolosian Tengah. Kejadian banjir yang sering terjadi tentunya meresahkan masyarakat. Bentang alam Binerean memiliki kondisi tutupan lahan hutan sekunder terbesar dengan persentase 32%. Kondisi kemiringan lereng di wilayah ini memiliki persentase terbesar datar 28%. Setiap bulan berpeluang terjadi banjir di Desa Mataindo dan Mataindo Utara. Faktor-faktor penyebab banjir meliputi kondisi topografi yang miring, curah hujan tinggi, serta jenis tutupan lahan seperti sawah, semak, hutan, kebun, pertanian lahan kering, dan pemukiman. Kejadian banjir di Mataindo dan Mataindo Utara terjadi pada rata-rata curah hujan lebih dari 76 mm. Hasil pemetaan daerah rawan banjir menunjukkan bahwa setiap bulan daerah bentang alam Binerean terjadi banjir pada Desa Mataindo dan Mataindo Utara dengan curah hujan tertinggi yang terdapat pada bulan Juli dan Agustus. Penyebab banjir juga disebabkan luapan air dari Sungai Minanga Mopopungu dan Sungai Mataindo yang ada di daerah tersebut. Kata kunci: Daerah Rawan Banjir, Curah Hujan, Tutupan Lahan
Karakteristik Hutan Rakyat di Danau Tondano Temongmere, Margareta Papuani; Walangitan, Hengki D.; Sumakud, Maria Y.M.A.
Silvarum Vol. 4 No. 1 (2025): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v4i1.58112

Abstract

Hutan rakyat merupakan salah satu strategi perhutanan sosial yang bertujuan mengatasi ketimpangan dalam pemanfaatan dan pengelolaan kawasan hutan, serta menyelesaikan masalah ekonomi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik hutan rakyat di sekitar Danau Tondano. Pengambilan data dilakukan pada bulan Desember 2023. Proses pengambilan data menggunakan metode survey dengan plot ukur tree sampling dengan 4 pohon. Hasil survei menunjukan terdapat 11 lokasi penelitian dengan 5 kebun menerapkan hutan rakyat pola monokultur, 2 kebun hutan rakyat pola campuran dan 4 kebun hutan rakyat dengan pola agroforestri. Jenis Pohon yang dominan adalah cempaka. Pengelolaan hutan rakyat pada 11 lokasi hutan rakyat ini dinilai masih rendah.
Persepsi Masyarakat Terhadap Wisata Hutan Mangrove di Desa Serawet Kecamatan Likupang Timur Kabupaten Minahasa Utara Jikir, Safira; Walangitan, Hengki D.; Sumakud, Maria Y.M.A.
Silvarum Vol. 4 No. 1 (2025): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v4i1.58119

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi serta hubungan antara persepsi dengan usia, tingkat pendidikan, dan pekerjaan. Penelitian ini menggunakan metode simple random sampling dengan teknik wawancara langsung melalui kuesioner yang diajukan kepada 42 responden. Selanjutnya, analisis persepsi masyarakat menggunakan uji validasi dan uji reliabilitas. Analisis data dilakukan untuk mengetahui hubungan persepsi masyarakat terhadap hutan mangrove Desa Serawet dengan tingkat umur, tingkat pendidikan, dan pekerjaan. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakanan alisis statistik non parametrik Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penilaian persepsi masyarakat terhadap wisata hutan mangrove termasuk sedang. Persepsi masyarakat terhadap lanskap tidak memiliki hubungan dengan tingkat umur, tingkat pendidikan, dan pekerjaan. Persepsi masyarakat lebih dipengaruhi oleh nilai manfaat yang dirasakan oleh masyarakat. Kata kunci: Persepsi, Hutan Mangrove, Desa Serawet
Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) Oleh Masyarakat Sekitar Hutan Desa Tondei II Kecamatan Motoling Barat, Kabupaten Minahasa Selatan nurul falah, lazuardi; Pangemanan, Euis F.S.; Sumakud, Maria Y.M.A.
Silvarum Vol. 2 No. 3 (2023): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v2i3.49539

Abstract

Abstrak Penelitian bertujuan mendeskripsikan jenis HHBK yang dimanfaatkan masyarakat sekitar hutan di Desa Tondei II Kecamatan Motoling Barat, Kabupaten Minahasa Selatan. Pengambilan data dilakukan dengan metode wawancara, observasi, dan triangulasi. Pemilihan responden dilakukan dengan metode purposive sampling yaitu Kepala Desa, Sekertaris Desa, dan masyarakat/petani yang memanfaatkan HHBK pada lokasi penelitian. Berdasarkan hasil penelitian ini, pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK) di Desa Tondei II Kecamatan Motoling Barat, Kabupaten Minahasa Selatan meliputi jenis flora dan fauna. HHBK jenis flora yaitu aren, bambu, dan pala sedangkan jenis fauna adalah tikus hutan dan lebah liar. Aren yang di manfaatkan bagian nira kemudian diolah menjadi gula merah; bambu di manfaatkan sebagai pagar, ajir, tangga, kandang ayam, peralatan-peralatan dapur, penahan atap maupun penahan bangunan; pala dimanfaatkan hanya biji saja sementara daging buah dibuang; tikus hutan dagingnya dikonsumsi atau dijual; dan lebah liar yang dimanfaatkan adalah madunya. Kata kunci : HHBK, masyarakat Tondei II.