Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Sistem transportasi menjadi bagian yang penting untuk menunjang mobilisasi. Untuk memperlancar mobilitas orang maupun arus barang dan untuk terlaksananya keterpaduan intra dan antar moda alat transportasi secara tertib dan lancar, di tempat-tempat terte krisno akbar; edi purwanto; atik suprapti
IMAJI Vol 3, No 4 (2014): jurnal IMAJI - Oktober 2014
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1599.071 KB)

Abstract

Sistem transportasi menjadi bagian yang penting untuk menunjang mobilisasi. Untuk memperlancar mobilitas orang maupun arus barang dan untuk terlaksananya keterpaduan intra dan antar moda alat transportasi secara tertib dan lancar, di tempat-tempat tertentu dapat dibangun dan diselenggarakan terminal. Adanya kebijakan mengenai Peraturan Daerah Kabupaten Temanggung Nomor 1 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Temanggung tahun 2011 – 2031 pasal 15, direncanakan terminal induk Madureso akan dilakukan pengembangan supaya terbentuk struktur pelayanan transportasi yang efisien sesuai hirarki pelayanan dan moda transportasi. Terminal Bus Induk Madureso akan mewadahi 3 moda transportasi yaitu AKAP (Angkutan Kota Antar Propinsi), AKDP (Angkutan Kota Dalam Propinsi), dan angkutan umum kota maupun desa. Terminal ini akan dirancang untuk memenuhi kapasitas ketiga moda tersebut hingga 10 tahun ke depan. Perancangan terminal tidak lepas dari masalah berbagai aspek yang saling berkaitan. Beberapa aspek yang paling menonjol yaitu kejelasan orientasi, keselamatan, dan sistem sirkulasi yang efektif dan efisien.
PASAR BUKU KOTA SEMARANG Aryo Seto Nugroho; Atik Suprapti; Totok Roesmanto
IMAJI Vol 1, No 2 (2012): IMAJI
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3808.419 KB)

Abstract

Kota Semarang telah berkembang menjadi Kota yang siap di sejajarkan dengan Kota Kota besar yangberada di Indonesia, yaitu dalam pengembangan kegiatan industri, Perdagangan, Pendidikan, Transportasi,Telekomunikasi, dan sistem informasi. Informasi pengetahuan bagi masyarakat kota Semarang sudah menjadikebutuhan, terbukti dengan banyaknya fasilitas pendidikan formal dari tingkat TK hingga SMA, Begitu jugadengan fasilitas pendidikan berupa pendidikan Perguruan Tinggi, dimana terdapat Perguruan Tinggi Negeri danPerguruan Tinggi Swasta yang berjumlah 64 di Kota Semarang. Dengan adanya keberadaan Pendidikan formal dari tingkat TK sampai Perguruan Tinggi danmasyarakat umum Kota Semarang merupakan sasaran potensi pemasaran dengan adanya Pasar Buku KotaSemarang. Kajian diawali dengan mempelajari pengertian Pasar Buku, studi lapangan dengan kios buku diStadion Diponegoro dan Kios Buku Pasar Johar sehingga dapat diketahui mengenai potensi jumlah padagangkios buku yang ada di Semarang. Selain itu studi banding juga di lakukan di Pasar Buku Shooping Yogyakartadan Pasar Buku Palasari Bandung. Dari hasil studi banding dapat diperoleh mengenai standar standar ruangkios buku dan beberapa ruang penunjang yang ada di dalam Pasar Buku. Pada bangunan Pasar Buku Kota Semarang ini menggunakan desain Arsitektur Post Modern (DoubleCouding) yang berusaha menggabungkan unsur tradisional dengan unsur modern. Beberapa hal yangditonjolkan pada bangunan ini yaitu : Penerapan antara perpaduan unsur lokal dan non lokal denganmenyesuaikan kondisi lingkungan setempat, jadi dapat beradaptasi dengan bangunan lainnya. SehinggaBangunan Pasar ini lebih dekat dengan masyarakat. Rencana lokasi site yang akan digunakan yaitu pada Jalanhayam wuruk kawasan kampus undip pleburan (bekas kampus sastra undip).
SURAKARTA BATIK CENTER DENGAN PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR POST-MODERN anna wahidati; edi purwanto; atik suprapti
IMAJI Vol 3, No 4 (2014): jurnal IMAJI - Oktober 2014
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2427.981 KB)

