Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Impact of Monitoring Land Use Changes to Anticipate Management of Erosion Rates in the Brantas Hulu Watershed Pratama, Alfyan Amar; Suripin, Suripin; Wulandari, Dyah Ari; Marupa, Ivan
Jurnal Presipitasi : Media Komunikasi dan Pengembangan Teknik Lingkungan Vol 21, No 3 (2024): November 2024
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/presipitasi.v21i3.825-837

Abstract

Land use change in river basins is an important issue for policymakers. In this case, it is essential to carry out comprehensive monitoring for decision-making. Land use monitoring must be carried out continuously so that changes that occur over a certain period can continue to be monitored. In this case, the Brantas Hulu watershed includes Batu City, Malang City, and Malang Regency. This river basin is considered critical due to massive land use changes. This condition directly encourages an increase in sedimentation rate in rivers and reservoirs. This research aims to obtain the results of monitoring land use changes and determine the handling of erosion rates by monitoring land use changes in the Brantas Hulu watershed. The method used to determine the spatial characteristics of soil erosion in the Upper Brantas watershed uses the Universal Soil Losses Equation (USLE) method. The research results show that erosion conditions in the Brantas Hulu watershed are dominated by class I/very light erosion hazards (36.43%). ), class II/light (22.35%), class V/very heavy (16.07%), class III/moderate (13.09%), and class IV/heavy (12.05%). The proposed control measures for erosion sites include structural and non-structural approaches.
Comparative Analysis of Observed and Empirical Rainfall Distribution for Flood Hydrograph Modeling Risdiana Afifah; Sri Sangkawati; Suripin; Dyah Ari Wulandari
Advance Sustainable Science Engineering and Technology Vol. 7 No. 3 (2025): May - July
Publisher : Science and Technology Research Centre Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/asset.v7i3.2142

Abstract

Flood disasters in Indonesia are persistent challenges during the rainy season, primarily due to intense rainfall and inadequate flood control. This study evaluates hourly rainfall to characterize hydrology and predict flood discharge more accurately, benefiting water infrastructure planning. The research used modified Mononobe methods, observational data, and rainfall-runoff modeling, including HEC-HMS simulations with the SCS-CN unit hydrograph. Observed rainfall simulated a flood discharge of 779.7 m³/s, while empirical rainfall yielded 3623 m³/s, showing a 79.12% deviation. Comparing flood hydrographs, recorded rainfall data closely matched previous studies (R² = 0.94), unlike empirical rainfall (R² = 0.88). The study concludes that observed rainfall is highly effective for estimating flood runoff, accurately representing local characteristics. This method significantly aids planning and design of water resource infrastructure like dams, weirs, and bridges at the study site.
Comparison of Sediment Management Efficiency in Logung Reservoir, Kudus Regency Susilowati, Susilowati; Dyah Ari Wulandari; Nor Hidayati
Journal of Civil Engineering and Technology Sciences Vol. 4 No. 1 (2025): April: Journal of Civil Engineering and Technology Sciences
Publisher : Faculty Of Engineering University 17 August 1945 Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/gtv1nk16

Abstract

Logung Reservoir in Kudus Regency is one of the reservoirs with priority for flood management. The threat of sedimentation in the reservoir is extremely high. To prevent sedimentation in the reservoir, it is necessary to prepare an efficient sediment control method that is affordable, easy, and yields optimal results. This research will compare the economic efficiency of two sediment control methods in the reservoir: the construction of Check Dams (CD) upstream and sediment dredging in the reservoir using heavy equipment. The smallest Future Value Cost (FVc) value for 50 years between the CD construction method and Reservoir Dredging is an indication of a more efficient control method. FVc CD analysis is based on construction value, Operation, and maintenance every year, and Rehabilitation assumption every 3 years, and FVc Reservoir dredging is the operational cost of dredging once every 5 years and Rehabilitation assumption every 4 years, with the same volume of sediment. The analysis results based on a 5% internal rate show that the FVc for Check Dams is Rp. 8,584.72 billion, and the FVc for reservoir dredging, including crop losses, is Rp. 55,858.1 billion. Thus, sediment control using the construction and operation of check dams is more efficient.
PENDUGAAN LAJU EROSI DENGAN METODE USLE DAN ANALISIS DISTRIBUSI SEDIMEN DENGAN METODE EMPIRIS PENGURANGAN LUAS PADA WADUK PASELLORENG DI KABUPATEN WAJO Zefri, Ricky; Ari Wulandari, Dyah; Suripin, Suripin
JURNAL TEKNIK SIPIL Vol 11, No 2 (2022): Volume 11 Nomor 2 November 2022
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jts.v11i2.26727

