Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

MODIFIKASI FEEDER CHAIN CONVEYOR UNTUK MENGATASI CACAT PRODUK PADA PROSES PRODUKSI COLLAPSIBLE ALUMINIUM TUBE Zaenal Arifin; Susilo Adi Widyanto; Paryanto Paryanto
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 11, No 3 (2023): VOLUME 11, NOMOR 3, JULI 2023
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses manufaktur dari suatu produk, kualitas harus dipertahankan dengan menyesuaikan perkambangan teknologi yang tersedia untuk dapat terus memenuhi tantangan utama terkait kebutuhan kualitas. Salah satu penerapannya pada produksi kemasan farmasi dengan material aluminium collapsible tube untuk meningkatkan kapasitas produksi dengan proses kerja yang produk. PT Extrupack Solo merupakan perusahaan yang memproduksi tabung aluminium collapsible untuk pengemasan produk di industri farmasi. Dalam proses produksinya, mesin-mesin dalam line produksi memiliki potensi untuk menghasilkan produk cacat. Topik tugas akhir ini dilatar belakangi oleh adanya kegagalan hasil produksi pada proses trimming. Oleh karena itu, perlu adanya improvement yang dilakukan dengan memodifikasi sistem feeder menjadi chain conveyor agar upaya dalam meminimalisir adanya kegagalan produk dan meningkatkan produktivitas dapat tercapai. Proses desain konveyor meliputi pengamatan studi lapangan di PT. Extrupack, perancangan desain, dan simulasi dengan menggunakan software Solidworks serta penentuan komponen - komponen penyusun. Perancangan desain yang dilakukan menghasilkan spesifikasi konveyor rantai dengan kapasitas sebesar 5,63 g/s, kecepatan sebesar 0,04m/s dengan panjang lintasan sejauh 560 mm, dan sudut inklinasi 22,75o . Komponen penyusun menggunakan rantai, sprocket, rangka Stainless Steel, poros, meja ā€œVā€ serta adjustable foot. Berdasarkan hasil simulasi, didapatkan nilai displacement senilai 547 mm dalam waktu 13 sekon dan dapat disimpulkan desain konveyor rantai telah sesuai untuk menggerakan tube dengan efektif sehingga persoalan kegagalan hasil produksi pada proses trimming dapat teratasi.
PROSES UNDERWATER FRICTION WELDING UNTUK DISSIMILAR METAL ANTARA AISI 1045 DENGAN STAINLESS STEEL 304 Aulia Mei Kurniawan; Rusnaldy Rusnaldy; Paryanto Paryanto
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 11, No 3 (2023): VOLUME 11, NOMOR 3, JULI 2023
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Friction welding merupakan pengelasan solid-state dimana penggabungan diperoleh dari panas akibat gesekan dan tekanan. Underwater friction welding merupakan variasi friction welding yang dilakukan dibawah air dengan bantuan chamber sebagai media air dengan tujuan hasil penyambungan logam akan lebih optimal karena proses pendinginan yang cepat, yang berlangsung bersamaan dengan proses pengelasan. Pengelasan dilakukan menggunakan mesin friction welding dengan parameter waktu tempa 4 detik dan 6 detik serta kecepatan putar 1400rpm. Material pengelasan adalah menyambungkan AISI 1045 dan stainless steel 304 berdiameter 12mm. Spesimen hasil friction welding diuji kelayakan Non-Destructive Test berupa inspeksi visual dengan melihat bentuk flash yang dihasilkan. Friction welding dilakukan pada 4 spesimen yang terdiri dari 2 spesimen udara dan 2 spesimen underwater. Spesimen berhasil disambungkan yang kemudian dilakukan uji kelayakan hasil pengelasan. Waktu tempa memiliki pengaruh terhadap hasil flash yang terbentuk pada spesimen, dimana semakin besar waktu tempa yang digunakan menghasilkan flash yang berukuran semakin besar. Flash yang terbentuk pada material AISI 1045 berukuran lebih besar dibandingkan dengan flash yang terbentuk pada stainless steel 304 yang diakibatkan oleh perbedaan sifat mekanik dari material yang disambungkan. Pada underwater friction welding, ukuran flash yang terbentuk lebih kecil daripada friction welding udara, dikarenakan pendinginan cepat saat proses pengelasan berlangsung. Terjadi cacat flash berupa misalignment yang diakibatkan oleh pencekaman yang kurang kuat, ketidaktepatan geometris, dan pemberian tekanan yang terlalu lama. Terjadinya misalignment mengakibatkan menurunnya kualitas sambungan pengelasan.