Abstract

Kota Surakarta adalah sebuah kota kecil yang diapit oleh Kabupaten Karanganyar, Sukoharjo dan Boyolali. Meskipun begitu, Kota Surakarta menjadi kota yang dinamis selalu memberikan dampak yang amat besar terhadap Provinsi Jawa Tengah serta menjadi kawasan terpadu dengan daerah sekitarnya. Kota Surakarta sebagai kota budaya memiliki kekayaan seni budaya yang melimpah salah satunya berupa seni batik tradisional yang merupakan peninggalan budaya bangsa Indonesia yang menjadi salah satu potensi yang memberi warna dan ciri khas Kota Surakarta. Batik merupakan salah satu peninggalan yang mengandung unsur sejarah dan makna filosofi yang juga merupakan salah satu cinderamata khas Kota Surakarta. Dari tahun ketahun jumlah pengrajin batik di Kota Surakarta semakin meningkat. Potensi batik dimasa yang akan datang masih sangat luas, belum lagi jika mempertimbangkan aspek pengembangan industri kreatif di Indonesia. Batik adalah seni kriya tradisional yang sampai sekarang masih bertahan dan diharapkan akan terus bertahan. Dengan berjalannya waktu akan timbul pembaharuan sehingga jumlah motif batik akan terus bertambah. Buku teknik dan ragam hias batik ini dapat dipakai sebagai panduan dan semoga dapat memberikan dukungan untuk pertumbuhan kreatifitas seni kriya batik dibidang batik maupun lainnya.Melestarikan batik sebagai warisan budaya indonesia adalah hal yang sangat penting. Berbagai macam koleksi batik kuno ada diberbagai wilayah indonesia. Akan tetapi semua itu masih kurang menarik perhatian generasi muda indonesia untuk melestarikan batik sebagai warisan budaya indonesia karena rasa cinta masyarakat kepada produk batik tanah air minim.
Karakteristik Pedagang Kaki Lima (PKL) Di Pusat Kota Pekalongan Wahyu Setyaningrum; Edward E. Pandelaki; Atik Suprapti
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 18, No 2: Juli 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1248.608 KB) | DOI: 10.23917/sinektika.v18i2.15327

Abstract

Karakteristik Pedagang Kaki Lima (PKL) di Pusat Kota Pekalongan dipengaruhi oleh kegiatan pada sektor formal dan informal yang berdampingan satu dengan yang lainnya yang menjadikan Alun-alun salah satu lokasi yang paling diminati untuk berjualan para Pedagang Kaki Lima. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi karakteristik PKL. Karakteristik dari PKL ini meliputi : aktivitas dari PKL baik berupa lokasi, waktu berdagang, sarana fisik perdagangan dan jenis dagangannya, pola penyebaran PKL dan pola pelayanan PKL. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu pengamatan langsung di lapangan, dengan didukung studi pustaka dan wawancara. Penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik Pedagang Kaki Lima di Pusat Kota Pekalongan dipengaruhi oleh lokasinya yang strategis, waktu berdagang yang menyesuaikan keramaian lokasi baik pagi, siang hingga malam hari, sarana fisik perdagangan dan jenis dagangannya (tidak permanen dan dapat dipindah-pindah dengan menggunakan gerobak, dengan meja dan kursi yang setelah selesai berjualan bisa dibawa pulang kembali), serta pola penyebaran PKL mengelompok dan linear. Sehingga diharapkan akan didapatkan keselarasan adanya PKL ini, tidak mengganggu pejalan kaki dan menimbulkan pengaruh pada lingkungan sekitar tempat berjualannya.
Elemen Fisik Pembentuk Karakter Visual City Walk Jalan Slamet Riyadi Kota Surakarta Agung Nugroho; Atik Suprapti; R. Siti Rukayah
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 18, No 2: Juli 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1549.35 KB) | DOI: 10.23917/sinektika.v18i2.15329

