Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Kajian Panjang Data dan Karakteristik Debit Bangkitan pada Pola Operasi Waduk Jragung Ahmadi, Muhamamad Airlangga; Suharyanto, Suharyanto; Wulandari, Dyah Ari; Pambudi, Tri
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v9i10.16698

Abstract

Pengelolaan sumber daya air sangat diperlukan untuk menjaga ketersediaan air, salah satu upaya dalam menjaga ketersediaan air adalah dengan membangun Waduk. Waduk Jragung merupakan Waduk multifungsi yang diharapkan dapat memenuhi penyediaan air irigasi, air baku, PLTMH, pengendali banjir, dan pemeliharaan sungai. Peramalan debit inflow waduk pada masa mendatang diperlukan untuk megetahui bagaimana pola pola waduk setelah bendungan selesai dibangun. Salah satu kendala dalam meramalkan debit inflow adalah ketersediaan data historis, terkadang data yang tersedia lengkap dan cukup panjang, tetapi terkadang ada juga yang tersedia terbatas atau relatif lebih pendek. Panjang data hidrologi yang mewakili suatu daerah pengaliran berpengaruh dalam proses perencanaan infrastruktur keairan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh panjang data dan karakteristik debit bangkitan dengan metode Thomas-Fiering pada Pola Operasi Waduk Jragung. Berdasarkan hasil analisis masing-masing data seri memberikan keandalan yang berbeda-beda. Semakin besar rerata debit maka keandalannya dapat mecapai 100% dan luas layanan irigasi 4.053 ha dapat terpebuhi.
Kajian Pengelolaan Air Minum Pamsimas Berkelanjutan dengan Metode Rapfish di Wilayah Kecamatan Tembalang Kota Semarang Suharyanto, Suharyanto; Wulandari, Dyah Ari; Saputra, Rizki Wahyu
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v10i7.60530

Abstract

Penyediaan air bersih yang berkelanjutan merupakan salah satu tujuan utama dalam pembangunan infrastruktur perkotaan. Pada kota Semarang khusunya pada Kecamatan Tembalang masih ditemukan beberapa daerah yang belum dilayani oleh air dari PDAM, Untuk salah satu opsi untuk menggantikan peran PDAM diberdayakanlah sistem penyediaan air minum berbasis masyarakat (PAMSIMAS). Penelitian ini mengkaji sistem penyediaan air minum berbasis masyarakat (PAMSIMAS) di Kecamatan Tembalang, Kota Semarang khususnya pada Kelurahan Tembalang, Kelurahan Jangli dan Kelurahan Bulusan. Kelompok air tersebut dikaji dengan menggunakan metode Multi Dimensional Scaling dibantu dengan Software Rapfish untuk mengevaluasi keberlanjutan dari berbagai aspek, yaitu ekologi, teknologi, sosial, kelembagaan, dan ekonomi. Aspek aspek tersebut dikutip berdasarkan Kepmendagri No. 47 Tahun 1999 tentang Pedoman Penilaian Kinerja PDAM dan Kementerian PU BPPSPAM tahun 2010 tentang Penilaian Kinerja PDAM. Analisis SWOT juga dilakukan untuk mengidentifikasi strategi pengembangan yang diperlukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat keberlanjutan Kelompok Air Tirta Tembalang mempunyai keunggulan dalam 3 aspek dimensi yakni dimensi ekologi, sosial dan kelembagaan serta mempunyai kekurangan pada dimensi teknologi dan ekonomi sehingga Kelompok Air Tirta Tembalang mendapatkan skor rata rata sebesar 72,81 dengan kategori cukup berkelanjutan. Kelompok Air Tirta Bulusan mempunyai keunggulan dalam 2 aspek dimensi yakni dimensi teknologi dan sosial dan mempunyai kekurangan pada dimensi ekonomi, ekologi dan kelembagaan. sehingga Kelompok Air Tirta Bulusan mendapatkan skor rata rata sebesar 66,47 dengan kategori cukup berkelanjutan. Kelompok Air Tirta Jangli mempunyai keunggulan dalam 3 aspek dimensi yakni dimensi ekologi, teknologi dan kelembagaan serta mempunyai kekurangan pada dimensi sosial dan ekonomi sehingga Kelompok Air Tirta Jangli mendapatkan skor rata rata sebesar 73,86 dengan kategori cukup bekelanjutan. Strategi yang dilakukan untuk menunjang keberlanjutan sistem penyediaan air bersih berbasis masyarakat yaitu: Pembuatan SOP dan AD/ART, SOP dilaksanakan dengan baik dan digunakan dalam menjalankan operasional pada masing-masing kelompok air, pengurus masing-masing Kelompok Air ikut aktif berperan sesuai tugas masing- masing pengurus, penagihan rekening air dilaksanakan secara rutin dan teratur, karena hasil tagihan tersebut digunakan untuk biaya operasional dan pemeliharaan dan
The Modeling Of Flood Inundation Distribution And The Institutional Index, Based On Hexahelix Collaboration, In The Downstream Of Tuntang Watershed Ignatius Sriyana; Melfina Roselyn; Dyah Ari Wulandari
Rekayasa Sipil Vol. 18 No. 2 (2024): Rekayasa Sipil Vol. 18 No. 2
Publisher : Department of Civil Engineering, Faculty of Engineering, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.rekayasasipil.2024.018.02.5

