Roni Kurniawan
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG)

Published : 22 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

PEMANFAATAN SATAID UNTUK ANALISA BANJIR DAN ANGIN PUTING BELIUNG: STUDI KASUS JAKARTA DAN YOGYAKARTA Hastuadi Harsa; Utoyo Ajie Linarka; Roni Kurniawan; Sri Noviati
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 2 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.554 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v12i2.101

Abstract

Japan Meteorology Agency (JMA) mengembangkan aplikasi SATAID (Satellite Animation and Interactive Diagnosis) untuk menampilkan citra satelit dan mendapatkan nilai beberapa parameter meteorologi di dalamnya. Pada makalah ini dibahas mengenai pemanfaatan aplikasi tersebut terkait kejadian banjir di Jakarta 1 Februari 2008 dan angin puting beliung di Yogyakarta 18 Februari 2007. Prosedur yang dilakukan pada kajian ini dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan analisa berdasar citra satelit yang diperoleh dari aplikasi SATAID tersebut. Japan Meteorology Agency (JMA) developed SATAID (Satellite Animation and Interactive Diagnosis) application to display and to retrieve some meteorology parameter values in satellite image data. This paper studies the use of  the application in analyzing the Jakarta flood February 1st, 2008 and the Yogyakarta Tropical cyclone February 18th, 2007. The procedure described in this paper can be applied in another issues as a reference material in analyzing SATAID image data.
SIMULASI ROB DI SEMARANG MENGGUNAKAN MODEL HIDRODINAMIKA 2D Muhammad Najib Habibie; Agus Hartoko; Nining Sari Ningsih; Muhammad Helmi; Siswanto Siswanto; Roni Kurniawan; Andri Ramdhani; Rahayu Sapta S. Sudewi
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 13, No 2 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.409 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v13i2.124

Abstract

Semarang merupakan salah satu kawasan yang sering mengalami genangan air pasang (rob) yang dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: faktor meteorologi, laju penurunan tanah dan faktor astronomi (pasang surut). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kehandalan model dan peran faktor meteorologi pada simulasi genangan rob di wilayah Semarang.  Metode yang digunakan adalah analisa kenaikan tinggi muka laut beserta penurunan muka tanah, simulasi model dengan Hidrodinamika 2D serta verifikasi menggunakan data citra satelit IKONOS untuk mengetahui wilayah genangan. Dari simulasi model hidrodinamika 2D pada tanggal 13 Juni 2009 - bertepatan dengan siklon tropis Linfa di Laut Cina Selatan - yang memperhitungkan komponen pasang surut, tekanan dan angin diperoleh hasil yang menunjukkan wilayah Semarang Barat mengalami pengurangan batas pantai sejauh  221 m dan wilayah Pelabuhan sebesar 270 m dibanding jika komponen pasang surut saja yang diperhitungkan. Selain itu tinggi muka laut juga meningkat sebesar 10 cm ketika memasukkan komponen kecepatan angin dan tekanan udara permukaan. Hasil luaran model ketika dibandingkan dengan citra satelit IKONOS menunjukkan kemiripan yang berarti model telah merepresentasikan kondisi sebenarnya. Semarang is one of the area that experienced by inundation controlled by meteorological factor, subsidence and astronomical tide. The purpose of this research is to investigate the model performance and the role of meteorological factor on inundation area by using the 2D Hydrodynamic model. The simulation outputs are verified by IKONOS satellite data. By using the air pressure and wind data as the atmospheric forcings on June 9, 2009 coincides with tropical cyclone Linfa on South China Sea, the output of the model shows that the inundation is expanded up to 221 m in the West Semarang and 270 in the Semarang Harbor, compare to the output just using the tidal data only. Modeled-results also show that the sea level increase 10 cm. The output of 2D Hydrodynamic model have same pattern with IKONOS satellite image when both of them compared, so the model simulation represented actual condition on inundation field.
IDENTIFIKASI AMBANG BATAS CURAH HUJAN SAAT KEJADIAN BANJIR DI JABODETABEK: STUDI KASUS BANJIR JAKARTA TANGGAL 09 FEBRUARI 2015 Rahayu Sapta Sri Sudewi; Achmad Sasmito; Roni Kurniawan
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 16, No 3 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2613.294 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v16i3.315