Abstract

Waduk Paselloreng adalah waduk di Kabupaten Wajo, Propinsi Sulawesi Selatan yang berada di DAS Gilireng dengan kapasitas tampungan sebesar 138 juta m3 yang berfungsi sebagai penyediaan air baku, irigasi dan potensi sebagai PLTA. Daerah aliran sungai sebagai daerah tangkapan air sering mengalami permasalahan erosi dan sedimentasi dimana jumlah sedimentasi akan terus bertambah seiring bertambahnya waktu sehingga berdampak terhadap waduk seperti air menjadi keruh, pendangkalan dan dapat mempengaruhi umur layanan dari waduk. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari nilai pendugaan erosi dan sedimentasi pada Waduk Paselloreng menggunakan metode Universal Soil Loss Equation (USLE) serta untuk mengetahui distribusi sedimen pada waduk menggunakan metode pengurangan luas (area reduction method). Dari hasil penelitian diperoleh nilai faktor erosivitas hujan (R) tahun 2021, faktor erodibilitas tanah (K) adalah 0,212 ton/kj, faktor panjang dan kemiringan lereng (LS) adalah 3,725, faktor penutupan vegetasi (C) adalah 0,175 dan faktor konservasi lahan (P) adalah 1,00 sehingga besar laju erosi dan sedimentasi menggunakan Metode USLE adalah 4,5 ton/ha/thn atau 30.072,24 m3/thn. Berdasarkan hasil analisis dengan umur guna waduk selama 50 tahun, dari total jumlah sedimen yang mengendap, kapasitas tampungan mati waduk yang berada terisi sedimen sebesar 19,66% sehingga tampungan mati masih mempunyai kapasitas sebesar 80,34%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Waduk Paselloreng setelah operasional 50 tahun tetap dapat operasional melebihi usia waduk yang direncanakan relatif tidak terganggu oleh sedimentasi dan tetap dapat operasional melebihi umur waduk yang direncanakan.
Kajian Pengelolaan Air Minum Pamsimas Berkelanjutan dengan Metode Rapfish di Wilayah Kecamatan Banyumanik Kota Semarang Suharyanto, Suharyanto; Wulandari, Dyah Ari; Saputra, Rizki Wahyu
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v10i10.61798

