Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

RESISTENSI PEREMPUAN DALAM MUSIK POP KOREA (Analisis Semiotika Lagu I Don’t Need A Man) Citra Safira; Dr.Sunarto . M.Si
Interaksi Online Vol 5, No 3: Agustus 2017
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.315 KB)

Abstract

Korea Selatan sebagai negara yang dikenal dengan Korean Wave, telah sukses menyebarkan tidak hanya teknologi namun juga produk hiburan, salah satunya adalah Kpop. Meski telah sukses mengembangkan negaranya, nyatanya masih banyak masyarakat Korea Selatan yang masih menganut kepercayaan terdahulu yaitu ajaran Konfusianisme. Dalam ajaran tersebut salah satunya mengatur tentang bagaimana menjadi perempuan yang baik yaitu perempuan yang selalu berada di rumah. Kemunculan girlband menjadi salah satu faktor kesuksesan Kpop, sekaligus menjadi sebuah contoh bahwa perempuan juga bisa berkarya. Girlband miss A mengajak masyarakat khususnya perempuan melakukan perlawanan terhadap budaya patriarki yang telah melekat di Korea Selatan, salah satunya adalah lagu dari miss A – I Don’t Need A Man. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarakan bentuk-bentuk resistensi yang terdapat dalam lirik lagu I Don’t Need A Man. Didukung dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis semiotika Michael Riffaterre melalui tahapan pembacaan heuristik, hermeneutik, matriks, model, dan varian, serta hipogram dengan tujuan mengetahui makna yang terkandung dalam lagu tersebut. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan teori standpoint sebagai landasan teori. Hasil penelitian berdasarkan pembacaan heuristik menunjukkan terdapat bentuk perlawanan yang digambarkan dengan ketidakpatuhan pencipta lagu dalam menulis lirik sesuai dengan struktur linguistik Korea Selatan (predikat selalu berada di akhir kalimat). Di sini terdapat beberapa syair yang tidak sesuai dengan struktur linguistik Korea Selatan, sehingga dinilai sebagai suatu bentuk perlawanan. Kedua, pembacaan hermenutik menunjukkan terdapat bentuk perlawanan yang digambarkan dengan struktur lagu yang berbeda dengan struktur lagu pada umumnya. Jika struktur lagu umumnya diawali dengan verse, namun lagu ini langsung diawali bagian refrain. Struktur lagu yang berbeda ini dilihat sebagi bentuk perlawanan. Ketiga, model dari lagu ini adalah kemandirian karena lagu ini menceritakan tentang perempuan mandiri dengan kehidupan yang dijalaninya, kemudian pada varian ditemukan indikator-indikator yang kemandirian dalam lagu ini yaitu mampu memenuhi kebutuhan sendiri dan kepercayadirian, sedangkan matriks atau tema dari lagu ini adalah resistensi, sesuai dengan hasil kedua pembacaan sebelumnya. Terakhir, hipogram adalah membandingkan lagu I Don’t Need A Man dengan lagu sebelumnya (Goodbye Baby) dengan penyanyi yang sama. Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat keterkaitan antara lagu sebelumnya dengan lagu yang sekarang. Hasilnya adalah kedua lagu tersebut memang menceritakan tentang perempuan. Lagu Goodbye Baby menceritakan tentang perempuan yang putus cinta kemudian bangkit dan mencari laki-laki lain, namun pada lagu I Don’t Need A man menceritakan tentang perempuan yang tidak butuh laki-laki, yaitu laki-laki yang tidak bisa serius dan menghargai dirinya. Di sini sifat kedewasaan perempuan lebih ditekankan.
Baim Wong’s and Atta Halilintar’s Personal Branding through Religious Messages in YouTube Contents Citra Safira; Hilda Rahmah; Errika Dwi Setya Watie
ETTISAL : Journal of Communication Vol 7, No 1 (2022): ETTISAL: Journal of Communication
Publisher : Universitas Darussalam Gontor collaboration with ISKI (Ikatan Sarjana Ilmu Komunikasi Indo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/ejoc.v7i1.7199

