Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

PENATAAN KAMERA DALAM PEMILIHAN KOMPOSISI GAMBAR FILM DOKUMENTER TARI BARIS MEMEDI PADA PROGRAM BALI SANTHI INEWS BALI Ni Nyoman Trisna Dewi Cahyani; Ni Kadek Dwiyani; Gede Pasek Putra Adnyana Yasa
CALACCITRA: JURNAL FILM DAN TELEVISI Vol. 3 No. 1 (2023): Jurnal Calaccitra Maret 2023
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/cc.v3i1.2251

Abstract

Television stations present various types of interesting and varied programs every day. Bali Santhi iNews Bali is a program that investigates the theme of Balinese culture. The Bali Santhi program displays the process of Balinese traditional ceremonies from the beginning to the end of the event by presenting many Balinese ceremonies that are in accordance with facts that have high attractiveness. Baris Memedi dance is one of the Balinese dance arts that is included in the group of sacred ceremonial dances that are performed at the atiwa-tiwa, or mass recitation, in Jatiluwih Penebel Traditional Village, Tabanan. The Baris Memedi documentary film was created with the intention of becoming a medium for public information about the many Balinese cultures that exist but are not widely known by the wider community, including, of course, the Balinese people. Shooting composition is an important aspect of the beauty of a film. The creation of the Tari Baris Memedi documentary film requires several stages that require a long process, starting from pre-production, production, and post-production. The results of the creation show that the arrangement of the images in the Tari Baris Memedi Documentary is divided into several parts, namely the camera angle, shot size, and also the composition, each of which has a message and meaning implied in it. This work is expected to be able to provide information to the Balinese people about Balinese culture in Bali and convey messages through the arrangement of images created by the author.
PENERAPAN KONSEP REPRESENTASI PADA MUSIC VIDEO TINKERBELLE BALI DI DEWATLANTIS STUDIO Ida bagus Putu Bayu Krisnanda; I Wayan Suardana; Gede Pasek Putra Adnyana Yasa
CALACCITRA: JURNAL FILM DAN TELEVISI Vol. 3 No. 1 (2023): Jurnal Calaccitra Maret 2023
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/cc.v3i1.2259

Abstract

Tinkerbelle Bali's music video has a goal to become an audio-visual work that has very strong value and has an impact on the wider community. It is hoped that the stigma of metal bands that is still bad can provide space for the Tinkerbelle band to be able to speak and communicate through music videos that apply the concept of representation in order to interpret the harmony of music and lyrics into visual images that can be enjoyed by people from all walks of life. The music video created by the author is able to become an important part for Tinkerbelle Bali in pursuing existence in the world of the music industry. This work is based on research and observations on the genre chosen by the Tinkerbelle Band in order to understand and understand the meaning of every melody and lyrics that are created. The method used is representation in the application of semiotics which is supported by the concept of mise en scene so as to create a new interpretation of how metal music communicates through songs. This trilogy music video work applies signs and symbols as semiotics which are poured into various elements of mise en scene. The concept of directing representation is very commonly created but its application uses hard, abstract elements in the metal music genre to be watched by the general public without exception for people who do not have an interest in metal music so that the writer is able to present a very unique and entertaining show for the audience. Public.
ANALISIS SEMIOTIKA TERHADAP ANIMASI “BELAJAR MEMBACA HURUF VOKAL DAN KONSONAN, LALA & CIKO” Gede Pasek Putra Adnyana Yasa; Gede Lingga Ananta Kusuma Putra; I Made Hendra Mahajaya Pramayasa
VISWA DESIGN: Journal of Design Vol. 3 No. 1 (2023): Viswa Design: Journal of Design
Publisher : Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Studi ini bertujuan untuk menganalisis animasi yang berjudul “Belajar Membaca Huruf Vokal dan Konsonan, Lala & Ciko”menggunakan teori semiotika. Teori semiotika yang digunakan adalah semiotika Charles Sanders Pierce meliputi: ikon, indeks, dan simbol. Pada umunya, pembelajaran atau pesan yang disampaikan melalui bentuk video, khususnya video animasi, tentu memiliki suatu tanda di dalamnya yang dapat membantu para penontonnya untuk cepat menangkap pesan yang disampaikan. Dalam animasi, tanda tersebut bisa dibentuk pada audio, visual, karakter, maupun pendukung lainnya. Penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian lapangan (field research) dan digolongkan sebagai penelitian deskriptif kualitatif untuk memperoleh penelitian yang akurat. Penelitian deskriptif kualitatif berupa mendeskripsikan, mencatat, menganalisis dan menginterprestasikan apa yang diteliti, melalui observasi, wawancara dan mempelajari dokumentasi. Hasil studi menunjukkan bahwa animasi “Lala & Ciko” menerapkan tanda seperti ikon, indeks dan simbol. Hampir pada keseluruhan adegan menerapkan tiga tanda tersebut. Penggunaan ikon, indeks, dan simbol memberikan dampak yang positif dalam membantu anak-anak dalam memahami, mengenal, dan menguasai keterampilan membaca huruf vokal dan konsonan secara interaktif dan menyenangkan.  
UPIN IPIN ANIMATION: THE MEDIA OF MALAYSIA'S IDENTITY POLITICS Gede Pasek Putra Adnyana Yasa; I Nyoman Darma Putra; I B Gde Pujaastawa; I Nyoman Larry Julianto
E-Journal of Cultural Studies Vol 16 No 3 (2023): Volume 16 Number 3 August 2023
Publisher : Cultural Studies Doctorate Program, Postgraduate Program of Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/cs.2023.v16.i03.p04