Abstract

Penyediaan air bersih yang berkelanjutan merupakan salah satu tujuan utama dalam pembangunan infrastruktur perkotaan. Pada kota Semarang khusunya pada Kecamatan Banyumanik masih ditemukan beberapa daerah yang belum dilayani oleh air dari PDAM, Untuk salah satu opsi untuk menggantikan peran PDAM diberdayakanlah sistem penyediaan air minum berbasis masyarakat (PAMSIMAS). Penelitian ini mengkaji sistem penyediaan air minum berbasis masyarakat (PAMSIMAS) di Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang khususnya pada Kelurahan Sumurboto dan Kelurahan Gedawang. Kelompok air tersebut dikaji dengan menggunakan metode Multi Dimensional Scaling dibantu dengan Software Rapfish untuk mengevaluasi keberlanjutan dari berbagai aspek, yaitu ekologi, teknologi, sosial, kelembagaan, dan ekonomi. Aspek aspek tersebut dikutip berdasarkan Kepmendagri No. 47 Tahun 1999 tentang Pedoman Penilaian Kinerja PDAM dan Kementerian PU BPPSPAM tahun 2010 tentang Penilaian Kinerja PDAM. Analisis SWOT juga dilakukan untuk mengidentifikasi strategi pengembangan yang diperlukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat keberlanjutan Kelompok air Sumurboto Mendapatkan skor rata rata sebesar 73,58 dengan kategori cukup berkelanjutan. Kelompok Air Tirta Sumurboto mempunyai keunggulan dalam 3 aspek dimensi yakni dimensi ekologi, teknologi dan kelembagaan serta mempunyai kekurangan pada dimensi sosial dan ekonomi sehingga Kelompok Air TirtaSumurboto mendapatkan skor rata rata sebesar 73,86 dengan kategori cukup berkelanjutan. Kelompok air Gedawang mempunyai keunggulan dalam 2 aspek dimensi yakni dimensi Teknologi dan Sosial dan mempunyai kekurangan pada dimensi Ekonomi, Ekologi dan Kelembagaan. sehingga Kelompok air Gedawang Mendapatkan skor rata rata sebesar 77,92 dengan kategori berkelanjutan. Strategi yang dilakukan untuk menunjang keberlanjutan sistem penyediaan air bersih berbasis masyarakat yaitu: Pembuatan SOP dan AD/ART, SOP dilaksanakan dengan baik dan digunakan dalam menjalankan operasional pada masing-masing kelompok air, pengurus masing-masing Kelompok Air ikut aktif berperan sesuai tugas masing- masing pengurus, penagihan rekening air dilaksanakan secara rutin dan teratur, karena hasil tagihan tersebut digunakan untuk biaya operasional dan pemeliharaan dan laporan internal dibuat tepat waktu dan rutin.
PENERAPAN METODE MODIFIKASI ANDERSEN DALAM PENILAIAN RISIKO BENDUNGAN HALIWEN: ANDERSEN MODIFICATION METHOD APPLICATION IN HALIWEN DAM RISK ASSESSMENT Maulana, Muhammad Fuad; Sukamta; Dyah Ari Wulandari
AGREGAT Vol 9 No 1 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/ag.v9i1.20450

Abstract

Indonesia is a disaster-prone country; therefore, all infrastructure must be risk-analyzed in order to carry out mitigation efforts. One of the infrastructures that holds the potential for high risk of danger is a dam. Dams need to be inspected regarding dam operations, maintenance, and safety, one of which is through regular inspections. The results of the inspection can be used to analyze dam risks. The Haliwen Dam was originally a reservoir whose classification was upgraded to dam due to the enactment of Minister of Public Works Regulation No. 27 of 2015 concerning Dams. The Haliwen Dam needs to be analyzed for its risks as a dam. The method for analyzing the risk of dams can use the modified Andersen method. This method works well for dams with limited information during construction and instrumentation. This research requires a report on the results of field inspections to determine the physical condition of the dam. The end result of this analysis is the dam risk condition in the form of a safety value (Naman). The safety value obtained is 80. Based on the risk assessment of the modified Andersen method, the Haliwen Dam has a safety value above 75 (satisfactory), which means that the dam is in good condition and has a low risk of failure. A satisfactory safety value means that the dam can operate properly at ordinary (normal) and extraordinary load times.
Kajian Tanggul Pengendali Banjir di Kali Pengkol - Kota Semarang Limbong, Benson Jhon Ferry; Wulandari, Dyah Ari
JURNAL TEKNIK HIDRAULIK Vol 15, No 1 (2024): Jurnal Teknik Hidraulik
Publisher : Direktorat Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32679/jth.v15i1.773