Abstract

AbstractThis study aims to determine how personal branding forms and the meanings contained in the content shared by Atta Halilintar and Baim Wong using Roland Barthes' Semiotic analysis. The era of disruption provides unlimited space for many people to connect with each other. YouTube is one of the social media that offers a space for relationship and expression, where it is possible for someone to do personal branding in order to show their characteristics and give a different impression from others. Just like Baim Wong and Atta Halilintar, on their personal YouTube channel. Both Atta Halilintar and Baim Wong have a sharing content, both of which show the act of sharing to people who are financially vulnerable. Along with the massive amount of shared content being posted, their actions have been in the spotlight because they were able to touch the religious sentiments of the audience, especially in the midst of a pandemic. Although not a content category for religious creators, both have succeeded in instilling religious messages that tend to increase their popularity and followers on YouTube. Using a qualitative approach, this research involves semiotics as an analytical method to interpret the hidden meaning behind the content by Atta Halilintar and Baim Wong. The results show that religious sentiment is used to emphasize the character of capitalism, because it shows poverty as a commodity.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana bentuk personal branding dan makna yang terkandung dalam konten berbagi Atta Halilintar dan Baim Wong menggunakan analisis Semiotik Roland Barthes. Era disrupsi memberikan ruang gerak tanpa batas bagi banyak orang untuk terkoneksi satu sama lain. YouTube menjadi salah satu media sosial yang menawarkan ruang untuk berelasi dan berekspresi, dimana hal ini memungkinkan bagi seseorang untuk melakukan personal branding dalam rangka menunjukkan ciri khas dan menampilakan kesan yang berbeda dari orang lain. Begitu pula yang dilakukan oleh Baim Wong dan Atta Halilintar, dalam kanal YouTube pribadinya. Baik Atta Halilintar maupun Baim Wong memiliki muatan konten berbagi, dimana keduanya mempertontonkan aksi berbagi kepada orang-orang yang rentan secara finansial. Seiring masifnya konten berbagi yang diposting, aksi keduanya menjadi sorotan karena mampu menyentuh sisi sentimen religius khalayak, terutama di tengah kondisi pandemi. Meskipun bukan kategori konten kreator religi, kedunya berhasil menanamkan pesan-pesan religius yang bertendensi menaikan popularitas dan pengikutnya di YouTube. Menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini menggunakan semiotik sebagai metode analisis untuk menafsirkan makna tersembunyi dibalik konten berbagi Atta Halilintar dan Baim Wong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sentimen religius digunakan untuk mempertegas watak kapitalisme, karena mempertontonkan kemiskinan sebagai sebuah komoditas. 
THE REPRESENTATION OF MADURESE ISLAM ON YOUTUBE: SEMIOTICS ANALYSIS ON THE COMEDY SHOW 'DHE'REMMAH CONG' Aditya Fahmi Nurwahid; Citra Safira
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol. 17 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v17i2.2688

Abstract

Madurese Islam is one of the cultural treasures of Islam in Indonesia. Madurese culture is intimately intertwined with Islam and reflects diverse perspectives on matters of politics, society, culture, and economics. The emergence of new media has resulted in the digitalization of Madurese Islam, exemplified by its presence on the Tretan Universe YouTube channel. The objective of this study is to provide a semiotic analysis of the Madurese Islamic da'wah content portrayed in the satirical comedy show "Dhe'remmah Cong" featured on the Tretan Universe YouTube channel. This research was carried out using a qualitative approach using the ethnography methodology. Data for this study was gathered through a combination of dialogue narratives and netizen comments obtained from two episodes of the "Dhe'remmah Cong" comedy series. The data was strengthened through literature studies and further analyzed using Charles Sanders Pierce's semiotics. The findings indicated that the "Dhe'remmah Cong" comedy series served as a platform for cultural acculturation between Islam and Madurese culture. Thus, in the subsequent phase, the Madurese Islamic identity can be disseminated into a novel cultural sphere familiar to the Indonesian populace via this YouTube channel.Salah satu khasanah budaya lokal yang dimiliki Islam di Indonesia adalah Islam Madura. Nilai budaya Madura sangat dekat dengan Islam dan mengekspresikan berbagai sudut pandang isu politik, sosial, budaya, atau ekonomi. Perkembangan new media saat ini telah membawa Islam Madura ke dalam platform digital, salah satuya melalui channel Youtube Tretan Universe. Penelitian ini bermaksud untuk menjelaskan analisis semiotika dalam konten dakwah Islam Madura yang ditampilkan dalam komedi satir bertajuk 'Dhe’remmah Cong' di channel Youtube Tretan Universe.  Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode netnografi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan penelusuran 2 (dua) seri komedi 'Dhe’remmah Cong' berupa narasi dialog dan komentar netizen. Data diperkuat melalui kajian pustaka dan selanjutnya dianalisis menggunakan semiotika Charles Sanders Pierce. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa serial komedi ini menjadi ruang akulturasi budaya dalam Islam dan budaya Madura. Sehingga pada tahap selanjutnya, melalui channel youtube ini, identitas Islam Madura ini dapat menyebar menjadi budaya baru yang dikenal publik Indonesia.
Critical Framing Analysis: Violence Against Women on Online Media Sunarto Sunarto; Amida Yusriana; Mutia Rahmi Pratiwi; Citra Safira
Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol 8, No 1 (2023): June 2023 - Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/jkiski.v8i1.798