Abstract

Flooding in the Tuntang Watershed of Central Java, Indonesia, poses a significant threat to communities and infrastructure. Past mitigation strategy have been ineffective due to fragmented collaboration, limited community involvement, and insufficient policy support. This study explores a new approach that combines the Village Watershed Model (VWM) and the hexahelix collaboration framework to promote coordinated action among government, communities, academia, businesses, NGOs, and media. This research create hydrological and hydraulic modeling, analyzing stakeholder roles, collaboration levels, and flood risks using questionnaires as a method. Results indicated moderate overall collaboration, with government and community leading the efforts. The hexahelix framework proved valuable for identifying strengths, weaknesses, and opportunities for improvement. Recommendations include strengthening coordination, enhancing community participation, fostering multi-stakeholder partnerships, developing comprehensive policies and funding mechanisms, and continuing research and innovation.
ANALISIS DEBIT REMBESAN PADA LEFT WING DAM, MAIN DAM, DAN RIGHT WING DAM PADA BENDUNGAN BILI-BILI As'ad, Mohammad Bagus Wiratama; Suripin, Suripin; Ari Wulandari, Dyah
JURNAL TEKNIK SIPIL Vol 14, No 2 (2025): Volume 14 Nomor 2 November 2025
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jts.v14i2.46449

Abstract

Bendungan Bili-Bili merupakan bendungan eksisting di Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan yang dibangun Tahun 1992 hingga 1997. Bendungan Bili-Bili merupakan bendungan tipe urugan batu dengan inti tengah yang memiliki kapasitas tampungan total sebesar 375 juta m3 dan kapasitas tampungan sedimen sebesar 29 juta m3. Ditinjau dari kelas risiko bahaya konstruksi, Bendungan Bili-Bili masuk dalam klasifikasi IV (Ekstrim) yang perlu mendapatkan perhatian khusus terkait kegagalan konstruksinya. Salah satu penyebab utama kegagalan bendungan tipe urugan adalah terjadinya rembesan berlebih yang ditandai dengan ditemukannya rumput lebat pada lubang drainase sehingga dapat memicu terjadinya piping yang berisiko mengganggu stabilitas keamanan bendungan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisa besar debit rembesan pada Left wing dam, Main dam, dan Right wing dam Bili-Bili yang keluar dari alat instrumentasi berupa V-notch terhadap tingkat keamanan bendungannya. Berdasarkan hasil analisis diperoleh hasil bahwa debit rembesan pada Bendungan Bili-Bili secara umum diluar batas yang diizinkan dimana nilai seepage index kondisi rembesan dalam kondisi kurang aman dimana Sebagian besar kriteria keamanan seepage QI1 yang mana perlu adanya mitigasi awal untuk segera dilakukan rehabilitasi.
Quick Assessment of Landslide Potential Using Satellite Imagery in Bili-Bili Reservoir Catchment Area Wahyuningrum, Catur Ayu; Wulandari, Dyah Ari; Suripin, Suripin; Pratama, Alfyan Amar; Sari, Yunitta Chandra; Baihaqi, Fajar Andi
Jurnal Presipitasi : Media Komunikasi dan Pengembangan Teknik Lingkungan Vol 22, No 3 (2025): November 2025
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/presipitasi.v22i3.893-908