Abstract

The Pengkol River, situated in Meteseh, Tembalang sub-district of Semarang City, underwent three significant flood occurrences from January to February 2023. An approach involving a structural flood control system, specifically a levee, was suggested as a solution to this issue. The objective of this research is to establish the arrangement and highest elevation of the levee flood control and evaluate its effectiveness in mitigating floods. To determine flood hydrographs, a hydrological analysis was carried out using the Rainfall-Runoff simulation with the SCS Curve Number method. Additionally, a hydraulic analysis was performed using Unsteady Flow simulation with HECRAS 1D/2D hydrodynamic models to define the river body, water profile, inundation, and levee design. The hydrologic analysis indicates that the flood discharge for the 50, 100, and 200-year return periods are 209.5 m³/sec, 225.1 m³/sec, and 240.6 m³/sec, respectively. Based on the hydraulic analysis, the maximum water levels resulting from these return periods' flood discharges are +35.62 m (Q50 years), +35.77 m (Q100 years), and +36.43 m (Q200 years). The Q200 years of return period was chosen for 2D modeling because it resembles documented flood occurrences. Using the HECRAS 2D Unsteady Flow model, it was found that before the levee implementation, the flooded area within the residential zone spanned 9462 m², with a peak water level of +37.3 m. With the levee application, using an existing layout with a total length of 230 m and a top levee level of +37.5 m, flooding was effectively prevented, reducing the maximum water surface elevation to +37.17 m. This demonstrates the levee's effectiveness in preventing floods.Keywords:  levee, flood,  HECRAS 1D 2D model,  inundation. Unsteady flow.
PENINGKATAN PEMANFATAAN DANAU RAWA PENING Wulandari, Dyah Ari; sriyana, sriyana; Salamun, Salamun; Kurniani, Dwi; Tristanto, Albert Nico; Rinaldi, Zelly
Teras Jurnal : Jurnal Teknik Sipil Vol. 11 No. 2 (2021): Volume 11 Nomor 2, September 2021
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v11i2.477

Abstract

Abstrak Danau Rawa Pening mempunyai peranan sebagai reservoir alami yang dimanfaatkan untuk PLTA, sumber air baku, irigasi, perikanan, dan pariwisata serta pemeliharaan Sungai Tuntang. Salah satu permasalahan di Danau Rawa Pening adalah sedimentasi yang berdampak pada menurunnya kapasitas tampungan, oleh karena kondisi Danau Rawa Pening saat ini maka diperlukan upaya penanganan untuk meningkatkan pemanfaatan Danau Rawa Pening guna mendukung kegiatan irigasi pertanian, perikanan, pariwisata, supply air baku dan pembangkit listrik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis peningkatan pemanfaatan Danau Rawa Pening yang merupakan waduk alami, tidak mempunyai intake dan pelimpah seperti waduk - waduk pada umumnya. Pengaturan outflow dari danau ada di Bendung Gerak Jelok yang berjarak ± 5 km dari outlet danau. Oleh karena itu peningkatan pemanfaatan danau akan dilakukan dengan membuat intake dan pelimpah sehingga pengeluaran dapat diatur sesuai kebutuhan yang diperlukan Tahapan analisis yang dilakukan adalah analisis kebutuhan air, analisis ketersediaan air, analisis laju sedimentasi, analisis kebutuhan tampungan dan analisis kinerja. Berdasarkan hasil analisis peningkatan pemanfaatan Danau Rawa Pening dapat dilakukan dengan membuat intake pada elevasi + 460,5 m dan pelimpah pada elevasi puncak + 462,72 m. Pada kondisi ini dapat disediakan tampungan efektif sebesar 31,9 juta m3, tampungan mati sebesar 1,264 juta m3 dan tampungan utk perikanan dan pariwisata sebesar 10,311 juta m3, dengan kinerja pelayanan 89%.Kata kunci: Sedimentasi, peningkatan pemanfataan danau, Danau Rawa Pening Abstract Lake Rawa Pening has a function as a natural reservoir that is used for hydropower plants, raw water, irrigation, fisheries, tourism and maintenance of the Tuntang River. The problems in Lake Rawa Pening is sedimentation which has an impact on decreasing storage capacity. Because of the current condition of Lake Rawa Pening, efforts are needed to improve the use of Lake Rawa Pening to support irrigation, fisheries, tourism, raw water supply and power generation. The purpose of this study was to analyze the increase in the utilization of Lake Rawa Pening. Lake Rawa Pening is a natural reservoir, does not have intake and spillway like ather reservoirs in general. The outflow arrangement from the lake is at Jelok Weir which is ± 5 km from the lake outlet. Therefore, increasing the use of lakes will be carried out by building intake and spillway so that release can be adjusted according to the demand. The stages of the analysis carried out are water demand analysis, water availability analysis, sedimentation rate analysis, storage needs analysis and performance analysis. Based on the results of the analysis of increasing utilization of Lake Rawa Pening, it can be done by building intake at an elevation +460.5 masl and spillway at elevation of +462.72 masl. In this condition, an effective storage capacity of 31.9 million m3, a dead storage capacity of 1,264 million m3 and a storage for fisheries and tourism of 10.311 million m3 can be provided, with performance of 89%.Keywords: Sedimentation, Increased use of the lake, Lake Rawa Pening
Rasionalisasi Pos Curah Hujan Daerah Tangkapan Air Waduk Wonogiri Muliawati, Intan; Fahmi, Amir Hadziq; Suharyanto, Suharyanto; Wulandari, Dyah Ari
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v9i9.16352

