Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Rasionalisasi Pos Curah Hujan Daerah Tangkapan Air Waduk Wonogiri Muliawati, Intan; Fahmi, Amir Hadziq; Suharyanto, Suharyanto; Wulandari, Dyah Ari
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v9i9.16352

Abstract

Analisis hidrologi merupakan hal yang penting dilakukan untuk menunjang kegiatan pengelolaan waduk. Data hidrologi dibutuhkan sebagai input dalam melakukan analisis hidrologi. Kualitas data hidrologi sangat bergantung pada kondisi jaringan stasiun hujan (jumlah dan lokasi stasiun hujan). Oleh karena itu dibutuhkan studi untuk meninjau jaringan stasiun hujan pada Daerah Tangkapan Air (DTA) Waduk Wonogiri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan jaringan stasiun hujan yang efektif dan efisien pada DTA Waduk Wonogiri untuk menunjang kegiatan operasi Waduk Wonogiri.Penelitian ini menggunakan metode Kagan untuk analisis rasionalisasi stasiun hujan. Berdasarkan dari analisis metodeKagan pada DTA Waduk Wonogiri dengan kesalahan interpolasi sebesar 5% menghasilkan delapan stasiun hujan rekomendasi yang terdiri dari lima stasiun hujan eksisting dan tiga stasiun hujan baru dengan panjang segitiga Kagan adalah sebesar 14,28 km.
Kajian Panjang Data dan Karakteristik Debit Bangkitan pada Pola Operasi Waduk Jragung Ahmadi, Muhamamad Airlangga; Suharyanto, Suharyanto; Wulandari, Dyah Ari; Pambudi, Tri
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v9i10.16698

Abstract

Pengelolaan sumber daya air sangat diperlukan untuk menjaga ketersediaan air, salah satu upaya dalam menjaga ketersediaan air adalah dengan membangun Waduk. Waduk Jragung merupakan Waduk multifungsi yang diharapkan dapat memenuhi penyediaan air irigasi, air baku, PLTMH, pengendali banjir, dan pemeliharaan sungai. Peramalan debit inflow waduk pada masa mendatang diperlukan untuk megetahui bagaimana pola pola waduk setelah bendungan selesai dibangun. Salah satu kendala dalam meramalkan debit inflow adalah ketersediaan data historis, terkadang data yang tersedia lengkap dan cukup panjang, tetapi terkadang ada juga yang tersedia terbatas atau relatif lebih pendek. Panjang data hidrologi yang mewakili suatu daerah pengaliran berpengaruh dalam proses perencanaan infrastruktur keairan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh panjang data dan karakteristik debit bangkitan dengan metode Thomas-Fiering pada Pola Operasi Waduk Jragung. Berdasarkan hasil analisis masing-masing data seri memberikan keandalan yang berbeda-beda. Semakin besar rerata debit maka keandalannya dapat mecapai 100% dan luas layanan irigasi 4.053 ha dapat terpebuhi.
Kajian Pengelolaan Air Minum Pamsimas Berkelanjutan dengan Metode Rapfish di Wilayah Kecamatan Tembalang Kota Semarang Suharyanto, Suharyanto; Wulandari, Dyah Ari; Saputra, Rizki Wahyu
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v10i7.60530

Abstract

Penyediaan air bersih yang berkelanjutan merupakan salah satu tujuan utama dalam pembangunan infrastruktur perkotaan. Pada kota Semarang khusunya pada Kecamatan Tembalang masih ditemukan beberapa daerah yang belum dilayani oleh air dari PDAM, Untuk salah satu opsi untuk menggantikan peran PDAM diberdayakanlah sistem penyediaan air minum berbasis masyarakat (PAMSIMAS). Penelitian ini mengkaji sistem penyediaan air minum berbasis masyarakat (PAMSIMAS) di Kecamatan Tembalang, Kota Semarang khususnya pada Kelurahan Tembalang, Kelurahan Jangli dan Kelurahan Bulusan. Kelompok air tersebut dikaji dengan menggunakan metode Multi Dimensional Scaling dibantu dengan Software Rapfish untuk mengevaluasi keberlanjutan dari berbagai aspek, yaitu ekologi, teknologi, sosial, kelembagaan, dan ekonomi. Aspek aspek tersebut dikutip berdasarkan Kepmendagri No. 47 Tahun 1999 tentang Pedoman Penilaian Kinerja PDAM dan Kementerian PU BPPSPAM tahun 2010 tentang Penilaian Kinerja PDAM. Analisis SWOT juga dilakukan untuk mengidentifikasi strategi pengembangan yang diperlukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat keberlanjutan Kelompok Air Tirta Tembalang mempunyai keunggulan dalam 3 aspek dimensi yakni dimensi ekologi, sosial dan kelembagaan serta mempunyai kekurangan pada dimensi teknologi dan ekonomi sehingga Kelompok Air Tirta Tembalang mendapatkan skor rata rata sebesar 72,81 dengan kategori cukup berkelanjutan. Kelompok Air Tirta Bulusan mempunyai keunggulan dalam 2 aspek dimensi yakni dimensi teknologi dan sosial dan mempunyai kekurangan pada dimensi ekonomi, ekologi dan kelembagaan. sehingga Kelompok Air Tirta Bulusan mendapatkan skor rata rata sebesar 66,47 dengan kategori cukup berkelanjutan. Kelompok Air Tirta Jangli mempunyai keunggulan dalam 3 aspek dimensi yakni dimensi ekologi, teknologi dan kelembagaan serta mempunyai kekurangan pada dimensi sosial dan ekonomi sehingga Kelompok Air Tirta Jangli mendapatkan skor rata rata sebesar 73,86 dengan kategori cukup bekelanjutan. Strategi yang dilakukan untuk menunjang keberlanjutan sistem penyediaan air bersih berbasis masyarakat yaitu: Pembuatan SOP dan AD/ART, SOP dilaksanakan dengan baik dan digunakan dalam menjalankan operasional pada masing-masing kelompok air, pengurus masing-masing Kelompok Air ikut aktif berperan sesuai tugas masing- masing pengurus, penagihan rekening air dilaksanakan secara rutin dan teratur, karena hasil tagihan tersebut digunakan untuk biaya operasional dan pemeliharaan dan
The Modeling Of Flood Inundation Distribution And The Institutional Index, Based On Hexahelix Collaboration, In The Downstream Of Tuntang Watershed Ignatius Sriyana; Melfina Roselyn; Dyah Ari Wulandari
Rekayasa Sipil Vol. 18 No. 2 (2024): Rekayasa Sipil Vol. 18 No. 2
Publisher : Department of Civil Engineering, Faculty of Engineering, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.rekayasasipil.2024.018.02.5