Abstract

The journalistic problem that arises when covering women issues at national and global levels showed that the dominant issues in the mass media were masculine. Women issues were dominant in alternative media. It was assumed that the alternative media use feminist journalism framing in its content. This research used media framing theory as the second level of agenda-setting theory that is supported by standpoint theory in critical paradigm to understand the phenomena. It used descriptive-qualitative approach with critical framing analysis design. The object of study covered 39 articles in February 2022 edition of Konde.Co and Magdalene.Co. The alternative media were chosen because  they had feminist vision. The data was analyzed using Robert T. Entmant’s procedure, namely: define problem; diagnosis of causes; make  moral judgments; and treatment recommendations. The results showed that almost all the existing articles applied the principles of feminist journalism. The framing of women-related news was more dominant particularly the issue of violence against women. This issue was dominant since until right now it is still happening actually in society. Violence is used by men to subjugate women.  Patriarchal power relations are assumed to be behind this phenomenon. This research concluded that the framing of feminist journalism focused on violence against women in public domain committed by men abusers in the position as husbands, lovers, teachers, friends, medical workers, co-workers or public figures. Patriarchism gave men the privilege of using violence as a natural thing to do. Being a feminist man and empowered woman, as well as firm law enforcement were recommendations emphasized in this framing.
Manajemen Komunikasi Ormas Lindu Aji Melalui Media Sosial Dalam Membangun Public Trust Citra Safira; Rr B. Natalia Pujiastuti; Sri Syamsiyah Lestari S
Jurnal Communio : Jurnal Jurusan Ilmu Komunikasi Vol 12 No 1 (2023): January
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jikom.v12i1.8114

Abstract

Penelitian ini melihat bagaimana organisasi masyarakat (ormas) menggunakan media sosial untuk membangun kepercayaan publik pada mereka. Hal ini dibutuhkan mengingat tujuan berdirinya suatu ormas adalah untuk mendukung kepentingan masyarakat, sehingga perlunya dukungan satu sama lain agar tujuan bersama dapat dicapai. Metode yang dipilih adalah studi kasus single case, di mana peneliti ingin melihat proses pengelolaan komunikasi oleh ormas kepada publik. Teori yang digunakan adalah Teori Computer-Mediated Communication karena dapat menjadi landasan dalam penelitian karena berhubungan dengan komunikasi organisasi melalui media komputer (teknologi digital). Hasil yang diperoleh adalah terdapat tahapan-tahapan yang dilakukan oleh ormas Lindu Aji dalam membangun kepercayaan publik, yakni melalui tahapan perencanaan, pengelolaan, dan evaluasi guna mengukur keberhasilan yang telah dicapai. Ditemukan bahwa Lindu Aji lebih banyak menggunakan komunikasi secara langsung kepada masyarakat dibandingkan melalui media sosial untuk membangun public trust. Saran untuk penelitian selanjutnya adalah peneliti dapat menggunakan metode multi case, di mana peneliti dapat membandingkan keefektifan manajemen komunikasi organisasi masyarakat dalam berinteraksi dengan masyarakat.
KOMUNIKASI BISNIS DALAM PENGEMBANGAN GREEN ENTREPRENEURSHIP MELALUI BATIK ECOPRINT UMKM BATIK DURENAN INDAH SEMARANG Safira, Citra; Rahmah, Hilda; Indainanto, Yofiendi Indah
Perspektif Komunikasi: Jurnal Ilmu Komunikasi Politik dan Komunikasi Bisnis Vol 8, No 1 (2024): Perspektif Komunikasi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/pk.8.1.93-102

