Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

PENGARUH JUMLAH LAMINA TERHADAP KEKUATAN BENDING KOMPOSIT SANDWICH SERAT AREN-POLYESTER DENGAN CORE PELEPAH POHON PISANG Wijoyo Wijoyo; Achmad Nuhidayat
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2014): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 5 2014
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan serat alam sebagai penguat komposit mempunyai berbagai keunggulan, diantaranya sebagai pengganti serat buatan, harga murah, mampu meredam suara, ramah lingkungan, mempunyai densitas rendah, dan kemampuan mekanik tinggi, yang dapat memenuhi kebutuhan industri. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyelidiki peningkatan kinerja kekuatan bending komposit sandwich serat aren-polyester dengan core pelepah pohon pisang dengan variasi jumlah lamina. Penelitian dilakukan dengan bahan utama serat aren, matrik Polyester type 157 BQTN dan G3253T, katalis MEKPO, akselerator Cobalt naphtenate, max way, wax/miror, dan core/inti limbah pelepah pohon pisang. Peralatan yang digunakan adalah alat uji bending, timbangan digital, mikroskop mikro, foto makro dan peralatan fabrikasi komposit. Spesimen uji yang dibuat merupakan komposit jenis sandwich, dengan metoda hand lay up. Jumlah lamina pada lapisan atas adalah 1, 2 dan 3 layer serat aren, sedangkan lapisan bawah adalah 1 layer serat aren. Struktur lapisan komposit sandwich dan fabrikasinya berukuran 0,4 m x 0,6 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah lamina komposit sandwich mengakibatkan kekuatan bendingnya juga semakin meningkat. Kekuatan bending komposit sandwich serat aren-polyeser dengan core pelepah pohon pisang berbanding lurus dengan penambahan variasi jumlah lamina yang diberikan. Kata kunci: bending, komposit sandwich, serat aren-polyester
OPTIMASI KEKUATAN TARIK SERAT NANAS (ANANAS COMOUS L. MERR) SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN KOMPOSIT SERAT ALAM . Wijoyo; Catur Purnomo; Achmad Nurhidayat
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2011): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2 2011
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Image “Green” yang menempel pada serat alam, membuka jalan bagi serat alam untuk inovasi dan pengembangan produk dalam dekade terakhir ini, misalnya untuk pengembangan komposit yang diperkuat serat alam (fiber reinforced composites) dalam industri automotif, konstruksi bangunan, geotextiles dan produk pertanian. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengoptimasi kekuatan tarik serat nanas (Ananas Comous L. Merr) sebagai alternatif bahan komposit serat alam. Penelitian menggunakan serat nanas (Ananas Comous L. Merr) dan unsaturated polyester sebagai matrik untuk bahan komposit. Perlakuan diberikan pada serat nanas dengan peredaman pada larutan alkali dengan prosentase 10%, 20%, 30% dan 40% selama 2 jam dan 4 jam. Spesimen uji tarik serat tunggal dibuat berdasar standart JIS K-7601. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuatan tarik maksimum mencapai 1058,660 MPa pada perlakuan peredaman larutan alkali 30% selama 2 jam. Dari hasil pengamatan penampang patahan menunjukkan bahwa patahan terjadi karena adanya fiber pull-out (tercabut).Kata kunci : kekuatan tarik, serat nanas, komposit serat alam
