Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

KELIMPAHAN DAN SEBARAN SPASIAL-TEMPORAL FITOPLANKTON DI ESTUARI SUNGAI SIAK KAITANNYA DENGAN PARAMETER OSEANOGRAFI amri, khairul; Ma?mun, Asep; Priatna, Asep; Suman, Ali; Prianto, Eko; Muchlizar, Muchlizar
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 21, No 2 (2019)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (852.062 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2019.21-2.976

Abstract

Kelimpahan fitoplankton menunjukkan tingkat produktivitas perairan. Dalam upaya pemanfaatan sumberdaya hayati estuari Sungai Siak, diperlukan kajian kondisi komunitas dan kelimpahan fitoplankton serta hubungannya dengan kondisi oseanografi yang menggambarkan produktivitas perairannya. Untuk itu, telah dilakukan penelitian mengenai hubungan antara kelimpahan dan sebaran spasial-temporal fitoplankton dengan parameter oseanografi di estuari Sungai Siak. Penelitian ini dilakukan secara in-situ di 16 titik sampling pada April, Mei, Juni, Agustus, September, Oktober dan November 2015. Hasil penelitian menemukan 54 genera dari 3 kelas yaitu Chyanophyceae, Dinophyceae dan Bacilliriophycaea. Kelas Bacilliriophycaea merupakan yang dominan (85%) dengan jenis yang terbanyak dan selalu ditemukan di setiap stasiun adalah Chaetoceros dan Rhizosolenia. Kelimpahan fitoplankton tergolong sedang, dengan kelimpahan tertinggi pada Juni dan Oktober serta terendah April. Indeks keanekaragaman (H?) dan indeks keseragaman (E) tergolong tinggi masing-masing 4,39-5,46 dan 0,83-0,94, sementara indeks dominansi (D) termasuk kategori rendah (0,03-0,16). Indeks komunitas ini menunjukkan fitoplankton di perairan ini keanekaragaman dan kestabilan komunitasnya sedang dan tidak ada spesies yang mendominasi. Uji korelasi menunjukkan terdapat keterkaitan yang erat antara kelimpahan dengan Oksigen (0,667); salinitas (0,663), kecerahan (0,628); pH (0,472); arus (0,283); dan suhu (0,046). Komponen utama oseanografi perairan ini  mempengaruhi secara signifikan (75%) dengan selang kepercayaan 95%. Meskipun tingkat kecerahan perairan dan kandungan Oksigen  terlarut tergolong rendah, namun parameter oseanografi lainnya seperti suhu, salinitas dan pH masih berada pada kisaran yang masih dapat mendukung kehidupan fitoplankton di estuari Sungai Siak.
Musim pemijahan dan ukuran layak tangkap udang jerbung (Penaeus merguiensis) di perairan Dumai dan sekitarnya, Riau Putri Pane, Andina Ramadhani; Suman, Ali
Dinamika Lingkungan Indonesia Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1763.021 KB) | DOI: 10.31258/dli.7.2.p.81-88

Abstract

The high demand for shrimp commodities will increase catching to spur production so that it will affect the shrimp population. This scientific study will discuss the spawning season of banana shrimp (Penaeus merguiensis), catch size, and environmental conditions of Dumai and surrounding waters. This research was conducted from April to December 2018 using survey methods around the waters of Dumai, Riau. Data collection was carried out monthly on 4,677 banana shrimps assisted by enumerators. The analysis was carried out on the relationship between carapace length and body weight, sex ratio, gonad maturity level, and catch size. The condition of the aquatic environment that influences the process of reproduction becomes a comparison in determining management efforts. Banana shrimp size structure 18-60 mm, dominant at 28 mm and negative allometric growth patterns. The genital ratio shows that female shrimp are more dominant than males and the spawning season lasts throughout the year with peaks in June and December. The length at first capture was 34.5 mm with the length at first maturity was 30.8 mm (Lc> Lm), meaning that it had spawned before being capture. However, the polluted water environment can interfere with the process of growth and population growth even though various environmental parameters are still within normal limits. So the thing to do is to close the shrimp catching area in June and December, not catch in the spawning area, the size of the shrimp that can be caught is 31 mm and protect the aquatic environment from pollution.
IDENTIFIKASI DAN STRATEGI PENGEMBANGAN POTENSI SUB SEKTOR PERIKANAN PADA KAWASAN EKONOMI BARU DI PROVINSI JAMBI Ridwansyah, Muhammad; Desmaryani, Susi; Irmanelly, Irmanelly; Musnaini, Musnaini; Suman, Ali; Fazri, Andang
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 16, No 1 (2024): (Mei) 2024
Publisher : Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpi.16.1.2024.39-50

