Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Business Economic Feasibility and Fishermen Bagan Perahu (Lift Net) in Pelita Jaya Bay of Maluku Province Nurlette, Hartono
Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol. 27 No. 2 (2022): June
Publisher : Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/

Abstract

Bagan Perahu (Lift Net) is a fishing business that requires a large investment value. The income of this business is uncertain because it relies heavily on catches and the fish season. The risk of uncertainty will affect business income and fishermen's income. This study aims to analyze the economic feasibility of fisheries and fishermen's businesses in Pelita Jaya Bay West Seram Regency, Maluku. The method used in this study is a survey. The results showed that the business carried out is still very profitable, seen from the business income earned by the owner, which is Rp68,548,000/year. Financial analysis shows the value of NPV over the next ten years amounting to Rp241,568,753; the value of IRR is still above the current bank interest rate of 42.98% and the net value of B/C>1, which is 2.58. The average monthly fishermen's income amounted to Rp1,288,311, and the existing income is still far below the UMR of Maluku Province. This is certainly not economically viable.
KESESUAIAN DAN DAYA DUKUNG EKOSISTEM MANGROVE UNTUK PENGEMBANGAN EKOWISATA DI TELUK AMBON, PROVINSI MALUKU Alimudi, Saiful; Nurlette, Hartono Nurlette; Fatsey, Alwi; Kaliky, Kamarudin
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 21, No 2 (2025): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.21.2.107-114

Abstract

Kawasan eksosistem mangrove Desa Wariheru memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi area ekowisata. Melalui pengembangan tersebut, manfaat dari hutan mangrove tidak hanya dinikmati sebagai wisata alam, namun dapat memberikan alternatif khususnya masyarakat pesisir untuk meningkatkan pendapatan ekonomi. Kendati demikian, realisasi oleh stakeholder dan pemerintah belum mewujudkan harapan tersebut. Urgensi penelitian ini berfokus pada pemanfaatan teknologi sistem informasi geografis (SIG) untuk mengetahui potensi hutan mangrove sebagai kawasan ekowisata. Pendekatan SIG dapat dimanfaatkan sebagai acuan awal dalam pengambilan kebijakan terkait pengelolaan dan pengembangan kawsan ekosistem mangrove. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kesesuaian lahan dan daya dukung ekowisata mangrove desa Waiheru. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kauntitatif dengan pengumpulan data melalui observasi dan survey lapangan. Analisis kesesuaian lahan untuk ekowisata mangrove dilakukan secara spasial berdasarkan perkalian antara nilai skor dan bobot yang diperoleh dari masing-masing parameter, melalui pendekatan SIG. Analisis daya dukung ekowisata dihitung dengan persamaan Daya Dukung Kawasan (DDK). Hasil penelitian menunjukan informasi indkes kesesuain wilayah (IKW) desa Waiheru termasuk dalam kategori sesuai dengan luas 6,98 ha. Panjang area yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan tracking adalah 1.202 m dan daya dukung ekowisata mangrove adalah 192 orang/hari, dengan mempertimbangkan lamanya waktu kunjungan wisata setiap pengunjung (buka 8 jam/hari). Secara keseluruhan kawasan ekosistem mangrove Desa Waiheru dikategorikan cukup sesuai untuk dikembangan menjadi kawasan ekowisata dengan daya tampung dalam kategori baik dan tidak melebihi ambang batas maksimal yang diperbolehkan
Peduli Lingkungan Pesisir Dan Wisata Pantai Bebas Sampah Melalui Aksi Coastal Cleanup Nurlette, Hartono; Kaliky, Nurainy; Borut, Ismail; Wally, Pramita
Jurnal Masyarakat Madani Indonesia Vol. 4 No. 2 (2025): Mei
Publisher : Alesha Media Digital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59025/mgyvpf63