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami karakteristik dinamika atmosfer saat kejadian hujan lebat di wilayah Jakarta pada tanggal 09 Februari 2015 dan menentukan nilai ambang batas (threshold) intensitas curah hujan (CH) yang dapat digunakan untuk peringatan dini cuaca ektrim di wilayah Jakarta. Hujan lebat dengan intensitas rata-rata 118,4 mm/hari yang terjadi tanggal 09 Februari 2015 di wilayah Jabodetabek bukan merupakan peristiwa yang signifikan bila dibandingkan dengan kejadian sebelumnya. Berdasarkan tinjauan dinamis pada tanggal tersebut, terdapat cold surge dari Asia yang membangkitkan angin timur laut bertemu dengan angin selatan yang berasal dari Samudera Hindia, dan pada saat bersamaan terdapat tekanan rendah di bagian selatan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang membentang dengan arah utara-selatan dan bergerak ke arah barat. Kondisi tersebut membangkitkan dominan angin timur dan di sebelah utara NTT hingga Jawa barat bagian utara terdapat shear, selain itu wilayah sebelah utara Jawa Barat, Banten dan Jakarta merupakan daerah pertemuan interaksi ketiga angin tersebut. keadaan tersebut memicu terjadinya pembentukan awan disepanjang Pulau dan laut Jawa, selat karimata, dan Pulau Jawa, termasuk di wilayah Jakarta yang menimbulkan hujan lebat yang berpotensi banjir. Hasil pendekatan model statistik dengan lima pengelompokan/kategori berdasarkan intensitas CH di wilayah Jakarta saat terjadi banjir tahun 2007, 2008, 2013, dan 2014, adalah untuk kategori “Awas” dengan intensitas CH rata-rata sebesar 35-47 mm/hari, “Siaga 3” dengan intensitas CH rata-rata 48-61 mm/hari, “Siaga 2” dengan intensitas CH 62-74 mm/hari, kategori “Siaga 1” dengan intensitas CH rata-rata 75-87 mm/hari, dan kategori “Bencana” dengan intensitas curah hujan sebesar 88-101 mm/hari. This study aimed to understand the atmospheric dynamic characteristic of heavy rainfall in Jakarta on February 9, 2015, and to determine the threshold value of rainfall intensity (CH) that can be used for early warning of extreme weather in Jakarta area. Heavy rainfall with an average intensity of 118.4 mm/day which occurred on February 9, 2015, in the Jakarta area is not as significant as previous events. Based on dynamical conditions on that date, the cold surge from Asia enhances northeasterly winds met with southerly winds coming from the Indian Ocean, and at the same time there was a low-pressure system in the south of NTT stretches north-south direction moving westward. This condition created dominantly easterly winds and at the north of NTT to the northern part of West Java exist a shear, meanwhile, the northern part of West Java, Banten and Jakarta were a meeting and interaction area of these three wind components. This condition triggers the clouds formations along Karimata Strait, Java Sea and the island of Java, including Jakarta that caused heavy rainfall and flood potential. Statistical models result in five categories based on the rainfall intensity in Jakarta during floods in 2007, 2008, 2013, and 2014, which were "Caution" for average rainfall of 35-47 mm/day, "Standby 3" for average rainfall of 48-61 mm/day, "Alert 2" for average rainfall of 62-74 mm/day, "Alert 1" for average rainfall of 75-87 mm/day, and “Disaster” for average rainfall of 88-101 mm/day, respectively.
PEMANFAATAN DATA LUARAN MODEL PRAKIRAAN CUACA CONFORMAL-CUBIC ATMOSPHERIC MODEL (CCAM) SEBAGAI INPUT MODEL GELOMBANG WIND WAVE-05 Roni Kurniawan; Suratno Suratno; Hastuadi Harsa; Muhammad Najib Habibie; Utoyo Ajie Linarka
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 1 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (13706.201 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v12i1.88

