Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Uji efek ekstrak biji alpukat (Persea americana Mill.) terhadap kadar kolesterol total pada tikus wistar (Rattus norvegicus) Suhendra, Abraham T.; Awaloei, Henoch; Wuisan, Jane
eBiomedik Vol 4, No 1 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.4.1.2016.11376

Abstract

Abstract: Indonesia is a tropical country that has more than 1,000 kinds of medicinal plants. Medicinal plant is the use of part(s) of plants as ingredients in traditional medicine or synthetic drugs. One of the traditional medicine is avocado. Several studies have concluded that the avocado fruit and leaves can reduce total blood cholesterol levels while the seed is used in Nigeria for treating hypertension. This was an experimental study. Samples consisted of 12 male Wistar rats, divided into 4 groups (3 rats in each group). The treated groups were given propylthiouracil (PTU) for 14 days then the rats were given 125 mg/kg or 250 mg/kg of avocado seed extract for 14 days. The positive control group was given PTU 8 mg/rat for 14 days, followed by simvastatin 0.2 mg for 14 days. The negative control group was only given food and water. The results showed that the average level of total blood cholesterol in Wistar rats after treated with 125 mg/kg and 250 mg/kg avocado seed extract decreased by 18.1% and 31.2%, respectively. Conclusion: Avocado seed extract had an effect in reducing total blood cholesterol of Wistar rats.Keywords: avocado seed, total cholesterol levelAbstrak: Indonesia merupakan salah satu negara tropis yang memiliki banyak tumbuhan dimana lebih dari 1000 tumbuhan tersebut dapat digunakan sebagai tanaman obat. Tanaman obat ialah penggunaan bagian dari tanaman atau tumbuhan sebagai bahan dalam pembuatan obat tradisional maupun obat sintetik. Salah satu tanaman yang digunakan sebagai obat tradisional ialah alpukat. Beberapa penelitian mengenai tanaman alpukat menunjukkan bahwa buah dan daun dari tanaman Alpukat dapat menurunkan total kolesterol dalam darah, sedangkan biji alpukat digunakan di Nigeria sebagai pengobatan untuk hipertensi. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental. Sampel ialah 12 ekor tikus Wistar jantan yang dibagi menjadi 4 kelompok (setiap kelompok terdiri dari 3 tikus). Kelompok-kelompok perlakuan diberikan propiltiourasil (PTU) selama 14 hari kemudian diberikan 125 mg/kg atau 250 mg/kg ekstrak biji Alpukat selama 14 hari. Kelompok kontrol positif diberikan PTU selama 14 hari kemudian diberikan simvastatin 0,20 mg/kg selama 14 hari. Kelompok kontrol negatif hanya diberikan pakan dan air. Hasil penelitian memperlihatkan rerata kadar kolesterol total tikus Wistar setelah diberikan 125 mg/kg dan 250 mg/kg ekstrak biji alpukat menurun sebesar 18,1% dan 31,2%. Simpulan: Ekstrak biji Alpukat berefek menurunkan kadar kolesterol total pada tikus Wistar.Kata kunci: biji alpukat, kadar kolesterol total
Uji efek antibakteri ekstrak kulit kayu manis (Cinnamomum burmannii) terhadap Escherichia coli dan Streptococcus pyogenes Reppi, Noviano B.; Mambo, Christi; Wuisan, Jane
eBiomedik Vol 4, No 1 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.4.1.2016.12204