Abstract

Flooding in the Tuntang Watershed of Central Java, Indonesia, poses a significant threat to communities and infrastructure. Past mitigation strategy have been ineffective due to fragmented collaboration, limited community involvement, and insufficient policy support. This study explores a new approach that combines the Village Watershed Model (VWM) and the hexahelix collaboration framework to promote coordinated action among government, communities, academia, businesses, NGOs, and media. This research create hydrological and hydraulic modeling, analyzing stakeholder roles, collaboration levels, and flood risks using questionnaires as a method. Results indicated moderate overall collaboration, with government and community leading the efforts. The hexahelix framework proved valuable for identifying strengths, weaknesses, and opportunities for improvement. Recommendations include strengthening coordination, enhancing community participation, fostering multi-stakeholder partnerships, developing comprehensive policies and funding mechanisms, and continuing research and innovation.
ANALISIS DEBIT REMBESAN PADA LEFT WING DAM, MAIN DAM, DAN RIGHT WING DAM PADA BENDUNGAN BILI-BILI As'ad, Mohammad Bagus Wiratama; Suripin, Suripin; Ari Wulandari, Dyah
JURNAL TEKNIK SIPIL Vol 14, No 2 (2025): Volume 14 Nomor 2 November 2025
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jts.v14i2.46449

Abstract

Bendungan Bili-Bili merupakan bendungan eksisting di Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan yang dibangun Tahun 1992 hingga 1997. Bendungan Bili-Bili merupakan bendungan tipe urugan batu dengan inti tengah yang memiliki kapasitas tampungan total sebesar 375 juta m3 dan kapasitas tampungan sedimen sebesar 29 juta m3. Ditinjau dari kelas risiko bahaya konstruksi, Bendungan Bili-Bili masuk dalam klasifikasi IV (Ekstrim) yang perlu mendapatkan perhatian khusus terkait kegagalan konstruksinya. Salah satu penyebab utama kegagalan bendungan tipe urugan adalah terjadinya rembesan berlebih yang ditandai dengan ditemukannya rumput lebat pada lubang drainase sehingga dapat memicu terjadinya piping yang berisiko mengganggu stabilitas keamanan bendungan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisa besar debit rembesan pada Left wing dam, Main dam, dan Right wing dam Bili-Bili yang keluar dari alat instrumentasi berupa V-notch terhadap tingkat keamanan bendungannya. Berdasarkan hasil analisis diperoleh hasil bahwa debit rembesan pada Bendungan Bili-Bili secara umum diluar batas yang diizinkan dimana nilai seepage index kondisi rembesan dalam kondisi kurang aman dimana Sebagian besar kriteria keamanan seepage QI1 yang mana perlu adanya mitigasi awal untuk segera dilakukan rehabilitasi.
Quick Assessment of Landslide Potential Using Satellite Imagery in Bili-Bili Reservoir Catchment Area Wahyuningrum, Catur Ayu; Wulandari, Dyah Ari; Suripin, Suripin; Pratama, Alfyan Amar; Sari, Yunitta Chandra; Baihaqi, Fajar Andi
Jurnal Presipitasi : Media Komunikasi dan Pengembangan Teknik Lingkungan Vol 22, No 3 (2025): November 2025
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/presipitasi.v22i3.893-908

Abstract

Landslides are among the most unpredictable and destructive sediment-related disasters, especially in mountainous regions with complex terrain and limited field accessibility. In 2004, a catastrophic landslide from the Mount Bawakaraeng Caldera delivered more than 100 million cubic meters (MCM) of sediment into the Bili-Bili Reservoir, filling its dead storage and threatening its long-term functionality. his study uses Sentinel-1A satellite imagery and Differential Interferometric Synthetic Aperture Radar (DInSAR) to perform a rapid, spatially driven assessment of landslide hazards in the Bili-Bili Reservoir Catchment Area. The results reveal surface deformation of up to ±1.55 meters, concentrated in upstream zones. High-risk areas span 71.00 km², with an estimated mobilizable volume of 110.04 MCM and a potential sediment yield of 27.14 MCM per year, nearly equal to the reservoir’s dead storage. To mitigate this threat, the study proposes an integrated mitigation framework. Structural interventions include rehabilitating existing sediment control systems and constructing new sabo dams. Non-structural strategies such as slope revegetation and bioengineering are also recommended. This study demonstrates how remote sensing can identify subtle ground deformation and provides actionable insights for safeguarding critical water infrastructure in sediment-prone tropical watersheds.