Abstract

Kawasan SENTUSA direncanakan oleh Pemerintah Provinsi Jambi sebagai kawasan ekonomi baru yang mencakup tiga kabupaten (Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur dan Muaro Jambi). Kawasan SENTUSA termasuk Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Laut Cina Selatan yang memiliki potensi perikanan laut mencapai 77.980 ton per tahun. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui basis potensi dan strategi untuk pengembangan sub sektor perikanan di Kawasan SENTUSA. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode survei, penelusuran dokumen atau laporan, dan Fokus Group Diskusi. Metode analisis data terdiri dari metode Location Question (LQ) dan analisa SWOT. Hasil analisis menunjukkan perikanan laut merupakan basis di Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur, sementara budidaya perikanan darat, basis di Kabupaten Muaro Jambi. Skor kekuatan lebih baik dari kelemaham, namun ancaman lebih besar dari peluang untuk mengembangkan komoditas perikanan ke sektor industri olahan.The SENTUSA region has been planned by Government of Jambi Province as a new economic zone where coverage three distructs (Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur dan Muaro Jambi). The SENTUSA area includes the Exclusive Economic Zone (EEZ) of the South China Sea which has marine fisheries potential reaching 77,980 tonnes per year. This paper aims to find out a base of fisheries subsector development in SENTUSA. The data collection was conducted in the three ditsricts using survey, documents or reports review, and Focuses Group Discussion. The analysis method used include the Location Question and SWOT quantitiave. The results of the study show that The results of the analysis show that marine fisheries are based in West Tanjung Jabung and East Tanjung Jabung Regencies, while land fisheries cultivation is based in Muaro Jambi Regency. The strength score is better than weaknesses, but the threat is greater than the opportunity for developing the secondary sector.
DINAMIKA PENANGKAPAN DAN STATUS STOK UDANG DOGOL (Metapenaeus ensis de Haan) DI PERAIRAN BOMBANA DAN SEKITARNYA, SULAWESI TENGGARA Suman, Ali; Hasanah, Ap'idatul; Bintoro, Gatut; Taufik, Muhammad
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 30, No 2 (2024): (Juni) 2024
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.30.2.2024.65-74