Abstract

Terjadinya global warming membuat masyarakat kini mulai fokus pada lingkungan. Salah satunya adalah meningkatnya konsumsi produk-produk ramah lingkungan. Konsumen saat ini mulai lebih peduli pada lingkungan dan beralih pada pasar yang lebih hijau (green marketing). Oleh sebab itu, pengusaha juga kini lebih bertanggung jawab secara sosial dan telah memahami peran mereka dalam bisnis yang berkelanjutan di masa depan yang lebih baik dengan menerapkan kewirausahaan hijau (green entrepreneurship). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses komunikasi bisnis yang dilakukan oleh penginisiasi batik di UMKM Batik Kampung Tematik Batik Durenan Indah Semarang oleh anggota-anggota umkm batik lainnya dalam mengembangkan green entrepreneurship. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus dan pengumpulan data melalui wawancara dan observasi langsung dengan mengamati proses komunikasi yang berlangsung. Pengembangan green entrepreneurship menjadi penting untuk meningkatkan kualitas pengusaha itu sendiri serta turut menjaga kelestarian lingkungan.
Policy Communication in Developing Frankincense Commodity in Humbang Hasudutan Regency Purba, Arief Marizki; Indainanto, Yofiendi Indah; Safira, Citra
Journal of Peasants' Rights Vol. 2 No. 2 (2023): Community Empowerment and Agrarian Political
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/jpr.v2i2.13244

Abstract

Frankincense commodities play an important role in agricultural commodity production in Humbang Hasudutan. Traditional processing has become a local wisdom that has been practiced for years. However, the threat of eroding customary forests and the lack of marketing are obstacles faced by farmers. The purpose of this research is to find out the communication of government policies in developing frankincense commodities. The method used in this research is descriptive with a qualitative approach. The results show that policy communication is able to encourage the effectiveness of frankincense agricultural development in Humbang. Policies regarding socialization to farmers to understand how the food estate program takes place, encourage community involvement in supporting the development plan. Efforts to create farmer welfare, encourage the strengthening of farmer organizations to be an important need in supporting the development of frankincense commodities. Strengthening the organization is considered capable of overcoming the problem of marketing difficulties of frankincense production from farmers.
Strategi Digital Marketing Dalam Meningkatkan Kunjungan Wisatawan Objek Wisata Tebing Breksi Pasca-Pandemi Nasution, Faiz Albar; Citra Safira; Yofiendi Indah Indainanto
Journal Business Administration: Entrepreneurship and Creative Industry Vol. 2 No. 1 (2023): Journal Business Administration: Entrepreneurship and Creative Industry
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/jba.v2i1.10744

Abstract

Pandemi Covid 19 menyebabkan terjadinya perubahan besar di semua sektor, termasuk pariwisata. Kegiatan pariwisata yang berkaitan dengan kunjungan langsung wisatawan ke objek wisata menjadi turun secara signifikan akibat adanya kebijakan pemerintah mengenai pembatasan sosial berskala besar. Pemanfaatan teknologi informasi berbasis digital menjadi salah satu cara pihak pengelola objek wisata dalam melakukan komunikasi pemasaran berbasis digital. Penelitian ini membahas tentang penerapan media digital sebagai bagian dari strategi digital marketing dalam meningkatkan kunjungan wisatawan ke objek wisata Tebing Breksi dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dalam bentuk analisis SWOT (strength, weakness, opportunity, thread). Sumber pengumpulan datanya adalah primer, yakni wawancara dengan pihak pengelola, dan sekunder melalui observasi di media sosial dan website resmi Tebing Breksi. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa Wisata Tebing Breksi memanfaatkan website, media sosial, dan aplikasi Visiting Yogyakarta sebagai media pemasaran digital, baik dalam bentuk informasi hingga reservasi. Pihak pengelola menggunakan teknik pemasaran digital seperti mengunggah gambar dan video di media sosial serta teknik story telling di website resmi, meskipun website ini jarang diperbaharui. Hal ini dilakukan untuk mengurangi ancaman dari pesaing- pesaing potensial mengingat Kawasan Wisata Tebing Breksi juga memiliki banyak objek wisata lain.
Cybersecurity Literacy Among Mass Media Journalists In Central Java Setyowati, Retno Manuhoro; Safira, Citra; Pramucitra, Sinta
Jurnal Komunikasi Vol 18, No 1 (2024): Maret
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi UTM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/ilkom.v18i1.21712