Abstract

Abstract: Cinnamon (Cinnamomum burmannii) is a natural substance that has been known as one of the spices, but later known as traditional medicine. Cinnamon bark contains several antibacterial compounds, such as eugenol and cinnamaldehyde. There were two species of bacteria used in this study, Escherichia coli and Streptococcus pyogenes. These bacteria represent negative Gram bacteria and positive gram bacteria. The study aimed to determine antibacterial effect of cinamon bark againts E.coli and S.pyogenes by measuring the diameters of the inhibition zones. Cinamon bark samples were taken from Kaneyan, South Minahasa, and then be extracted by maceration using 80% etanol. The results showed that the total diameter of the inhibitory zone of Cinamon bark extract against E.coli was 43 mm with an average of 14,3 mm, and the total diameter of the inhibitory zone against S.pyogenes was 75 mm with an average of 25 mm. Conclusion: Cinamon bark extract had antibacterial effect against E Escherichia coli and Streptococcus pyogenes. Keywords: cinamon bark, escherichia coli, streptococcus pyogenes,antibacterial effect. Abstrak: Kayu manis (Cinnamomum burmannii) merupakan bahan alami yang selama ini hanya dikenal sebagai bumbu dalam masakan, tetapi ternyata memiliki khasiat obat. Kulit kayu manis mengandung beberapa senyawa yang bersifat antibakteri, seperti eugenol dan cinnamaldehyde. Bakteri Escherichia coli dan Streptococcus pyogenes merupakan bakteri yang digunakan didalam peneilitian ini. Kedua bakteri ini mewakili bakteri Gram negatif dan positif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antibakteri kulit kayu manis terhadap E. coli dan S. pyogenes, yang dinilai dari besarnya zona hambat yang terbentuk. Jenis penelitian ini eksperimental dengan metode sumuran Kirby-Bauer. Sampel kulit kayu manis diambil dari daerah Kaneyan Kabupaten Minahasa Selatan, kemudian diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 80%. Hasil penelitian memperlihatkan diameter zona hambat total dari ekstrak kulit kayu manis terhadap E. coli sebesar 43mm dengan rerata 14,3mm, dan terhadap S. pyogenes diameter zona hambat total 75mm dengan rerata 25mm. Simpulan: Ekstrak kulit kayu manis memiliki efek antibakteri dalam menghambat pertumbuhan Escherichia coli dan Streptococcus pyogenesKata kunci: kulit kayu manis, Escherichia coli, Streptococcus pyogenes, antibakteri
Uji Efek Analgesik Ekstrak Daun Jarak Pagar (Jatropha Curcas L.) terhadap Tikus Wistar (Rattus Norvegicus) Yensenem, Oras B.M.; Wuisan, Jane; Awaloei, Henoch
e-Biomedik Vol 6, No 1 (2018): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v6i1.19499

Abstract

Abstract: Indonesia is a tropical country with the second largest biodiversity in the world after Brazil. Jatropha curcas (Jatropha curcas L.) was believed as a pain reliever (analgesic). This study was aimed to prove the analgesic effect of Jatropha curcas leaf extract on Wistar rats (Rattus norvegicus). This was an experimental study using hot stimulus method in the form of temperature of 65°C. Subjects were 15 male Wistar rats divided into 5 groups. Group 1, the negative control group; group 2, the positive control group given paracetamol 40 mg/kgBW; and 3 treatment groups (groups 3, 4, and 5) given Jatropha curcas extract in several doses (300 mg/kgBW, 600 mg/kgBW, and 1200mg/kgBW). Observation of Wistar rat respons (licking and jumping) was performed for 1 minute at minutes -30, 60, 90, and 120 after treatment. The results showed that the mean values of response against heat decreased in accordance to time and reached the lowest values at minute 120, except group 5 (the extract dose of 1200mg/kg BW) which reached the lowest value at minute 90. Overall, the lowest mean value was found in group 4 (the extract dose of 600mg/kg BW). Conclusion: Jatropha curcas (Jatropha curcas L.) leaf extract had an analgesic effect on Wistar rats (Rattus norvegicus).Keywords: Jatropha curcas L., Rattus norvegicus, analgesic Abstrak: Indonesia merupakan negara beriklim tropis dengan keaneka ragaman hayati terbesar kedua di dunia setelah Brazil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek analgesik pemberian ekstrak daun jarak pagar (Jatropha curcas L.) pada tikus Wistar (Rattus norvegicus). Jenis penelitian ini ialah eksperimental dengan mengguna-kan metode rangsang panas berupa suhu 65°C. Subjek penelitian mengunakan hewan uji berupa tikus Wistar (Rattus norvegicus) jantan sebanyak 15 ekor yang dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu: Kelompok kontrol negatif; kelompok kontrol positif yang diberikan parasetamol 40 mg/kgBB; dan 3 kelompok perlakuan yang diberikan ekstrak jarak pagar (Jatropha curcas L.), dengan dosis 300 mg/kgBB, 600 mg/kgBB, dan 1200mg/kgBB. Pengamatan terhadap respon tikus Wistar berupa jilat dan lompat dilakukan selama 1 menit pada menit ke-30, 60, 90, dan 120 setelah pemberian ekstrak jarak pagar. Hasil penelitian mendapatkan bahwa terdapat penurunan nilai rerata respons terhadap panas yang sesuai dengan perlangsungan waktu kecuali pada kelompok 5 (dosis ekstrak daun jarak pagar 1200mg/kg BB) yang mencapai nilai terendah pada menit ke-90. Secara keseluruhan, nilai rerata respons yang terendah didapatkan pada kelompok 4 (dosis ekstrak daun jarak pagar 600mg/kg BB) pada menit ke-120. Simpulan: Ekstrak daun jarak pagar (Jatropha curcas L.) memiliki efek analgesik terhadap tikus Wistar (Rattus norvegicus)Kata kunci: Jatropha curcas L., Rattus norvegicus, analgesic
UJI EFEK PERASAN DAUN BAYAM MERAH (Amaranthus tricolor) TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN PADA TIKUS WISTAR (Rattus norvegicus) Rumimper, Esther Ariny; Posangi, Jimmy; Wuisan, Jane
e-Biomedik Vol 2, No 2 (2014): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v2i2.5519