Abstract

Pada kajian ini dilakukan uji coba pemanfaatan data model cuaca CCAM untuk dijadikan sebagai input model WindWave-05. Data kondisi awal yang digunakan adalah dari data GFS, NCEP-NOAA tanggal 20 dan 23 Oktober 2010, diperoleh data angin hasil luaran model CCAM pada sigma level 1 dan  GFS pada ketinggian 10 meter untuk  prediksi 7 hari per 6 jam (dari jam ke 0 sampai 168). Adapun wilayah kajian adalah 90°-141°BT dan 15°LS–12°LU. Hasil kajian diperoleh bahwa data CCAM dapat digunakan sebagai input WindWave-05. Hasil verifikasi visual dari luaran model WindWave-05 menggunakan input data GFS dan CCAM menunjukkan kemiripan pola spasial, namun diperoleh perbedaan intensitas nilai yang cukup besar, hal ini dapat disebabkan oleh perbedaan pengertian level ketinggian angin yang digunakan, dimana CCAM menggunakan sigma level 1 yang berada pada kisaran nol meter, sedangkan pada GFS level ketinggian angin 10 meter. Terkait dengan ketersediaan data, output CCAM dapat dijadikan sebagai alternatif untuk input Windwave-05, akan tetapi perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk memperoleh parameter angin yang lebih sesuai dan dilakukan validasi dengan data observasi. This research accomplished the utilization of the CCAM output as input data for WindWave-05 model. The initial conditions data is the GFS NCEP-NOAA at 20 and 23 October 2010, and the wind data predictions from the CCAM model at sigma level 1 and GFS at 10 meters of altitude, for 7 days per 6 hours (from 0 to 168 hours), for the corresponding time scale. The coverage area of this study is 90°-141°E and 15°S-12°N. The results  showed that CCAM output can be used as input for WindWave-05. Visual verification method showed that the outputs of WindWave-05 have similar spatial patterns when using GFS and CCAM as input. The differences occured in the output of intensity values for each dataset. This occurred due to the difference of understanding the level of altitude winds that are used. CCAM used sigma level 1 to mesure the heights in the range of zero meters, while the GFS model used 10 meters of height. The results also proved that CCAM's output can be used as an alternative data for WindWave-05. Nevertheless, it is suggested to perform further research to obtain a more suitable, verified, and validated wind parameters according to the observation data.
PENGARUH TOPOGRAFI DAN LUAS DARATAN MODEL WRF TERHADAP HASIL PREDIKSI TEMPERATUR PERMUKAAN DI WILAYAH KEPULAUAN INDONESIA Thahir Daniel F. Hutapea; Roni Kurniawan; Wido Hanggoro
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 16, No 3 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v16i3.288