Abstract

Tingginya permintaan pasar terhadap udang dogol (Metapenaeus ensis de Haan) telah mengakibatkan tingginya intensitas penangkapan yang jika berlangsung secara terus-menerus akan mengancam kelestariannya. Penelitian tentang status stok merupakan salah satu dasar utama dalam merumuskan pengelolaan menuju pemanfaatannya secara berkelanjutan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui status stok udang dogol di perairan Bombana dan sekitarnya, Sulawesi Tenggara. Penelitian dilakukan dari bulan April sampai dengan Nopember 2021 dengan metode survey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat tangkap yang digunakan untuk mengusahakan udang dogol adalah pukat dasar (mini trawl) dengan komposisi hasil tangkapannya didominasi udang dogol (M. ensis de Haan) sekitar 26 %. Pola pertumbuhan udang dogol di perairan Bombana dan sekitarnya bersifat allometrik negatif serta perbandingan kelamin jantan dan betina berada dalam keaadan tidak seimbang. Ukuran rata-rata pertama kali tertangkap (Lc) adalah pada panjang karapas 29,8 mm dan ukuran rata-rata pertama kali matang kelamin (Lm) udang dogol adalah pada panjang karapas 31,7 mm. Laju pertumbuhan (K) udang dogol  sebagai 1,0 per tahun dan panjang total maksimum (Loo) sebagai 46,2 mm. Laju kematian total (Z) udang dogol sebagai 4,42, per tahun, laju kematian karena penangkapan (F) dan laju kematian alami (M) masing-masing 1.58 per tahun  dan 2, 84 per tahun. Tingkat pemanfaatan (E) udang dogol adalah 0,36 (72 %) per tahun, dengan demikian status stok udang dogol belum berada pada penangkapan berlebih (overfishing). Agar sumber daya udang masih tetap terjamin kelestariannya, maka masih bisa dilakukan penambahan upaya sekitar 28 % dari jumlah upaya saat ini.The high market demand for Endeavour shrimp (Metapenaeus ensis de Haan) has resulted in high fishing intensity, which, if it continues, will endanger the species' sustainability. Studies of stock status are important for formulating a management for sustainable utilization. The purpose of this study was to determine the stock status of endeavour shrimp in the Bombana and and its surrounding waters. The study was conducted from April to November 2021 using a survey method. The study results revealed that the endeavor shrmp growth pattern in Bombana watwas negative allometric and that the ratio of males and females was unbalanced. The length at first capture (Lc) was 24,9 mm (carapace length) and the length at first maturity (Lm) was at a total carapace length of 31,7 mm. The growth rate (K) as 1,0 per year and the  carapace length maximum (L∞) was 46.a mm. The estimate total mortality rate (Z) was 2.51 per year, the fishing mortality rate (F) and natural mortality rate (M) were 0.91 per year and 1.61 per year, respectively. The exploitation rate (E) was 0.36 (72 %) per year, therefore that the stock status isn’t overfishing. In order to ensure the sustainability of the endeavour shrimp, there are still opportunities for increasing effort about 28 % from the current situation.
Comparison of Two Isolation Methods for Naturally Preserved DNA in Ambergris Fathurahman, Fabian Rizky; Suman, Ali; Mahmoud, Hanan Hassan Alsheikh; Nuryanto, Agus
Biosaintifika: Journal of Biology & Biology Education Vol. 17 No. 1 (2025): April 2025
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/biosaintifika.v17i1.14302

Abstract

DNA extraction is a fundamental initial step in numerous molecular research studies. Different extraction methods are required for different biological samples to obtain high-quality DNA. Therefore, this step is one of the limiting factors for the success of molecular analysis. There has been no research evaluating an appropriate method to extract DNA from ambergris jetsam samples. This study aims to determine an appropriate method for extracting DNA from whale ambergris samples. The ambergris sample was collected from the southern coast of Cilacap. DNA extraction was performed using a commercial DNA isolation kit and the Chelex® 100 method. The extracted DNA was visualized using agarose gel electrophoresis followed by quantification with a UV Nanodrop spectrophotometer. The data were analyzed descriptively to determine the most effective extraction method. The success of the extraction was also assessed by measuring the DNA concentration using the Nanodrop spectrophotometer. The results showed that the commercial isolation kit failed to produce genomic DNA from whale ambergris, as indicated by the absence of stained DNA bands on the agarose gel. In contrast, the Chelex® 100 method successfully produced genomic DNA from ambergris, as evidenced by the presence of stained DNA bands on the agarose gel and a high quantity of genomic DNA after a Nanodrop measurement. It can be concluded that the Chelex® 100 method is more suitable than commercial kits for extracting DNA from ambergris samples. This finding contributes to the development of various scientific fields based on molecular data by providing evidence that each biological sample requires an appropriate method to obtain high-quality DNA.
DISTRIBUTION OF PELAGIC FISH IN SOUTH CHINA SEA USING GEOSTATISTICAL APPROACH Hidayat, Esa Fajar; Pujiyati, Sri; Suman, Ali; Hestirianoto, Totok
Jurnal Ilmu Kelautan SPERMONDE VOLUME 4 NUMBER 1, 2018
Publisher : Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/jiks.v4i1.3800

