Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Kecerdasan emosional mahasiswa pendidikan agama Kristen berbasis kearifan lokal “mata guru roha sisean” sebagai upaya mengurangi perilaku phubbing Malani Simanungkalit; Pestaria Naibaho; Immanuel Hutapea; Debby Hutabarat; Imelda Siahaan
KURIOS Vol. 9 No. 1: April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i1.582

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kecerdasan emosional mahasiswa melalui kearifan lokal “Mata Guru Roha Sisean”untukmengurangi perilaku phubbing di kalangan mahasiswa semester VI Program studi Pendidikan Agama Kristen IAKN Tarutung. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan sampel sebanyak 139 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwakecerdasan emosional mahasiswa semester VI prodi PAK IAKN Tarutungdiketahui perilaku phubbing mahasiswa semakin meningkat. Uji persyaratan analisis antara variabel X dengan variabel Y, dengan nilai thitung = 2,427dibandingkan dengan nilai ttabel untuk kesalahan 5% dan n-2 = 137 yaitu 1,960. Diperoleh perbandingan thitung > ttabel, yaitu 2,427 > 1,960. Hasilnya terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel X dengan variabel Y yaitu pengaruh yang signifikan antaraKecerdasan Emosional Terhadap Perilaku Phubbing mahasiswa semester VI prodi PAK IAKN Tarutung.PengaruhKecerdasan emosional sebesar 63%, sedangkan 37% dipengaruhi oleh faktor lain. Faktor lain tersebut adalah dukungan keluarga (orang tua), pergaulan dengan teman, dan gereja serta lingkungan sekitar
Membentuk Gen Z sebagai agen perdamaian: Pedagogi pembebasan Paulo Freire dalam revitalisasi pendidikan gerejawi di Gereja-gereja arus utama Tapanuli Utara Pestaria Naibaho; Sandy Ariawan; Simion D. Harianja; Preciliana Harianja
KURIOS Vol. 11 No. 3: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i3.1310

Abstract

Social violence, intergenerational intolerance, and a values crisis among young people represent concrete challenges facing Christian communities in North Tapanuli. Mainstream churches, predominantly composed of Batak denominations such as HKBP, have largely continued to apply unidirectional, transmissive, and ritually oriented church education models, thereby failing to optimally empower children as active subjects and agents of peace. This study aims to examine the relevance of Paulo Freire's liberating pedagogy for the revitalization of church education in the context of forming Gen Z children as agents of peace. Employing critical literature review and conceptual analysis, this study examines Freire's pedagogical framework, encompassing conscientização, dialogical pedagogy, and the critique of banking education, along with its limitations and implications for child theology and ecclesiology. The findings indicate that integrating liberating pedagogy into church education, grounded in the theology of imago Dei and the example of Christ, holds significant potential to foster peaceful character and critical consciousness among Gen Z children. This revitalization requires a shift from doctrinal transmission to a dialogical, transformative learning community.   Abstrak Kekerasan sosial, intoleransi antargenerasi, dan krisis nilai di kalangan generasi muda merupakan tantangan nyata bagi komunitas Kristen di Tapanuli Utara. Gereja arus utama yang didominasi oleh denominasi seperti HKBP masih cenderung menerapkan model pendidikan gerejawi yang bersifat satu arah, transmisif, dan ritualistik, sehingga belum optimal memberdayakan anak sebagai subjek aktif dan agen perdamaian. Penelitian ini bertujuan mengkaji relevansi pedagogi pembebasan Paulo Freire bagi revitalisasi pendidikan gerejawi dalam konteks pembentukan anak Gen Z sebagai agen perdamaian. Dengan menggunakan metode studi literatur kritis dan analisis konseptual, penelitian ini menelaah ke-rangka pedagogis Freire, mencakup conscientização, pedagogi dialogis, dan kritik atas banking education, beserta keterbatasannya dan implikasinya bagi teologi anak serta eklesiologi. Temuan menunjukkan bahwa integrasi pedagogi pembebasan dalam pendidikan gerejawi yang dijangkarkan pada teologi imago Dei dan teladan Kristus berpotensi signifikan membentuk karakter damai dan kesadaran kritis pada anak Gen Z. Revitalisasi ini mensyaratkan transformasi dari model transmisi doktrinal menuju komunitas belajar yang dialogis dan transformatif.
Mission Batak traditions to Educational Transformation: The History, Dynamics, and Challenges of Church Schools in Tapanuli, 1950-2024 Pestaria Naibaho
Harati: Jurnal Pendidikan Kristen Vol 6 No 1 (2026): HaratiJPK: April
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Kristen IAKN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54170/0wh71834

Abstract

This study examines the historical transformation, institutional dynamics, and contemporary challenges of church-based education in Tapanuli, North Sumatra, Indonesia, from 1950 to 2024. Although missionary education played a foundational role in the development of formal schooling and Christian leadership among the Batak, the post-independence trajectory of church schools has received comparatively limited attention as a process of institutional transformation. This study employed a qualitative historical research design using archival documents, published historical sources, oral histories, field observations, and material evidence. The findings demonstrate that church-based education underwent three major transformations: the transition from missionary education to an Indigenous church-based educational system after independence; institutional professionalization and adaptation to national educational structures; and contemporary transformation in response to educational competition, technological change, professional standards, and cultural expectations. The study further demonstrates that Batak communities actively appropriated educational institutions as instruments of literacy, social mobility, leadership formation, and “hamajuon” (social progress). However, tensions remain between inherited Western educational epistemologies and the need to strengthen Batak cultural and Indigenous knowledge within Christian education. The study concludes that the future relevance of church schools depends on integrating theological identity, educational quality, technological innovation, and culturally responsive pedagogy. Church schools should therefore be understood as dynamic institutions of educational, ecclesial, cultural, and social transformation.