Noor Wijayahadi
Department Of Pharmacology, Faculty Of Medicine, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Published : 22 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

sTfR Sebagai Faktor Risiko Bangkitan Kejang Demam Abdul Khanis; Tjipta Bahtera; Noor Wijayahadi
MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2010:MMI VOLUME 44 ISSUE 3 YEAR 2010
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.316 KB)

Abstract

sTfR parameter as a risk factor of febrile seizuresBackground: Febrile seizures is the most often neurologic disorder in children and 2%-5% children under 5 years old have experienced febrile seizures. Prognosis of febrile seizures is good, however the seizure brings serious worries to the parents. Iron deficiency as a risk factor of febrile seizures is still controversial.Objective: To analyze iron deficiency with serum transferrin receptor (sTfR) parameter as a risk factor of febrile seizures in children.Method: Study design was case control with subjects 72 children aged 3 months – 5 years in Dr. Kariadi hospital on August 2009 – January 2010, 36 children with febrile seizures as case group and 36 children with febrile with no seizure as control group. Clinical data and blood sampling were recorded from study subjects for sTfR level measurement. Risk factors were analyzed with odds ratio (95% confidence interval) and multivariate logistic regression.Results: Mean sTfR level was 6.2 μg/mL (2.6-6.8) in case group and 2.0 μg/mL (1.8-2.3) in control group. Multivariate analysis showed iron deficiency with sTfR parameter was significantly as a risk factor for febrile seizures (p<0.001; OR=25.1; 95%CI 5.1-122.6). sTfR level could be used as febrile seizures indicator with sTfR level cut-off point was 2.55 μg/ml. Conclusion: sTfR parameter can be used is a risk factor for febrile seizures. ABSTRAKLatar belakang: Kejang demam merupakan kelainan saraf tersering pada anak dan 2%-5% anak di bawah umur 5 tahun pernah mengalami kejang demam. Prognosis kejang demam baik, namun cukup mengkhawatirkan bagi orang tuanya. Defisiensi besi sebagai faktor risiko bangkitan kejang demam masih kontroversial. Tujuan penelitian ini menganalisis defisiensi besi dengan parameter serum transferrin receptor (sTfR) sebagai faktor risiko bangkitan kejang demam pada anak.Metode: Penelitian kasus kontrol ini dengan subyek penelitian 72 anak berumur 3 bulan sampai 5 tahun di RSUP Dr. Kariadi pada Agustus 2009 – Januari 2010, 36 anak kelompok kasus dengan bangkitan kejang demam dan 36 anak kelompok kontrol dengan demam tanpa kejang. Subyek penelitian dicatat data klinis dan pengambilan darah untuk diperiksa kadar sTfR. Faktor risiko dianalisis dengan rasio odds (95% interval kepercayaan) dan multivariat regresi logistik.Hasil: Rerata kadar sTfR pada kelompok kasus 6,2 μg/mL (2,6-6,8) dan kelompok kontrol 2,0 μg/mL (1,8-2,3). Analisis multivariat menunjukkan defisiensi besi dengan parameter sTfR secara bermakna merupakan faktor risiko bangkitan kejang demam (p<0,001; OR=25,1; 95%CI 5,1-122,6). Kadar sTfR dapat dipergunakan sebagai indikator bangkitan kejang demam dengan cut-off point kadar sTfR adalah 2,55 μg/mL.Simpulan: Parameter sTfR merupakan faktor risiko bangkitan kejang demam.
Pengaruh Ekstrak Lengkuas Merah (Alpinia Galanga) Dosis Bertingkat Terhadap Ekspresi Caspase 3 dan Grading Kanker Payudara Mencit C3H Vega Karlowee; Tjahjono Tjahjono; Noor Wijayahadi
MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2010:MMI VOLUME 44 ISSUE 2 YEAR 2010
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.075 KB)