Abstract

"Upin Ipin" animation is a popular children's film series in Indonesia, including Denpasar from 2010-2023. The Upin Ipin animation shows the background of a Malaysian village with its own culture, and the characters who play a role in it can represent the Malay-Malaysian identity and the various tribes that exist in Malaysia. The research used qualitative methods, and data were analyzed using discourse analysis theory and ideology theory. The results show that the issue of Malay-Malaysian identity plays a role in the production of Upin Ipin animation. The identity is visualized through the characters in the story, along with the environment that considers the socio-cultural background of the local Malaysian community. The construction of the environment, socio-cultural life, religion and culture, and language represent the Malaysian identity. This article contributes to the understanding that Upin Ipin animation is not just entertainment but a medium to introduce the Malay-Malaysian cultural identity. Keywords: animation, Upin Ipin, identity politics, Malaysia
PERANCANGAN ULANG SIMBOL DAN PAPAN PENUNJUK ARAH PADA AREA OBYEK WISATA MONKEY FOREST Dewa Gede Purwita; Gede Pasek Putra Adnyana Yasa
Jurnal Lentera Widya Vol 1 No 1 (2019): Jurnal Lentera Widya Desember 2019
Publisher : LPPM Institut Desain dan Bisnis Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35886/lenterawidya.v1i1.61

Abstract

Penunjuk arah merupakan media visual yang sangat penting di dalam menyampaikan informasi mengenai suatu arah tujuan. Umumnya penunjuk arah memiliki dua unsur yaitu simbol dan huruf. Dua simbol pokok ini dapat saja tidak dipergunakan salah satunya akan tetapi sangat baik jika dipergunakan bersamaan. Kedua unsur ini akan mempertegas sekaligus mempermudah pemahaman bagi masyarakat di dalam mempersepsikan simbol dan huruf ke arah mana tujuan perjalanan mereka. Di dalam konteks daerah atau suatu lokasi wisata, penunjuk arah memiliki fungsi yang sangat penting yaitu sebagai media informasi agar para pengunjung suatu objek wisata tidak kebingungan dalam mencari jalan atau menuju kepada titik-titik penting lokasi yang ingin mereka kunjungi. Sebagaimana di objek wisata Monkey Forest di Desa Padang Tegal, Ubud, di areal yang sangat luas ini terdapat beberapa titik penting objek wisata, sedangkan penunjuk arah sebelumnya memuat banyak bahasa asing sehingga hurufnya menjadi kecil, begitu juga dalam simbol-simbol yang dihadirkan perlu untuk dirancang ulang agar memperjelas sekaligus mempertegas huruf penunjuk arah. Oleh karenanya pada pengabdian ini, jurusan Desain Komunikasi Visual Sekolah Tinggi Desain Bali melakukan kegiatan pengabdian dengan merancang ulang simbol dan penunjuk arah di Monkey Forest agar informasi yang disampaikan berupa simbol dan hurufnya mampu berkomunikasi secara efektif kepada pengunjung objek wisata.
PERANCANGAN DESAIN SEBAGAI SARANA INFORMASI PENCEGAHAN VIRUS CORONA Gede Lingga Ananta Kusuma Putra; Ni Wayan Nandaryani; Gede Pasek Putra Adnyana Yasa
Jurnal Lentera Widya Vol 1 No 2 (2020): Jurnal Lentera Widya Juni 2020
Publisher : LPPM Institut Desain dan Bisnis Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35886/lenterawidya.v1i2.102