REKAYASA ALAT PENGERING UNTUK MENINGKATAN PRODUKTIVITAS UKM EMPING MLINJO . Wijoyo; Achmad Nurhidayat; . Sugiyanto
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2010): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 1 2010
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah melakukan rekayasa alat pengering sebagai alternatif pengganti panas sinar matahari yang diakibatkan perubahan cuaca (hujan/mendung). Penelitian dilakukan di UKM yang ada di Desa Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo. Produksi emping di daerah tersebut sangat besar, dalam waktu  sehari mampu menghasilkan 16-20 kg untuk ukuran kecil dan 14-18 kg ukuran besar. Selama ini masyarakat dalam sistem pengeringan mengandalkan panas sinar matahari. Untuk pengeringan dengan sinar matahari membutuhkan waktu 6 jam, dan jika mendung atau hujan dibutuhkan waktu pengeringan hingga 2-3 hari, proses penjemuran dilakukan dihalaman. Dari hasil rekayasa alat ini didapatkan alat pengering dengan kapasitas 6 rak (15 kg), setiap rak terdiri 2,5 kg emping mlinjo yang masih basah. Waktu yang dibutuhkan untuk mengeringkan emping tersebut adalah 1 jam, dengan suhu di dalam ruang pengering sekitar 58-60oC, dan dibutuhkan minyak tanah sebanyak 1,5 liter. Kata kunci : emping basah, sinar matahari, alat pengering
REKAYASA MESIN PRES GUNA MENINGKATKAN KAPASITAS PRODUKSI UKM LIMBAH TAHU Wijoyo Wijoyo; Zubaidi Zubaidi
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2015): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 6 2015
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Limbah tahu (ampas tahu) tersedia cukup melimpah di tempat pengusaha tahu Watukelir, Sukoharjo. Potensi tersebut selain dijual untuk pakan ternak juga dapat diolah menjadi makanan ringan. Permasalahan terjadi yaitu pesanan selalu tidak dapat terpenuhi karena terbatasnya kapasitas produksi yang hanya dilakukan secara manual. Tujuan program ini adalah melakukan rekayasa alat pengepres limbah tahu sebagai upaya untuk meningkatkan kapasitas produksi dari UKM dalam memenuhi permintaan pasar sekaligus meningkatkan pendapatannya. Program ini didahului melalui surve ke UKM guna mendapatkan permasalahan-permasalahan yang ada dan selanjutnya ditindaklanjuti dengan penawaran alternative pemecahannya. Pemecahan yang ditawarkan yaitu berupa rancangan alat pres yang dapat digunakan untuk mengolah limbah tahu tersebut. Hasil dari program ini adalah berupa alat pres limbah tahu dengan ukuran lebar 75 cm dan tinggi105 cm, kapasitas 60 kg/jam. Dari hasil pengujian awal didapatkan hasil yang cukup baik pada alat tersebut yaitu berupa hasil presan yang sudah sangat sedikit kandungan airnya sehingga menjadi lebih mudah untuk diproses selanjutnya, serta kapasitas produksi naik menjadi tiga kali lipat. Kata kunci : Limbah tahu, Pres, UKM
MINIMISASI DISTORSI SAMBUNGAN LAS DENGAN PEMBERIAN FLAME HEATING SELAMA PROSES PENGELASAN . Wijoyo
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2011): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2 2011
