Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Sosialisasi Layanan Bantuan Hukum Secara Cuma-Cuma Kepada Masyarakat Yang Tidak Mampu Nur Akifah Janur; Abdul Rahman; Ardiansyah Ardiansyah; Andi Jusran Kasim; Nuzha Nuzha; Muhammad Taufik; Nurul Hidayah
MALAQBIQ Vol. 1 No. 2 (2022): Malaqbiq : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Majene

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jam.v1i2.349

Abstract

Lembaga Konsultasi Dan Bantuan Hukum (LKBH) STAIN Majene bekerjasama dengan Jurusan Syariah dan Ekonomi Bisnis Islam STAIN Majene yang dijalankan oleh seluruh dosen hukum pada program studi hukum keluarga Islam. Tujuan dibentuknya LKBH ini ialah buat memberikan pelayanan bantuan hukum pada masyarakat di Kabupaten Majene menjadi pelaksanaan tugas dan fungsi ASN pada bidang pelayanan publik. Metode pendekatan dalam pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini artinya dengan memakai metode pembelajaran, obrolan/ wawancara/ tanya jawab serta diskusi, jumlah orang yang mengikuti penyuluhan hukum sekitar 30 (tiga puluh) orang warga Desa Adolang Dua, Kecamatan Pamboang, Kabupaten Majene. Melalui dedikasi masyarakat ini, peningkatan pengetahuan, pemahaman serta keterampilan masyarakat di Desa Adolang Dua Kecamatan Pamboang Kabupaten Majene mengenai pengenalan bantuan aturan bagi masyarakat miskin selama 1 hari dapat berjalan dengan lancar. Peserta kegiatan PKM yang berpartisipasi sangat antusias mengikuti proses pengenalan sebab topik yang disampaikan sangat kekinian dihampir semua masyarakat Desa Adolang Dua yang masih belum mengetahui tata cara advokasi aturan bagi warga miskin buat melakukan penyadaran terhadap aturan.
PERAN IMAM DESA DALAM MENYELESAIKAN KAWIN SILARIANG: (STUDY KASUS KAWIN SILARIANG DI KECAMATAN CINA KABUPATEN BONE) Ali, Usman; Supriadi, Supriadi; Kasim, Andi Jusran; Basri, Hasan
QISTHOSIA : Jurnal Syariah dan Hukum Vol. 4 No. 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Majene

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jhki.v4i1.644

Abstract

Imam desa merupakan tokoh agama sekaligus sebagai tokoh masyarakat desa yang dekat secara langsung jika ada permasalahan di masyarakat khususnya pada kasus silariang di Kecamatan Cina Kabupaten Bone. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor penyebab kawin silariang serta bagaimana peran Imam Desa dalam menyelesaikan pernikahan tersebut. Metode penelitian menggunakan pendekatan yuridis normatif dan empiris (sosiologis) yaitu suatu penelitian dimana penelitian tersebut menekankan pada aturan (norma) hukum serta kaidah-kaidah hukum yang berlaku terutama terkait pernikahan serta bagaimana gambaran dilapangan praktik nikah silariang tentang keadaan hukum yang berlaku di Kecamatan Cina. Nantinya hasil penelitian dalam bentuk deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian di lapangan, beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya Kawin Silariang seperti di antaranya: Pertama; karena tidak adanya restu orang tua, Kedua; tingginya dui menre’(uang belanja), Ketiga; tidak mendapatkan izin poligami dari istri, Keempat; strata sosial atau tidak se kufu’. Implementasi di lapangan pasangan kawin silariang melakukan pernikahan tanpa memperhatikan rukun dan syarat sahnya perkawinan. Seperti pernikahan terjadi tanpa wali nikah, atau ada wali (tidak jelas) dan tidak ada izin dari wali sebenarnya. Selanjutnya upaya imam desa dalam menyelesaikan nikah silariang memberikan solusi jalan dengan istilah (maddeceng) dalam adat masyarakat bugis ada dua cara penyelesaiannya, yakni: pertama, memperbaiki kembali hubungan kekerabatan kedua belah pihak (keluarga dari pihak laki-laki dan keluarga dari pihak perempuan) sehingga menjadi rukun, kedua, memperbaiki kembali status Perkawinan pasangan pelaku kawin silariang, dengan menikahkan kembali lewat Kantor Urusan Agama agar sah secara negara (tercatat).
Peran Musim, Ekonomi, Politik, dan Agama dalam Transformasi Kalender Masehi sebagai Sistem Penanggalan Global Kasim, Andi Jusran; Nur, Dwi Utami Hudaya; An'nisah, Rizqi; Gazali, Ahmad Fadli
JIS: Journal Islamic Studies Vol. 3 No. 2 (2025): April-Juli 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jis.v3i2.1251

Abstract

Penelitian ini mengkaji transformasi sistem kalender Masehi dari akar historisnya pada era Romawi hingga adopsinya secara global sebagai Kalender Gregorian. Dengan pendekatan historis dan analitis melalui studi kepustakaan, tulisan ini menelusuri evolusi kalender dari sistem lunar Romawi kuno, reformasi oleh Julius Caesar melalui Kalender Julian, hingga penyempurnaan oleh Paus Gregorius XIII menjadi Kalender Gregorian. Temuan menunjukkan bahwa perubahan kalender tidak hanya didorong oleh kebutuhan astronomis untuk menyelaraskan tahun kalender dengan tahun tropis, tetapi juga oleh faktor politik, ekonomi, dan keagamaan. Reformasi kalender berdampak luas, mulai dari kestabilan musim pertanian dan perayaan keagamaan, hingga sentralisasi kekuasaan politik dan standarisasi waktu dalam konteks globalisasi. Kalender Gregorian akhirnya diadopsi secara bertahap oleh berbagai negara, termasuk Indonesia, sebagai sistem penanggalan resmi. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa kalender bukan sekadar instrumen pengukur waktu, melainkan juga representasi dinamika peradaban, kekuasaan, dan perkembangan ilmu pengetahuan.
TINGKAT AKURASI APLIKASI AZIMUTH MATAHARI PADA GOOGLE PLAY STORE (Analisis Perbandingan Rasd al-Qiblah Harian Sistem Hisab Data Ephemeris dan Software Hisab Komputer) Kasim, A. Jusran
ELFALAKY: Jurnal Ilmu Falak Vol 4 No 2 (2020): Desember
Publisher : UIN ALAUDDIN MAKASSAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/ifk.v4i2.18070