Abstract

Corona atau sering disebut juga dengan COVID-19, virus ini menimbulkan kepanikan yang sangat luar biasa, bukan hanya di bagian wilayah dan daerah namun juga kepanikan bagi seluruh dunia. Dampak yang dapat ditimbulkan oleh virus Corona yang menyebabkan kepanikan tersebut ialah seorang yang telah terkena virus tersebut akan jatuh sakit yang tidak dapat langsung terdeteksi, karena untuk mengetahuinya harus melakukan beberapa tes. Kemudian virus Corona tersebut juga penularannya sangat mudah, dan bahkan bagi yang terkena dampak dari virus Corona akan dapat sampai menyebabkan kematian. Sekolah Tinggi Desain Bali dengan program pengabdian kepada masyarakat telah menyalurkan kepeduliannya terhadap masyarakat dengan melakukan kegiatan gerakan 1000 masker. Gerakan pengabdian kepada masyarakat ini diharapkan dapat membantu pencegahan dan pengurangan jumlah korban dari virus Corona. Dalam perancangan desain, melalui beberapa tahapan, dari mencari referensi, brainstorming, sampai dengan pengaplikasian. Tahapan – tahapan dalam pembuatan desain sangat diperlukan guna menghasilkan desain yang sesuai dengan tema, dan sesuai dalam mengemas masker hasil produksi. Sebuah Desain yang baik harus memiliki nilai estetis, supaya menarik dan juga harus dapat berkomunikasi yang baik supaya informasi dapat tersampaikan secara utuh dan tepat sasaran.
THE MEANING OF FRIENDSHIP: THE STORY OF A HUMAN AND DOG IN THE BUL ANIMATION Gede Pasek Putra Adnyana Yasa
Journal of Aesthetics, Design, and Art Management Vol. 2 No. 2 (2022): Journal of Aesthetics, Design, and Art Management
Publisher : Yayasan Sinergi Widya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58982/jadam.v2i2.261

Abstract

Purpose: Bul animation is full of meaning and moral messages. The meaning implied in it is the friendship between dogs and humans that occurs as a result of the gap in the social life of people in urban environments. The gap is interpreted through the interaction between the character of a scavenger and a dog. The purpose of this study is to analyze the interaction of the characters of a scavenger and a dog to form a story of friendship. Research methods: This study uses an interpretive qualitative semiotic analysis method. Findings: The research is centered on studying animation from the area of ??art studies, which specifically studies the meaning in every scene in the Bul animation. The meaning of friendship is created in the animated film Bul through a sign system in the form of icons, indexes, and symbols. The formation of the meaning of friendship can be observed in scenes 4 to scene 9. Friendship or friendship is a term that describes the behavior of cooperation and mutual support between two or more social entities. The meaning of friendship is created in a storyline and interaction between the characters in the animated film Bul, namely the scavengers and the dog. Through friendship, loyalty arises through the character of a dog who does not want to part with his friend (a scavenger). It signifies deep loyalty. Implication: The research results are helpful as a reference in creating animated works that can imply meaning or moral messages.
AESTHETICS OF ANIMATED MOVIE POSTER ILLUSTRATION "SI JUKI THE MOVIE" I Made Hendra Mahajaya Pramayasa; Gede Pasek Putra Adnyana Yasa; Gede Lingga Ananta Kusuma Putra
Journal of Aesthetics, Design, and Art Management Vol. 3 No. 2 (2023): Journal of Aesthetics, Design, and Art Management
Publisher : Yayasan Sinergi Widya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58982/jadam.v3i2.522