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk meminimasi distorsi sambungan las yang terjadi akibat dari pemberian flame heating selama proses pengelasan. Eksperimen dilakukan dengan menggunakan baja karbon rendah dan filler ER70S-6 pada variasi pemberian perlakuan flame heating : flame heating di depan, sejajar dan di belakang busur las serta tanpa perlakuan. Pengelasan dilakukan dengan arus 110 A, tegangan 20 V, debit gas Ar 5,5 ltr/menit, kecepatan las dan kecepatan nyala api sama sebesar 3,5 mm/dtk, kecepatan kawat las 5 mm/dtk dan jarak nyala api ke sumbu las 35-40 mm. Pengujian distorsi dilakukan dengan cara visual yaitu difoto dan dilakukan pengukuran dengan alat ukur sudut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan pemberian perlakuan flame heating selama proses pengelasan maka distorsi sambungan las yang terjadi dapat diminimasi. Distorsi minimum terjadi pada perlakuan flame heating di depan busur las yaitu sebesar kurang dari 0,5o . Kata kunci : distorsi, sambungan las, flame heating
KAJIAN KOMPREHENSIF STRUKTUR MIKRO DAN KEKERASAN TERHADAP PADUAN Al-7,1Si-1,5Cu HASIL PENGECORAN DENGAN METODE EVAPORATIVE . Wijoyo; Achmad Nurhidayat; Osep Sulammunajat
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2012): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 3 2012
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses pengecoran masih banyak menjadi pilihan utama pada proses produksi di industri. Pilihan pada pengecoran ini disebabkan karena proses pengerjaan lain sangat tidak mungkin dilakukan, misalnya pada pembuatan komponen-komponen otomotif, rumah pompa, poros, baling-baling dan lain-lain. Metode pengecoran dengan menggunakan polystyrene foam sebagai pola cetakan yang ditimbun dalam pasir cetak merupakan metode pengecoran evaporative. Metode ini akan menghasilkan coran yang sesuai dengan pola cetakan yang dibentuk. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji struktur mikro dan kekerasan paduan Al-7,1Si-1,5Cu hasil coran yang dilakukan dengan metode evaporative. Bahan utama penelitian ini adalah paduan Al-7,1Si-1,5Cu, polystyrene foam sebagai pola cetakan dan pasir cetak. Pengecoran paduan Al-7,1Si-1,5Cu dilakukan dengan cara proses peleburan pada dapur krusibel dan  dituang pada variasi temperatur tuang 670, 700 dan 730oC. Pengujian hasil coran meliputi pengujian foto struktur mikro dan uji kekerasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur mikro hasil pengecoran berubah dari  eutektik silikon yang berupa serpihan-serpihan panjang dan tebal pada temperatur tuang rendah, menjadi serpihan-serpihan pendek dan tipis diantara dendrite pada temperatur tuang tinggi. Nilai kekerasan semakin menurun seiring dengan meningkatnya temperatur tuang pada temperatur tuang 670, 700 dan 730oC, yaitu berturut-turut adalah 124,2 HB, 102 HB dan  96 HB. Kata kunci : paduan Al-7,1Si-1,5Cu, struktur mikro, kekerasan, evaporative, polystyrene foam
PENGARUH PENAMBAHAN 12%Mg HASIL REMELTING ALUMINIUM VELG BEKAS TERHADAP FLUIDITY DAN KEKERASAN DENGAN VARIASI TEMPERATUR TUANG Wijoyo Wijoyo; Dicky Taufik Adi Pratama; Muhammad Wahyu Darojad
Prosiding SNATIF 2017: Prosiding Seminar Nasional Teknologi dan informatika (BUKU 3)
Publisher : Prosiding SNATIF