Abstract

Landslides are among the most unpredictable and destructive sediment-related disasters, especially in mountainous regions with complex terrain and limited field accessibility. In 2004, a catastrophic landslide from the Mount Bawakaraeng Caldera delivered more than 100 million cubic meters (MCM) of sediment into the Bili-Bili Reservoir, filling its dead storage and threatening its long-term functionality. his study uses Sentinel-1A satellite imagery and Differential Interferometric Synthetic Aperture Radar (DInSAR) to perform a rapid, spatially driven assessment of landslide hazards in the Bili-Bili Reservoir Catchment Area. The results reveal surface deformation of up to ±1.55 meters, concentrated in upstream zones. High-risk areas span 71.00 km², with an estimated mobilizable volume of 110.04 MCM and a potential sediment yield of 27.14 MCM per year, nearly equal to the reservoir’s dead storage. To mitigate this threat, the study proposes an integrated mitigation framework. Structural interventions include rehabilitating existing sediment control systems and constructing new sabo dams. Non-structural strategies such as slope revegetation and bioengineering are also recommended. This study demonstrates how remote sensing can identify subtle ground deformation and provides actionable insights for safeguarding critical water infrastructure in sediment-prone tropical watersheds.
Implementasi Event Tree Analysis dan metode Andersen untuk penilaian risiko Bendungan Titab Dea Putri Arifah; Dyah Ari Wulandari; Hari Nugroho
PADURAKSA: Jurnal Teknik Sipil Universitas Warmadewa 222-231
Publisher : Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik dan Perencanaan, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dam as water resources infrastructure has inherent failure risks, necessitating regular risk assessments to ensure its safety and functional sustainability. This study aims to evaluate the risk level of Titab Dam using two main methods: Event Tree Analysis (ETA) and the modified Andersen method. Hazard identification was conducted based on the 2024 inspection report, followed by failure mode analysis using FMECA (Failure Mode, Effects, and Criticality Analysis) to determine mitigation priorities. ETA results revealed that both individual and group extreme probabilities exceeded tolerance limits, requiring special interventions for several primary components, especially at the dam crest. Meanwhile, the assessment using the Andersen method produced a safety score of 66.33, categorized as ADEQUATE and still requiring corrective measures for defects found during inspections. This research provides an integration of two methods (ETA and Andersen) to strengthen the validation of dam risk assessment in Indonesia, thereby making the safety evaluation results more comprehensive and reliable. This study emphasizes the importance of implementing risk assessments as part of major inspections and ongoing monitoring activities to minimize failure potential and improve dam safety.
Long-Term Rainfall and Temperature Trends in East Java Under Climate Change Pujiastuti, Ratih; Suharyanto, Suharyanto; Wulandari, Dyah Ari; Nuramini, Tika Morena
Jurnal Presipitasi : Media Komunikasi dan Pengembangan Teknik Lingkungan Article in Press 2026 (For Upcoming Issue)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/presipitasi.v0i0.%p

Abstract

Climate change is a global issue at present affecting the whole world, including tropical countries like Indonesia. Previous studies have indicated that changes in these conditions have grave impacts on hydrological disasters. Therefore, the pattern of climate change needs to be analyzed for the feasibility of adaptation and mitigation in the future. This present study developed analyses into the trend in temperature variation over East Java both on an annual and daily time scale. Observation data within a long period from 1985 to 2023 was used for comprehensive results. Methods applied include linear regression, the Man-Kendall test, and Sen's Slope test. The new finding that emerged for the temperature variable was that the increase in temperature went over the global and national averages and consistently showed a significant increasing trend across the study area. However, the rainfall variable revealed different results in highlands, where the rainfall intensity decreased-in SDII and R100, inversely proportional to coastal areas. It means that climate change does not occur uniformly everywhere but varies spatially. These findings raise a case for climate change mapping to formulate appropriate adaptation and mitigation strategies.
HYDROLOGICAL RESPONSES OF RIVER BASINS TO LAND USE CHANGE IN SUSTAINABLE BUILT ENVIRONMENTS Saputri, Utamy Sukmayu; Suripin; Wulandari, Dyah Ari; Moey, Lip Kean
International Journal on Livable Space Vol. 11 No. 1 (2026): CONTEX-RESPONSIVE AND ADAPTIVE ARCHITECTURE
Publisher : Jurusan Arsitektur - FTSP - Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/kth86v67

Abstract

Changes in land use, particularly the conversion of forests and agricultural land into urban settlements, alter hydrological responses by increasing runoff, raising peak discharge, and reducing baseflow. These changes affect flood risk, environmental quality, and the sustainability of built environments in rapidly urbanizing tropical regions. Aims: This study aims to systematically review applications of Soil and Water Assessment Tool (SWAT) and SWAT+ models to analyze hydrological responses to land use changes and evaluate their implications for urban flooding and sustainable built environments. Methodology and results: A Systematic Literature Review was conducted using Scopus-indexed and nationally accredited Indonesian journals. Studies were selected using keywords related to land use change, hydrological response, river basins, and SWAT or SWAT+ modelling. The results show that urbanization increases runoff, peak discharge, and sediment yield, while vegetation enhances infiltration and hydrological stability. Common parameters include streamflow, runoff, baseflow, and sediment yield. Performance is evaluated using NSE, R2, and PBIAS. Conclusion, significance and impact of the study: This review confirms that SWAT and SWAT+ support spatial planning and sustainable watershed management. It highlights the importance of integrating of hydrological modeling into land use planning to improve flood resilience and identifies gaps in future flood risk scenarios.