Abstract

Pelagic fish are spesies that live in water column at depth of 100 to 200 meters from surface. They migrate as a group looking for nutrient and spawning place. Potential fisheries comodities in Indonesia including pelagic fish have high economic value. Then, stock assessment of pelagic fish measurement is important to researched. The research was conducted in May – June 2016 surrounding South China Sea waters using Madidihang 02 Research Vessel operated by Marine Fisheries Affair (MFA) Republic of Indonesia. To estimate the density of pelagic fish hydro-accoustic equipment and oceanography parameters were used and measured during the campaign. The split beam echosounder was use in aim to obtain precission position and number of fish target. The highest density of fish was found around Tambelan Island and Anambas Island. Statistically pelagic fish density has correlation with chlorophyll-a, salinity, temperature, and sea current velocity. The statistical analysis between pelagic fish density and those oceanography parameters (as statistic variables) yields positive vector correlation.
ASPEK BIOLOGI DAN STATUS PEMANFAATAN LOBSTER BAMBU (Panulirus versicolor) DI PERAIRAN KEPULAUAN ARU, MALUKU Pane, Andina Ramadhani; Alnanda, Reza; Marasabessy, Ilham; Suman, Ali
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 13, No 2 (2021): (AGUSTUS) 2021
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.13.2.2021.85-96

Abstract

Lobster adalah komoditas bernilai tinggi yang di perdagangkan hingga ke mancanegara, bahkan dalam kondisi puerulus. Tingginya permintaan ini memacu peningkatan pemanfaatan sehingga diperlukan upaya untuk menjaga kelestarian populasinya. Kajian ini membahas tentang aspek biologi dan status pemanfaatan yang diharapkan menjadi dasar dalam pengelolaan lobster bambu (Panulirus versicolor) sehingga kelestarian dapat berkelanjutan. Pengumpulan data dilakukan Maret sampai dengan Desember 2020, diperoleh sampel sebanyak 2.040 ekor melalui sentra pendaratan ikan di Dobo, Kepulauan Aru. Penghitungan parameter populasi dilakukan melalui analisis secara analitik. Hasil penelitian diperoleh kisaran panjang karapas antara 45-120 mm, sebanyak 40% diantaranya mempunyai ukuran kurang dari 80 mm. Panjang karapas pertama kali lobster tertangkap (CLc) adalah 85,4 mm dengan panjang asimptotiknya (CL∞) adalah 130,85 mm dan laju pertumbuhan (K) = 0,45 per tahun. Tingkat pemanfaatan lobster sudah mencapai E=0,5, artinya sudah dalam status pemanfaatan penuh (fully exploited). Hal ini menyebabkan pemanfaatan lobster harus dilakukan dengan kehati-hatian dan perlu upaya dalam menjaga kelestariannya. Upaya-upaya yang dapat dilakukan mengendalikan penangkapan baik dari segi alat tangkap, waktu dan lokasi penangkapan. Upaya tersebut diharapkan akan memberikan kesempatan bagi lobster untuk mempertahankan kelestarian populasinya. Lobster is a high-value commodity traded to foreign countries, even their puerile. As the high demand for lobsters increases their exploitation, special measures are imperative to preserve their populations. This study discussed the biological aspects and exploitation status, which are expected to be the basis for managing painted spiny lobster (Panulirus versicolor). Data collection was carried out from March to December 2020, which is 2,040 lobsters collected at the landing center at Dobo, Aru Islands. Analytical methods were used to analyze population parameters. The results showed that the carapace length of lobsters landed was between 45–120 mm, where 40% of them were under 80 mm. Their size at first capture (CLc) was 85.4 mmCL, with asymptotic length (CL∞) was 130.85 mmCL and growth rate (K) was 0.45 per year. Their exploitation rate was E was 0.5 (fully exploited exploitation). Therefore, its exploitation has to be carried out with caution, and special measures are required to maintain its sustainability, i.e., by controlling lobster fishing efforts, including fishing gear, time, and location. Such actions are expected to allow lobsters to preserve the sustainability of their populations.
PARAMETER POPULASI DAN SPAWNING POTENTIAL RATIO (SPR) KEPITING MERAH (Scylla olivacea) DI PERAIRAN ASAHAN DAN SEKITARNYA, SUMATERA UTARA Pane, Andina Ramadhani Putri; Kembaren, Duranta Diandria; Marasabessy, Ilham; Suman, Ali
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 13, No 1 (2021): (April) 2021
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.13.1.2021.33-43