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menyelidiki pengaruh penambahan 12%Mg pada hasil remelting aluminium velg bekas terhadap fluidity dan kekerasan dengan variasi temperatur tuang. Bahan penelitian ini adalah paduan aluminium dari velg bekas mobil dan magnesium, kemudian dilebur dan dituang ke dalam cetakan dengan variasi temperatur tuang 670 oC, 720 oC dan 770 oC. Pengecoran dilakukan dengan metode evaporative memakai pola dari polystyrene foam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi temperatur tuang terhadap fluidity hasil remelting velg bekas dengan penambahan 12%Mg, secara umum mengakibatkan peningkatan sifat mampu alirnya, sedangkan kekerasannya optimum pada temperatur tuang pada kisaran 700 oC. Kata Kunci : magnesium, temperatur tuang, polyestyrene foam
KAJIAN KETANGGUHAN IMPAK PADUAN Al-12,3Si HASIL PENGECORAN LOST FOAM DENGAN VARIASI LAPISAN COLLOIDAL SILICA Wijoyo Wijoyo; Ari Fakhrudin
Prosiding SNATIF 2016: Prosiding Seminar Nasional Teknologi dan Informatika
Publisher : Prosiding SNATIF

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Banyak metode untuk menghasilkan produkcor, ditinjau dari cetakan dan polanya, salah satunya menggunakan pasir silica dengan pola yang digunakan yaitu pola hilang atau lost foam.Tujuan penelitian adalah untuk menyelidiki ketangguhan impak hasil coran paduan Al-12,3Si denganp engecoran lost foam pada berbagai variasi lapisan colloidal silica polanya. Experiment dengan cara melakukan pelapisan pada pola lost foam menggunakan colloidal silica dengan variasi 40%, 45%, 50% dan 55%. Pengujian ketangguhan impak dilakukan dengan menggunakan mesinujiimpakcharpy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi kandungan lapisan colloidal silica padapola lost foam maka ketangguha nimpak dari hasil coran semaki nmenurun. Kata Kunci :Al-12,3Si, pengecoran, lost foam, colloidal silica, impact
Analisa Kegagalan Sambungan Las Pipeline Carbon Steel A106 Grade B Ø 6” Di Sumur Neb#46 Petrochina International Jabung Wijoyo Wijoyo; Sugiyanto Sugiyanto; Muhammad Wahyu Darojad
FLYWHEEL : Jurnal Teknik Mesin Untirta Volume III Nomor 2, Oktober 2017
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (963.078 KB) | DOI: 10.36055/fwl.v2i1.2619

Abstract

Tujuan dari penelitian ini menganalisa kegagalan sambungan pipa carbon steel A106 Gr.B pada pipa penyalur gas di Sumur NEB#46. Metode penelitian dengan menganalisa gas dan mengirimkan sample pipa yang bocor ke laboratorium. Jenis material pipa adalah low alloy steel grade B. Pipa beroperasi pada tahun 2013 dengan tekanan 793.0 psig, temperatur 1460F, kandungan air 14%, pH 4 dan kandungan CO2 sebesar 15.90%. Komponen pipeline memiliki umur desain 15 tahun. Namun pada kenyataan di lapangan, kurang dari 3 tahun pipa sudah mengalami kegagalan berupa kebocoran dan keropos. Penelitian dimulai dengan pengamatan dengan visual, mikro dan makro, uji komposisi kimia, uji metallografi, uji hardness, uji SEM. Dari pengujian yang dilakukan, diharapkan diketahui faktor dan mekanisme dari kegagalan pipa gas Gr B A106. Hasil penelitian, didapatkan bahwa kegagalan dari pipa disebabkan oleh serangan korosi CO2. Mekanismenya, berawal dari pit yang terbentuk secara lokal dan merambat kebagian lain sehingga terbentuk keropos. Dari hasil pengujian SEM, EDX dan XRD, terbentuk senyawa FeS dan FeCO3 yang merupakan produk korosi dari pipa yang mengalami kegagalan
PENGARUH VARIASI TEMPERATUR TUANG PADA PENGECORAN DAUR ULANG Al-Si TERHADAP STRUKTUR MIKRO DAN KEKERASAN DENGAN POLA LOST FOAM Wijoyo Wijoyo; Baral Hidayanto; Anjar Wardoyo; Muhammad Wahyu Darojad
FLYWHEEL : Jurnal Teknik Mesin Untirta Volume IV Nomor 1, April 2018
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (602.316 KB) | DOI: 10.36055/fwl.v1i1.3358

Abstract

Penelitian ini bertujuan menyelidiki pengaruh pengaruh variasi teperatur tuang pada pengecoran daur ulang Al-Si terhadap struktur mikro dan kekerasan dengan pola lost foam. Bahan utama aluminium berasal dari velg bekas sepeda motor dan bahan penambah adalah silicon. Pengecoran daur ulang Al-Si dilakukan pada variasi temperatur tuang 670 °C, 720 °C, dan 770 °C. Pola cetakan menggunakan lost foam model T dengan variasi ketebalan 2,5 mm, 5 mm, dan 7,5 mm. Hasil pengecoran difoto mikro dan dilakukan uji kekerasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, kekerasan tertinggi pada temperatur 670 °C dengan nilai kekerasan 42 HB. Sedangkan pada temperatur 720 °C memiliki nilai kekerasan terendah yaitu 35 HB.