Claim Missing Document
Check
Articles

Characteristic and Provenance of Talang Akar Formation Sandstone, Sukamoro Area, South Sumatera Yogie Zulkurnia Rochmana; Idarwati Idarwati; Harnani Harnani; Elisabet Dwi Mayasari
Jurnal IPTEK Vol 27, No 1 (2023): May
Publisher : LPPM Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31284/j.iptek.2023.v27i1.4434

Abstract

Sukamoro area, Banyuasin Regency, South Sumatera, was the research location. This investigation focuses on the origin of sandstones from the Talang Akar Formation. In the area of investigation, sandstones are widely dispersed and exhibit a variety of properties. Due to the abundance of sandstones found and their high resistance and physical compactness, an analysis of the original rock can be carried out. Generally, the material that makes up sandstone comes from the previous rock. This investigation was undertaken using a descriptive-analytical methodology to determine the origin of the rock. The collected surface data is subsequently petrographically examined. After determining the composition of the constituent minerals, a provenance analysis was conducted to determine that the Talang Akar Formation's sandstones originated from the Magmatic Arc. Furthermore, the Talang Akar sandstone reveals the origin of the Recycle Orogen. Thus, it is considered that the sandstones of the Talang Akar Formation have seen many uplift episodes as a result of tectonic activity, almost to the point where they have experienced an increase in the maturity or stability of their continental block provenances
Deciphering Metamorphism of Tarap Formation through Petrographic Analysis Muhammad Alfath Salvano Salni; Idarwati Idarwati
Journal of Earth and Marine Technology (JEMT) Vol 6, No 2 (2026)
Publisher : Lembaga Penelititan dan Pengabdian kepada Masyarakat - Institut Teknologi Adhi Tama Suraba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31284/j.jemt.2026.v6i2.8940

Abstract

Detailed petrographic characterization aimed at constraining the metamorphic evolution of the Tarap Formation remains limited. This study presents petrographic analyses of 11 metamorphic rock samples collected from the Tarap Formation in OKU Selatan, South Sumatra. The results identify a range of metamorphic rock types, including metalimestone, metasiltstone, calcite–chlorite marble, muscovite–quartz phyllite, quartz–muscovite schist, muscovite–chlorite schist, and quartz–hornblende schist. The protoliths identified were calcareous rocks, quartz–feldspathic sandstones, and shales, which may be lithologically correlated to the Kuantan Formation and Gunungkasih Complex. The metamorphic facies identified are sub-greenschist, greenschist, and lower amphibolite facies. Prograde metamorphism and the subsequent development of mylonitic texture that overprints the main foliation are interpreted to be possibly related to the tectonic evolution of Sumatra during the Early Cretaceous, particularly subduction of the Ngalau Ocean (Meso-Tethys) beneath the Sundaland margin (West Sumatra). The subsequent arc-continent collision from the Late Cretaceous, causing reverse faulting and fold–thrust deformation, facilitated exhumation of the rocks, potentially resulting in retrograde metamorphism and cataclastic texture.
Analisis Spasial Bahaya Cuaca Ekstrem di Kabupaten Ogan Komering Ulu dengan Validasi ROC-AUC Muhammad Bima Satria; Idarwati Idarwati; Muhammad Alfath Salvano Salni
Jurnal Penelitian Sains Vol 28, No 2 (2026)
Publisher : Faculty of Mathtmatics and Natural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56064/jps.v28i2.1372