Abstract

Abstract: Medicinal herbs has been cultivated and utilized as treatments for diseases since ancient times. Among these medicinal herbs is redleaf amaranth that is mainly utilized for treatment of anemia. This study aims to determine the effect of redleaf amaranth decoction on Wistar rat’s hemoglobin level. This is an experimental study performed on Wistar rats. Readleaf amaranth was blend with water and its decoction was administered orally. Hemoglobin level was measured using blood sample taken directlu from the heart of the study animals. The result shows that redleaf amaranth decoction plays a role in elevating hemoglobin level on Wistar rats. Keywords: Redleaf amaranth, Hemoglobin     Abstrak: Masyarakat pada umumnya banyak mengenal bahkan memanfaatkan tanaman yang diyakini bisa menyembuhkan beberapa penyakit. Salah satu tumbuhan yang sering di gunakan adalah bayam merah yang dianggap bisa mengobati kurang darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek dari pemberian perasan daun bayam merah terhadap kadar hemoglobin tikus Wistar. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik yang dilakukan terhadap uji berupa tikus Wistar. Daun bayam merah di blender dengan air dan perasannya diberikan secara oral terhadap hewan uji. Kadar hemoglobin diukur menggunakan sampel darah yang diambil langsung dari jantung Wistar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perasan daun bayam merah dapat meningkatkan kadar hemoglobin. Kata Kunci: Daun Bayam Merah, Hemoglobin.
Uji efek air perasan albedo semangka kuning (Citrilus lanatus (Thunb.) Matsum. & Nakai) terhadap kadar glukosa darah pada tikus wistar (Rattus norvegicus) yang diinduksi aloksan Nur, Savitri Muhammad; Awaloei, Henoch; Wuisan, Jane
e-Biomedik Vol 4, No 1 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i1.12149