Abstract

Model Weather Research and Forecasting (WRF) telah digunakan dalam simulasi dan prediksi cuaca dengan cara melakukan downscaling dari resolusi rendah (global) ke resolusi yang lebih tinggi. Karena pengaruh dari topografi Indonesia, banyak proses atmosfer terjadi dalam skala yang lebih kecil dibandingkan dengan resolusi horizontal model atmosfer, sehingga diperlukan pendekatan fisik dalam melakukan down scaling. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perbedaan topografi pada model WRF terhadap hasil prediksi temperatur permukaan di Indonesia yang merupakan negara kepulauan. Verifikasi terhadap perfoma model WRF dilakukan dalam perioda monsunal. Verifikasi variabel Temperatur dilakukan berdasarkan nilai mean error atau bias, korelasi, standart deviasi dan bias relatif. Hasil dari analisis mean error menunjukkan nilai  yang bervariasi di setiap daerah dan di setiap musimnya. Pada daerah yang terletak wilayah pegunungan menunjukkan nilai mean error yang besar, untuk wilayah yang lainnya pada umumnya menunjukkan nilai mean error yang kecil. Stasiun-stasiun dengan nilai mean error yang besar disebabkan karena perbedaan antara elevasi pada model dan elevasi stasiun observasi. Hasil analisis korelasi secara umum menunjukkan nilai korelasi yang cukup baik  disetiap daerah dan musimnya. Perbedaan hasil luaran antara model dengan data obervasi disebabkan karena perbedaan ketinggian topografi antara model dan stasiun observasi yang cukup besar. Sedangkan hasil verifikasi prediksi model WRF untuk pulau pulau kecil diperoleh nilai korelasi yang sangat rendah dengan nilai standart deviasi dan bias relatif yang besar, kondisi ini disebabkan resolusi 25 km yang digunakan model WRF dalam penelitian ini masih terlalu kasar, sehingga luas daratan tidak tergambarkan dengan baik oleh model. Weather Research and Forecasting (WRF) model has been applied to weather simulation and prediction by performing downscaling of global resolution to high resolution. The impact of Indonesian topography, caused many atmospheric processes to occur on smaller scales than the horizontal resolution of atmospheric models, some physical component approach is needed in the downscaling process. The purpose of this study is to know the effect of WRF models on topography and land area to the surface temperature parameter in Indonesia. The verification of the WRF model performance has been conducted in the monsoonal period. Temperature variable verification is done based on the value of the mean error and correlation. The analyses indicate that the mean error values were varying in each region and each season. In areas located in the mountainous area showed a high mean error value. In other areas, it generally showed a low mean error value. Stations with high mean error values were caused by the difference between model elevation and station elevation. Model and observation data differences were caused by the large difference of topographic height between model and observation. While the verification result of model prediction for small islands shows very low correlation value, with big value in the standard deviation and relative bias; this condition is caused by 25 km resolutions used by the model in this study was too rough, hence the land area is not well represented by the model.
KAJIAN DAERAH RAWAN GELOMBANG TINGGI DI PERAIRAN INDONESIA Roni Kurniawan; Muhammad Najib Habibie; Donaldi Sukma Permana
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 13, No 3 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v13i3.135

Abstract

Berkaitan dengan pentingnya informasi tentang gelombang laut, terutama bagi keselamatan beragam kegiatan di laut, berdasarkan data periode tahun 2000-2010, dilakukan studi tentang gelombang tinggi di perairan Indonesia. Hasil studi menunjukkan bahwa variasi spasial dan temporal tinggi gelombang dan frekuensi terjadinya gelombang tinggi mempunyai pola yang berasosiasi dengan siklus angin monsunal, periode monsun Australia (Desember, Januari, Februari) dan monsoon Australia (Juni, Juli, Agustus). Daerah rawan gelombang tinggi pada periode monsun Asia umumnya lebih luas daripada pada periode monsun Australia. Pada periode peralihan antar monsun, sebagian besar wilayah perairan Indonesia tidak rawan gelombang tinggi. Daerah rawan gelombang tinggi pada periode peralihan antar monsun umumnya lebih sempit dan terdapat di perairan Indonesia yang menjadi bagian dari Laut Cina Selatan, Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, terutama selatan Jawa sampai Bengkulu. Meskipun korelasinya tidak signifikan, berlangsungnya El- Nino menyebabkan meningkatnya tinggi gelombang di wilayah perairan Indonesia bagian timur, terutama utara ekuator dan berlangsungnya La-Nina menyebabkan meningkatnya tinggi gelombang di perairan Indonesia yang berada di Samudera Hindia terutama di selatan Jawa. Sedangkan terjadinya IODM negatif menyebabkan meningkatnya tinggi gelombang di perairan barat Sumatera sebelah utara ekuator. Related to the importance of information about ocean waves, especially for the safety of a variety activities at sea, based on data in the period 2000-2010 obtained by numerical wave model, conducted a study of high waves in the Indonesian waters.The study shows that the spatial and temporal variations in wave height and frequency of high waves have a pattern associated with monsunal wind cycle, Australia monsoon period (December, January, February) and the Australian monsoon (June, July, August). High waves prone areas in the period of monsoon Asia are generally wider than the Australia monsoon period. In the transitional period between monsoons, most of the Indonesian territorial waters are not high waves prone areas. High waves prone areas in the transitional period between monsoons are generally narrower and it were in the Indonesian waters, which became part of the South China Sea, Pacific Ocean and Indian Ocean, particularly southern part of Java to Bengkulu. Although the correlation is not significant, El-Nino led to an increasing wave height in the eastern waters of Indonesia, especially north of the equator and La-Nina led to an increasing wave height in the Indonesian waters around the Indian Ocean, especially in the southern part of Java, while the negative IODM caused increasing wave height in the northern equator of western part of Sumatra waters.
PENGEMBANGAN MODEL ENSEMBEL GELOMBANG LAUT MRI-III DAN WINDWAVE-05 MENGGUNAKAN KECERDASAN BUATAN Asteria Satyaning Handayani; Hastuadi Harsa; Roni Kurniawan; Sri Noviati; Wido Hanggoro
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 18, No 3 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v18i3.346

