Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Teori dan Model Konseptual Kesehatan/Keperawatan Jiwa yang Relevan dengan Terapi Kelompok Zulhaini Sartika A. Pulungan; Tiveni Elisabhet
J-HEST Journal of Health Education Economics Science and Technology Vol. 4 No. 1 (2021): Journal of Health, Education, Economics, Science, and Technology
Publisher : Polewali: Dewan Pengurus Daerah Sulawesi Barat Forum Dosen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.893 KB) | DOI: 10.36339/jhest.v4i1.66

Abstract

Terapi kelompok merupakan intervensi psikologis yang diberikan kepada beberapa individu yang bertujuan untuk menangani masalah yang mereka hadapi yang dipandu oleh terapis atau konselor. Dalam melaksanakan terapi kelompok terapeutik Ners Spesialis harus menjadikan teori dan model konseptual keperawatan sebagai dasar pelaksanaan terapi. Tinjauan Pustaka ini bertujuan untuk menjabarkan teori dan model keperawatan jiwa yang relevan dengan pelaksanaan terapi kelompok terapeutik. Teori keperawatan yang dapat diterapkan pada terapi kelompok yang sesuai dengan kebutuhan klien dan keluarga, seperti Teori Promosi Kesehatan (Nola J. Pender), Teori Kenyamanan (Katherine Kolcaba), Teori Transpersonal Caring (Jean Watson), Teori Transisi (Afaf Ibrahim Meleis), dan Teori Keperawatan Berbasis Diversitas dan Universalitas Budaya (Madeleine M. Leinenger). Model konseptual keperawatan yang relevan dengan terapi kelompok seperti Model Interpersonal (Hildegard E. Peplau), Model Psikoanalisa (Sigmund Freud), Model Adaptasi (Calista Roy), Model Sosial (Gerard Caplan) dan Model Dinamika Interaksi (Imogine M. King). Kesimpulan: Penerapan terapi kelompok yang diberikan Ners Spesialis harus memiliki bekal yang cukup mengenai teori dan model keperawatan yang relevan untuk kasus pasien yang ditangani. Rekomendasi: teori dan model konseptual keperawatan ini dapat dijadikan intervensi dalam penelitian sehingga teori dan model keperawatan jiwa semakin berkembang.
Pengaktifan Ems (Emergency Medical System) Sederhana Dengan Metode Act F.A.S.T Terhadap Penanganan Kegawat Daruratan Pasien Stroke di Kelurahan Mamunyu Edi Purnomo; Andi Nasir; Zulhaini Sartika A Pulungan; Akbar Nur
Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol 2 No 4 (2022): JPMI - Agustus 2022
Publisher : CV Infinite Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52436/1.jpmi.654

Abstract

Penatalaksanaan stroke secara umum adalah menurunkan morbiditas dan menurunkan tingkat kematian serta menurunnya angka kecacatan. Waktu dari onset stroke sampai kunjungan ke rumah sakit merupakan kontributor terbesar terhadap keterlambatan sejak awal stroke akut untuk memulai pengobatan. Metode Act FAST membantu masyarakat mengenali tanda dan gejala serangan stroke dengan cepat dan membawa korban ke rumah sakit dengan segera. Tujuan pengabdian masyarakat Emergency Medical System (EMS) adalah agar setiap pasien dapat dilakukan stabilisasi, pengobatan dan transportasi yang tepat waktu ke Rumah Sakit yang menyediakan layanan perawatan medis yang dibutuhkan. Metode Kegiatan pengabdian masyarakat ini menggunakan metode Focus Group Discussion (FGD) dan metode partisipatif yaitu pihak mitra ikut terlibat secara aktif dalam kegiatan yang dilaksanakan dengan tahapan dimulai dari persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Adapun hasil pada kegiatan pengabdian masyarakat ini yang paing banyak berpartisipasi adalah perempuan sebanyak 17 orang (56,7%) dengan kelompok usia yang paling banyak yaitu 30-40 tahun (46%). Setelah dilakukan sosialisasi terkait faktor risiko stroke terdapat peningkatan pengetahuan kepada mitra sasaran yaitu terdapat 10 orang (33,3%) yang memiliki pengetahuan baik dan 20 orang (66,7%) yang memiliki pengetahuan cukup. Selain itu pada kegitan ini melibatkan perangkat kelurahan, 10 kepala lingkungan kelurahan Mamunyu, kader, tokoh masyarakat, Babinsa, Binmas dan Bidan penanggung jawab Posbindu. Pada kegiatan ini juga telah ditemukan bahwa masyarakat belum pernah mendpatkan penyuluhan atau pelatihan serta edukasi terkait pemanfaatan EMS dengan metode ACT F.A.S.T terhadap penanganan kegawatdaruratan pasien stroke. Selain itu pada layanan PSC 119 Kabupaten mamuju belum tersosialisasi dengan baik sehingga masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui alur pelayanan PSC 119 kabupaten Mamuju. pada kegiatan tindak lanjut pengabdian Masyarakat ini diharapkan dapat terbentuk satuan tugas kedaruratan masing-masing lingkungan sebagai penghubung fasilitas pelayanan kesehatan guna meminimalisir risiko akibat stroke.
HOSPITALISASI MEMPENGARUHI TINGKAT KECEMASAN ANAK TODDLER Zulhaini Sartika A. Pulungan; Edi Purnomo; Arni Purwanti A.
Jurnal Kesehatan Manarang Vol 3 No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Mamuju