Abstract

Kepiting bakau merupakan komoditas ekspor yang penangkapannya dilakukan dengan intensif, salah satunya adalah jenis kepiting merah (Scylla olivacea). Pengelolaan dalam pengendalian memerlukan analisa kajian ilmiah tentang ukuran layak tangkap dan spawning potential ratio (SPR) kepiting merah. Kajian ilmiah ini dilakukan terhadap 1.105 ekor kepiting merah di pusat pendaratan kepiting di Desa Silo Baru Kecamatan Silau Laut Kabupaten Asahan, Sumatera Utara selama 28 bulan (April-Oktober 2018, Februari- Desember 2019 dan Maret-Desember 2020). Kepiting yang tertangkap memiliki ukuran 65-170 mm dengan 72,2% sudah dewasa dan telah melakukan pemijahan sebelum tertangkap (CWc< CWm). Hasil penelitian diperoleh bahwa kematian akibat penangkapan (F) lebih tinggi dibandingkan kematian alamiah (M), hal ini menunjukkan tingginya tekanan pemanfaatan (E = 0,54%). Nilai spawning potential ratio (SPR) mengalami peningkatan dari tahun 2018 ke tahun 2020 yaitu 11-17% namun masih dibawah nilai minimal 20%, artinya penambahan individu kepiting merah di perairan Asahan setelah ekspolitasi sudah mengalami penurunan sehingga diperlukan upaya dalam pengelolaan. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan ukuran mesh size jaring dan bubu serta rehabilitasi hutan mangrove.Mud crabs are export commodities that have been harvested intensively; one of which is the red mud crab (Scylla olivacea). Management in controlling its exploitation requires scientific studies on the analysis of the legal size and the potential spawning ratio (SPR) of the crab. In this scientific study, a total of 1,105 red mud crabs were analyzed at the crab landing center in Silo Baru Village, Silau Laut District, Asahan Regency, North Sumatra for 28 months (April–October 2018, February–December 2019, and March–December 2020). The crabs caught were 65–170 mm in size, where 72.2% of which were already adults and had spawned before being caught (CWc < CWm). The results of this study suggested that the fishing mortality (F) was higher than the natural mortality (M), indicating a high exploitation (E = 0.54%). On the other hand, the potential spawning ratio (SPR) from 2018 to 2020 kept increasing, i.e. 11–17% (below the minimum SPR 20%), indicating that the addition of the individual red mud crabs in Asahan waters after exploitation had decreased. Therefore, several efforts are necessary in its management, among others by increasing the mesh size of the nets and the size of the traps as well as rehabilitating mangrove forests.
PERIKANAN JARING ARAD DAN SEBARAN PANJANG UDANG KELONG (Fenneropenaeus indicus H. Milne Edward, 1837) HASIL TANGKAPAN JARING ARAD DI PERAIRAN MEULABOH Hasanah, Ap'idatul; Yusuf, Helman Nur; Hufiadi, Hufiadi; Suman, Ali
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 12, No 2 (2020): (AGUSTUS) 2020
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.12.2.2020.69-80