Abstract

Kegiatan suatu kota dapat terefleksikan pada ruang publik kota. Salah satu ruang publik kawasan perkotaan yang paling utama yaitu koridor jalan. Dalam hubungannya dengan sistem perencanaan perkotaan, koridor jalan merupakan sarana yang menghubungkan dua tempat atau lebih pada suatu kawasan. Tanpa adanya jalan tentunya akan sulit untuk mencapai tujuan tertentu. Sejak tahun 2007, Kota Surakarta membangun kawasan untuk pejalan kaki atau orang sering menyebutnya dengan City Walk. City Walk dibangun di ruang milik Jalan Slamet Riyadi, yang merupakan jalan arteri primer di Kota Surakarta. Jalan Slamet Riyadi dipilih karena mempunyai banyak titik menarik yang mendukung City Walk. Pada kawasan tersebut terdapat bangunan-bangunan bersejarah yang beberapa diantaranya masih tegak berdiri, dapat dijumpai. Riset ini dilakukan dengan memakai pendekatan riset deskriptif ialah sesuatu wujud riset yang diperuntukan untuk mendeskripsikan fenomena- fenomena yang terdapat, baik fenomena alamiah ataupun fenomena buatan manusia. Hasil dari penelitian ini adalah kajian mengenai karakter visual City Walk jika ditinjau dari elemen fisik pembentuknya. Dari aspek karakter visual unsur dominasi menjadi aspek yang paling berpengaruh dalam pembentukan karakter visual di City Walk tersebut, sedangkan dari aspek elemen fisik City Walk, elemen activity support memberikan dukungan terhadap perwujudan dari sebuah bangunan.
KARAKTERISTIK PEDAGANG KAKI LIMA (PKL) DI PUSAT KOTA PEKALONGAN Wahyu Setyaningrum; Edward E. Pandelaki; Atik - Suprapti
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 18, No 2: Juli 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/sinektika.v18i2.13613

Abstract

Karakteristik Pedagang Kaki Lima di Pusat kota Pekalongan dipengaruhi oleh kegiatan pada sektor formal dan informal yang berdampingan satu dengan yang lainnya yang menjadikan Alun-alun salah satu lokasi yang paling diminati untuk berjualan para Pedagang Kaki Lima. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi karakteristik PKL. Karakteristik dari PKL ini meliputi : aktivitas dari PKL baik berupa lokasi, waktu berdagang, sarana fisik perdagangan dan jenis dagangannya, Pola penyebaran PKL dan Pola Pelayanan PKL. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu pengamatan langsung di lapangan, dengan didukung studi pustaka dan wawancara. Dari penelitian ini menunjukkan bahwa Karakteristik Pedagang Kaki Lima di Pusat Kota Pekalongan dipengaruhi oleh lokasinya yang strategis, waktu berdagang yang menyesuaikan keramaian lokasi baik pagi, siang hingga malam hari, sarana fisik perdagangan dan jenis dagangannya (Yang tidak permanen dan bisa dipindah-pindahkan dengan menggunakan gerobak dengan meja dan kursi yang setelah selesai berjualan bisa dibawa pulang kembali), serta pola penyebaran PKL mengelompok dan linear. Sehingga diharapkan akan didapatkan keselarasan adanya PKL ini, tidak menggganggu pejalan kaki dan menimbulkan pengaruh pada lingkungan sekitar tempat berjualannya. 
A Living Heritage Approach Toward Sustainability of Islamic City in The Northern Coastal of Java, Indonesia Atik Suprapti
Journal of Architectural Design and Urbanism Vol 4, No 1 (2021): Vol 4 No 1, 2021
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, Universitas Diponegoro, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jadu.v4i1.13006