Abstract

Effect of oral administered graded doses of alpinia galanga on the caspase 3 expression and histopathological grading of breast cancer in C3H miceBackground: 1’-Acetoxychavicol Acetate (ACA), in Alpinia galanga, known to have pro apoptotic and anticancer effects. The pro apoptotic effect is by elevating caspase 8 and 9 activity. ACA causes the cycle cell stops at G0/G1 phase. The aim of this study is to prove the effect on caspase 3 and histopathological grading of breast cancer.Method: It was an laboratory experimental with post test only control group design. Four groups of C3H mice, aged 2-3 months, had breast cancer inoculation. After the tumor mass were palpabled, K received no extract, P1, P2, P3 received Alpinia galanga extract at dose levels of 225, 450, 750 mg/kgBW/day, for 2 weeks. Immunohistochemistry examination of caspase 3 expression was scored with Allred criteria and cancer grading was scored with modified Scarff-Bloom-Richardson (MSBR) criteria. All data were analyzed by Kruskal-Wallis test, with level of significant α <0.05.Result: At P1, P2, P3 there were 1, 5, 7 mice dead in each group before termination, while in K all were survived. Pro protocol analysis showed no significance difference on caspase 3 expression (p=0.137) and grading score (p=0.399) between groups. Intention to treat analysis showed significance differences on caspase 3 expression between P1 with K (p=0.033) and P3 (p=0.005), and significance difference on grading score between P3 with K (p=0.002) and P1 (p=0.004). Histopathology examination showed damages on liver and kidney, especially in P3, which might be the mice’s cause of death.Conclusion: Caspase 3 expression is the highest at dose level of 225 mg/kgBW/day. Grading score is the lowest at dose level of 750 mg/kgBW/day.ABSTRAKLatar belakang: Senyawa 1’-Acetoxychavicol Acetate (ACA) dalam Alpinia galanga memiliki efek proapoptosis dan antikanker. Efek proapoptosis melalui aktivasi caspase 8 dan 9. ACA menyebabkan terhentinya siklus sel fase G0/G1. Tujuan penelititan ini adalah membuktikan adanya efek terhadap caspase 3 dan grading kanker payudara.Metode: Jenis penelitian eksperimental dengan desain post test only control group. Mencit C3H usia 2–3 bulan dibagi 4 kelompok, diinokulasi kanker payudara. Setelah tumbuh massa tumor, kontrol (K) tidak diberi perlakuan dan P1, P2, P3 diberi ekstrak Alpinia galanga dosis 225, 450, 750 mg/kgBB/hari selama 2 minggu. Penilaian ekspresi caspase 3 berdasarkan kriteria Allred dan grading kanker berdasarkan kriteria modified Scarff-Bloom-Richardson (MSBR). Dilakukan uji beda Kruskal-Wallis dengan tingkat kemaknaan α <0,05. Hasil: Pada P1, P2, P3, didapatkan kematian mencit sebanyak 1, 5, dan 7 ekor, sedangkan K tidak ada. Dalam pro protocol analysis, tidak ada perbedaan bermakna ekspresi caspase 3 (p=0,137) maupun grading kanker (p=0,399) antar kelompok. Pada intention to treat analysis ekspresi caspase 3, ada perbedaan bermakna antara P1 dengan K (p=0,033) dan P3 (p=0,005). Pada grading kanker payudara, ada perbedaan bermakna antara P3 dengan K (p=0,002) dan P1 (p=0,004). Pada histopatologis organ, ditemukan kerusakan hati dan ginjal, terutama pada P3, yang kemungkinan mengakibatkan kematian mencit.Kesimpulan: Skor ekspresi caspase 3 kanker payudara tertinggi didapatkan pada dosis 225 mg/kgBB/hari. Skor grading kanker payudara terendah didapatkan pada dosis 750 mg/kgBB/hari.
Ekstrak Bawang Putih (Allium sativum) dan Ekspresi Insulin serta Derajat Insulitis Pankreas Tikus Sprague-Dawley yang Diinduksi Streptozotocin Meira Dewi; Indra Wijaya; Noor Wijayahadi
MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2011:MMI Volume 45 Issue 2 Year 2011
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3559.921 KB)

Abstract

ABSTRACTAllium sativum, insulin expression and insulitis degree of pancreas Sprague-Dawley rat induced by streptozotocinBackground: The organic-sulphur content in Allium sativum has been scientifically proven to be a potent insulin-mimetic, antioxidant, and anti-inflammation agent by inhibiting the activity of NF-κβ. This research is aimed at finding out the effect of Allium sativum extract towards insulitis level and insulin expression in pancreas of Sprague-Dawley male rats.Method: This research used a randomized post test only controlled group design. There were 28 rats, two were randomly selected for the initial blood glucose test prior to treatment, two were selected on the tenth day after streptozotocin induction to ensure that all rats were in hyperglycaemia condition, and the remains as many as 24 rats were grouped into four groups: three treatmentgroups were administered with Allium sativum in levelled doses of 0.1, 0.25, 0.5 grams/kgBW/day for 14 days, and one group were act as control negative. Kruskall Wallis test continued with Mann Whitney test were used, with significance level of p<0.05.Results: The insulitis level and insulin expression of rats’ pancreas in the three treatment groups showed significant difference compared with the group without treatment showing dose-dependent result. However, it was not able to completely restore the damage pancreas.Conclusion: Allium sativum extract may play important role in restoring damage pancreas.Keywords: Allium sativum, streptozotocin, insulin expression, level of insulitisABSTRAKLatar belakang: Kandungan organosulfur pada Allium sativum secara ilmiah memiliki berbagai potensi sebagai agen insulinomimetic, antioksidan dan antiinflamasi dengan menghambat aktivitas NF-κß. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian ekstrak Allium sativum terhadap derajat insulitis dan ekspresi insulin pankreas tikus Sprague-Dawley jantan.Metode: Penelitian ini menggunakan desain randomized post test only controlled group. Hewan coba sebanyak 28 ekor tikus, dua ekor tikus diambil acak sebelum perlakuan untuk diperiksa gula darah awal, dua ekor setelah hari ke sepuluh induksi streptozotocin untuk memastikan tikus sudah dalam keadaan hiperglikemia dan sisanya dua puluh empat ekor tikus, dibagi dalam empat kelompok: tiga kelompok perlakuan diberi ekstrak Allium sativum dosis bertingkat 0,1, 0,25, 0,50 g/kgBB/hari selama 14 hari, dan satu kelompok sebagai kontrol negatif. Digunakan uji non parametrik Kruskal Wallis dilanjutkan Mann Whitney dengan taraf kemaknaan p<0,05.Hasil: Derajat insulitis dan ekspresi insulin pankreas tikus pada ketiga kelompok perlakuan menunjukkan perbedaan bermakna dibandingkan dengan kelompok yang tidak mendapat perlakuan dan bersifat dose – dependent, namun belum dapat mengembalikan pulau Langerhan kembali ke keadaan normal.Simpulan: Ekstrak Allium sativum berpeluang memperbaiki pankreas yang rusak.