Abstract

Notes of the Alliance of Independent Journalists (AJI Indonesia) at the end of 2022, the number of digital attacks on journalists increased compared to 2021. There were 15 digital attacks in 2022, while in 2021, there were only 5 cases recorded. Attacks, or what is commonly referred to as digital violence, refer to the notion of violence in which the perpetrator attacks network infrastructure or uses digital technology. Meanwhile, digital attacks becoming a trend during 2022 are hacking experienced by journalists and DDoS targeted at media organization sites. However, not all mass media have prepared anticipation for the potential for digital violence, including not all journalists who understand cybersecurity's importance in carrying out their duties. This research seeks to explore the meaning of journalists related to cyber security in their journalistic work and to record real experiences of how anticipation and strategies are carried out so that they do not just become victims of cyber-attacks. The method used is qualitative with an interpretive phenomenological analysis (IPA) approach. An approach where data is obtained and studied in an in-depth way, and sees each case is something that has its characteristics. The key word of this research lies in the technique of analysis and interpretation of data that is descriptive, which is presented using a distinctive language and does not aim to generalize the results. The research location is in the city of Semarang, with data collection techniques through in-depth interviews, surveys, observations, and documentation of the research subjects, in this case, journalists from various mass media in Central Java.
Peningkatan kompetensi komunikasi pariwisata melalui pelatihan public speaking Pokdarwis Mangunharjo Semarang Rahmah, Hilda; Safira, Citra; Fitrianti, Ayang
ABDIMAS DEWANTARA Vol 7 No 2 (2024)
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/ad.v7i2.17715

Abstract

Mangunharjo merupakan kelurahan di Kota Semarang yang memiliki wisata potensial, antara lain atraksi wisata seperti karawitan, dirt bike, kuda lumping, kampung tematik dan kampung batik yang dikelola oleh warga melibatkan Kelompok Sadar Wisata atau Pokdarwis Durenan Indah. Sebagai penggerak dan pendukung kepariwisataan desa, idealnya setiap anggota Pokdarwis mampu menjadi komunikator untuk memberikan pelayanan informasi kepariwisataan kepada wisatawan dan warga setempat. Namun tidak semua anggota kelompok memiliki kemampuan komunikasi pariwisata yang baik serta mampu konsisten dalam membuat konten promosi di sosial media. Hal ini berimplikasi pada  kurangnya daya tarik wisata. Oleh karenanya dibutuhkan pelatihan public speaking untuk meningkatkan kompetensi komunikasi pariwisata Pokdarwis guna memperluas jangkauan audien. Kegitan ini menggunakan pendekatan partisipatif, dengan model analisis Paired Samples Test (t- test). Hasil kegiatan menunjukkan terjadi perbedaan yang signifikan pada kemampuan komunikasi pariwisata sebelum dan sesudah diberikan pelatihan public speaking. Berdasarkan hasil analisis t-test, diperoleh nilai signifikansi 2-tailed <0.05 yang dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh pelatihan public speaking terhadap peningkatan kompetensi komunikasi pariwisata anggota Pokdarwis Durenan Indah.   Improving tourism communication competence through public speaking training of Pokdarwis Mangunharjo Semarang   Abstract: Mangunharjo is a sub-district in Semarang City that has potential tourism, including tourist attractions such as karawitan, dirt bike, kuda lumping, thematic villages, and batik villages managed by residents involving the Tourism Awareness Group or Pokdarwis Durenan Indah. As a promoter of village tourism, ideally, each Pokdarwis member can become a communicator to provide tourism information services to tourists and residents. However, not all group members have good tourism communication skills and can consistently create promotional content on social media. This has implications for the lack of tourist attractions. Therefore, public speaking training is needed to improve Pokdarwi's tourism communication competency and expand the reach of the audience. This activity uses a participatory method, with a Paired Samples Test (t-test) analysis model. The activity results showed a significant difference in tourism communication skills before and after being given public speaking training. Based on the results of the t-test analysis, a 2-tailed significance value of <0.05 was obtained, which can be concluded that there is an influence of public speaking training on improving the tourism communication competence of Pokdarwis Durenan Indah members.