Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Lifestyle Behaviors and Cognitive Outcomes in Physiotherapy Students: Cross-Sectional Study Anggraeni, Risa Kusuma; Sirada, Andy
jitek Vol 13 No 1 (2025): September 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jakarta III

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32668/jitek.v13i1.2097

Abstract

Background: The pervasive use of digital devices, coupled with irregular sleep and low physical activity, poses potential risks to cognitive outcomes in university students. Physiotherapy students, whose education demands both mental and physical engagement, may be particularly vulnerable. Objective: This study aimed to investigate the integrated effects of smartphone use, physical activity, and sleep quality on cognitive outcomes among undergraduate physiotherapy students. Methods: A cross-sectional design was applied involving 100 first- and second-year physiotherapy students at Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta. Data were collected through validated self-administered questionnaires, including the Cognitive Failures Questionnaire (CFQ), International Physical Activity Questionnaire – Short Form (IPAQ-SF), and a Likert-based assessment of smartphonerelated lifestyle impact. Descriptive statistics, Pearson correlation, and multiple regression analyses were performed using SPSS version 26.0. Results: The findings showed a significant relationship between excessive digital device use and increased cognitive failures. Poor sleep quality was also associated with greater cognitive lapses, while higher physical activity levels correlated positively with better cognitive performance. Regression analysis indicated that the three lifestyle variables jointly explained a substantial proportion of the variance in cognitive outcomes. Conclusion: Digital habits, sleep patterns, and physical activity levels interactively influence cognitive outcomes in physiotherapy students. Interventions promoting digital hygiene, adequate sleep, and physical activity may enhance cognitive resilience and academic performance in this population.
GAMBARAN TINGKAT VOLUME OXYGEN MAXIMAL (VO2MAX) DAN AKTIVITAS FISIK PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FIKES UPNVJ Herawati, Juniar Nurmaya; Nazhira, Fidyatul; Agustiyawan, Agustiyawan; Sirada, Andy
Jurnal Ilmiah Fisioterapi Muhammadiyah Vol 2 No 2 (2023): Jurnal Ilmiah Fisioterapi Muhammadiyah (JarFisMU)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jar.v2i2.19677

Abstract

Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran tingkat volume oxygen maximal (vo2max) dan aktivitas fisik pada mahasiswa program studi kesehatan masyarakat fakultas ilmu kesehatan universitas pembangunan nasional “veteran” Jakarta.Metode: Penelitian ini menerapkan rancangan cross-sectional dan dengan teknik pengambilan sampelpurposive sampling.Hasil: Gambaran tingkat vo2maxpada mahasiswa program studi kesehatan masyarakat angkatan 2020 terbanyak dalam kategori vo2max laki-laki kurang sekali (13,3%), dan vo2max perempuan kurang (78,3%). Gambaran tingkat aktivitas fisik pada mahasiswa program studi kesehatan masyarakat angkatan 2020 terbanyak dalam kategori MET berat laki-laki (11,7%), dan kategori MET berat perempuan (56,7%).Kesimpulan: Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa mahasiswa prodi kesehatan masyarakat angkatan 2020 baik laki-laki maupun perempuan memiliki tingkat vo2max yang kurang dan aktivitas fisik yang berat. Hal ini dapat disebabkan oleh gaya hidup yang kurang baik dan aktivitas fisik yang berlebihan.
HUBUNGAN ANTARA KESEIMBANGAN DAN KELINCAHAN PADA ANAK SEKOLAH DASAR Zahra, Helmalia Fayza; Nazhira, Fidyatul; Faradhillah, Kiki Rezki; Sirada, Andy
Jurnal Ilmiah Fisioterapi Muhammadiyah Vol 2 No 2 (2023): Jurnal Ilmiah Fisioterapi Muhammadiyah (JarFisMU)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jar.v2i2.19683