Abstract

            The direction of the Qibla is legitimate prerequisite of prayer for all Muslims without exception in carrying out the worship. Thus, it is an obligatory for the communities to be informed about the Qibla direction. Constantly the sun is in the parallel position to the azimuth Qibla of particular areas with the term of ras}d al-qiblah. Finding out the moment is fairly apparent. It is by installing the sun azimuth data application which is eventually used as a benchmark to know the occurrence of ras}d al-qiblah daily. Currently, solar azimuth data applications are frequently found on Google Playstore application. Regarding to this, researchers intended to test the accuracy of the application offered by Google Playstore. Hence, subsequently it will be able to be classified which application with high level of accuracy. By using the comparative analysis method, the researchers tested the azimuth results obtained in mobile phone application by comparing the results of the computer software application and the results of the daily ras}d al-qiblah ephimeris data system. Based on the study results, it was found that the results obtained in computer and mobile phone applications were relatively the same when rounding the values with manual computation of the daily ras}d al-qiblah ephemeris data system. However, it was depicted a single application which was slightly different where the scale was one arc unit degree. The application evaluation is proximately aimed at assisting the society especially university or college students and practitioners in filtering out the precise application which is able to be used as guidelines in determining the daily rasyd al qiblah. Keywords: Azimuth, aplikasi, playstore, rasd al-qiblah 
IMPLIKASI AKURASI JADWAL SHALAT SEPANJANG MASA TERHADAP IBADAH DI KABUPATEN MAJENE DAN KABUPATEN POLEWALI MANDAR Andi, Andi Jusran Kasim
ELFALAKY: Jurnal Ilmu Falak Vol 7 No 1 (2023): Juni
Publisher : UIN ALAUDDIN MAKASSAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/ifk.v7i1.37052

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat akurasi jadwal shalat sepanjang masa terhadap ibadah shalat Kabupaten Majene dan Kabupaten Polewali Mandar. Data penelitian dikumpulkan dari jadwal shalat sepanjang masa yang dibuat oleh pemerintah di dua Kabupaten. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan metode hisab awal waktu shalat data ketinggian matahari acuan Almanak ephemeris hisab rukyat Kemenag RI kemudian Drawing / verification data hasil hisab menggunakan aplikasi Starry Night Pro Plus 6 dan shollu accurate time 5.3 Accurate Times 5.3, By Mohammad Odeh. Peneliti menemukan bahwa penggunaan jadwal shalat sepanjang masa cukup/sangat akurat dijadikan pedoman dalam pelaksanaan ibadah shalat di Kabupaten Majene, namun untuk Kabupaten Polewali Mandar tidaklah akurat dijadikan pedoman ibadah shalat. Dampak dari hasil penelitian ini, masyarakat bisa salah dalam menjalankan ibadah shalat wajib pada waktunya/di awal waktu. Sedangkan dampak praktis bagi pemangku kebijakan dalam membuat jadwal shalat harus sesuai dengan kaidah hisab ilmu falak.
Konsep Kafa’ah pada Perkawinan Syarifah Di Desa Pambusuang Kabupaten Polewali Mandar Mayanti; Andi Jusran Kasim
Bilancia: Jurnal Studi Ilmu Syariah dan Hukum Vol. 17 No. 1 (2023): BILANCIA
Publisher : Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/blc.v17i1.1867

Abstract

This study uses a qualitative research method with empirical legal research located in Pambusuang, Balanipa, Polewali Mandar. It is conducted by using a normative theological and sociological research approach. The primary data sources are several Syarifah women and Habib. The study reveals that the Syarifah women's marriage system is not significantly different from the women's marriage system in general in Pambusuang, namely using the traditional Mandar procession, however, there are few differences are found. First, Syarifah women's marriage tends to focus on nasab (lineage) at the matchmaking process or at the proposal process so that the marriage is arranged, they do not apply several kufu' concepts (compability) in choosing a partner, and some of them even choose not to marry. Second, at the metindor process in Syarifahs' Wedding (arrival of the groom), the groom should attend the syarifahs' place by riding a horse. Third, the groom has to wear white to carry out the Ijab kabul . Regarding the first result, the concept of kafâ`ah for Syarifah women in achieving sakinah mawaddah warahmah marriage cannot be separated from the combination of several kufu’ concepts, such as religion, lineage, work, and wealth. However, in their marriage, the concept of kufu' in terms of lineage and religion is the most important consideration when choosing a partner while the wealth and work aspect are tend to be ignored nowadays. The implication of the research is that there is an understanding that not only lineage of sayyid descent is a determinant in achieving a life of sakinah mawaddah warahmah for syarifah women in Pambusuang, but it is also necessary to grant rights to Syarifah women to choose their partner outside the lineage of sayyid rather than live unmarried because they are not from the same nasab (lineage).