Abstract

Kondisi gelombang laut dimodelkan oleh MRI-III dan Windwaves-05. Penelitian ini mengembangkan model ensembel untuk menggabungkan output dua model tersebut. Proses ensembel dilakukan oleh jaringan syaraf tiruan menggunakan metode pembelajaran resilient propagation. Parameter input ensembel adalah ketinggian maksimum dan ketinggian signifikan gelombang yang dihasilkan oleh kedua model, sedangkan parameter output ensembel adalah ketinggian maksimum dan ketinggian signifikan gelombang. Target untuk melatih jaringan syaraf tiruan adalah data yang diperoleh dari perekaman data lapangan di dua lokasi: Sawarna dan Bengkulu. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa model ensembel ini mampu memberikan output yang lebih mendekati nilai perekaman data langsung di lapangan dibanding output kedua model input secara individu.
PENGARUH TOPOGRAFI DAN LUAS DARATAN MODEL WRF TERHADAP HASIL PREDIKSI TEMPERATUR PERMUKAAN DI WILAYAH KEPULAUAN INDONESIA Thahir Daniel F. Hutapea; Roni Kurniawan; Wido Hanggoro
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 16 No. 3 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v16i3.288

Abstract

Model Weather Research and Forecasting (WRF) telah digunakan dalam simulasi dan prediksi cuaca dengan cara melakukan downscaling dari resolusi rendah (global) ke resolusi yang lebih tinggi. Karena pengaruh dari topografi Indonesia, banyak proses atmosfer terjadi dalam skala yang lebih kecil dibandingkan dengan resolusi horizontal model atmosfer, sehingga diperlukan pendekatan fisik dalam melakukan down scaling. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perbedaan topografi pada model WRF terhadap hasil prediksi temperatur permukaan di Indonesia yang merupakan negara kepulauan. Verifikasi terhadap perfoma model WRF dilakukan dalam perioda monsunal. Verifikasi variabel Temperatur dilakukan berdasarkan nilai mean error atau bias, korelasi, standart deviasi dan bias relatif. Hasil dari analisis mean error menunjukkan nilai  yang bervariasi di setiap daerah dan di setiap musimnya. Pada daerah yang terletak wilayah pegunungan menunjukkan nilai mean error yang besar, untuk wilayah yang lainnya pada umumnya menunjukkan nilai mean error yang kecil. Stasiun-stasiun dengan nilai mean error yang besar disebabkan karena perbedaan antara elevasi pada model dan elevasi stasiun observasi. Hasil analisis korelasi secara umum menunjukkan nilai korelasi yang cukup baik  disetiap daerah dan musimnya. Perbedaan hasil luaran antara model dengan data obervasi disebabkan karena perbedaan ketinggian topografi antara model dan stasiun observasi yang cukup besar. Sedangkan hasil verifikasi prediksi model WRF untuk pulau pulau kecil diperoleh nilai korelasi yang sangat rendah dengan nilai standart deviasi dan bias relatif yang besar, kondisi ini disebabkan resolusi 25 km yang digunakan model WRF dalam penelitian ini masih terlalu kasar, sehingga luas daratan tidak tergambarkan dengan baik oleh model. Weather Research and Forecasting (WRF) model has been applied to weather simulation and prediction by performing downscaling of global resolution to high resolution. The impact of Indonesian topography, caused many atmospheric processes to occur on smaller scales than the horizontal resolution of atmospheric models, some physical component approach is needed in the downscaling process. The purpose of this study is to know the effect of WRF models on topography and land area to the surface temperature parameter in Indonesia. The verification of the WRF model performance has been conducted in the monsoonal period. Temperature variable verification is done based on the value of the mean error and correlation. The analyses indicate that the mean error values were varying in each region and each season. In areas located in the mountainous area showed a high mean error value. In other areas, it generally showed a low mean error value. Stations with high mean error values were caused by the difference between model elevation and station elevation. Model and observation data differences were caused by the large difference of topographic height between model and observation. While the verification result of model prediction for small islands shows very low correlation value, with big value in the standard deviation and relative bias; this condition is caused by 25 km resolutions used by the model in this study was too rough, hence the land area is not well represented by the model.