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33490/jkm.v3i2.37

Abstract

Hospitalization can cause anxiety and stress at all age levels. The cause of anxiety is influenced by many factors, both from the officer factor (nurses, doctors and other health personnel), the new environment, and the accompanying family during the treatment. Children sometimes perceive hospitalization as punishment so that children will feel shame, guilt, or fear. This leads to aggressive reactions such as anger and rebellion, verbal expression by saying angry words, not cooperating with nurses, thus affecting the treatment process while in hospital. The present study aimed at investigating the effect of hospitalization on anxiety levels of toddler in Puskesmas Tampa Padang. This research is an descriptive research with cross sectional design. Research subjects taken by purposive sampling counted 63 people. The data were analyzed using fisher's exact test. The results showed that hospitalization influenced toddler child's anxiety level (p 0.005). It is expected that health workers continue to provide good services and continue to maintain communication to children and families so that children feel comfortable during the process of hospitalization.
PERAN PETUGAS KESEHATAN DAN PENGETAHUAN KELUARGA TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN MERAWAT KLIEN GANGGUAN JIWA DI RUMAH Edi Purnomo; Zulhaini Sartika A. Pulungan; Andi Milawati
Jurnal Kesehatan Manarang Vol 2 No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Mamuju

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33490/jkm.v2i2.20

Abstract

Mental disorder schizophrenia is a disorder psychic who ranks second in diseases that cause the greatest burden after heart disease. Its burden of mental disorders is mainly felt by the families who have family members with mental disorders. Patients with mental disorders who live with the family does not always indicate the best condition for the recovery of the client. The purpose of this study was to determine the effect of the role of the clerk and the knowledge of the family in improving the ability of families caring for clients with mental disorders at home. This research method is descriptive quantitative research design descriptive analytic approach cross sectional study. The samples used were 30 families who have family members experiencing mental disorders withpurposivesampling method. The research was conducted in Puskesmas Ulumanda Majene district. Results showed no effect between family knowledge (p=0.005) and the role of health care workers (p=0.008) with the ability of families in caring for clients with mental disorders at home. Conclusion the role of health workers and knowledge affect the ability of families caring for clients with mental disorders at home. Advised the family to be more active in seeking information about the treatment of people with mental disorders at home and health officials often approach to the family to help care clients with mental disorders.
Pola Asuh Orang Tua Mempengaruhi Prestasi Belajar Anak Tunagrahita Zulhaini Sartika A. Pulungan; Edi Purnomo; Nur Adhilah Baharuddin
Jurnal Kesehatan Manarang Vol 5 No 1 (2019): Juli 2019
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Mamuju

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33490/jkm.v5i1.105

Abstract

Mental retardation have less school performance, intelligence quotient (IQ) below 70, dependence on others, lack responsiveness, lack proportional physical appearance, late speech development and limited language. This study aims determine the influence of parenting on learning achievement of mental retardation in SDLB Negeri Pembina West Sulawesi Province. This research use descriptive corelational with cross sectional design. Population of all parents and children with special needs in SDLB Negeri Pembina. Research subjects were taken by purposive sampling, after given informed consent and fulfilled inclusion criteria: children with mild mental retardation, still active school, parents and children live at home. Research subjects 20 people. Duration of one week's data retrieval. Data analysis was done by descriptive analysis by showing percentage of each variable. Fisher's exact test was conducted to determine the effect of parenting on learning achievement of mental retardation, with 95% confidence level (α 0,05). Parenting affecting learning achievement of mental retardation in SDLB Negeri Pembina West Sulawesi Province with p value = 0,022. The most effective parenting pattern to apply is democratic parenting, because the pattern of parenting runs in accordance with the growth and development of children, so as to improve the learning achievement of children. Democratic parenting style emphasizes the educational or educational aspect in guiding the child so that parents often give more understanding, explanation, and reasoning to help the child understand why the behavior is expected. Parenting influences the learning achievement of mental retardation in SDLB Negeri Pembina West Sulawesi Province.
Terapi Psikoedukasi Keluarga Meningkatkan Kemandirian Klien Gangguan Jiwa Zulhaini Sartika A. Pulungan; Masnaeni Ahmad; Hardiyati; Edi Purnomo
Window of Health : Jurnal Kesehatan Vol 5 No 3 (Juli 2022 )
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (711.32 KB) | DOI: 10.33096/woh.vi.45