Abstract

Cultural diversity is one of the global issue underlined by UN. Indonesia known as a very rich country has more than 300 ethnic cultures. One of them is Islamic architecture and cities that spread in the North Coast of Java. In the span of 6 centuries, we can still witness the existence of these works as living heritage that saves tangible and intangible culture. The role of the community is very significant which are take care, plan and develop  for the next generation. However, the changes that have occurred are caused by urbanization, and the shift in the political and economic map poses a threat to the sustainability of this legacy. The purpose of writing this article is to provide views on the importance of an approach to the process of preserving living cultural heritage by involving community participation in order to maintain the sustainability of cultural heritage. The locus in the North Coast of Java is based on the consideration that the cities in this region inherit the distinctive Islamic culture of the Coastal Java and its dynamics. The digital-legacy approach combines the use of information technology in this case is Web GIS for archiving artifact data. Meanwhile, the living heritage approach encourages community participation to play an active role with stakeholders on an ongoing basis in the preservation of artifacts. Kudus Kulon is an interesting and unique case with the Gusjigang community who have cared for Omah Joglo Pencu for almost three centuries. Architectural sustainability – Muslim cities include historical and cultural sustainability, function, and maintenance
PREFERENSI MASYARAKAT DALAM MEMILIH PERUMAHAN BERDASARKAN FASADE Studi Kasus : Perumahan di Kecamatan Baki, Sukoharjo Argo Utomo Soenarto; Atik Suprapti; Titien Woro Murtini
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2017
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1016.742 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v1i2.16

Abstract

AbstrakKawasan pinggiran Selatan Kota Surakarta menjadi favorit bermukim didasari kedekatannya dengan pusat Kota Surakarta. Dengan semakin padatnya kawasan pinggiran Selatan Kota Surakarta, pengembang mulai melirik daerah tetangganya, Kabupaten Sukoharjo. Tahun 2000 banyak dibangun perumahan di Kecamatan Grogol dan Baki, Kabupaten Sukoharjo dan menjadi daya tarik masyarakat yang memilih alternatif hunian di kawasan pinggiran Selatan Kota Surakarta.Selama ini pola permintaan masyarakat akan perumahan hanya dikira-kira oleh pengembang dan pemerintah kota. Masing-masing mempunyai persepsi sendiri tanpa didasari preferensi yang jelas. Pengembang lebih berorientasi pada profit/keuntungan, membuat pola sendiri, yang kurang memenuhi keinginan masyarakat. Masyarakat sebagai konsumen hampir tidak pemah dilibatkan langsung, padahal mereka calon penghuni perumahan tersebut. Secara umum, preferensi masyarakat akan perumahan dapat diperoleh jika faktor-faktor internal maupun eksternal yang mendasari pertimbangan pemilihan diketahui. Faktor-faktor tersebut yang menjadi indikator preferensi masyarakat akan perumahan.Melalui survey yang sudah dilakukan, didapat hasil bahwa Mayoritas masyarakat awam akan lebih memilih fasade dengan langgam minimalis dalam preferensinya. Hal ini dipengaruhi trend perumahan saat ini yang selalu memilih langgam minimalis dalam desain rumah, juga dari marketing rumah melalui iklan-iklan di media massa yang menampilkan langgam minimalis dengan pertimbangan lebih laku. Sedikit dari masyarakat yang paham akan desain lebih memilih yang sesuai dengan karakternya. Kata Kunci : preferensi, perumahan, fasade AbstractThe southern suburbs of Surakarta City are favorites to settle based on their proximity to the center of Surakarta. With the increasingly densely populated southern suburbs of Surakarta City, developers began to glance at the neighboring areas of Sukoharjo Regency. In 2000 many built housing in Grogol and Baki Sub-district, Sukoharjo Regency and being the appeal of people who choose residential alternatives in the southern suburbs of Surakarta City.During this time the pattern of community demand for housing is only guess by the developers and the city government. Each has its own perception without a clear preference. Developers are more profit-oriented / profitable, create their own patterns, which less meet the desires of the community. Society as a consumer almost never be directly involved, even though they are prospective residents of such housing. In general, community preferences for housing can be obtained if internal and external factors underlying election considerations are known. These factors are an indicator of people's preference for housing.Through the survey that has been done, obtained the result that the majority of ordinary people will prefer the fasade with minimalist style in its preference. This is influenced by the current housing trend that always choose the minimalist style in the design of the house, also from home marketing through advertisements in mass media featuring minimalist style with the consideration of more sold. Few of the people who understand the design will prefer to match the character. Keywords: preference, housing, facade
PENGARUH ELEMEN INTERIOR STUDIO ANIMAXX TERHADAP PROSES PEMBELAJARAN Ronald Justice; Atik Suprapti; Budi Sudarwanto
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 5, No 3 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2021
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v5i3.878