Abstract

Abstract: Indonesian has various natural resources, second as largest after Brazil. One of the traditional medicine that has been used is watermelon. The part of watermelon that is known to be used as medicine is its white layer between the peel and the fruit, albedo. This study aimed to determine the effect of yellow watermelon albedo juice on blood glucose levels in wistar rats induced by alloxan. Subjects consisted of 18 male Wistar rats divided into 6 groups as follows: a negative control group, 3 groups of hyperglycemic rats induced with alloxan 120 mg/kg body weight; and 2 groups given only yellow watermelon albedo juice. Hyperglycemic rats were given yellow watermelon albedo with dose of 9 g/kg body weight and 4,5 g/kg body weight; positive control group was given novomix; and two other groups were given only yellow watermelon albedo juice. Blood glucose levels of each rat were evaluated on day 1, day 2, and day 3 before the treatment after 6 hours, 12 hours, 18 hours, 24 hours. The results showed that administration of yellow watermelon albedo juice 9 g/kg body weight of Wistar rats reduced the blood glucose level until 126.67 mg/dl, meanwhile the dose 4.5 g/kg body weight reduced the blood glucose level until 173.67 mg/dl. Conclusion: Administration of yellow watermelon albedo juice of 9 g/kg body weight and 4.5 g/kg body weight could reduce blood glucose levels of hyperglycemic Wistar rats induced by alloxan. Keywords: yellow watermelon albedo, hyperglycemia, blood glucose level Abstrak: Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman hayati terkaya kedua didunia setelah Brazil. Salah satu obat tradisional yang digunakan ialah buah semangka. Bagian dari semangka yang digunakan ialah lapisan yang berwarna putih yakni antara kulit dan daging buah semangka disebut albedo. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pemberian air perasan albedo semangka kuning terhadap kadar glukosa darah pada tikus wistar yang diinduksi aloksan. Subjek penelitian yaitu 18 ekor tikus Wistar jantan yang dibagi menjadi 6 kelompok, yaitu: kelompok kontrol negatif; 3 kelompok tikus Wistar hiperglikemik yang diinduksi aloksan dengan dosis 120 mg/kg BB; dan 2 kelompok tikus Wistar yang hanya diberikan albedo semangka kuning. Kelompok tikus yang hiperglikemik diberi albedo semangka kuning dengan dosis 9 g/kg BB dan 4,5 g/kg BB; kelompok kontrol positif diberikan novomix; dan 2 kelompok hanya diberikan albedo semangka kuning. Pemeriksaan kadar glukosa darah dari semua kelompok tikus Wistar dilakukan pada hari ke-1, hari ke-2, dan hari ke-3 pada jam ke 0, 6, 12, 18, dan 24. Hasil penelitian memperlihatkan pemberian air perasan albedo semangka kuning dosis 9 g/kg BB dapat menurunkan kadar glukosa darah sebanyak 126,67 mg/dl sedangkan dosis 4,5 g/kg BB sebanyak 173,67 mg/dl. Simpulan: Air perasan albedo semangka kuning dengan dosis 9 g/kg BB dan 4,5 g/kg BB dapat menurunkan kadar glukosa darah tikus Wistar hiperglikemik yang diinduksi aloksan.Kata kunci: albedo semangka kuning, hipeglikemi, kadar glukosa darah
EFEK EKSTRAK DAUN SIRSAK (ANNONA MURICATA L.) PADA KADAR KOLESTEROL TOTAL TIKUS WISTAR Posangi, Ira; Posangi, Jimmy; Wuisan, Jane
Jurnal Biomedik : JBM Vol 4, No 1 (2012): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.4.1.2012.750

Abstract

Abstract: Treatment using medicinal plants has already been applied before modern medicine. Soursop (Annona muricata L.) leaves have been used for the treatment of various diseases. The purpose of this study was to test whether the soursop leaf extract could lower the total cholesterol levels of wistar rats used as test animals. Prior to lowering the cholesterol levels, they first had to be raised, and to raise the level of total cholesterol, all test animals were induced by propyl thiouracyl (PTU). Rosuvastatin was used for positive control group F. Wistar rats were divided into six groups. Group A was the normal control group. Group B was given just PTU. Groups C, D, and E, after having been given PTU, were given respective doses of 50mg, 100mg, and 200mg/day of soursop leaf extract. Group F was given PTU and then rosuvastatin. The results showed that the total cholesterol levels in rats given soursop leaf extract or rosuvastatin were lower than rats that were not given soursop leaf extract or rosuvastatin. Conclusion: soursop leaf extract could lower the total cholesterol levels of wistar rats. Key words: soursop leaves, cholesterol Abstrak: Pengobatan menggunakan tanaman berkhasiat obat sudah lebih dulu diterapkan dari obat-obat modern. Daun sirsak telah digunakan untuk pengobatan bermacam penyakit. Tujuan penelitian ini untuk menguji apakah ekstrak daun sirsak dapat menurunkan kadar total kolesterol tikus wistar yang digunakan sebagai hewan uji. Untuk menaikkan kadar total kolesterol hewan uji diinduksi dengan PTU. Untuk kontrol positif digunakan rosuvastatin. Tikus wistar dibagi dalam 6 kelompok yang terdiri Kelompok A sebagai kontrol normal, Kelompok B diberikan PTU, Kelompok C, D, dan E diberikan PTU kemudian diberikan berturut-turut ekstrak daun sirsak dosis 50mg, 100mg, dan 200mg/hari, Kelompok F diberikan PTU kemudian rosuvastatin. Hasil penelitian menunjukkan kadar kolesterol total pada tikus yang diberikan ekstrak daun sirsak atau rosuvastatin lebih rendah daripada tikus yang tidak diberikan ekstrak daun sirsak atau rosuvastatin. Simpulan: ekstrak daun sirsak dapat menurunkan kadar total kolesterol tikus wistar.Kata kunci: daun sirsak, kolesterol
Uji daya hambat ekstrak daun serai (Cymbopogon citratus L) terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans Kawengian, Susanna A. F.; Wuisan, Jane; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 5, No 1 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.1.2017.14736