IDENTIFIKASI AMBANG BATAS CURAH HUJAN SAAT KEJADIAN BANJIR DI JABODETABEK: STUDI KASUS BANJIR JAKARTA TANGGAL 09 FEBRUARI 2015 Rahayu Sapta Sri Sudewi; Achmad Sasmito; Roni Kurniawan
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 16 No. 3 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v16i3.315

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami karakteristik dinamika atmosfer saat kejadian hujan lebat di wilayah Jakarta pada tanggal 09 Februari 2015 dan menentukan nilai ambang batas (threshold) intensitas curah hujan (CH) yang dapat digunakan untuk peringatan dini cuaca ektrim di wilayah Jakarta. Hujan lebat dengan intensitas rata-rata 118,4 mm/hari yang terjadi tanggal 09 Februari 2015 di wilayah Jabodetabek bukan merupakan peristiwa yang signifikan bila dibandingkan dengan kejadian sebelumnya. Berdasarkan tinjauan dinamis pada tanggal tersebut, terdapat cold surge dari Asia yang membangkitkan angin timur laut bertemu dengan angin selatan yang berasal dari Samudera Hindia, dan pada saat bersamaan terdapat tekanan rendah di bagian selatan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang membentang dengan arah utara-selatan dan bergerak ke arah barat. Kondisi tersebut membangkitkan dominan angin timur dan di sebelah utara NTT hingga Jawa barat bagian utara terdapat shear, selain itu wilayah sebelah utara Jawa Barat, Banten dan Jakarta merupakan daerah pertemuan interaksi ketiga angin tersebut. keadaan tersebut memicu terjadinya pembentukan awan disepanjang Pulau dan laut Jawa, selat karimata, dan Pulau Jawa, termasuk di wilayah Jakarta yang menimbulkan hujan lebat yang berpotensi banjir. Hasil pendekatan model statistik dengan lima pengelompokan/kategori berdasarkan intensitas CH di wilayah Jakarta saat terjadi banjir tahun 2007, 2008, 2013, dan 2014, adalah untuk kategori “Awas” dengan intensitas CH rata-rata sebesar 35-47 mm/hari, “Siaga 3” dengan intensitas CH rata-rata 48-61 mm/hari, “Siaga 2” dengan intensitas CH 62-74 mm/hari, kategori “Siaga 1” dengan intensitas CH rata-rata 75-87 mm/hari, dan kategori “Bencana” dengan intensitas curah hujan sebesar 88-101 mm/hari. This study aimed to understand the atmospheric dynamic characteristic of heavy rainfall in Jakarta on February 9, 2015, and to determine the threshold value of rainfall intensity (CH) that can be used for early warning of extreme weather in Jakarta area. Heavy rainfall with an average intensity of 118.4 mm/day which occurred on February 9, 2015, in the Jakarta area is not as significant as previous events. Based on dynamical conditions on that date, the cold surge from Asia enhances northeasterly winds met with southerly winds coming from the Indian Ocean, and at the same time there was a low-pressure system in the south of NTT stretches north-south direction moving westward. This condition created dominantly easterly winds and at the north of NTT to the northern part of West Java exist a shear, meanwhile, the northern part of West Java, Banten and Jakarta were a meeting and interaction area of these three wind components. This condition triggers the clouds formations along Karimata Strait, Java Sea and the island of Java, including Jakarta that caused heavy rainfall and flood potential. Statistical models result in five categories based on the rainfall intensity in Jakarta during floods in 2007, 2008, 2013, and 2014, which were "Caution" for average rainfall of 35-47 mm/day, "Standby 3" for average rainfall of 48-61 mm/day, "Alert 2" for average rainfall of 62-74 mm/day, "Alert 1" for average rainfall of 75-87 mm/day, and “Disaster” for average rainfall of 88-101 mm/day, respectively.
EVALUASI MODEL WAVEWATCH-III MENGGUNAKAN DATA SATELIT ALTIMETRI DAN OBSERVASI Muhammad Najib Habibie; Wido Hanggoro; Donaldi Sukma Permana; Roni Kurniawan
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 17 No. 3 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v17i3.322