Abstract

Nelayan di Meulaboh dan pesisir Pantai Aceh Barat umumnya mengunakan jaring arad (mini trawl) untuk menangkap udang dan ikan demersal. Penelitian dilakukan dari bulan April sampai dengan November 2018 yang bertujuan untuk mengetahui aspek perikanan jaring arad di perairan Meulaboh dan sebaran panjang udang kelong hasil tangkapan jaring arad. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapal jaring arad yang berbasis di Meulaboh terbuat dari kayu dan memiliki tonase 1-5 GT dengan mesin motor tempel. Jaring arad dioperasikan pada kedalaman perairan 5-40 m. Operasi penangkapan dilakukan sebanyak 6-10 dalam satu kali trip selama 1-2 hari. Hasil tangkapan yang diperoleh sebanyak 25 jenis, terdiri dari 3 jenis udang, 2 jenis krustasea dan 20 jenis ikan yang didominasi oleh udang kelong sebesar 13%, diikuti oleh udang dogol, rajungan, kepiting dan pepetek masing-masing 9%. Nilai kelimpahan tertinggi pada Desember sebesar 17.214 kg dan terendah pada Juli sebesar 2.824,9 kg dengan nilai rata-rata sebesar 6.089,8 kg per bulan. Upaya penangkapan tertinggi pada September sebanyak 440 trip dan terendah pada April sebanyak 150 trip. Nilai CPUE tertinggi sebesar 37,3 kg/trip terjadi pada Desember, sedangkan terendah sebesar 14,95 kg/trip pada November. Kelimpahan udang kelong tertinggi sebesar 4,84 kg/trip pada Desember, sedangkan terendah 3,02 kg/trip pada September. Daerah penangkapan jaring arad terletak di perairan Meulaboh dan diduga puncak musim penangkapan terjadi pada April dan Oktober. Sebaran panjang udang kelong yang tertangkap jaring arad berkisar 20-60 mmCL dengan panjang pertama kali tertangkap (Lc) 35,12 mm dan panjang pertama kali matang gonad (Lm) 33,90 mm.Fishermen in Meulaboh and Coast of West Aceh generally use mini trawl to catch shrimp and demersal fish. Research conducted from April to November 2018 which aims to determine the aspect of mini trawl in Meulaboh waters and length distribution of kelong shrimp caught by mini trawl. The results showed that the mini trawl based in Meulaboh were made of wood and had a tonnage of 1-5 GT with an outboard motor. Mini trwals are operated at 5 - 40 m. The fishing operation is carried out 6-10 times in one trip for 1-2 days. The catch obtained 25 species consist of 3 species of shrimps, 2 species of crustaceans and 20 species of fish which were dominated by kelong shrimps 13%, followed by dogol shrimps, swimming crabs, crabs, and splendid ponyfishes each 9%. The highest abundance value was 17,214 kg in Descember and the lowest was 2,824.9 kg in July with an average value of 6,089.8 kg per month. The highest fishing effort was in September with 440 trips and the lowest in April with 150 trips. The highest CPUE value was 37.3 kg/trip in December, while the lowest was 14.95 kg/trip in November. The highest abundance of kelong shrimps was 4.84 kg/trip in December, while the lowest was 3.02 kg/trip in September. Fishing ground of mini trawl in Meulaboh waters with peak season for fishing operation in April and October. The length distribution of kelong shrimp caught by mini trawl ranged from 20 to 60 cmCL with the length at first capture (Lc) was 35.12 mmCL and lengt at first maturity (Lm) was 33.90 mmCL.
STRUKTUR UKURAN, ASPEK REPRODUKSI, PARAMETER POPULASI, KELIMPAHAN DAN DAERAH TANGKAPAN UDANG JERBUNG (Penaeus merguensis) DI SEKITAR TELUK JAKARTA Wagiyo, Karsono; Hasanah, Apidatul; Tirtadanu, Tirtadanu; Suman, Ali
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 13, No 2 (2021): (AGUSTUS) 2021
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.13.2.2021.57-70

