Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

ADAPTASI BENTUK DAN FUNGSI ARSITEKTUR RUMAH TRADISIONAL BUGIS-MAKASSAR DI KAMPUNG KUMBE, MERAUKE Octavia, Sari; Hematang, Yashinta Irma Pratami
MUSTEK ANIM HA Vol 6 No 3 (2017): MUSTEK ANIM HA
Publisher : Faculty of Engineering, Musamus University, Merauke, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35724/mustek.v6i3.711

Abstract

Merauke merupakan daerah yang multi etnis sehingga dapat dikatakan sebagai miniatur Indonesia karena terdapat banyak suku bangsa dari daerah lain yang mendiami kabupaten Merauke. Salah satunya adalah suku Bugis-Makassar. Suku Bugis-Makassar banyak mendiami daerah sepanjang pesisir pantai. Pendatang inilah yang membawa kebudayaan dari daerah asal mereka. Salah satunya rumah tradisional yang menjadi bagian penting dalam kehidupan keseharian mereka.Penelitian ini adalah penelitian kualitatif terkait dalam  upaya menjelaskan  rumah Bugis-Makassar yang ada di Kampung Kumbe dalam konteks Arsitektur Tradisional sebagai eksplorasi konsep bangunan yang pernah dikembangkan pada masa lalu untuk dilihat bagaimana perkembangannya pada masa kini di dalam lingkungan baru yang jauh dari asal tradisinya.Hasil penelitian menunjukkan bahwa akulturasi budaya setempat dengan budaya asal sangat kurang,  hal ini terlihat dari bentukan bangunan yang tidak mengalami perubahan dan tidak adanya kearifan lokal yang diadaptasi kedalam bentuk rumah tradisional. Hilangnya makna simbolik terhadap elemen-elemen arsitektural seperti makna ragam hias yang tidak lagi menunjukkan status sosial tetapi hanya berfungsi sebagai pemanis (ornamen) bangunan serta fungsi ruangan hanya sebatas pada kebutuhan pemilik rumah tanpa memperhatikan filosofi budaya asal.
ANALISIS TINGKAT POTENSI PRIORITAS KONSERVASI BANGUNAN BERSEJARAH DI MERAUKE Hematang, Yashinta Irma Pratami; Wayangkau, Izak Habel
MUSTEK ANIM HA Vol 7 No 3 (2018): MUSTEK ANIM HA
Publisher : Faculty of Engineering, Musamus University, Merauke, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35724/mustek.v7i3.1732

Abstract

Untuk melakukan kegiatan konservasi, dilakukan tahapan yaitu: penelitian, kajian perumusan kebijakan, program dan perencanaan, dan terakhir pembiayaan & pelaksanaan. Tahap penelitian salah satunya tahap penentuan peringkat/prioritas konservasi (Bappeda,1988: II-14). Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis dan membuat kategorisasi tingkat potensi pelestarian bangunan bersejarah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian evaluatif dengan kriteria yang digunakan adalah kriteria umum menurut Utomo (2005:75). Sampel penelitian yaitu data Badan Pusat Statistik Kabupaten Merauke (2014) yaitu tempat bersejarah di Merauke yang berjumlah 27 sampel. Hasil penelitian yaitu analisa tingkat potensi prioritas pelestarian bangunan bersejarah di Merauke dengan hasil tingkat potensi pelestaian yaitu: tinggi, sedang, dan rendah. Potensi tinggi yaitu: Pastoran, Kodim, Gereja Protestan, Gereja Katedral Lama, Lepro(Orang Sakit Lepas), dan Kuburan Belanda. Potensi sedang: SD Negeri 01, Gudang Barang Pastor, KORES/POLRES Lama, Sumur Bor, Galangan Kapal, Pintu Air, RSUD, Rumah Pelayanan PLN, Lampu Satu(Mersusuar), Pal Putih(Mersusuar), Semua Bangunan Di Belakang Hotel Asmat, Asrama Theresia (SKKP), Susteran PBHK (Kompleks Keuskupan Agung Merauke), Susteran PBHK Kelapa Lima, Seminari (Pankat) Kelapa Lima. Sedangkan potensi rendah: SD Aperis I (SD Fransiskus Xaverius 01 DAN 02), MILLO (SMA Jhon 23 Merauke), Rumah Kantor Distrik (Rumah Bistir), Gudang Beras (Irian Bakti) CBL, Lembaga Pemsyarakatan Kelas II MERAUKE, SGA, SGB, SPG (SMA Yos Sudarso) Kelapa Lima Merauke. Kata kunci : Arsitektur, Bangunan bersejarah, Konservasi, Merauke
Konsep Epe Ndaet Millah: Unsur-Unsur Ruang Permukiman Kampung Makaling, Papua Selatan Hematang, Yashinta Irma Pratami; Sastrosasmito, Sudaryono; Kurniawan, Harry
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 12 No 1 (2025): June
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v12i1a1

Abstract

The Malind Anim Tribe is unique and has been famous since the colonial era in Papua. The Malind Duh tribe, as one of the Malind Anim sub-tribes, still lives in Makaling Village on the coast of Merauke, South Papua.  Their residential space has a local concept of forming elements, which is then known as the concept of epe ndaet millah. To support development in South Papua and its surroundings, the Indonesian government has prepared regulations and policies as well as development activities to improve the welfare of the Papuan people. This research used a qualitative inductive phenomenological method, which has the potential to minimize the gap between prescriptive premises in development planning and the empirical reality at the research location. The aim is to describe the concept of epe ndaet millah that lives in Makaling Village, Okaba District, Merauke Regency, South Papua Province. This research described the elements that form the Kampung Makaling, namely in two constituent aspects, namely the ahhidih and the mbya no idihe, both of which are elements that complement each other as a unit. The layers of elements of the Makaling’s settlement in the epe ndaet millah concept make it a unique concept and has local wisdom, useful for research studies on residential and urban spaces in other areas and for practical use in the concept of designing settlements and urban spaces in South Papua and its surroundings.