Abstract

Latar Belakang: Keseimbangan memiliki pengaruh yang besar dan kemampuan paling dasar pada perkembangan anak. Tingkat keseimbangan yang baik maka menghasilkan gerakan yang efisien dan efektif. Pada aspek ini perlunya aktifitas fisik yaitu kelincahan (agility). Kelincahan menjadi indikator bahwa keterampilan motorik kasar pada anak berkembang dengan baik. Kelincahan memiliki efek keseimbangan yang paling menonjol sehingga menciptakan gerakan yang efisien dan efektif saat melakukan gerakan ke arah yang berlawanan. Selain itu, keseimbangan dan kelincahan memiliki efek luas pada kualitas kehidupan. Tujuan: Tujuan pada penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara keseimbangan dan kelincahan pada anak sekolah dasar. Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross sectional. Sebanyak 130 siswa-siswi SD Negeri 02 Girijaya Garut berpartisipasi dalam penelitian ini, parameter yang digunakan adalah Standing Balance Test guna menilai tingkat keseimbangan dan Shuttle Run guna menilai tingkat kelincahan. Hasil: Berdasarkan hasil dari olahdata menggunakan SPSS 27.0 didapatkan hasil bahwa sebanyak 91 dari 130 responden (70,0%) memiliki nilai kesiembangan yang baik, setelah dilakukan uji korelasi diperoleh correlation coefficient spearman’s Rho keseimbangan dan kelincahan p=<0,001. Kesimpulan: Kesimpulan yang didapatkan berdasarkan penelitian ini adalah adanya hubungan antara keseimbangan dan kelincahan pada anak sekolah dasar.
Perbandingan Berat Badan dengan Persentase Lemak Tubuh pada Mahasiswa dan Mahasiswi Fisioterapi Faradillah, Kiki Rezki; Sirada, Andy
Journal of Muslim Community Health Vol. 4 No. 2 (2023): APRIL-JUNI (JMCH)
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/jmch.v4i2.1454

Abstract

Latar belakang : Obesitas ialah penimbunan lemak yang melampaui batas dampak dari ketidakseimbangan asupan energi dengan energi yang dipakai dalam periode yang lama. Salah satu indikator untuk menilai obesitas yaitu presentase lemak tubuh atau percent body fat (PBF). Baru-baru ini, indikator PBF sudah meningkat diduga sebagai standar yang lebih tepat untuk menentukan seseorang kelebihan berat badan atau obesitas sebab mengukur lemak tubuh secara langsung dibandingkan pengukuran indeks massa tubuh (IMT). Presentase lemak tubuh yang tinggi bisa menyebabkan terjadinya obesitas sehingga bisa menimbulkan berbagai permasalahan fisik, bermacam komplikasi medis hingga gangguan musculoskeletal yang bisa menghalangi kualitas hidup seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan berat badan dan persentase lemak tubuh pada mahasiswa dan mahasiswi jurusan fisioterapi. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan cross sectional design. Penelitian ini dilaksanakan sejak Oktober hingga Desember 2022. Sebanyak 104 mahasiswa dan mahasiswi Jurusan Fisioterapi UPN “Veteran” Jakarta yang bersedia menjadi responden didalam penelitian ini. Data dianalisis menggunakan uji T independent dengan program SPSS. Hasil : Terdapat perbedaan signifikan berat badan dengan persentase lemak tubuh pada mahasiswa dan mahasiswi jurusan fisioterapi. Rerata berat badan mahasiswa lebih tinggi dibandingkan rerata berat badan mahasiswi. Sedangkan rerata PBF mahasiswi lebih tinggi dibandingkan rerata PBF mahasiswa dan lebih banyak jumlah mahasiswi yang obesitas dibandingkan mahasiswa obesitas. Kesimpulan : Ada perbedaan signifikan antara berat badan dan persentase lemak tubuh pada mahasiswa dan mahasiswi jurusan fisioterapi. Kata Kunci: Obesitas; Berat Badan; Percent Body Fat (PBF)
Indeks Massa Tubuh Dan Obesitas Sentral Kaitannya Dengan Tekanan Darah Pada Anggota Batalyon X Kusumarahmawati, Annisa; Bachtiar, Farahdina; Mailani, Rena; Sirada, Andy
Jurnal Fisioterapi Terapan Indonesia Vol. 2, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A sedentary lifestyle leading to obesity is one of the contributing factors to high blood pressure. Excessive fat can result in tissue dysfunction and is a key factor in the development of hypertension. Military personnel are expected to maintain good health and physical fitness. This study aimed to investigate the connection between Body Mass Index (BMI), central obesity, and blood pressure (BP) among Battalion X members. Methodology: A cross-sectional quantitative approach was employed with a sample size of 62 individuals. The data included height, weight, and waist circumference of the participants. Spearman's rho test was used for data analysis. The hypothesis testing indicated a significant relationship between BMI and central obesity with blood pressure, as demonstrated by p < 0.05. The correlation coefficients were as follows: BMI and systolic BP (r = 0.293), BMI and diastolic BP (r = 0.431), central obesity and systolic BP (r = 0.433), and central obesity and diastolic BP (r = 0.390). In sum, there is a significant relationship between BMI and central obesity and blood pressure in members of Battalion X.
PENGUATAN PERAN KOMUNITAS MELALUI FISOTERAPI DENGAN PENDEKATAN TERAPI KELOMPOK BERSAMA ANAK DENGAN DOWN SYNDROME Oktarina, Mona; Sirada, Andy; Ardhiyanti, Lusyta Puri; Jansen, Susiana; Agathy, Ghyffara; Kadaristiana, Agustina
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 1 (2026): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i1.36861