Abstract

Perairan Teluk Jakarta merupakan area dengan aktiftas tinggi, sehingga sumberdaya ikan didalamnya mengalami tekanan ekploitasi dan degradasi habitat. Udang jerbung (Penaeus merguensis) merupakan salah satu sumberdaya ekonomis penting dari Teluk Jakarta yang perlu dikelola supaya tetap lestari. Pada penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data dasar dan informasi terkini mengenai struktur ukuran, aspek reproduksi, parameter populasi, kelimpahan dan daerah tangkapan udang jerbung di sekitar Teluk Jakarta. Pengambilan data melalui observasi dan enumerasi. Hasil penelitian didapatkan udang jerbung dari Teluk Jakarta mempunyai panjang karapas 19 - 64 mmCL dengan modus 30 mmCL, panjang karapas tertinggi di P. Harapan. Hubungan panjang-berat menunjukan sifat pertumbuhan allometrik negatif degan nilai b = 2,3044 dan R2 = 0.8021. Panjang karapas pertama kali tertangkap; jaring arad 33 mmCL, jaring rampus 32 mmCL, jaring cantrang 30 mmCL dan pertama kali matang gonad 34 mmCL. Nisbah kelamin mempunyai rasio jantan : betina = 1 : 1,07. Komposisi gonad matang tertinggi (puncak musim pemijahan) pada bulan Maret dan Oktober. Laju pertumbuhan (K) = 1,33 per tahun dan panjang infinity(L∞) = 54,35 mmCL. Laju kematian total (Z) = 5,89, kematian alami (M)= 1,85/tahun, laju kematian karena penangkapan (F)= 4,04/tahun dan tingkat pengusahaan (E)= 0,69. Indeks kelimpahan/Hasil tangkapan per unit usaha (CPUE) 1,71 - 4,18 kg/trip/hari dengan rerata 2,57 kg/trip/hari. Musim penangkapan pada Februari-Mei dan paceklik pada Juni-Desember. Untuk menjaga kelestarian udang jerbung di Teluk Jakarta perlu meningkatkan lebar mata jaring dan penutupan penangkapan di area pemijahan pada puncak musim pemijahan. Jakarta Bay waters are an area with high activity so that the fish resources in it are under exploitation pressure and habitat degradation. White shrimp (Penaeus merguensis) is one of the important economic resources of Jakarta Bay that needs to be managed to sustain. This study aims to obtain basic data and up-to-date information; size structure, reproductive aspects, population parameter, abundance and fishing ground of white shrimp in around Jakarta Bay. The data were collected through observation and enumeration. The results showed that white shrimp from Jakarta Bay had a carapace length of 19 - 64 mmCL with a mode of 30 mmCL, the highest carapace length in Harapan Island. The length-weight relationship shows negative allometric growth with the values of b = 2.3044 and R2 = 0.8021. The length first captures by of mini bottom trawl 33 mmCL, by gillnet 32 mmCL and by danish seine 30 mmCL and the length first gonad maturity 34 mmCL. The sex ratio has a male : female = 1 : 1,07. The highest ripe gonad (peaks spawning season) was in March and October. The growth rate (K) = 1.33/year and the infinity (L∞) length = 54.35 mmCL. Total mortality rate (Z) = 5.89/year, natural mortality (M) = 1.85/year, fishing mortality (F) = 4.04/year and exploitation rate (E) = 0.69. Catch per unit effort (CPUE) 1.71 - 4.18 kg/trip/day with an average of 2.57 kg/trip/day. The fishing season in February-May and famine in June-December. To maintain the sustainability of white shrimp in Jakarta Bay, it is advisable to increase the width of the mesh size and the closure of fishing in the spawning area at the peak spawning season.