Abstract

Model gelombang menjadi komponen utama dalam memberikan informasi prediksi gelombang dewasa ini. Hal ini terjadi akibat terbatasnya pengamatan in-situ yang dilakukan untuk mengamati lautan secara umum. Model prakiraan gelombang telah mengalami evolusi, mulai dari generasi pertama dan berkembang sampai model generasi tiga. Model generasi ketiga merupakan penyempurnaan dari model gelombang sebelumnya dimana model ini merupakan sebuah model spektral lengkap dengan representasi eksplisit pada proses fisik yang relevan terhadap evolusi gelombang dan yang memberikan gambaran dua dimensi dari laut secara lengkap. Salah satu model generasi ketiga ini adalah WAVEWATCH-III. Pada penelitian ini dilakukan evaluasi model WAVEWATCH-III di Manokwari, Saumlaki, Selat Bangka dan Surabaya untuk mengetahui performanya. Model diseting pada dua domain, domain global dan wilayah Indonesia dengan resolusi 0,5° dan 0,125° dan dirunning selama setahun (2012). Luaran model kemudian dibandingkan dengan data AVISO serta data observasi insitu. Hasil penelitian menunjukkan korelasi antara luaran model dengan data AVISO di 4 titik yang dianalisa umumnya nilainya dibawah 0,5. Hanya di beberapa tempat yang menunjukkan korelasi yang besar diantaranya adalah Saumlaki dan Manokwari. Kedua lokasi ini terletak pada laut yang relatif terbuka, hal ini menunjukkan bahwa pada lokasi yang relatif terbuka AVISO dapat digunakan untuk verifikasi model, akan tetapi pada perairan yang sempit (Surabaya dan Bangka) AVISO kurang baik untuk verifikasi model. Terdapat bias antara luaran model dengan observasi insitu yang berada di pantai yang dangkal sehingga model tidak dapat merepresentasikan kondisi faktual dengan sempurna. Hal ini menunjukkan bahwa dengan resolusi 0,5° dan 0,125° model belum dapat digunakan untuk verifikasi gelombang di daerah pantai. Dari perbandingan antara observasi insitu dengan luaran model pada dua resolusi yang berbeda menunjukkan bahwa pada resolusi yang lebih tinggi, luaran model menunjukkan hasil yang lebih mendekati observasinya.