Abstract

Objek wisata yang bersih dan bebas kotoran menjadi harapan semua wisatawan yang berkunjung. Namun wisatawan sendiri masih belum memiliki kesadaran dalam menjaga kebersihan lingkungan objek wisata. Hal ini terlihat dari banyaknya wisatawan yang membuang sampah sembarangan terutama sampah plastik minuman dan makanan sekali pakai. Tujuan kegiatan coastal cleanup untuk membersihkan pesisir pantai dan memberikan teladan secara langsung kepada pengunjung. Pelaksanaan pengabdian dibagi menjadi tiga tahap terdiri dari tahap pra kegiatan, inti kegiatan dan pasca kegiatan. Alat kegiatan coastal cleanup yang diperlukan terdiri dari wadah sampah, timbangan, kamera dan alat tulis. Hasil dari kegiatan coastal cleanup ini berhasil mengumpulkan 8 kantong dengan total berat 62.400 gram sampah plastik yang seluruhnya merupakan sampah sekali pakai yang dibuang sembarangan pada wilayah pesisir objek wisata. Berdasarkan hasil wawancara singkat terhadap kegiatan coastal cleanup, mampu meningkatkan kesadaran pengunjung untuk tidak lagi membuang samapah sembarangan. Kagiatan seperti ini perlu ditingkatkan karena memberikan dampak nyata untuk menjaga lingkugan pesisir dan laut serta meningkatkan kesadaran masyarakat
and, of, the Morphometric Analysis and Proximate Composition of Mole Crabs (Hippidae) from the Tial Coastal Area as a Potential Source of Functional Food Kaliky, Nunun Ainun Putri Sari; Muhsin, Muhammad Fatratullah; Nurlette, Hartono; Alimudin, Saiful; Abubakar, Shafinaz; Saputra, Anugerah; Achmad, Marlina
Torani Journal of Fisheries and Marine Science Vol. 9 No. 1 (2025): VOLUME 9, NOMOR 1, DECEMBER 2025
Publisher : Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35911/torani.v9i1.46801

Abstract

Sea anthills (Hippidae) are a class of crustaceans that live in tidal zones, with sandy substrates and have the potential to be used as an alternative food source. This research was conducted in November 2023 on Tial beach. Specifically, Tial beach is located east of Ambon Island with fine to medium sandy substrates. This research aims to identify the morphological characteristics of Hippidae, as well as analyze their nutritional content. The data collection method used 5 quadrant transects measuring 2 x 2 m with a distance of 8 m in each quadrant. The results showed that there were Hippidae species found, namely Hippa marmorata with a total of 49 individuals/50m2 with a carapace length ranging from 0.8 cm - 4 cm and a body weight of 0.49 gr - 6.58 gr. Morphometric analysis showed a very strong level of relationship between Hippa marmorata and its growth pattern is positive allometric. The proximate content shows that Hippa marmorata contains protein and fat to support its use as a functional food. These data provide important insights into the morphometric aspects and nutritional value of Hippa marmorata. The results support the use of Hippa marmorata as a low-fat and ecologically potent seafood source.
SOSIALISASI PENTINGNYA MENJAGA EKOSISTEM MANGROVE KEPADA MASYARAKAT DISERTAI PENANAMAN MANGROVE Ohiwal, Morgan; Alimudi, Saiful; Marasabessy, Rendi; Rumatiga, Masdar; Nurlette, Hartono; Musaid, Hendra; Ratau, Asria; Yunita, Melda
Jurnal Abdimas Sangkabira Vol. 6 No. 1 (2025): Jurnal Abdimas Sangkabira, Desember 2025
Publisher : Program Studi Diploma III Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdimassangkabira.v6i1.2683

Abstract

Kerusakan mangrove secara umum terjadi di seluruh kawasan pesisir Indonesia termasuk di Maluku, khususnya di kawasan mangrove di Desa Waiheru Kecamatan Teluk Ambon Baguala Kota Ambon. Penyebab kerusakan mangorbe antara lain ialah alih fungsi lahan menjadi pemukiman, daerah ekowisata, penebangan liar, sedimentasi, dan pencemaran lingkungan. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga kawasan mangrove dan merehabilitasi kawasan mangrove yang rusak. Kegiatan ini dilakukan pada 27 November 2021. Kegiatan yang dilakukan meliputi sosialisasi, penanaman 800 anakan mangrove, dan evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan 576 tanaman (72%) hidup, tanaman yang merana sebanyak 160 tanaman (20%), dan tanaman yang mati sebanyak 64 (8%). Dapat disimpulkan sosialisasi yang disertai dengan penanaman mangrove berhasil mengedukasi masyarakat di sekitar kawasan mangrove dalam memahami pentingnya menjaga ekosistem mangrove dan perlunya merehabilitasi kawasan mangrove yang rusak. Diharapkan kegiatan ini dapat dilakukan secara berkelanjutan dalam upaya menjaga kelestarian kawasan mangrove.