Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Hubungan Kualitas Lingkungan Fisik Rumah dengan Risiko Penyakit ISPA pada Masyarakat di Desa Adow Selatan Mokodompit, Marsya Nabila Putri; Moleong, Maxi M.; Weken, Merdekawati E.; Sudirham, Sudirham; Manoppo, Jonesius E.; Langitan, Fentje
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 1 (2026): Februari - April
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i1.7105

Abstract

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama di wilayah pedesaan. Faktor lingkungan fisik rumah seperti ventilasi, jenis lantai, kepadatan hunian, dan jenis dinding berperan penting dalam meningkatkan atau menurunkan risiko terjadinya ISPA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kualitas fisik rumah dengan risiko ISPA pada masyarakat di Desa Adow Selatan. Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross-sectional pada 73 rumah  tangga yang ditentukan dengan Teknik simple random sampling. Data dikumpulkan melalui observasi langsung dan wawancara menggunakan kuesioner dan lembar checklist, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar rumah responden memiliki kualitas fisik rumah yang belum memenuhi standar kesehatan lingkungan, yaitu ventilasi tidak memenuhi syarat (59,1%), jenis lantai tidak memenuhi syarat (24,7%), kepadatan hunian tidak memenuhi syarat (63%), dan jenis dinding tidak memenuhi syarat (57,8%). Selain itu,  ISPA juga tercatat cukup tinggi, yaitu 129 orang (83,8%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara seluruh variabel fisik rumah dengan risiko ISPA, yaitu ventilasi rumah (p = 0,045), jenis lantai (p = 0,003), kepadatan hunian (p = 0,009), dan jenis dinding (p = 0,004). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin buruk kualitas fisik rumah, semakin tinggi risiko terjadinya ISPA pada penghuni rumah. Rumah dengan ventilasi tidak memenuhi syarat, lantai yang lembap dan sulit dibersihkan, hunian padat, serta dinding tidak permanen terbukti memiliki proporsi ISPA yang jauh lebih tinggi dibandingkan rumah yang memenuhi syarat kesehatan.
Profil Daya Tahan Jantung Paru pada Anggota Club Tondano Runners Rivaldo Chandra Lapian; Fentje Welliam Langitan; Nancy Sylvia Bawiling; Melky Pangemanan; Maxi Moleong; Fredrik Alfrets Makadada
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.8686

Abstract

Daya tahan jantung paru (cardiorespiratory endurance) merupakan komponen vital kebugaran jasmani yang menggambarkan efisiensi sistem kardiovaskular dan pernapasan dalam menyediakan oksigen bagi otot selama aktivitas fisik berkepanjangan. Individu yang rutin berlari cenderung memiliki VO₂max lebih tinggi, yang berkorelasi dengan penurunan risiko penyakit kronis. Meskipun Klub Tondano Runners aktif menjalankan fun run, belum ada data objektif mengenai profil daya tahan jantung paru anggotanya. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan profil daya tahan jantung paru anggota Klub Tondano Runners di Kabupaten Minahasa. Metode penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan teknik total sampling terhadap 34 anggota aktif. Pengukuran dilakukan menggunakan Multi-Stage Fitness Test (Bleep Test), yakni tes lari progresif maksimal bolak-balik 20 meter mengikuti irama bunyi yang semakin cepat. Level dan shuttle terakhir yang berhasil diselesaikan dikonversi menjadi estimasi nilai VO₂max, lalu diklasifikasikan berdasarkan norma baku menjadi lima kategori. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 22 anggota (64,7%) mencapai kategori baik sekali, 7 anggota (20,6%) kategori baik, dan 5 anggota (14,7%) kategori cukup; tidak ada yang termasuk kategori kurang maupun kurang sekali. Proporsi dominan pada kategori baik sekali mengindikasikan tingkat kebugaran kardiorespirasi yang tinggi di kalangan anggota. Disimpulkan bahwa latihan lari rutin yang dijalani komunitas Tondano Runners telah memberikan dampak positif terhadap daya tahan jantung paru. Namun, anggota dengan kategori cukup perlu mendapat perhatian melalui program latihan yang lebih terindividualisasi agar pemerataan kebugaran optimal tercapai. Penelitian ini merekomendasikan evaluasi berkala dan penyesuaian program untuk mempertahankan serta meningkatkan kebugaran seluruh anggota.
Training method and arm strength interactions in novice table tennis skill development: A factorial study Langitan, Fentje; Baan, Addriana Bulu; Podungge, Risna
Journal Sport Area Vol 10 No 3 (2025): December
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/sportarea.2025.vol10(3).24210

Abstract

Background: Developing proficiency in the backhand drive is essential for novice table tennis players, yet identifying the most effective training methodologies remains a significant challenge. However, existing literature has predominantly examined training methods in isolation. There is a notable lack of empirical evidence regarding how these methods interact with individual physical attributes, leading to a potential gap in understanding effective personalized coaching strategies. Objectives: This study aimed to examine the interaction between two common training methods (wall bounce vs. pairing) and arm muscle strength (strong vs. weak) on the acquisition of backhand drive skills in novice players. Methods: A 2 × 2 factorial experimental design was employed over an eight-week period with 76 novice male university students (age 18-22). Participants were stratified into four groups based on the training method and arm muscle strength, which was assessed using a 30-second push-up test. Backhand drive ability was evaluated using a validated scoring rubric. Finding/Results: A two-way ANOVA revealed a significant main effects for training method (p < .043, ηp2 ​= 0.11) and arm muscle strength (p < .001, ηp2​ = 0.70), as well as an interaction effect between these factors on backhand drive performance (F(1.36) = 6.99, p < .05, ηp2​ = 0.16). Post-hoc analysis showed that the wall bounce method was significantly more effective for players with strong arm muscles (p < .05), whereas for players with weaker arm muscles, no significant difference was found between the two training methods (p > .05). Conclusion: The optimal training method for backhand drive development is contingent on the athlete's physical characteristics. This finding challenges the one-size-fits-all coaching paradigm and provides strong evidence for a personalized approach that matches training methodologies to the individual strength levels of athletes.