Abstract

Abstract: Dynamic education must be able to follow the progress of the times that continue to develop. The demands of 21st century skills have an impact on improving the quality of vocational education through innovation of educational facilities and infrastructure that are in line with sustainable development goals in realizing quality education. To achieve this goal, the school seeks to improve the quality of learning through structuring the interior elements of the learning space. The purpose of this study was to describe the interior elements of Animaxx studio in terms of lighting, color, shape, and material aspects and to determine the effect of interior elements on the learning process in terms of motifs, affective, and learning achievement. Combined research methods (mix methods) were used in this study, quantitative methods were used to collect data about user perceptions of interior elements and responses to motives, affective, and learning achievement through questionnaire collection. Strengthened by qualitative methods with data collection techniques through interviews, literature studies and direct observation to the object of research. The data collected were analyzed descriptively and hypothesis testing through regression analysis. From this research, it was found that the effect of user perception on Animaxx studio interior elements had an effect on motive and affective. While the motive and affective simultaneously affect the achievement of learning. So it can be concluded that there is a significant influence between Animaxx studio interior elements on the learning process.Abstrak: Pendidikan yang dinamis harus dapat mengikuti kemajuan zaman yang terus berkembang. Tuntutan keterampilan abad 21 berdampak pada peningkatan mutu pendidikan kejuruan melalui inovasi sarana dan prasarana pendidikan yang selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan dalam mewujudkan pendidikan berkualitas. Maka dari itu sekolah berupaya meningkatkan kualitas pembelajaran melalui penataan elemen interior ruang pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan elemen interior studio Animaxx ditinjau dari aspek pencahayaan, warna, bentuk, dan material dan mengetahui pengaruh elemen interior terhadap proses pembelajaran yang dilihat dari motif, afektif, dan ketercapaian pembelajaran. Metode penelitian kombinasi (mix methods) digunakan dalam penelitian ini, metode kuantitatif digunakan untuk mengumpulkan data tentang persepsi pengguna terhadap elemen interior dan respon tentang motif, afektif, dan ketercapaian pembelajaran melalui pengumpulan kuesioner. Dikuatkan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, studi literatur dan observasi langsung ke obyek penelitian. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif dan uji hipotesis melalui analisis regresi. Dari penelitian ini diperoleh hasil penelitian adanya pengaruh persepsi pengguna terhadap elemen interior studio Animaxx berpengaruh terhadap motif dan afektif. Sedangkan motif dan afektif secara simultan berpengaruh terhadap ketercapaian pembelajaran. Sehingga disimpulkan ada pengaruh signifikan antara elemen interior studio Animaxx terhadap proses pembelajaran.
IDENTIFIKASI DESIGN ANTROPOLOGI PADA KAWASAN DESA WISATA MELIKAN Wahyu Setyaningrum; Edward E. Pandelaki; Atik - Suprapti
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2021
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v5i1.663