Abstract

Peran keluarga sangat dibutuhkan dalam perawatan klien gangguan jiwa di rumah. Keluarga perlu mengetahui dan memahami cara merawat sehingga mereka dapat membantu anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa mengelola penyakitnya. Psikoedukasi keluarga adalah salah satu bentuk terapi keperawatan kesehatan jiwa dengan cara memberikan edukasi pada keluarga sehingga meningkatkan dukungan sosial pada anggota keluarganya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh terapi psikoedukasi keluarga terhadap peningkatan kemandirian klien gangguan jiwa. Penelitian pra eksperimen dengan desain pre - post test without control group design. Populasi adalah caregiver yang memiliki anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa di wilayah kerja Puskesmas Tampa Padang. Sampel diperoleh dengan purposive sampling sejumlah 23 keluarga. Analisis data menggunakan uji paired t-test untuk membandingkan kemandirian klien sebelum dan sesudah terapi psikoedukasi keluarga. Hasilnya menunjukkan setelah pemberian terapi psikoedukasi keluarga terdapat peningkatan kemandirian klien nilai p=0,000. Kesimpulannya terapi psikoedukasi keluarga meningkatkan kemandirian klien gangguan jiwa yang dirawat di rumah.
PENGARUH FAMILY PSYCHOEDUCATION (FPE) TERHADAP KECEMASAN CAREGIVER MERAWAT ANGGOTA KELUARGA DENGAN GANGGUAN JIWA BERAT Zulhaini Sartika A. Pulungan; Ice Yulia Wardani; Herni Susanti
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan Vol 18, No 1 (2022): JURNAL ILMIAH KESEHATAN KEPERAWATAN
Publisher : LPPM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GOMBONG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Deinstitusionalisasi layanan kesehatan jiwa mengharuskan keluarga dapat menjadi perawat utama bagi klien gangguan jiwa. Ketidaksiapan keluarga dapat mengakibatkan kesulitan pada keluarga seperti stres psikologis akibat memiliki keluarga yang mengalami gangguan jiwa, kebutuhan keluarga yang tidak terpenuhi, kendala keuangan, kurangnya dukungan sosial, gangguan fungsi keluarga, stigma, diskriminasi, dan ekspresi emosi. Tujuan dari studi kasus ini adalah untuk mengidentifikasi pengaruh family psychoeducation (FPE) terhadap kecemasan caregiver merawat anggota keluarga dengan gangguan jiwa berat. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus. Sampel terdiri dari 1 keluarga yang merupakan caregiver utama klien. Intervensi family psychoeducation dilakukan dengan kunjungan rumah selama 5 minggu dengan 6 sesi pertemuan yaitu: 1) mengidentifikasi masalah klien dan keluarga; 2) merawat masalah klien; 3) manajemen stres keluarga; 4) manajemen beban keluarga; 5) memanfaatkan sistem pendukung; dan 6) mengevaluasi manfaat psikoedukasi keluarga. Intervensi dilakukan dengan frekuensi seminggu sekali namun untuk sesi 5 dan 6 dilakukan dalam satu minggu. Durasi rata-rata 45-60 menit setiap sesi. Instrumen yang digunakan adalah Self-Reporting Questionnaire (SRQ)-20. Hasil pengukuran Self-Reporting Questionnaire (SRQ)-20 sebelum intervensi family psychoeducation adalah 9, caregiver mengalami kecemasan yang dapat dikategorikan pada gangguan mental emosional. Sesudah intervensi family psychoeducation terjadi penurunan skor SRQ menjadi 3 yang dapat dikategorikan pada kondisi sehat. Kesimpulan family psychoeducation menurunkan kecemasan caregiver dalam merawat anggota keluarga dengan gangguan jiwa berat. Family psychoeducation dapat dijadikan sebagai terapi bagi keluarga yang memiliki anggota keluarga dengan gangguan jiwa berat.
Peran resiliensi keluarga dalam perkembangan konsep diri remaja Ahmad, Masnaeni; Pulungan, Zulhaini Sartika A.; Hardiyati
JURNAL KESEHATAN PRIMER Vol 8 No 1 (2023): JKP (Jurnal Kesehatan Primer)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31965/jkp.v8i1.994