Abstract

Abstract: One of the plants that can be used in medical field is the lemongrass plant (Cymboogon citratus) that has lush and dense leaves. Lemongrass leaves contain alkaloids, saponins, tannins, polyphenols, and flavonoids. Streptococcus mutans is known as one of the bacteria that can cause dental caries. An alternative way to eliminate Streptococcus mutans is by using lemongrass leaves. This study was aimed to determine the antibacterial effect of lemon grass leaves extract in inhibition of the growth of Streptococcus mutans and its degree of effectivenss referred to the inhibition zone. This was an experimental study using modified Kirby-bauer method with wells. The leaves of lemon grass were taken from Kalawat, North Minahasa then they were extracted with maceration method using 96% ethanol. Streptococcus mutans were obtained from the pure stock of Pharmacy Laboratory MIPA Sam Ratulangi University. The results showed that the total diameter of inhibition zone of lemon grass leaves extract against Streptococcus mutans was 19.8 mm with an average of 3.96 mm. Conclusion: Lemon grass extract was effective in inhibition of Streptococcus mutans with an average diameter of inhobotion zone of 3.96 mm.Keywords: lemon grass leaves, Streptococcus mutans, inhibition zone Abstrak: Salah satu tanaman yang dipercaya dapat dijadikan obat yaitu tanaman serai (Cymbopogon citratus) yang memiliki daun yang rimbun dan lebat. Daun serai mengandung alkaloid, saponin, tanin, polifenol dan flavonoid. Streptococcus mutans merupakan salah satu penyebab karies gigi. Cara alternatif untuk menanggulangi Streptococcus mutans yaitu dengan menggunakan daun serai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ekstrak daun serai memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans serta menilai besar daya hambat ekstrak daun serai terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans dilihat dari diameter zona hambat. Jenis penelitian ialah eksperimental dengan metode modifikasi Kirby-bauer menggunakan sumuran. Sampel daun serai diambil dari daerah Kalawat Kabupaten Minahasa Utara kemudian diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Bakteri Streptococcus mutans diambil dari stok bakteri murni Laboratorium Farmakologi MIPA Universitas Sam Ratulangi Manado. Hasil penelitian mendapatkan total diameter zona hambat ekstrak daun serai terhadap Streptococcus mutans sebesar 19,8 mm dengan nilai rerata sebesar 3,96 mm. Simpulan: Ekstrak daun serai memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans dengan rerata zona hambat sebesar 3,96 mm.Kata kunci: daun serai (cymbopogon citratus L), streptococcus mutans, zona hambat
UJI EFEK EKSTRAK DAUN LIDAH BUAYA (Aloe vera L.) TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA INSISI KULIT KELINCI (Oryctolagus cuniculus) Sewta, Christian A.; Mambo, Christi; Wuisan, Jane
e-Biomedik Vol 3, No 1 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v3i1.7424