Abstract

Abstrak: Down Syndrome (DS) adalah kondisi genetik yang disebabkan oleh salinan ekstra kromosom 21, yang memengaruhi perkembangan fisik, kognitif, dan sosial anak. Di Indonesia, anak-anak dengan DS menghadapi tantangan seperti stigma sosial dan kurangnya pemahaman orang tua mengenai stimulasi yang tepat, yang berdampak pada kualitas hidup mereka. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan perkembangan motorik, sensorik, dan sosial-emosional anak usia 2–6 tahun dengan DS, sekaligus memberdayakan orang tua dan komunitas melalui terapi kelompok yang dipandu oleh fisioterapis anak. Program dilaksanakan bekerja sama dengan Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome (POTADS) dari September hingga November sejumlah 25 anak DS beserta pendamping, dengan dua sesi bulanan. Setiap sesi selama 60 menit mencakup pemanasan, aktivitas motorik dan sensorik terstruktur, bonding orang tua-anak, dan permainan kelompok. Evaluasi dilakukan melalui observasi langsung dan pre-test/post-test pada orang tua. Hasil menunjukkan peningkatan pemahaman orang tua secara signifikan, dengan skor rata-rata pre-test 85% meningkat menjadi 100% post-test. Observasi anak menunjukkan peningkatan kemampuan motorik kasar, interaksi sosial, dan partisipasi dalam kegiatan kelompok. Program ini efektif membangun lingkungan komunitas yang suportif, mengurangi stigma sosial, dan memperkuat kapasitas orang tua dalam stimulasi di rumah, sehingga mendukung perkembangan dan kualitas hidup anak dengan DS.Abstract: Down Syndrome (DS) is a genetic condition caused by an extra copy of chromosome 21, affecting children’s physical, cognitive, and social development. In Indonesia, children with DS face challenges such as social stigma and limited parental knowledge on appropriate stimulation, which impact their quality of life. This community service program aimed to enhance motor, sensory, and socio-emotional development in children aged 2–6 years with DS, while empowering parents and the community through group therapy led by pediatric physiotherapists. The program was implemented in collaboration with the Association of Parents of Children with Down Syndrome (POTADS) from September to November, with two monthly sessions. Each 60-minute session included warm-up, structured motor and sensory activities, parent-child bonding exercises, and group play. Evaluation was conducted through direct observation and pre-test/post-test assessments of parents. Results showed a significant increase in parental understanding, with average pre-test scores improving from 85% to 100% post-test. Observations indicated improvements in children’s gross motor skills, social interaction, and participation in group activities. The program effectively fostered a supportive community environment, reduced social stigma, and strengthened parental capacity for home-based stimulation, supporting the development and quality of life of children with DS.
Physiotherapy Management of Calcaneal Fracture in a Patient With Schizophrenia: A Case Report From a Psychiatric Hospital in Indonesia Farahdina Bachtiar; Agustiyawan Agustiyawan; Andy Sirada; Muhamad Alif Fawaz; Padilah Febiyahna; Ariq Muafa Adli; Zulia Akromatul Azizah
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 12 (2025): Volume 7 Nomor 12 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i12.22297

Abstract

ABSTRACT Physiotherapy is essential in addressing physical health issues and supporting recovery in patients with mental illness. This case report presents a physiotherapy intervention for a 32-year-old woman diagnosed with schizophrenia, who sustained calcaneal and lumbar vertebral fractures. She presented with left ankle edema, localized pain, and restricted joint mobility, resulting in reduced functional mobility and limitations in daily activities. While functional and clinical outcomes showed minimal improvement, pain levels decreased following the intervention. Keywords: Physiotherapy, Mental Illness, Schizophrenia, Ankle, Pain 
Hubungan kebiasaan Stretching dan relaksasi terhadap tingkat Cognitive Failure pada mahasiswa Anggraeni, Risa Kusuma; Sirada, Andy
Journal Physical Therapy UNISA Vol. 6 No. 1 (2026): April
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31101/jitu.4248