Abstract

Cuaca ekstrem merupakan salah satu bahaya hidrometeorologi yang frekuensi kejadiannya meningkat akibat perubahan iklim global. Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) merupakan salah satu wilayah yang pernah mengalami kejadian cuaca ekstrem. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis indeks bahaya cuaca ekstrem secara spasial, menentukan kelas bahaya pada tingkat kecamatan dan kabupaten, serta mengevaluasi performa model menggunakan Receiver Operating Characteristic–Area Under Curve (ROC-AUC). Parameter yang digunakan meliputi curah hujan, kemiringan lereng berdasarkan Digital Elevation Model (DEM), dan penutup lahan. Analisis spasial dilakukan menggunakan metode weighted overlay yang mengacu pada Peraturan Kepala BNPB Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana. Hasil analisis menghasilkan peta indeks bahaya cuaca ekstrem yang diklasifikasikan menjadi tiga kelas, yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Zona bahaya tinggi umumnya berada pada wilayah dengan intensitas curah hujan tinggi, kemiringan lereng sedang hingga curam, serta dominasi tutupan lahan berupa lahan terbuka dan pertanian. Hasil analisis pada tingkat kecamatan menunjukkan bahwa seluruh kecamatan di Kabupaten OKU tergolong dalam kelas bahaya tinggi, kecuali Kecamatan Muara Jaya yang tergolong kelas bahaya sedang. Indeks bahaya sedang memiliki luas terbesar, yaitu 194.163,21 Ha, sehingga Kabupaten OKU secara keseluruhan dikategorikan ke dalam kelas bahaya sedang. Hasil validasi model menunjukkan nilai AUC sebesar 0,713 yang termasuk dalam kategori cukup baik, sehingga model memiliki kemampuan diskriminatif yang memadai dalam membedakan wilayah yang pernah mengalami dan tidak mengalami kejadian cuaca ekstrem.
Nilai Ground Shear Strain Pada Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman Adelia Saras Nugraheni; Dwi Wahyu Hardiyanto; Luliana Luliana; Idarwati Idarwati
Jurnal Ilmiah Teknik dan Sains Vol. 4 No. 1 (2026): Agustus: Jurnal Ilmiah Teknik dan Sains (JITS)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat AKIPBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62278/jits.v4i1.145

Abstract

Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta berada pada zona transisi antara endapan vulkanik Gunung Merapi di bagian utara dan zona aktif Sesar Opak di bagian selatan, sehingga tergolong wilayah rawan guncangan gempa bumi. Kondisi geologi yang bervariasi antarwilayah menyebabkan respons tanah terhadap gelombang seismik juga bervariasi, sehingga diperlukan kajian mengenai potensi deformasi tanah melalui parameter Ground Shear Strain (GSS). Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi nilai GSS di empat desa, yaitu Jogotirto, Kalitirto, Sendangtirto, dan Tegaltirto, sebagai indikator potensi deformasi tanah akibat aktivitas seismik. Nilai GSS dihitung dengan memanfaatkan data sekunder hasil akuisisi mikroseismik yang telah diolah menggunakan metode HVSR dari penelitian sebelumnya, meliputi nilai indeks kerentanan seismik (Kg) dan percepatan tanah maksimum (PGA), mengacu pada persamaan Nakamura (γ = Kg × 10⁻⁶ × αmax). Hasil penelitian menunjukkan nilai GSS di Kecamatan Berbah berkisar antara 8,063 × 10⁻³ hingga 1,460 × 10⁻². Nilai tertinggi terkonsentrasi di bagian tengah hingga selatan Desa Tegaltirto, serta sebagian selatan Kalitirto dan tenggara Jogotirto, sedangkan nilai terendah tersebar di sebagian besar Sendangtirto, barat laut Kalitirto, dan bagian tengah Jogotirto. Berdasarkan klasifikasi Ishihara (1982), nilai GSS di wilayah penelitian tergolong dalam kategori elastoplastis hingga mendekati kategori keruntuhan, dengan Tegaltirto sebagai wilayah yang paling berpotensi mengalami penurunan tanah, pemadatan, dan likuefaksi akibat kedekatannya dengan Sesar Opak dan sedimen permukaan yang relatif longgar. Hasil ini menegaskan bahwa Tegaltirto perlu menjadi prioritas utama dalam upaya mitigasi bencana dan perencanaan pembangunan infrastruktur tahan gempa di Kecamatan Berbah.