Abstract

Abstract: Aloe vera has been used for thousands years to treat burns, hair loss, skin infections, sinus inflamation and gastro-intestinal tract pain. Previous researches showed that Aloe vera works effectively as anti-inflammatory, anti-pyretic, anti-fungal, anti-oxidant, anti-septic, anti-microbial, and anti-viral. This study aimed to evaluate the effect of aloe vera extract on wound healing in incised rabbit skin. This was an experimental study using 3 rabbits as test animals. The rabbits right and left backs were incised for 4 cm long and 2 mm deep. The wound on the right back was given aloe leaf extract , and the wound on the left back was not. The length of the wounds were measured everyday for 2 weeks. ResThe results showed that the wounds that were given aloe leaf extract dried and healed faster. Conclusion: Aloe vera extract accelerated wound healing in the incised rabbit skin.Keywords: aloe vera leaf extract, incision woundAbstrak: Lidah buaya digunakan sebagai bahan obat sejak beberapa ribu tahun yang lalu untuk mengobati luka bakar, rambut rontok, infeksi kulit, peradangan sinus, dan rasa nyeri pada saluran cerna. Beberapa peneliti terdahulu telah membuktikan bahwa Aloe vera berkhasiat sebagai antiinflamasi, antipiretik, antijamur, antioksidan, antiseptik, antimikroba, serta antivirus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian ekstraksi lidah buaya terhadap penyembuhan luka insisi kulit kelinci. Penelitian ini mengunakan metode eksperimental, dengan menggunakan 3 ekor kelinci sebagai hewan uji. Punggung kanan dan kiri kelinci diinsisi sepanjang 4 cm dan kedalaman 2 mm. Luka pada punggung kanan diberi ekstrak daun lidah buaya sedangkan luka pada punggung kiri tidak diberi ekstrak daun lidah buaya. Pemberian ekstrak daun lidah buaya dan pengukuran panjang luka dilakukan setiap hari selama 2 minggu. Hasil penelitian memperlihatkan luka insisi kulit kelinci yang diberi ekstrak daun lidah buaya lebih cepat kering dan sembuh dibandingkan dengan luka insisi kulit kelinci yang tidak diberikan ekstrak daun lidah buaya. Simpulan: Pemberian ektrak daun lidah buaya memiliki efek untuk mempercepat penyembuhan luka insisi pada kulit kelinci.Kata kunci: ekstrak daun lidah buaya, luka insisi
Uji efek ekstrak daun dewa (Gyanurasegetum [Lour]. Merr) terhadap masa penyembuhan luka insisi kulit kelinci (Oryctolaguscuniculus) Aaron, .; Awaloei, Henoch; Wuisan, Jane
e-Biomedik Vol 4, No 1 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i1.11614

Abstract

Abstract: Marsh fleabane (Gynurasegetum [Lour].Merr.) is one of the medicinal plants used by the public as an anti-septic to accelerate wound healing. The contents of Marsh fleabane that could accelerate wound healing are flavonoids, saponins, and atsiri oil. This study aimed to determine the effect of Marsh fleabane extract on wound healing incision of rabbit skin. This was an experimental study. This study was conducted in the Laboratory of Pharmacology and Therapeutics Faculty of Medicine, University of Sam Ratulangi. Samples were 3 rabbits. Incised wounds of 4 cm length and 2 mm depth were made on the rabbits’ left and right backs. The wounds on the left backs were given Marsh fleabane extract, meanwhile the wounds on the right backs were not treated. The results showed that the wound healing process of the incised wounds treated with Marsh fleabane extract was faster compared to the incised wounds without treatment. Conclusion: Marsh fleabane extract could accelerate the wound healing process of rabbit incised wound. Keywords: marsh fleabane, incision wound healing Abstrak: Daun dewa (Gyanurasegetum [Lour].Merr.) merupakan salah satu tanaman berkhasiat yang biasa digunakan oleh masyarakat sebagai obat anti septik dan mempercepat penyembuhan luka. Kandungan yang terkandung dalam daun dewa yang dipercaya dapat mempercepat penyembuhan luka yaitu flavonoid, saponin, dan minyak atsiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui uji efek ekstrak daun dewa terhadap penyembuhan luka insisi pada kulit kelinci. Metode penelitian yang digunakan ialah rancangan eksperimental. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Farmakologi dan Terapi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Sampel yang digunakan berjumlah 3 ekor kelinci yang masing-masing punggung kiri dan kanannya diberi luka insisi sepanjang 4 cm dan kedalaman 2 mm. Luka pada punggung sebelah kiri diberikan ekstrak daun dewa sedangkan luka pada punggung bagian kanan tidak diberikan ekstrak daun dewa. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa masa penyembuhan luka insisi kulit kelinci yang diberikan ekstrak daun dewa lebih singkat dibandingkan dengan luka insisi kulit kelinci yang tidak diberikan ekstrak daun dewa. Simpulan: Ekstrak daun dewa berefek terhadap penyembuhan luka insisi kulit kelinci.Kata kunci: daun dewa, penyembuhan luka insisi
Uji efek ekstrak daun sirih hutan (Piper aduncum L.) terhadap kadar gula darah pada tikus wistar (Rattus novergicus) yang diinduksi aloksan Sitinjak, Silvia R.H.; Wuisan, Jane; Mambo, Christi
eBiomedik Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.4.2.2016.14659