Abstract

Mahasiswa merupakan kelompok yang rentan mengalami penurunan fungsi kognitif akibat tuntutan akademik dan stres psikososial, yang dapat tercermin dalam meningkatnya cognitive failure seperti kesalahan perhatian, memori, dan kontrol perilaku. Kebiasaan aktivitas fisik ringan seperti stretching serta teknik relaksasi sederhana diduga berperan dalam menjaga fungsi kognitif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kebiasaan stretching dan teknik relaksasi dengan tingkat cognitive failure pada mahasiswa. Penelitian menggunakan desain kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross-sectional pada 100 mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan UPN “Veteran” Jakarta. Data dikumpulkan menggunakan Cognitive Failure Questionnaire (CFQ) dan Stretching and Relaxation Questionnaire (SRQ), kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat cognitive failure sedang (59,4%). Terdapat hubungan negatif signifikan antara frekuensi stretching dengan skor cognitive failure (r = -0,378; p = 0,001), serta hubungan negatif antara frekuensi relaksasi dengan skor cognitive failure. Selain itu, terdapat hubungan positif antara hambatan melakukan stretching dengan skor cognitive failure (r = 0,295; p = 0,003). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin rutin mahasiswa melakukan stretching dan relaksasi, semakin rendah tingkat cognitive failure yang dialami, sehingga kedua kebiasaan ini berpotensi menjadi bagian dari strategi promotif dalam menjaga fungsi kognitif mahasiswa.
OPTIMALISASI FUNGSI KOGNITIF LANSIA MELALUI EDUKASI DAN PRAKTIK SENAM LANSIA Risa Kusuma Anggraeni; Meiza Anniza; Chandra Tri Wahyudi; Andy Sirada
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 3 (2026): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i3.39541

Abstract

Abstrak: Penurunan fungsi kognitif merupakan salah satu masalah yang sering dialami lansia dan dapat memengaruhi kemandirian dalam aktivitas sehari-hari. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran lansia mengenai pentingnya aktivitas fisik dalam menjaga fungsi kognitif melalui edukasi dan praktik senam lansia. Mitra kegiatan adalah Sekolah Lansia Meruyung, Kota Depok, dengan jumlah peserta sebanyak 50 lansia. Metode pelaksanaan meliputi penyuluhan kesehatan, diskusi interaktif, dan praktik langsung senam lansia. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test sebanyak 10 soal untuk mengukur peningkatan pengetahuan, serta observasi untuk melihat partisipasi peserta selama kegiatan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan skor rata-rata pengetahuan dari 40 menjadi 90, atau meningkat sebesar 125% dibandingkan skor awal. Selain itu, peserta menunjukkan antusiasme dan keterlibatan aktif selama praktik senam. Kegiatan ini menunjukkan bahwa edukasi yang dipadukan dengan praktik senam lansia dapat menjadi pendekatan sederhana untuk mendorong perilaku hidup aktif pada lansia. Abstract: Cognitive decline is a common problem among older adults and may affect their independence in daily activities. This community service activity aimed to improve older adults’ knowledge and awareness of the importance of physical activity in maintaining cognitive function through education and elderly exercise practice. The partner of this activity was Sekolah Lansia Meruyung, Depok City, involving 50 older adults. The methods included health education, interactive discussion, and direct practice of elderly exercise. Evaluation was conducted using pre-test and post-test questionnaires to measure knowledge improvement, as well as observation to assess participant engagement during the activity. The results showed an increase in the average knowledge score from 40 to 90, representing a 125% improvement from the initial score. Participants also demonstrated enthusiasm and active involvement during the exercise session. This activity indicates that education combined with elderly exercise practice can serve as a simple and applicable approach to promoting an active lifestyle among older adults.
Motor function, quality of life, and prevalence among children in a cerebral palsy community Mona Oktarina; Andy Sirada; Rycco Darmareja; Ghyffara Agathy Putri; Fadhira Citra Surya Anjani; Solagracia Sukatno Putri
Physical Therapy Journal of Indonesia Vol. 7 No. 1 (2026): January-June 2026
Publisher : Universitas Udayana dan Diaspora Taipei Medical University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51559/ptji.v7i1.376

Abstract

Background: Cerebral palsy (CP) is the most common motor disability in children. It often causes motor impairments that reduce functional independence and participation, particularly in countries like Indonesia and low- and middle-income countries. The aim of this study was to assess motor function, quality of life, and prevalence of CP in a community-based population. Methods: A cross-sectional descriptive study was conducted on 80 children with CP from a community in Jakarta aged 5–18 years. They were selected through purposive sampling. All participants had a confirmed diagnosis of CP and consent from their parents or guardians. Children with other physical disabilities or who were unable to communicate were excluded. The Gross Motor Function Classification System (GMFCS) was used to assess motor function, and the Cerebral Palsy Module of the Pediatric Quality of Life Inventory (PedsQL) 3.0 was used to measure quality of life. Results: A total of 83.8% of participants were adolescents aged 13–18 years with spastic CP. With 46.3% at GMFCS level IV and 28.7% at level V, severe motor impairments were common, but 61.3% of children reported a good quality of life. Motor function and quality of life were positively and significantly correlated (r = 0.345, p = 0.002). Conclusion: The motor function of children with CP is strongly associated with their quality of life. This suggests that comprehensive and ongoing rehabilitation is necessary to improve functional participation and overall well-being.