Abstract

Introduction:  Self-concept is formed from social contacts and experiences with other people from time to time so the family plays a very important role in shaping the adolescent's self-concept. This study aims to determine the role of family resilience on adolescent self-concept. Methods: This research is a cross-sectional correlational descriptive study. The population in this study consisted of 3084 Mamuju City junior high school students. A total of 354 students and their families were selected using stratified random sampling. The Family Resilience Assessment Scale (FRAS) is utilized to assess family resilience, while the Tennessee Self Concept Scale (TSCS) is used to assess adolescent self-concept. Results:  The findings of testing hypotheses by the Spearman Rank correlation technique showed a significant connection between family resilience and teenage self-concept (p=0.000). Family resilience carries a 44.5% effect on teenage self-concept. Family resilience has a vital role in shaping the formation of teenage self-concept. Conclusion:  Adolescent self-concept is likely to be developed within families that function ideally. It happens due to the adolescent's self-concept forming in sync with their family experience.
Terapi Kelompok Terapeutik Sebagai Upaya Meningkatkan Perkembangan Intimasi Pada Usia Dewasa Muda Pulungan, Zulhaini Sartika A.; Purnomo, Edi
Journal of Health Education and Literacy Vol 5 No 1 (2022): Journal of Health, Education and Literacy (J-healt)
Publisher : Universitas Sulawesi Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31605/j-healt.v5i1.1666

Abstract

Usia dewasa merupakan tahap perkembangan manusia yang berada pada rentang usia 18-65 tahun, yang dibagi dalam perkembangan dewasa muda 18-40 tahun dan dewasa tua 40-65 tahun. Dewasa muda berada dalam tahap perkembangan intimacy versus isolation. Intimasi merupakan kemampuan individu untuk membangun hubungan yang akrab dengan orang lain. Apabila dewasa muda tidak mampu mencapai tugas perkembangan ini mengakibatkan menarik diri, dan isolasi sosial, sehingga diperlukan latihan dan stimulasi untuk meningkatkan kemampuan intimasi mereka. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain studi kasus. Subjek dalam studi kasus ini adalah dewasa muda berusia 28-31 tahun berjumlah 4 orang. Dewasa muda diberikan Terapi Kelompok Terapeutik (TKT). Identifikasi masalah pada klien menggunakan pengkajian jiwa lanjut dengan pendekatan model adaptasi Stuart. Pengumpulan data dilakukan sebelum dan sesudah terapi kelompok terapeutik dengan menggunakan instrumen evaluasi respons aspek perkembangan dan kemampuan intimasi usia dewasa muda. Hasil penelitian menunjukkan kemampuan intimasi klien dewasa muda setelah dilakukan terapi kelompok terapeutik, meningkat dari 10,5 (95,45%) menjadi 10,75 (97,73%). Kesimpulan Terapi kelompok terapeutik meningkatkan kemampuan intimasi usia dewasa muda. Terapi kelompok terapeutik dewasa muda dapat dilakukan pada tatanan pelayanan kesehatan di masyarakat sebagai bentuk pelayanan keperawatan kesehatan jiwa dan dapat juga diaplikasikan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat
PERAN PETUGAS KESEHATAN DAN PENGETAHUAN KELUARGA TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN MERAWAT KLIEN GANGGUAN JIWA DI RUMAH Edi Purnomo; Zulhaini Sartika A. Pulungan; Andi Milawati
Jurnal Kesehatan Manarang Vol 2 No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Mamuju

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.829 KB) | DOI: 10.33490/jkm.v2i2.20

Abstract

Mental disorder schizophrenia is a disorder psychic who ranks second in diseases that cause the greatest burden after heart disease. Its burden of mental disorders is mainly felt by the families who have family members with mental disorders. Patients with mental disorders who live with the family does not always indicate the best condition for the recovery of the client. The purpose of this study was to determine the effect of the role of the clerk and the knowledge of the family in improving the ability of families caring for clients with mental disorders at home. This research method is descriptive quantitative research design descriptive analytic approach cross sectional study. The samples used were 30 families who have family members experiencing mental disorders withpurposivesampling method. The research was conducted in Puskesmas Ulumanda Majene district. Results showed no effect between family knowledge (p=0.005) and the role of health care workers (p=0.008) with the ability of families in caring for clients with mental disorders at home. Conclusion the role of health workers and knowledge affect the ability of families caring for clients with mental disorders at home. Advised the family to be more active in seeking information about the treatment of people with mental disorders at home and health officials often approach to the family to help care clients with mental disorders.