Abstract

Abstract: Forest betel leaf (Piper aduncum L.) has been known bypublicto have efficacy in wound healing, stop vomiting, reducing nausea, aiding digestion, as an antiseptic, as well as killing bacteria, fungi and viruses. Dewi et al. found that 50 mg/kgBW and 100 mg/kgBW red betel leaf extract caused a decrease blood glucose levels in Wistar rats (Rattus norvegicus) induced by alloxan. This study was aimed to identify the effect of forest betel leaf extract on blood glucose levels on Wistar rats induced by alloxan. Subjects were Wistar rats with total of 15 samples divided into five groups: a negative control group and four hyperglycemic groups induced by 130 mg/kgBW of alloxan. Forest betel leaf extract was administered with dose of 25 mg/kgBW, 50 mg/kgBW, and 100 mg/kgBW on each groups of hyperglycemic rats, and group0.4 IU/100grBW of novomix injection was administered on the positive control group. Blood glucose levels were measured in the 0, 30, 60, 90, and 120 minutes on day one, two, and three. The results showed that 25 mg/kgBW, 50 mg/kgBW, and 100 mg/kgBW of forest betel leaf extract had a tendency to decrease blood glucose levels of Wistar rats induced by alloxan.Keywords: piper aduncum L., forest betel leaf, blood glucose levels, alloxan Abstrak: Daun sirih hutan (Piper aduncum L.) telah dikenal oleh masyarakat dan mempunyai khasiat dalam penyembuhan luka, menghentikan muntah, mengurangi mual, melancarkan pencernaan, sebagai antiseptik, membunuh bakteri dan jamur serta virus. Menurut penelitian Dewi dkk, pemberian ekstrak daun sirih merah dengan dosis 50 mg/kgBB dan 100 mg/kgBB menyebabkan penurunan kadar gula darah pada tikus Wistar (Rattus norvegicus) yang diinduksi dengan aloksan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek ekstrak daun sirih hutan terhadap kadar gula darah pada tikus Wistar yang diinduksi dengan aloksan. Subjek penelitian berupa tikus Wistar berjumlah 15 ekor yang dibagi dalam 5 kelompok terdiri atas kelompok kontrol negatif dan 4 kelompok tikus Wistar yang diberi aloksan dengan dosis 130 mg/kgBB tikus yang menyebabkan tikus Wistar dalam keadaan hiperglikemik. Tikus hiperglikemik diberi ekstrak daun sirih hutan dengan dosis 25 mg/kgBB tikus, 50 mg/kgBB tikus, dan 100 mg/kgBB tikus, dan yang terakhir kelompok kontrol positif diberi suntikan novomix 0,4 IU/100grBB tikus. Data diperoleh dari pemeriksaan kadar gula darah pada semua kelompok pada hari pertama, kedua, dan ketiga pada menit ke-0, 30, 60, 90, dan 120. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun sirih hutan dengan dosis 25 mg/kgBB tikus, 50 mg/kgBB dan 100 mg/kgBB tikus memiliki kecenderungan untuk menurunkan kadar gula darah tikus Wistar yang diinduksi oleh aloksan. Kata kunci: piper aduncumL., daun sirih hutan, kadar gula darah, aloksan