Abstract

Abstract: Melikan Village as a tourist village for pottery craftsmen is the only one in the world with an oblique rotation technique. This village is unique in its anthropological design. This study will discuss how the design anthropology in Melikan Village, which can be seen from the regional design pattern, its composition, the designation function so as to form a relationship of form-function-meaning in the region. The method used is descriptive with journals and books that discuss the anthropology of the Melikan Village area, accompanied by direct observation and study of the state of the Melikan tourist village. Some of the theories used are: figure ground theory, linkage, form and symbols, as well as the forming elements of urban planning which are used to analyze the macro and micro (building) as form-function-meaning relation (region). From the research carried out, it can be concluded that there is a correlation between the form-function-meaning of anthropology found in the Melikan Tourism Village Area. In macro: such as the existence of figure ground theory, Linkage, shapes and symbols, as well as elements of urban planning, In micro (residents' houses,showrooms and Sunan Pandanaran’s mosque) there are several similarities in the shape of the building (Adjusting the state of the room), Building structures that use structures and roofs to adjust the shape of the house, Facades are made of woven bamboo and some of the bricks and ornaments, some of which use earthenware columns, as well as in mosque buildings found in the form of buildings that are symmetrical and taller than the surrounding area, the canopy roof structure containing the crown as a symbol of Allah's power, simple facades and windows made of wood, and ornaments on the door with plant motifs symbolizing closeness to nature. There is integration between residents' houses as a center for pottery craftsmen, a showroom and the Sunan Pandanaran mosque. Abstrak: Desa Melikan sebagai desa wisata pengrajin gerabah satu-satunya di dunia dengan teknik Putaran Miring, desa ini memiliki kekhasan dalam hal desain antropologinya. Kajian ini akan membahas bagaimana antropologi design yang ada di Desa Melikan, yang dapat dilihat dari pola desain wilayah, komposisinya, fungsi peruntukan sehingga membentuk hubungan dari bentuk-fungsi-makna di wilayah tersebut. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan jurnal dan buku yang membahas antropologi kawasan Desa Melikan ini, disertai dengan observasi dan studi langsung keadaan Desa Wisata Melikan. Beberapa teori yang digunakan seperti: teori figure ground, linkage, form dan symbol, serta elemen pembentuk tata kota yang digunakan untuk menganalisis relasi bentuk-fungsi-makna ruang secara makro (Wilayah) dan mikro (Bangunan). Dari penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa ada korelasi antara bentuk–fungsi–makna antropologi yang terdapat di Kawasan Desa Wisata Melikan: seperti adanya teori figure ground, keterkaitan (Linkage), bentuk dan simbol, serta elemen pembentuk tata kota, pada bangunan rumah warga dan showroom terdapat beberapa kesamaan pada bentuk bangunan (Menyesuaikan keadaan ruang), Struktur bangunan yang menggunakaan struktur dan atap menyesuaikan bentuk rumah, Fasad terbuat dari anyaman bambu dan beberapa dari bata serta ornamen ditemui pada rumah tinggal ada yang menggunakan kolom dari gerabah, serta pada bangunan masjid ditemui berupa bentuk bangunan yang simetris dan lebih tinggi dari daerah di sekitarnya, struktur atap tajuk yang terdapat mahkota sebagai simbol kekuasaan Allah, fasad yang sederhana dan jendela yang terbuat dari kayu, serta ornamen pada pintu yang bermotif tanaman melambangkan kedekatan dengan alam. Adanya integrasi antara rumah warga sebagai sentra pengrajin gerabah, showroom dan Masjid Sunan Pandanaran.