Abstract

Analisis hidrologi merupakan hal yang penting dilakukan untuk menunjang kegiatan pengelolaan waduk. Data hidrologi dibutuhkan sebagai input dalam melakukan analisis hidrologi. Kualitas data hidrologi sangat bergantung pada kondisi jaringan stasiun hujan (jumlah dan lokasi stasiun hujan). Oleh karena itu dibutuhkan studi untuk meninjau jaringan stasiun hujan pada Daerah Tangkapan Air (DTA) Waduk Wonogiri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan jaringan stasiun hujan yang efektif dan efisien pada DTA Waduk Wonogiri untuk menunjang kegiatan operasi Waduk Wonogiri.Penelitian ini menggunakan metode Kagan untuk analisis rasionalisasi stasiun hujan. Berdasarkan dari analisis metodeKagan pada DTA Waduk Wonogiri dengan kesalahan interpolasi sebesar 5% menghasilkan delapan stasiun hujan rekomendasi yang terdiri dari lima stasiun hujan eksisting dan tiga stasiun hujan baru dengan panjang segitiga Kagan adalah sebesar 14,28 km.
Kajian Panjang Data dan Karakteristik Debit Bangkitan pada Pola Operasi Waduk Jragung Ahmadi, Muhamamad Airlangga; Suharyanto, Suharyanto; Wulandari, Dyah Ari; Pambudi, Tri
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v9i10.16698

Abstract

Pengelolaan sumber daya air sangat diperlukan untuk menjaga ketersediaan air, salah satu upaya dalam menjaga ketersediaan air adalah dengan membangun Waduk. Waduk Jragung merupakan Waduk multifungsi yang diharapkan dapat memenuhi penyediaan air irigasi, air baku, PLTMH, pengendali banjir, dan pemeliharaan sungai. Peramalan debit inflow waduk pada masa mendatang diperlukan untuk megetahui bagaimana pola pola waduk setelah bendungan selesai dibangun. Salah satu kendala dalam meramalkan debit inflow adalah ketersediaan data historis, terkadang data yang tersedia lengkap dan cukup panjang, tetapi terkadang ada juga yang tersedia terbatas atau relatif lebih pendek. Panjang data hidrologi yang mewakili suatu daerah pengaliran berpengaruh dalam proses perencanaan infrastruktur keairan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh panjang data dan karakteristik debit bangkitan dengan metode Thomas-Fiering pada Pola Operasi Waduk Jragung. Berdasarkan hasil analisis masing-masing data seri memberikan keandalan yang berbeda-beda. Semakin besar rerata debit maka keandalannya dapat mecapai 100% dan luas layanan irigasi 4.053 ha dapat terpebuhi.