Abstract

Purpose: In animated films, posters serve as a means to convey story illustrations. The visuals of the poster become an attraction for the audience or fans. Signs help the audience understand the purpose and message to be given. The information content of animated film works can be displayed through carefully arranged images or text and apply elements of art and art principles to create beauty. Research methods: To deepen the understanding of the value of beauty contained in the poster that is the focus of the research, the author analyses the illustrations presented through the description of aesthetic elements and principles concerning Herbert Read's objective theory. This article describes the accurate beauty values reflected in the objects in the poster of "Si Juki The Movie, Committee for the End of Days. This article presents a conclusion about aesthetics that can be identified through the elements and principles of aesthetics contained in the work. Findings:Film posters have the potential as a means to disseminate information using aesthetically designed illustrations of images and text. Through applying aesthetic elements and principles, movie posters can create a value of beauty that visualising shapes, colours, and motifs can easily understand. Based on the analysis, the animated movie poster "Si Juki The Movie" has a beauty implied in the aesthetic elements contained in the shapes, colours, and motifs displayed on the sign. Implications: The results of this research are expected to increase public knowledge about the elements and principles of aesthetics interpreted through objective beauty in an animated film poster work.
Analisis Pose dan Gerak Karakter Animasi Donald Duck Dalam Film Donald’s Penguin I Made Hendra Mahajaya Pramayasa; Gede Pasek Putra Adnyana Yasa; Gede Lingga Ananta Kusuma Putra
Jurnal SASAK : Desain Visual dan Komunikasi Vol 6 No 1 (2024): SASAK
Publisher : Universitas Bumigora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30812/sasak.v6i1.4064

Abstract

Salah satu media hiburan yang dapat membantu untuk bersantai dan menghilangkan stres yaitu animasi, karena menawarkan berbagai tampilan karakter yang unik dan gerakan yang lucu. Donald Duck adalah salah satu karakter dalam animasi komedi yang banyak digemari. Seperti dalam film animasi "Donald’s Penguin", salah satu film animasi klasik yang dirilis pada tahun 1939 oleh Walt Disney Productions. Dalam animasi ini, visual yang ditampilkan menawarkan animasi dengan karakter ikonik dalam berbagai situasi lucu dan menegangkan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pose dan gerak animasi beserta penerapan prinsip-prinsip animasi terhadap gerak karakter Donald. Metode yang digunakan penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisis prinsip-prinsip animasi. Hasil penelitian ini adalah bahwa pose dan gerak dari Donald dalam film Donald’s Penguin lebih mengedepankan prinsip-prinsip animasi. Hal ini menjadikan gerakannya tidak hanya realistis tetapi juga menarik dan tidak membosankan. Gerakan tersebut berhasil menggambarkan kepribadian karakter Donald secara efektif. Implikasi dari penelitian ini adalah memahami bagaimana pose dan gerak karakter memainkan peran penting dalam menentukan kualitas dan daya tarik film animasi.
Pengabdian Masyarakat di Sanggar Seni Lukis Balitung Denpasar “Menggambar Storyboard Komik Anak-Anak” Janottama, I Putu Arya; Wibawa, Arya Pageh; Yasa, Gede Pasek Putra Adnyana; Indira, Wahyu; Artha, I Gede Agus Indram Bayu; Kusuma, Gede Lingga Ananta; Pramayasa, I Made Hendra Mahajaya; Wiwana, I Putu Adi; Prabu, Anak Agung Bayu Krisna; Swandi, I Made Dwiarya
Abdi Widya: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 3 No 2 (2024): Abdi Widya: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/awjpm.v3i2.4356

Abstract

Sanggar Seni Lukis Balitung sebagai salah satu sanggar seni yang berada di jalan Tukad Yeh Biu Gang Pudak No. 1, Sesetan, Kecamatan Denpasar Selatan, kotamadya Denpasar. Sanggar ini didirikan pada tahun 1989 oleh Drs. I Ketut Sudiana dengan tujuan untuk melestarikan, mengembangkan, dan memajukan seni sebagai bagian dari warisan budaya. Sanggar Seni Lukis Balitung telah menjadi tempat untuk dilaksanakannya pengabdian masyarakat oleh dosen Program Studi Animasi Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Denpasar. Tujuan dari pengabdian masyarakat ini adalah memberikan wawasan pengetahuan tentang storyboard komik kepada anak-anak. Tambahan pengetahuan tentang pembuatan storyboard komik ini dimaksudkan untuk dapat meningkatkan kemampuan teknik menggambar komik kepada peserta didik. Metode yang digunakan dalam pengabdian masyarakat ini adalah ceramah dan pelatihan kepada peserta didik yang selanjutnya diaplikasikan dalam media gambar berupa kertas. Selain itu, peserta didik diharapkan dapat mengembangkan berbagai cerita yang kreatif secara mandiri sehingga mereka memperoleh pemahaman secara komprehensif dan menyeluruh tentang storyboard komik. Tahapan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap evaluasi. Implikasi kegiatan ini adalah pengetahuan yang terwujud dalam bentuk narasi visual yang digambarkan oleh peserta didik secara mandiri tidak hanya diimplementasikan ke dalam media komik tetapi juga nantinya dapat diterapkan pada media-media lainnya.